Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.
Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.
Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.
Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.
Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.
Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.
Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.
Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Keira Bertemu Natasha
Mata Keira membelalak melihat pemandangan di depannya. Entah kenapa, dadanya terasa seperti dihantam sesuatu yang dingin dan ganjil. Ada rasa panas yang tiba-tiba menjalar dari perut hingga ke dada.
Siapa tuh cewek? Kok main peluk-peluk Si Beruang?!
Tanpa sadar, jari-jari Keira meremas kantong plastik yang dibawanya.
Sementara itu, Ian yang tiba-tiba mendapat pelukan dari Natasha justru terlihat kaku. Ia sama sekali tidak membalas pelukan tersebut. Matanya malah refleks melirik ke samping, tepat ke arah Keira yang berdiri mematung dengan tatapan penuh selidik.
Ian langsung mendorong bahu Natasha pelan, berusaha melepaskan pelukan itu.
"Natasha, stop. Ini di rumah," tegurnya dengan suara rendah.
Meski begitu, matanya masih sesekali melirik Keira yang kini sengaja melipat kedua tangan di dada. Wajah perempuan itu terlihat ditekuk, seolah sedang menyaksikan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan.
Natasha mengembungkan pipinya yang dipoles blush-on, berpura-pura cemberut.
"Kamu kok dingin banget sih, Yan? Padahal kita udah enam bulan gak ketemu sejak proyek di Singapura waktu itu. Kamu gak kangen sama aku?"
Ian tidak menjawab. Ia hanya berdeham, kemudian kembali mengalihkan pandangan kepada Keira yang mulai berjalan mendekati teras.
"Keira," panggilnya agak tegang. "Kamu... dari mana?"
Keira berhenti didepan mereka. Ia membetulkan posisi kaos oblongnya, lalu melirik sandal jepit yang dikenakannya. Penampilannya memang jauh dari kata mewah jika dibandingkan dengan perempuan bergaun di samping Ian yang terlihat seperti putri kerajaan.
Entah kenapa, perbedaan itu justru membuat rasa kesalnya semakin menjadi-jadi.
"Dari minimarket depan, Mas Ian," jawab Keira dengan nada datar. "Ngapunten ya kalau saya mengganggu momen reunian kalian. Saya mau masuk dulu, bawa cemilan Mika."
Natasha yang sejak tadi memperhatikan percakapan mereka akhirnya menoleh. Tatapannya menyapu penampilan Keira dari ujung kepala sampai kaki, seolah sedang menilai sesuatu yang tidak sesuai dengan standar dirinya.
"Ian, dia siapa?" tanyanya dengan suara manja. "Pengasuh baru Mika, ya? Kok penampilannya... kumal banget? Kamu gak kasih dia seragam yang bagus?"
Kumal?!
Keira hampir tidak percaya mendengar ucapan itu. Dadanya langsung terasa panas. Ia memang hanya memakai kaos oblong dan sandal jepit, tetapi bukan berarti perempuan itu berhak merendahkan penampilannya.
Sebelum Ian sempat menjawab, Keira sudah lebih dulu melangkah maju. Ia memasang senyum paling manis sekaligus menyebalkan yang bisa dibuatnya.
"Maaf ya, Mbak yang bajunya kayak gorden berjalan," sahut Keira tanpa merasa bersalah. "Saya di sini digaji buat jaga Mika, bukan buat peragaan busana di teras rumah orang."
Natasha mengernyit, tetapi Keira belum selesai.
"Baju saya memang jelek, tapi yang penting kerjaannya halal. Bukan sibuk pakai gaya manja-manja meluk cowok di depan umum!"
Mata Natasha langsung membelalak. Mulutnya terbuka lebar, seolah tidak percaya baru saja mendapat balasan seperti itu dari seorang pengasuh.
"Kamu... kamu ngomong apa barusan?! Kurang ajar banget ya kamu!"
Ian yang berdiri di antara mereka hanya bisa memejamkan mata sebentar. Kepalanya mendadak terasa pening menghadapi dua perempuan dengan karakter yang sangat bertolak belakang itu.
Satu datang dengan penampilan elegan dan sikap manja, sementara satu lagi berdiri dengan kaos oblong, sandal jepit, dan mulut yang sepertinya tidak pernah kehabisan amunisi.
Namun, di balik rasa pusingnya, ada sesuatu yang justru membuat hati Ian terasa senang.
Reaksi Keira tadi benar-benar di luar dugaan. Dan entah kenapa, melihat perempuan itu menunjukkan sikap cemburunya membuat sudut bibir Ian ingin terangkat.
Keira sendiri sudah tidak tertarik meladeni Natasha lebih lama. Ia memutar badan dengan gerakan dramatis, mengangkat kantong plastik yang dibawanya, lalu berjalan masuk ke dalam rumah sambil menghentakkan sandal jepitnya.
Plaq! Plaq! Plaq!
"Mas Ian!" teriak Keira dari dalam rumah tanpa menoleh lagi. "Buah naganya udah saya potong ukuran satu sentimeter! Kalau Mas sama Mbak Gorden mau makan, ambil sendiri di kulkas!"
BRAM!
Pintu kaca di bagian dalam rumah tertutup agak keras.
Natasha langsung menghentakkan kakinya ke lantai. Wajahnya memerah menahan amarah saat berbalik menghadap Ian.
"Ian! Kamu lihat, kan?! Pengasuh kamu itu kurang ajar banget! Kenapa gak kamu pecat aja si cewek kampung itu sekarang juga?!"
Ian merapikan kemejanya yang sedikit kusut akibat pelukan Natasha tadi. Ekspresinya kembali datar, bahkan tatapannya kini terasa dingin dan berjarak.
"Dia gak kurang ajar, Natasha," jawabnya tenang.
Sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
"Dia cuma lagi menjalankan tugasnya. Dan di rumah ini... gak ada yang boleh memecat Keira selain aku."
Setelah mengatakan itu, Ian membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Natasha hanya bisa berdiri mematung di teras. Wajahnya masih menunjukkan kekesalan, sementara matanya mengikuti punggung Ian yang semakin menjauh.
semangat Kak 💪💪