Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 - Kedatangan Aldi
Lamunan Galih seketika pecah. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, menatap lurus ke arah layar ponsel yang menampilkan lowongan pekerjaan impiannya. Keinginan masa kecilnya untuk meracik hidangan di dapur restoran mewah berstandar internasional membuncah hebat di dalam dadanya. Gaji besar, tunjangan profesional, dan pengalaman di hotel bintang lima adalah lompatan karier yang luar biasa bagi seorang pemuda dua puluh tahun sepertinya.
Namun, gejolak ambisi itu perlahan-lahan mereda saat gelombang rasa tanggung jawab mulai menghantam batinnya. Galih kembali teringat pada Pak Susilo dan Bu Asih. Pasutri tua pemilik Warung Makan Bu Asih itu baru saja menaruh kepercayaan penuh padanya. Mereka memercayakan dapur utama padanya, menaikkan gajinya, dan mengandalkannya di saat warung mereka sedang bangkit dari keterpurukan. Meninggalkan mereka begitu saja demi ambisi pribadi tentu akan menjadi sebuah tindakan yang tidak tahu berterima kasih.
"Nggak... Aku nggak boleh egois," gumam Galih pelan di dalam hatinya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. "Pak Susilo sudah baik banget sama aku. Pengalamanku juga masih seumur jagung. Lagipula, aku baru saja mulai menata hidup di sini."
Galih memutuskan untuk menepis sejenak impian bekerja di hotel mewah tersebut. Ia akan fokus membantu Pak Susilo mengembangkan warung makan itu hingga benar-benar stabil. Jika suatu hari nanti situasi sudah memungkinkan dan ia merasa sudah memiliki bekal pengalaman yang cukup, barulah ia akan memikirkan kembali peluang-peluang besar di luar sana.
Bus kota akhirnya berhenti di halte terdekat. Galih turun, melangkahkan kaki menyusuri gang sempit, hingga akhirnya tiba di pelataran rumah kostan yang dinaungi pohon mangga besar.
Namun, baru saja ia hendak melangkah masuk ke area lorong kosan, langkah kaki Galih mendadak terhenti. Di dekat teras depan, seorang pemuda berjaket jins kasual tampak sedang duduk gelisah di atas sepeda motor matic miliknya. Begitu melihat sosok Galih, pemuda itu langsung berdiri dan menyambutnya dengan tergesa-gesa.
Itu adalah Aldi, keponakan Bang Doni, teman SMA Galih yang telah membantunya mendapatkan kostan dan uang saku saat pertama kali kabur ke kota ini.
"Galih!" panggil Aldi dengan napas agak terengah-engah. Wajahnya tampak pucat dan dipenuhi keringat dingin, mencerminkan kepanikan yang luar biasa.
"Eh, Aldi? Kamu... kok ada di sini?" tanya Galih heran, menghampiri temannya itu dengan tatapan bingung.
Belum sempat Galih merampungkan kalimatnya, Aldi langsung menyergap lengannya. Pemuda itu meraih sebuah tas ransel berukuran cukup besar berwarna hitam pekat yang tersimpan di atas jok motornya, lalu menyerahkannya secara paksa ke pelukan Galih.
"Lih, tolong aku! Kumohon, simpan tas ini baik-baik di kamarmu!" ucap Aldi cepat, suaranya bergetar hebat menahan rasa takut.
Galih hampir menjatuhkan tas tersebut karena kaget. Ia menangkapnya dengan kedua tangan, merasakan beban tas itu cukup berat. "Sebentar, Di! Ini tas apa? Kenapa tiba-tiba kamu kasih ke aku? Kamu kelihatan panik banget..."
"Jangan banyak tanya dulu, Lih! Intinya, simpan tas ini di tempat yang paling aman, dan satu hal yang paling penting... jangan pernah buka tas itu!" potong Aldi memelas, kedua matanya melirik liar ke sekeliling jalanan gang seolah sedang mengawasi seseorang.
Rasa penasaran yang bercampur curiga tentu saja langsung melanda benak Galih. Ia mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Kalau aku nggak boleh buka, terus sebenarnya apa isi tas ini, Di?"
"Kalau kamu buka tas ini, kamu bakal terseret ke dalam masalah besar yang bisa membunuh kita berdua, Galih!" bentak Aldi setengah berbisik, nadanya begitu putus asa. "Aku cuma butuh kamu sembunyikan tas ini selama beberapa hari ke depan sampai aku datang mengambilnya lagi. Tolong... anggap ini bantuan dari teman yang dulu nolong kamu!"
Sebelum Galih sempat melontarkan pertanyaan lanjutan atau menolak permintaan gila tersebut, Aldi sudah buru-buru menaiki motornya, menstarter mesin, dan langsung tancap gas meninggalkan pelataran kosan dengan kecepatan tinggi, menerobos debu jalanan sore hingga sosoknya lenyap di tikungan gang.
Galih berdiri mematung di teras kosan, memandangi tas ransel hitam besar di pelukannya dengan sejuta tanda tanya besar yang berkecamuk di kepala. Rasa tidak enak menyergap dadanya. Apa yang sebenarnya sedang disembunyikan oleh Aldi? Masalah apa lagi yang kini terseret dan mendarat tepat di pangkuannya?
Dengan hati-hati dan perasaan waswas, Galih membawa tas misterius itu masuk ke dalam lorong kosan hingga tiba di depan pintu kamar Indri. Ia membuka kunci, lalu melangkah masuk.
Indri, yang sedang merapikan piring dan menyiapkan makan malam sederhana di atas meja kecil, sontak menoleh begitu mendengar suara pintu terbuka. Mata wanita itu langsung terpaku pada tas besar hitam yang dicengkeram erat oleh Galih.
"Galih? Tas apa itu? Besar banget kelihatannya," tanya Indri heran, meletakkan sendok di tangannya.
Galih mendesah berat, lalu meletakkan tas tersebut secara perlahan di dekat sudut lemari plastik. Mengingat kini wanita itu adalah istri siri sekaligus teman sekamarnya, Galih merasa tidak ada gunanya lagi menyembunyikan rahasia darinya. Ia lantas menceritakan seluruh kejadian menegangkan di teras tadi, bagaimana Aldi datang dengan panik, menyerahkan tas tersebut, dan melarikan diri tanpa memberikan penjelasan rinci.
Mendengar cerita Galih, mata Indri membelalak kaget. Ia melangkah mendekati tas hitam itu, berjongkok di sampingnya, lalu menatap benda tersebut dengan rasa ngeri bercampur penasaran yang amat kuat.
"Dia... dia bilang jangan dibuka?" bisik Indri pelan, suaranya bergetar. "Kalau reaksinya separah itu, jangan-jangan tas ini isinya... uang curian, narkoba, atau... barang bukti kejahatan?"
Galih ikut berjongkok, memandangi ritsleting tas yang tertutup rapat. "Entahlah, Dri. Tapi Aldi melarang keras kita membukanya. Dia bilang kita bakal kena masalah besar kalau sampai tahu isinya."
Indri menelan ludahnya yang terasa kering. Jari-jarinya terulur ragu-ragu seolah hendak menyentuh kepala ritsleting tas tersebut, namun ia langsung menariknya kembali. Rasa takut dan penasaran kini beradu sengit di benak mereka berdua. Di dalam kamar kostan yang sempit itu, keberadaan tas hitam misterius milik Aldi kini menjelma menjadi sebuah teror baru.