Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Arthur Bond, Rexana Nycekerh hidup bagai pajangan mahal di dalam sangkar emas. Demi menyelamatkan perusahan ayahnya yang terancam runtuh, Rex terpaksa menelan bulat-bulat dinginnya penghinaan dan tuduhan atas rahasia masa lalu yang enggan ia bocorkan. Namun, ketika kembali ke New York, takdir memainkan lelucon paling kejam.
Lexana, kakaknya sendiri, secara terang-terangan memamerkan kekasih barunya—Diedrick Glodereus Ashford.
Pria itu adalah pemilik masa lalu Rex, cinta pertamanya yang kini hadir kembali membawa dendam dan kepahitan.
Di tengah kepungan tuntutan keluarga yang tak berhati dan intrik kekuasaan, Rex harus berdiri sendirian di antara dua pria yang membencinya.
Akankah rahasia di balik perpisahan masa lalu mereka terkuak, atau justru Rex akan benar-benar hancur dalam permainan pembalasan dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Vila megah berarsitektur kayu dan kaca di tepi Danau Zurich menyajikan pemandangan malam yang menakjubkan. Pantulan bulan di atas permukaan air dan pendar lampu kota menghiasi suasana tenang setelah pesta pernikahan akbar usai digelar.
Di dalam kamar utama yang beraroma mawar putih dan kayu cendana, Rexana duduk di tepi peraduan berseprai sutra. Ia telah memindahkan gaun pengantin mewahnya, berganti dengan gaun tidur satin tipis berwarna krem yang jatuh lembut melapisi lekuk tubuhnya.
Diedrick melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk putih melilit pinggangnya, memperlihatkan dada bidang dan otot perutnya yang kokoh.
Pria itu menyunggingkan senyum miring yang sarat akan godaan, melangkah mendekati sang istri yang baru saja disahkannya beberapa jam lalu.
"Akhirnya... hanya ada kita berdua, Honey," bisik Diedrick rendah, merendahkan tubuhnya untuk mengecup bahu porselen Rexana.
Namun, sebelum bibir Diedrick sempat menyapu leher halus istrinya, ponsel pribadi Diedrick yang tergeletak di atas meja rias mendadak bergetar halus.
BZZZ... BZZZ...
Rexana melirik layar ponsel yang menyala. Sebuah notifikasi pesan dari nomor tak dikenal—muncul membelah keheningan malam.
Selamat atas pernikahanmu.
Maafkan aku jika pesan ini hadir di malam bahagiamu, tapi aku hanya ingin melepaskan beban yang kukandung sendirian selama bertahun-tahun.
Dulu, ada seorang pria asing yang menyelamatkan nyawaku dan memberiku alasan untuk tetap hidup.
Sejak hari itu, seluruh cintaku telah habis untuknya.
Tanpa pernah tahu siapa namanya, tidak ada satu hari pun berlalu tanpa bayangannya di dalam pikiranku.
Kini, setelah tahu kau telah menemukan pelabuhan bahagiamu, biarkan aku mengucapkannya untuk terakhir kali dari jauh... Selamat bahagia.
–Z
Deg.
Rexana membelalakkan matanya membaca deretan kalimat tersebut.
Tidak ada hinaan atau makian di sana, hanya sebuah ungkapan cinta tulus yang begitu dalam dan menyesakkan dada. Namun justru ketulusan itulah yang menusuk ulu hati Rexana, memicu gejolak rasa cemburu dan rasa terluka yang mendalam.
Rexana menyambar ponsel itu, lalu memutar tubuhnya menatap Diedrick dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca oleh emosi murni.
"Siapa ‘Z’, Diedrick?!" cetus Rexana dengan suara gemetar, menyodorkan layar ponsel itu tepat di hadapan Diedrick. "Siapa wanita yang menuliskan cinta sedalam ini padamu? Siapa gadis yang kau selamatkan? Yang cintanya habis hanya untukmu?!"
Diedrick mengernyitkan alisnya dalam-dalam, membaca pesan di layar ponselnya dengan raut wajah sangat terkejut dan bingung.
