NovelToon NovelToon
Puteri Rahasia Sang Ratu

Puteri Rahasia Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Suesant SW

Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.

Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.

Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17. Raja Yang Memilih Kebohongan

Kalimat tersebut menghantam Raja lebih keras daripada semua bantahan sebelumnya. Untuk sesaat, ia tidak bergerak. Wang Laoyin pun tidak bergeming di tempatnya.

Di antara mereka, jarak beberapa langkah terasa seperti jurang yang membentang tanpa dasar. Tidak ada tembok yang terlihat, tidak ada rantai yang mengikat, tetapi sesuatu yang selama bertahun-tahun menjadi penghubung di antara mereka telah patah.

Raja Han Quan mengatupkan rahang.

“Jika kau terus bersikeras, jangan salahkan aku atas apa yang akan terjadi selanjutnya.” Akhirnya suara Raja Han Quan terdengar antara sebuah ancaman dan keputusasaan.

Bukannya menangis ketakutan atau bersimpuh memohon belas kasihan, Wang Laoyin malah mengangguk perlahan.

“Jika Yang Mulia menghukum hamba karena hamba menolak berbohong, hamba akan menerima kenyataan bahwa keadilan di istana ini telah kehilangan tempatnya.”

“Jaga ucapanmu, Laoying!”

“Hamba sudah terlalu lama menjaga ucapan hamba, Yang Mulia. Kini, izinkan hamba setidaknya menjaga kebenaran.” Nada suaranya terdengar sinis.

Raja meraih surat palsu dari atas meja, lalu meremasnya hingga kertas itu berkerut di dalam genggamannya.

“Keluar!”

Wang Laoyin membungkuk.

“Titah Yang Mulia akan hamba patuhi.”

Sikap itu keras karena prinsip yang dipegangnya begitu teguh.

Ia berbalik dan berjalan menuju pintu.

Setiap langkahnya terdengar tenang, meskipun hatinya seakan-akan sedang diinjak oleh ribuan kaki. Ia tidak menangis. Ia tidak memohon. Ia tidak menoleh kembali untuk melihat apakah Raja akan memanggilnya, sebagaimana yang pernah dilakukan lelaki itu pada masa-masa ketika pertengkaran mereka masih berakhir dengan percakapan panjang dan permintaan maaf.

Ia terus berjalan, tak menoleh sedikitpun.

Namun, tepat sebelum mencapai ambang pintu, suara Raja terdengar dari belakangnya.

“Wang Laoyin.”

Langkahnya berhenti.

Selama satu detik yang sangat singkat, hatinya kembali berharap.

Mungkin Raja akan bertanya apakah ia baik-baik saja. Mungkin Raja akan memintanya kembali dan mengatakan bahwa ia hanya membutuhkan waktu untuk berpikir. Mungkin masih ada sepotong kepercayaan yang tersisa di dalam dada lelaki itu.

Wang Laoyin menoleh perlahan, segenggam harap itu mencuat...

Raja Han Quan berdiri di dekat meja, wajahnya kembali keras, ekspresi itu adalah pias seorang raja yang duduk di atas singgasana bukan seorang suami.

“Mulai hari ini, sampai penyelidikan selesai, jangan meninggalkan Paviliun Fengyi tanpa izinku. Semua surat dan dokumen pribadimu akan diperiksa. Tidak seorang pun diizinkan menemuimu tanpa persetujuan pengawal istana.”

Harapan kecil yang baru saja muncul di hati Wang Laoyin padam seketika.

Ia menatap Raja cukup lama, seolah-olah sedang mengukir wajah lelaki itu ke dalam ingatannya untuk terakhir kali.

“Baik, Yang Mulia.”

Kemudian ia menambahkan dengan suara yang sangat pelan, “Hamba berharap suatu hari nanti Yang Mulia tidak menyesali keputusan ini.”

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah keluar.

Pintu kayu cendana tertutup perlahan di belakangnya.

Suara pintu itu begitu sederhana, tetapi bagi Wang Laoyin, bunyinya menyerupai dentuman gerbang besi yang menutup sebuah makam.

...***...

Lorong menuju Paviliun Fengyi terbentang panjang di bawah atap merah yang dihiasi ukiran awan. Di sepanjang dinding tergantung lukisan para leluhur kerajaan, masing-masing digambarkan dengan wajah agung dan tatapan yang seolah-olah mampu menembus zaman. Pilar-pilar merah berdiri berderet, memisahkan lorong dari taman dalam yang dipenuhi bambu dan pohon prem.

Wang Laoyin berjalan di antara dua pengawal. Para pelayan yang berpapasan segera menundukkan kepala. Beberapa orang memandangnya dengan kasihan, tetapi sebagian lain menyembunyikan rasa ingin tahu di balik lengan baju. Kabar mengenai surat palsu itu telah menyebar jauh lebih cepat daripada perintah resmi istana. Di tempat seperti Weishan, bisikan dapat bergerak melewati sepuluh gerbang sebelum seorang pejabat sempat menyelesaikan satu laporan.

