NovelToon NovelToon
Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:480
Nilai: 5
Nama Author: Bagas Hirmawan

Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.

Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.

Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.

Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.

Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 — Nama yang Kembali dari Kematian

Bai mundur dengan wajah pucat. Sosok berambut putih di belakangnya tidak bergerak, tetapi kehadirannya membuat seluruh ruangan terasa menyempit. Kain hitam menutupi kedua matanya, sementara pakaian abu-abunya tampak sama seperti pakaian yang dikenakan Bai. Bahkan bekas luka kecil di dekat dagunya pun identik.

Satu-satunya perbedaan adalah ekspresinya. Bai selalu terlihat seperti seseorang yang menyimpan terlalu banyak rahasia. Sosok di hadapannya justru tampak seperti orang yang telah mengetahui seluruh jawaban, tetapi kehilangan alasan untuk peduli.

“Siapa kau?” tanya Gu Chen.

Sosok itu memiringkan kepala.

“Kau benar-benar tidak mengingatku?”

“Kalau aku mengingat semua orang yang muncul dari bayangan, hidupku mungkin akan jauh lebih menyenangkan.”

“Humormu masih sama.”

“Aku menganggap itu pujian.”

Sosok itu tidak membalas. Ia mengangkat tangan dan menyentuh bahu Bai. Sentuhan sederhana tersebut membuat tubuh Bai bergetar. Bayangan di bawah kakinya terbelah menjadi dua, lalu perlahan menyatu kembali.

Gu Yuan segera menarik Gu Chen dan Lin Yue menjauh.

“Jangan biarkan mereka bersentuhan terlalu lama.”

“Kenapa?” Lin Yue mengangkat busurnya, membidik sosok berambut putih itu.

“Karena keduanya bukan dua orang yang seharusnya hidup secara bersamaan.”

Sosok tersebut menoleh ke arah Gu Yuan.

“Kau masih suka memberikan penjelasan setengah-setengah.”

“Dan kau masih suka muncul setelah semuanya terlambat.”

“Bukankah itu yang kau ajarkan kepadaku?”

Gu Yuan terdiam.

Gu Chen menangkap perubahan kecil di wajah ayahnya. Bukan keterkejutan, melainkan pengenalan. Gu Yuan mengenal sosok itu, atau setidaknya mengenali sesuatu yang berkaitan dengannya.

“Kalian pernah bertemu,” kata Gu Chen.

Gu Yuan tidak menyangkalnya.

“Dahulu.”

“Seberapa dahulu?”

“Sebelum aku kehilangan namaku.”

Gu Chen menoleh kepada sosok berambut putih itu. “Jadi, kau adalah pemilik nama Bai yang sebenarnya?”

Sosok itu mengangguk.

“Nama Bai pernah menjadi milikku. Namun, orang yang berdiri di hadapanmu juga pernah menggunakan nama itu.”

“Jadi kalian berbagi nama?”

“Bukan. Dia mengambil tempatku, sedangkan aku kehilangan hak untuk menggunakannya.”

Bai tiba-tiba mengangkat kepala. “Aku tidak mengambil apa pun darimu.”

Sosok berambut putih itu menghadapnya.

“Kau yakin?”

“Aku tidak pernah meminta nama itu.”

“Meminta dan mengambil adalah dua hal berbeda.”

Bai mengepalkan tangannya. “Aku tidak tahu siapa dirimu!”

“Karena kau dibentuk untuk tidak mengetahuinya.”

Kalimat itu membuat semua orang terdiam.

Gu Chen memandang Bai dengan lebih saksama. Selama perjalanan mereka, Bai selalu menjadi orang yang memiliki jawaban, meskipun jawabannya sering kali tidak lengkap. Ia mengetahui tentang lonceng, arsip, para pemain, bahkan sebagian masa lalu Gu Chen. Namun, jika sosok di hadapan mereka benar, mungkin Bai sendiri tidak pernah memahami asal-usulnya.

“Dibentuk oleh siapa?” tanya Gu Chen.

Sosok itu mengangkat wajahnya ke arah Gu Chen. Meskipun matanya tertutup, Gu Chen merasa sedang ditatap oleh seseorang yang bisa melihat lebih dalam daripada sekadar tubuhnya.

“Orang yang sama dengan orang yang menciptakan kehidupanmu sekarang.”

Gu Yuan langsung bergerak.

“Cukup.”