"Bellerina, aku bersumpah tidak tahu siapa ini!" tegah Diedrick tegas, mencoba meraih tangan Rexana. "Delapan tahun lalu aku hanya pernah menyelamatkan satu orang di jembatan Queens, dan aku bahkan tidak pernah berhubungan dengannya!"
"Tapi dia mengingatmu, Diedrick!" potong Rexana dengan air mata yang akhirnya meluncur di pipi porselennya.
"Dia memikirkanmu setiap hari! Bagaimana mungkin ada wanita yang menyimpan namamu begitu dalam jika ingatan tentangmu tidak terus membayanginya?!"
Diedrick mengepalkan tangannya kencang. Ia tidak ingin malam pertama yang telah ditunggunya selama empat tahun hancur oleh kebingungan dan pesan yang datang tidak jelas.
Dengan satu gerakan penuh dominasi murni, Diedrick menarik pinggang ramping Rexana, mengunci tubuh wanita itu di bawah kukungannya!
"Diedrick! Lepaskan aku..." bisik Rexana dengan suara terengah-engah menahan tangis.
"Tatap mataku, Rexana!" gertak Diedrick dengan suara berat yang mengintimidasi namun sarat akan kejujuran mutlak.
"Aku tidak peduli siapa 'Z' atau seberapa dalam bayanganku di dalam pikirannya! Di dunia ini, satu-satunya wanita yang ku tumpahkan seluruh cintaku, jiwaku, dan tubuhku hanyalah kau!"
Diedrick tidak membiarkan keraguan atau cemburu menguasai pikiran istrinya lebih lama. Pria itu menundukkan kepalanya, membungkam bibir Rexana dengan ciuman yang sangat dalam, liar, dan penuh gairah yang membakar.
"Nghh... Diedrick..." erang Rexana pasrah saat sentuhan panas dan cengkeraman tegap Diedrick merobohkan seluruh pertahanan dan emosinya.
Diedrick membuktikan cintanya malam itu bukan sekadar dengan kata-kata manis, melainkan dengan penyatuan panas yang tak memberi ampun. Ia menyapu setiap inci tubuh Rexana, membakar sisa keraguan dan amarah istrinya dalam gelombang kenikmatan murni hingga Rexana menjerit pasrah memanggil namanya dan bersandar seutuhnya dalam dekapannya.
Sementara itu, beberapa kilometer dari vila, di dalam sebuah kamar hotel mewah yang sunyi di pusat Zurich...
Shopia berdiri kaku di balik jendela kaca yang menatap ke arah Danau Zurich.
Ponsel di jemarinya yang gemetar masih menampilkan layar percakapan dari nomor baru.
Air mata murni meluncur deras membasahi pipi porselennya.
Pengakuan cinta terlarang yang dipendamnya selama delapan tahun sejak kejadian di jembatan Queens akhirnya meluncur—sebuah ungkapan tulus bahwa seluruh hatinya telah habis untuk Diedrick, meski ia sadar namanya tak akan pernah bisa berada di samping pria itu.
Shopia memejamkan mata erat-erat, meremas ponselnya di atas dada yang sesak oleh penyesalan, keikhlasan, dan cinta terpendam yang tak pernah bisa ia miliki.
...ΩΩΩ...
Kamar utama vila di pesisir Danau Zurich kembali diselimuti keheningan yang menenangkan.
Pendar lampu tidur berwarna keemasan memantul lembut di atas seprai sutra yang kusut. Di atas ranjang berukuran king-size itu, Rexana tertidur pulas dalam pelukan Diedrick.
Napas wanita itu teratur dan tenang, menyisakan sisa-sisa kelelahan setelah badai gairah dan emosi melanda mereka beberapa jam sebelumnya.
Diedrick berbaring telentang dengan satu tangan menopang kepala, sementara tangan lainnya memeluk pinggang telanjang Rexana.