Wang Laoyin mendengar potongan percakapan yang sengaja dipelankan.

“Benarkah surat itu ditulis sendiri oleh Permaisuri?”

“Katanya, pengawal itu sering berada di dekat kamarnya.”

“Jika tidak bersalah, mengapa Raja memerintahkannya tetap dikurung?”

Setiap kalimat terasa seperti serpihan kaca yang dilemparkan ke punggungnya.

Ia ingin berhenti, menoleh, dan menuntut agar orang-orang itu menyebutkan sumber tuduhan mereka. Ia ingin meminta mereka menunjukkan bukti, bukan sekadar mengulang cerita yang tidak mereka pahami.

Namun, ia tahu bahwa semakin keras ia membela diri, semakin mudah musuh-musuhnya menggambarkannya sebagai perempuan yang kehilangan kendali. Maka ia terus berjalan dan kepalanya tegak. angkahnya tidak berubah.

Ia tidak akan memberi mereka kepuasan melihat dirinya runtuh.

Ketika tiba di halaman Paviliun Fengyi, Wang Laoyin berhenti di bawah pohon prem tua. Ranting-rantingnya dipenuhi bunga putih yang mulai gugur. Satu kelopak jatuh di bahu jubah merahnya, lalu tertiup angin sebelum sempat ia singkirkan,Ia menengadah ke langit.

Dahulu, ia percaya bahwa selama Raja Han Quan masih mempercayainya, tidak ada fitnah yang dapat benar-benar menghancurkan dirinya. Ia percaya bahwa cinta dan kesetiaan yang dibangun selama bertahun-tahun akan menjadi perisai ketika badai datang.

Kini, ia menyadari bahwa perisai itu telah retak dari dalam.

Musuh-musuhnya mungkin telah merencanakan fitnah ini dengan cermat, tetapi mereka bukan satu-satunya penyebab kehancurannya. Raja Han Quan telah memilih untuk membuka pintu bagi kebohongan itu.

Dan ketika kebenaran mengetuk dari luar, ia memilih untuk tidak membukanya.

Wang Laoyin memejamkan mata. Air mata akhirnya jatuh, satu demi satu, membasahi pipinya yang pucat. Ia membiarkannya mengalir tanpa suara. Tidak ada isak tangis, tidak ada ratapan, hanya air mata yang membawa pergi sisa harapan yang selama ini ia pertahankan.

“Yang Mulia,” bisiknya, meskipun lelaki itu sudah jauh dari jangkauan suaranya, “hamba mungkin dapat memaafkan orang yang memfitnah hamba. Namun, hamba tidak tahu apakah hamba dapat melupakan hari ketika Yang Mulia meminta hamba mengkhianati diri hamba sendiri.” Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan.

Lalu ia menatap kembali bangunan Paviliun Fengyi yang berdiri megah di hadapannya. Bangunan itu masih sama. Pilar-pilar merahnya masih tegak. Tirai sutranya masih berkilau. Burung-burung phoenix emas di ujung atap masih melebarkan sayap seolah-olah tidak ada sesuatu yang dapat mengusik keagungannya.

Tetapi bagi Wang Laoyin, tempat itu telah berubah menjadi penjara.

Ia melangkah masuk.

Pintu ditutup.

Dan di balik pintu itu, seorang perempuan yang pernah menjadi lambang kehormatan kerajaan mulai belajar bagaimana hidup tanpa kepercayaan kepada lelaki yang dicintainya.

***

Sementara itu, di Istana Qianzheng, Raja Han Quan masih berdiri di depan meja kerjanya.

Surat palsu itu telah diremas hingga kusut. Ia membuka genggamannya, memandang kertas tersebut, lalu menghaluskannya dengan telapak tangan seolah-olah tindakan sederhana itu dapat mengembalikan keteraturan yang baru saja hancur di dalam ruangan.

Ia tidak menyukai cara Wang Laoyin menentangnya, Ia tidak menyukai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan perempuan itu dan yang paling tidak disukainya adalah kenyataan bahwa sebagian dari pertanyaan itu masuk akal.

Apakah ia telah memeriksa tulisan tangan tersebut secara menyeluruh? Belum.

Apakah ia mengetahui siapa yang pertama kali menemukan surat itu? Belum sepenuhnya.

Apakah ia memiliki bukti bahwa Wang Laoyin benar-benar menjalin hubungan terlarang dengan Shen Rui?

Tidak.

Yang ia miliki hanyalah kematian seorang pengawal, sebuah surat yang mencurigakan, dan desakan para pejabat agar skandal itu segera diselesaikan. Ia seharusnya memerintahkan penyelidikan yang lebih mendalam. Ia seharusnya menahan diri sebelum menjatuhkan kecurigaan.

Tapi, ada sesuatu dalam dirinya yang menolak mengakui bahwa Wang Laoyin mungkin menjadi korban konspirasi. Jika tuduhan itu ternyata palsu, ia harus menghadapi kenyataan bahwa orang-orang di dalam istananya telah mempermainkan dirinya. Jika tuduhan itu benar, ia harus menghadapi kenyataan bahwa perempuan yang selama ini ia percaya telah mengkhianatinya.

