NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Sang Mayor

Istri Pilihan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:47.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.

Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.

Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.

Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.

Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.

Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenapa harus Bu Latifah?

Untuk beberapa detik, pria itu hanya menatap putrinya tanpa mampu berkata-kata.

"Bu Latifah?" ulangnya, memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar.

Kaning mengangguk mantap.

"Iya, Pah! Harus Bu Latifah!"

Bima mengerutkan keningnya sesaat.

"Kenapa harus Bu Latifah, Kaning?"

Kaning memeluk bonekanya, kemudian menjawab dengan wajah polos yang begitu meyakinkan.

"Karena Kaning sayang sama Bu Latifah!"

Bima masih terdiam.

Kaning melanjutkan dengan penuh semangat.

"Bu Latifah itu baik sekali, Pah. Bu Latifah selalu menemani Kaning kalau Kaning sedih. Kalau Kaning menangis karena kangen Papah, Bu Latifah selalu memeluk Kaning. Bu Latifah juga mengajari Kaning mengaji, menulis, berdoa, dan banyak hal lainnya."

Senyum kecil muncul di wajah bocah itu.

"Kalau Kaning sakit, Bu Latifah juga selalu bertanya apakah Kaning sudah minum obat. Kalau Kaning takut, Bu Latifah menemani Kaning sampai Kaning berani."

Bima menelan ludah. Setiap kalimat yang diucapkan putrinya seolah membawanya kembali pada kenangan selama berada di Darussalam.

Ia masih ingat bagaimana Latifah berdiri di hadapannya dengan pakaian muslimah sederhana dan hijab yang membingkai wajahnya. Ia ingat senyum tulus perempuan itu saat menyambut kedatangan mereka. Ia juga ingat bagaimana Latifah dengan sabar membimbing Kaning, bahkan ketika bocah itu menangis karena merindukan ayahnya.

Kaning tiba-tiba meraih tangan Bima.

"Papah, kalau Bu Latifah jadi ibu Kaning, Kaning pasti bahagia sekali!"

Jantung Bima seolah berhenti berdetak sesaat.

Ia menatap putrinya, kemudian tanpa sadar mengalihkan pandangan ke arah jendela.

Wajah Latifah kembali melintas dalam pikirannya.

Senyum perempuan itu. Tatapan matanya yang lembut. Suaranya yang tenang ketika menasihati Kaning. Dan caranya mengucapkan terima kasih ketika menerima hadiah darinya. Bima segera tersadar, lalu mengerjapkan mata beberapa kali.

"Kenapa aku jadi mengingat Bu Latifah?" batinnya tak percaya

Ia mengusap tengkuknya, merasa aneh dengan pikirannya sendiri.

"Tidak mungkin. Ibu sudah mengatakan bahwa perempuan yang akan dijodohkan denganku adalah putri kerabat keluarga. Aku bahkan belum mengetahui siapa namanya."

Bima menoleh kembali kepada Kaning.

"Sayang, Papah belum tentu menikah dengan Bu Latifah."

Senyum Kaning sedikit memudar.

"Kenapa, Pah?"

"Karena Papah belum tahu apakah Bu Latifah bersedia atau tidak. Lagipula, Papah juga harus mengenal perempuan yang akan menjadi istrinya Papah nanti."

Kaning terdiam sebentar, kemudian mengangguk pelan.

"Tapi Kaning ingin Bu Latifah jadi ibunya Kaning."

Bima tersenyum tipis, lalu mengusap pipi putrinya.

"Papah mengerti, Sayang."

"Kalau Papah menikah dengan perempuan lain, Kaning juga boleh sayang sama dia?"

Pertanyaan itu membuat Bima kembali terdiam.

Ia tidak menyangka Kaning akan memikirkan hal tersebut.

"Tentu saja boleh. Kalau suatu hari Papah menikah dengan perempuan yang baik dan dia juga menyayangi Kaning, Kaning boleh menyayanginya. Tapi Kaning tidak perlu memaksakan diri. Kita akan belajar mengenalnya bersama-sama."

Kaning mengangguk kecil.

"Tapi Papah tetap sayang sama Kaning, kan?"