Meskipun istrinya telah terlelap, mata elang Diedrick sama sekali tidak mengantuk. Pria itu menatap langit-langit kamar dengan kening berkerut dalam. Pikirannya dipenuhi oleh satu hal yang sangat mengganggu: pesan teks dari nomor asing berinisial 'Z'.
Gadis yang diselamatkan nya... delapan tahun lalu.
Diedrick bukanlah pria bodoh.
Deskripsi tentang "pria asing yang menyelamatkan nyawanya" terlalu spesifik untuk diabaikan.
Diedrick sedikit gusar.
Rahangnya mengeras.
Dengan gerakan sangat pelan agar tidak membangunkan Rexana, ia merogoh saku celananya yang tergeletak di atas lantai karpet, mengambil ponsel pribadinya, dan menyalakannya dalam mode senyap.
Hanya Shopia.
Pria itu langsung menebak siapa gadis 'Z' itu di dalam kepalanya.
Apa maksudnya mengirimkan pesan murahan seperti ini? batin Diedrick mendengus kesal.
Walaupun tidak ada ancaman atau kata-kata kasar yang tertulis di dalam pesan tersebut, tindakan mengirimkan ungkapan cinta di malam pernikahan adiknya sendiri adalah hal yang sungguh tidak masuk akal dan sangat mengganggu.
Pesan itu hampir saja merusak malam pertama dan membuat istrinya marah besar.
Diedrick menatap layar ponselnya tajam.
Rasa gusar di dadanya mendesak untuk segera diselesaikan. Ia tidak akan membiarkan ada duri kecil yang kelak menusuk kebahagiaan rumah tangganya—terutama jika duri itu berasal dari keluarga istrinya sendiri.
Dengan jari yang bergerak tegas, Diedrick menekan tombol panggil ke nomor baru yang mengirimkan pesan tersebut. Ia bangkit pelan dari tempat tidur, mengenakan jubah mandinya, lalu melangkah keluar menuju balkon kaca yang menghadap langsung ke arah Danau Zurich.
Tut... Tut... Tut...
Panggilan tersambung dalam nada dering kedua.
Di ujung sambungan sana, suara napas yang tercekat terdengar begitu jelas.
Shopia—yang masih berdiri terpaku di kamarnya—menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar hebat saat melihat nama Diedrick terpampang di sana.
"Halo..." suara Shopia bergetar parah, nyaris tak terdengar.
Diedrick tidak membuang waktu untuk berbasa-basi. Pria itu langsung mencecar dengan nada suara berat, dingin, dan penuh kemarahan tertahan:
"Apa maksudmu mengirimkan pesan murahan seperti ini, Shopia?!" desis Diedrick tajam melalui sambungan telepon.
Shopia memejamkan matanya rapat-rapat, air matanya menetes seketika.
"Diedrick..."
"Jangan sebut namaku dengan nada seperti itu!" potong Diedrick tanpa ampun, rahangnya mengetat.
"Demi Tuhan, aku tidak mengerti apa yang merasukimu sampai-sampai mengirimkan pesan omong kosong itu! Walaupun tidak ada ancaman yang tertulis di sana, tindakanmu sungguh sangat mengganggu! Pesanmu hampir saja membuat istriku salah paham dan menghancurkan malam pernikahan kami!"
Di ujung telepon, Shopia hanya bisa menggigit bibirnya hingga berdarah, air matanya tumpah semakin deras. Ia tahu tindakannya salah, namun dorongan rasa rindu dan beban masa lalu yang dipendamnya selama delapan tahun mendesak keluar begitu saja.
"Maafkan aku..." bisik Shopia lirih.
"Aku hanya... aku hanya ingin mengucapkannya sekali saja."
"Mengucapkan apa, hah?!" bentak Diedrick pelan namun tajam, melampiaskan kekesalannya di udara dingin balkon.
"Kau mengatakan soal perasaanmu di dalam pesan itu! Perasaan apa maksudmu, sialan?! Apa kau ingin menghancurkan pernikahan adik kandungmu sendiri?!"
Cekcok hebat melalui sambungan telepon itu membara dalam sunyinya malam Zurich.