Di antara dua kemungkinan itu, kebohongan yang menjanjikan ketenangan tampak jauh lebih mudah diterima.

Raja Han Quan duduk perlahan di kursinya.

“Permaisuri terlalu keras kepala,” gumamnya, wajahnya gusar. Sejujurnya dia juga tak yakin jika Wang Laoyin telah mengkhianatinya. Ia mengucapkan kalimat itu seolah-olah sifat keras kepala Wang Laoyin merupakan sumber seluruh masalah. Dengan begitu, ia tidak perlu mengakui bahwa dirinya sendiri sedang memilih jalan yang salah.

Di atas meja, sebuah dokumen menunggu tanda tangannya. Dokumen itu berisi perintah agar pemeriksaan terhadap Wang Laoyin diperluas dan semua dokumen pribadinya disita sementara.

Raja mengambil kuas, tinta hitam menetes ke ujungnya. Tangannya berhenti sejenak di atas kertas.

Untuk sesaat, ia teringat tatapan Wang Laoyin ketika perempuan itu mengatakan bahwa ia tidak lagi mengenali lelaki yang berdiri di hadapannya. Ada kepedihan yang begitu nyata di mata itu, kepedihan yang tidak dapat dibuat-buat dengan mudah.

Raja menutup mata kemudian ia menurunkan kuas dan membubuhkan tanda tangan kerajaan.

Keputusan itu resmi.

Pengurungan Wang Laoyin diperketat. Dan tanpa menyadarinya, Raja Han Quan baru saja menambahkan satu batu lagi ke dalam tembok yang memisahkan dirinya dari perempuan yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.

Di luar jendela, angin mengguncang ranting pinus. Sebuah kelopak bunga yang tersesat terbawa masuk melalui celah jendela dan jatuh di atas dokumen kerajaan. Raja memandang kelopak itu lama sekali.

Lalu ia menyingkirkannya. Seperti menyingkirkan sesuatu yang dianggapnya tidak penting.

Namun, ada hal-hal yang dapat disingkirkan dari meja, tetapi tidak pernah benar-benar hilang dari kehidupan seseorang. Kepercayaan adalah salah satunya.

Dan pada pagi yang dingin di Istana Weishan itu, kepercayaan antara Raja Han Quan dan Wang Laoyin akhirnya runtuh—bukan dalam suara ledakan, bukan dalam benturan senjata, melainkan dalam sebuah permintaan sederhana yang tidak seharusnya pernah diucapkan seorang suami kepada istrinya.

Akuilah, meskipun kau tidak bersalah.

Kelak, ketika kebenaran terbuka dan seluruh kebohongan yang menyelimuti istana tersingkap satu demi satu, Raja Han Quan akan mengingat pagi itu dengan penyesalan yang tidak terukur.

Ia akan mengingat bahwa Wang Laoyin telah memberinya kesempatan untuk memilih keadilan.

Dan ia telah memilih kebohongan.

Sementara di dalam Paviliun Fengyi, Wang Laoyin belum mengetahui bahwa nasibnya akan segera berubah lebih buruk. Sebab di luar tembok istana, sebuah rencana telah disiapkan untuk merenggut bukan hanya kedudukannya, melainkan juga masa depan yang bahkan belum ia ketahui sedang tumbuh di dalam rahimnya.

(Panjang ya bab kali ini😄 Author sedang bersemangat banget nulisnya 😁 yuk support biar tambah gas semangat nulisnya🥰 lap yuuuuu)

1
Rara
apa aku kedua thor
Aisyah Suyuti
good
☪︎⃟⃝𝐇𝐅ᵐᵃᵘˡ✰͜͡𝐯𐝃W⃠
semangat terus dengan karya² barunya Thor 💪💪💪💪💪
Sri Rahmawati
ibu yg bijak 😍😍
Sri Rahmawati
pertama ☝️☝️☝️
Deandra
lanjut thorrr
Eka Burjo
huhuhu aku ikutan 😭
Sri Rahmawati
/Angry/
Rara
😔😔😔😔😔
🌼EmeLBy🌼
lanjut
🌼EmeLBy🌼: Masih OL thor hihihihii
sama
total 2 replies
Sri Rahmawati
peluk dariku Yang Mulia 🤗🤗🤗
Sri Rahmawati
ku menangis 😭😭😭
Sri Rahmawati
aku maraton bacanya baru tau hari ini dan udh hbs satu pak tisu 😭😭😭
Sri Rahmawati
hadir Thor 🥰🥰
Suesant SW: makasih Kak Sri🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Rara
sediiih
Rara
lanjut marathon
🌼EmeLBy🌼
lahir sudah putriku🤣🤣🤣
Suesant SW: iyaaaaa🤭
total 1 replies
Salsa
ratu yang di makzulkan
Salsa
panjang lagi tor💪
Li Ce
real banget sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!