Sosok berambut putih itu tersenyum tipis. “Kau takut dia mengetahui sesuatu?”

“Aku tidak akan membiarkanmu menggunakan dia.”

“Aku tidak perlu menggunakannya. Dia sudah menjadi bagian dari permainan ini sejak sebelum kau memberinya nama.”

Gu Chen mengangkat tangan, menghentikan perdebatan mereka.

“Tidak ada yang akan melanjutkan pembicaraan ini sebelum aku mendapat jawaban yang jelas. Kau,” katanya sambil menunjuk sosok berambut putih, “mengaku sebagai pemilik asli nama Bai. Lalu apa hubunganmu dengan Bai yang sekarang?”

Sosok itu terdiam beberapa saat.

“Aku adalah sisa dari seseorang yang pernah hidup. Dia adalah kehidupan yang dibentuk dari bagian-bagian yang tertinggal setelah aku dihapus.”

Gu Chen menatap Bai.

Bai tidak menjawab. Ia tampak sedang berusaha mengingat sesuatu yang telah lama dikubur.

“Dengan kata lain,” lanjut Gu Chen, “kau bukan saudara kembar, bukan tiruan biasa, dan bukan pula orang yang sekadar memiliki wajah sama.”

“Benar.”

“Lalu mengapa kau kembali sekarang?”

Sosok itu mengangkat satu jari dan menunjuk lonceng hitam di dalam tas Gu Chen.

“Karena lonceng itu telah memulihkan namaku. Selama namaku tidak ada, aku tidak dapat kembali ke dunia ini. Sekarang aku bisa.”

“Dan apa yang akan kau lakukan?”

“Mengambil kembali sesuatu yang menjadi milikku.”

“Namamu?”

“Bukan hanya namaku.”

Sosok itu menurunkan tangannya.

“Ingatan yang dicuri dariku. Kehidupan yang dirampas dariku. Dan orang yang memutuskan bahwa aku tidak pantas ada.”

Gu Chen menghela napas. “Tentu saja. Tidak pernah ada orang yang muncul di hadapanku hanya untuk menanyakan arah jalan.”

Lin Yue meliriknya. “Kau bisa berhenti bercanda selama lima menit?”

“Tidak bisa. Ini mekanisme pertahanan.”

“Kau menyebalkan.”

“Aku tahu.”

Namun, senyum tipis Gu Chen segera menghilang. Ia memperhatikan lantai di sekitar Bai. Sejak sosok berambut putih itu muncul, bayangan mereka tidak lagi bergerak searah. Bayangan Bai menghadap ke kiri, sedangkan bayangan sosok berambut putih menghadap lurus ke depan.

Ada sesuatu yang salah.

Gu Chen pernah melihat fenomena serupa di reruntuhan Dinasti Wuming, ketika sejarah berusaha mengoreksi keberadaan seseorang. Namun, kali ini tidak ada tulisan peringatan yang muncul.

Ia berjongkok, menyentuh lantai dengan ujung jarinya.

Dingin.

Terlalu dingin.

“Lin Yue, mundur.”

Lin Yue langsung menggeser posisinya. “Apa yang kau temukan?”

“Belum tahu.”

Gu Chen mengambil sepotong pecahan botol dan melemparkannya ke antara kedua bayangan.

Pecahan itu jatuh melewati lantai.

Tidak menimbulkan suara.

Tidak meninggalkan bekas.

Benda itu seolah jatuh ke tempat yang tidak memiliki dasar.

Gu Yuan mengumpat pelan.

“Jangan bergerak!”

Namun, lantai telah lebih dahulu berubah. Garis-garis hitam menjalar dari bawah kaki Bai, membentuk lingkaran yang menutupi seluruh ruangan. Botol-botol nama mulai terangkat, berputar mengelilingi mereka seperti bintang-bintang yang kehilangan tempat di langit.

Sosok berambut putih itu mengangkat wajah.

“Rupanya pemulihan nama telah membangunkan penjaga.”

“Penjaga apa?” tanya Lin Yue.

“Penjaga yang memastikan tidak ada dua pemilik nama menempati dunia yang sama.”

Dari balik rak terakhir terdengar bunyi ketukan.

Tiga kali.

Tok.

Tok.

Tok.