Diedrick benar-benar kehilangan kesabarannya. Bagi seorang pria yang baru saja memperistri wanita yang dicintainya setengah mati, gangguan sekecil apa pun dari masa lalu adalah hal yang tidak bisa ditoleransi.
"Aku tidak berniat menghancurkan siapa pun, Diedrick!" balas Shopia dengan suara bergetar, pertahanan emosinya akhirnya runtuh di ujung telepon.
Isak tangis tertahan lolos dari bibirnya.
"Kau tidak mengerti! Selama delapan tahun, sejak hari di atas jembatan itu, tidak ada satu hari pun di mana aku tidak memikirkanmu! Kau adalah penyelamatku, satu-satunya pria yang memperlakukanku dengan hormat saat seluruh dunia menginjak-injak harga diriku!"
Diedrick tertegun sejenak mendengar kejujuran mentah yang meluncur dari bibir kakak iparnya itu. Namun, alih-alih merasa tersanjung, rasa kesalnya justru semakin memuncak.
"Lalu apa urusannya denganku?!" cerca Diedrick dengan suara dingin tanpa ampun.
"Itu masa lalu, Shopia! Aku menolongmu sebagai manusia, bukan untuk dijadikan objek halusinasi cintamu bertahun-tahun! Kau adalah kakak kembar dari istriku! Sadarlah pada posisi dan statusmu sekarang!"
"Aku tahu!" jerit Shopia tertahan di balik sambungan telepon, napasnya tersengal-sengal menahan kepedihan yang teramat sangat.
"Aku tahu aku tidak punya tempat di sisimu! Aku tahu namaku tidak akan pernah bisa bersanding denganmu! Aku hanya... aku hanya berusaha melepaskan apa yang selama ini mengganjal di hatiku karena aku tidak pernah berani mengatakannya secara langsung! Aku tidak bermaksud apa-apa selain ingin melepaskannya sebelum aku benar-benar menguburnya selamanya!"
Diedrick terdiam.
Napasnya memburu kencang menatap pantulan bayangannya di kaca balkon. Kemarahannya perlahan mereda, menyisakan rasa jengah dan peringatan keras yang harus ia garisbawahi.
"Dengar baik-baik, Shopia," ujar Diedrick dengan nada suara yang kembali merendah, dingin, namun penuh ancaman mutlak.
"Aku menghargai fakta bahwa aku pernah menyelamatkan nyawamu di masa lalu. Dan satu-satunya wanita di dunia ini yang memiliki hatiku, jiwaku, dan seluruh hidupku adalah Rexana—adik kembarmu."
Shopia menutup mulutnya dengan tangan, menangis tanpa suara mendengarkan ketegasan mutlak dari pria yang dicintainya.
"Jika kau mencoba mengirimkan pesan semacam ini lagi, atau menunjukkan gelagat aneh di depan istriku..." ancam Diedrick tajam, "aku tidak akan peduli lagi siapa keluargamu. Aku akan memastikan kau tidak pernah bisa menginjakkan kaki di dekat kami lagi. Paham?!"
Di ujung sambungan sana, tidak ada lagi pembelaan diri. Shopia hanya mengangguk lemah dengan air mata yang membasahi seluruh wajahnya.
"Terima kasih..." bisik Shopia sangat lirih, sebuah ucapan terima kasih yang terdengar hancur lebur. "Dan... selamat malam, Diedrick."
BIP.
Sambungan telepon terputus secara sepihak oleh Shopia.
Diedrick menurunkan ponselnya dari telinga. Ia menghembuskan napas panjang, memejamkan matanya sejenak untuk menetralkan detak jantungnya yang sempat memompa cepat karena amarah. Pria itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jubah, lalu membalikkan badan melangkah masuk kembali ke dalam kamar.
Diedrick merebahkan kembali tubuhnya di samping sang istri, merengkuh pinggang ramping Rexana ke dalam dekapannya, dan membiarkan kehangatan tubuh wanita itu menghapus seluruh sisa ketegangan yang mengganggu pikirannya.
dan diedrick pria ashford paling bar" gak bisa tahan🤣