Bima segera menarik putrinya ke dalam pelukannya.

"Tentu saja, Sayang. Tidak akan ada siapa pun yang bisa menggantikan Kaning di hati Papah."

"Walaupun Papah sudah punya istri?"

"Walaupun Papah sudah punya istri."

"Papah tetap menemani Kaning tidur?"

Bima tertawa lembut.

"Kalau Papah sedang tidak ada tugas dan Kaning ingin ditemani, tentu saja."

"Papah tetap membacakan cerita sebelum Kaning tidur?"

"Tentu."

"Papah tetap mengajak Kaning jalan-jalan?"

Bima mengecup kening putrinya.

"Iya, Sayang. Papah akan selalu berusaha menyediakan waktu untuk Kaning."

Kaning tersenyum lega, kemudian kembali memeluk leher ayahnya.

"Kalau begitu, Kaning mau Papah menikah."

Bima terkekeh.

"Baiklah, Nona Kecil. Papah akan mempertimbangkannya."

Kaning mengangkat wajahnya.

"Pertimbangkan Bu Latifah juga, ya, Pah!"

Bima menggelengkan kepala sambil tersenyum.

"Iya, iya. Papah dengar."

Namun, ketika Kaning kembali bermain dengan bonekanya, senyum Bima perlahan memudar menjadi ekspresi penuh pikiran.

Nama Latifah terus bergema dalam benaknya.

Bu Latifah....Perempuan yang telah mendidik putrinya selama setahun. Perempuan yang selalu disebut Kaning setiap hari. Perempuan yang wajahnya kini entah mengapa muncul berkali-kali dalam pikirannya.

Bima berdiri, kemudian membenarkan seragamnya.

"Sudah, Sayang. Papah harus berangkat kerja sekarang."

Kaning segera berdiri dan memeluknya sekali lagi.

"Hati-hati di jalan, Pah!"

"Iya. Kaning juga harus rajin belajar, ya. Jangan lupa solat dan mengaji."

"Siap, Pak Mayor!"

Bima tertegun sesaat, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Astaga! Siapa yang mengajari Kaning menjawab seperti itu?"

Kaning terkikik.

"Nenek!"

Bima menggeleng geli, lalu mencium pipi putrinya sebelum melangkah keluar dari kamar.

Namun, begitu pintu tertutup di belakangnya, ia kembali terdiam.

"Kenapa nama perempuan itu terus muncul?"

Ia berjalan menyusuri lorong rumah, tetapi pikirannya masih tertinggal pada percakapan barusan.

"Apakah karena Kaning begitu menyayanginya? Atau karena aku sendiri mulai penasaran dengan sosoknya?"

Bima menghela napas panjang.

"Sudahlah, Abimanyu. Jangan berpikir yang macam-macam."

Ia berusaha menyingkirkan pikiran itu, lalu melangkah menuju ruang depan.Bagaimanapun, ia masih belum mengetahui siapa perempuan yang akan dijodohkan dengannya. Dan ia tidak ingin membuat kesimpulan hanya karena putrinya begitu menyayangi seorang guru.

Namun, jauh di lubuk hatinya, sebuah kemungkinan kecil mulai tumbuh.

Bagaimana jika perempuan yang akan ditemuinya di Bandung ternyata memang seseorang yang sudah dikenalnya?

Setelah Bima meninggalkan kamar, Kaning kembali duduk di atas karpet. Ia mengambil boneka kesayangannya, lalu memeluknya erat-erat.

Bocah itu menatap pintu yang baru saja dilewati sang ayah.

"Semoga Papah mau menikah dengan Bu Latifah," gumamnya polos.

Ia kemudian menengadahkan wajahnya, mengingat doa-doa yang diajarkan Latifah selama berada di Darussalam.

"Ya Allah, kalau boleh, Kaning ingin Bu Latifah yang menjadi ibunya Kaning. Kaning sayang sekali sama Bu Latifah."

Kaning memejamkan matanya sejenak.

"Tapi kalau memang bukan Bu Latifah, semoga Papah mendapatkan istri yang baik dan sayang sama Kaning."

Setelah selesai berdoa, ia kembali memeluk bonekanya sambil tersenyum kecil.

Bocah itu tidak mengetahui bahwa keinginannya mungkin saja menjadi kenyataan.

Sebab, di tempat lain, Bu Almira tengah mempersiapkan pertemuan di Bandung dengan harapan putranya akan menerima perempuan yang telah dipilihkan keluarga.

Ia belum mengetahui bahwa cucunya sendiri telah menyebut nama calon menantu yang selama ini ia rahasiakan. Yakni Latifah Azalea.

Dan ketika nama itu akhirnya terucap dalam pertemuan keluarga nanti, Bima mungkin akan menyadari bahwa takdir telah mempertemukannya dengan calon istrinya jauh sebelum ia bersedia menerima perjodohan tersebut.

Sementara bagi Latifah, pertemuan itu bisa menjadi awal dari kebingungan yang lebih besar.

Karena sebelum ia mengetahui siapa calon suaminya, hatinya masih menyimpan nama seorang pria lain. Yakni Ustaz Firman.

Akankah Bima tetap menerima perjodohan ketika mengetahui identitas calon istrinya? Dan mampukah Latifah membuka hati untuk pria yang selama ini ia kenal sebagai ayah dari anak yang begitu dicintainya?

Bersambung...

1
Nar Sih
ustaz firman jgn coba,,ganggu rmh tangga larifah ,bljar terima kenyataaan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: belum bisa move on dia itu, kak 🙄🤣
total 1 replies
Dua Putri
malam pertama penasaran pasti seru y kk p
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Oalah 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
wah...grgr luka kena pisau cukur eh...malah dpt ciuman ☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya dong kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ayu FazRina Satiasari
baca nya jd ikut senyum senyuumm eee....😍😍😍😍gemeezz dech Mayor Bima kalo bucinn😍😍😅🤭🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Applaud//Applaud//Applaud/
total 1 replies
Teh Euis Tea
cieeee sosor trs pak mayor gpp berdarah jg palingan jeding dikit 🤣🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: jeding kaya bebek 🤣🤣🤣
total 1 replies
Teh Euis Tea
cieeeee udah mulai ada rasa rasa, kaning ganggu aj km mah baru nyentuh ujungnya jga jd deh 🤭🤭🤭🤭🤭
Teh Euis Tea
ustad firman aku tolak ta'arufnya abisnya km jd pebinor aku balik lg ke Rafatar aj 🤭🤭🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sentil kak Monggo aku ikhlas 🤣🤣🤣
total 3 replies
Atik Kiswati
udah mulai cinta ruh....😍
Sastri Dalila
🤣🤣
Nar Sih
latifah...itu tanda nya benih,,cinta sdh muncul dan bntr lgi bermekaran ☺️🥰🥰
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak 🤣
total 1 replies
sri hastuti
sdh waktunya mereka bahagia thor, jangan biarkan uztad firman jd penggangu rumah tangga mereka, kasihan latifah 🙏🙏
Sastri Dalila
🤗🤗🤗
Nar Sih
belajar terima keadaan ustaz,latifah sdh berkeluarga semoga segra kmu temukan ganti nya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk ☺️
total 1 replies
Dua Putri
bguss sekali... gk sabar lihat mayor Bima bucin
Atik Kiswati
ketidak sengajaan yg membuat org perpikiran buruk.....
Teh Euis Tea
nyari penyakit km mah ustad ingat woyy lathifah istri orang suaminya mayor loh ustad
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
wahhh ustad firman jgn gitu ntar ketauan pak mayor jd kelar hidupmu ustad
Teh Euis Tea: ho'oh kak🤭
total 2 replies
Teh Euis Tea
ustad firman udah jgn mikirin trs lathifah Kitakan lagi ta'aruf 🤭🤭🤭🤭🤭
Teh Euis Tea: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
Nar Sih
kejujuran dlm rmh tangga emang harus dijga ,seperti bima dan latifah ,grgr ustaz firman jdi gosip deh buat latifah ,
Nar Sih
ustaz firman kasih perhatian buat latifah ,hati,,ifah semoga kmu gk tergoda lgi
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!