Kemudian, sebuah suara terdengar dari segala arah.

\[PEMERIKSAAN IDENTITAS DIMULAI.\]

\[SUBJEK PERTAMA: BAI.\]

\[SUBJEK KEDUA: BAI.\]

\[KONFLIK KEPEMILIKAN TERDETEKSI.\]

\[KEPUTUSAN: SALAH SATU SUBJEK HARUS DIHAPUS.\]

Lin Yue mengangkat busurnya lebih tinggi. “Kita harus melakukan sesuatu!”

“Tidak!” Bai berteriak. “Jangan menyerang apa pun!”

Terlambat.

Sebuah tombak hitam muncul dari langit-langit dan melesat ke arah sosok berambut putih. Sosok itu tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan, dan tombak tersebut berhenti beberapa jari dari dadanya.

Lalu tombak itu berbalik.

Sasarannya kini Bai.

Gu Chen bergerak tanpa berpikir. Ia menarik Bai ke samping, tetapi ujung tombak tetap menggores bahunya. Rasa dingin menyebar melalui luka itu, membuat lengannya mati rasa.

\[PERINGATAN: KONTAK DENGAN SENJATA PENGHAPUS.\]

\[SEBAGIAN KECIL IDENTITAS TARGET TELAH TERKIKIS.\]

Gu Chen menggertakkan gigi.

“Senjata yang sangat tidak sopan.”

Ia mencoba menggerakkan jarinya. Lengan kanannya masih bisa bergerak, tetapi jauh lebih lambat daripada biasanya.

Gu Yuan berdiri di depan mereka, sementara Lin Yue menembakkan tiga anak panah ke arah tombak. Dua anak panah lenyap sebelum menyentuh sasaran. Anak panah ketiga berhasil menghantam batangnya, membuat tombak itu menyimpang dan menancap ke dinding.

Namun, dinding yang terkena tombak langsung kehilangan warnanya. Batu, ukiran, dan tulisan di sekitarnya menghilang seolah tidak pernah ada.

“Senjata itu tidak menghancurkan benda,” kata Gu Chen. “Ia membuat benda tersebut tidak pernah tercatat.”

“Dan jika terkena tubuhmu?” tanya Lin Yue.

Gu Chen melirik bahunya yang terluka.

“Kita tidak perlu menguji jawabannya.”

Sosok berambut putih itu akhirnya bergerak. Ia melangkah ke depan dan berdiri di antara Bai dan tombak-tombak yang mulai muncul kembali.

“Pemeriksaan ini tidak memiliki hak untuk menghapusku.”

Suara dari segala arah menjawab.

\[HAK KEPEMILIKAN TIDAK DAPAT DIBUKTIKAN.\]

“Kalau begitu, periksa namaku.”

\[PEMERIKSAAN DITOLAK.\]

“Periksa ingatanku.”

\[PEMERIKSAAN DITOLAK.\]

Sosok itu tertawa pendek.

“Jadi, bahkan sekarang kalian masih takut pada apa yang kusimpan.”

Ia merobek kain hitam yang menutupi matanya.

Gu Chen merasakan tubuhnya membeku.

Di balik kain itu tidak ada mata. Hanya dua lingkaran kosong, sama seperti lambang pada gelang kayu mereka. Akan tetapi, di tengah lingkaran sebelah kiri terdapat sebuah titik hitam yang bergerak perlahan, seperti pupil yang sedang mencari sesuatu.

Gu Chen mengenali lambang itu.

Ia pernah melihatnya pada sosok berambut putih yang muncul dalam penglihatannya—sosok yang menyebut dirinya Pemain Pertama.

Namun, sosok di hadapan mereka tidak memiliki wajah yang sama.

“Siapa sebenarnya kau?” bisik Gu Chen.

Sosok itu menoleh kepadanya.

“Aku pernah menjadi orang yang menjaga nama-nama yang tidak diinginkan dunia.”

Ia mengangkat tangan, memperlihatkan telapak tangannya yang dipenuhi tulisan samar.

“Dan aku adalah orang yang pertama kali menolak perintah untuk menghapusmu.”

Gu Yuan langsung menatapnya.

“Kau tidak seharusnya mengingat itu.”

“Kenapa? Karena kau juga berada di sana?”

Gu Yuan tidak menjawab.

Sosok berambut putih itu kembali menatap Gu Chen.

“Namaku pernah menjadi milik Bai. Namun, nama itu bukanlah nama yang harus kau cari sekarang. Jika kau ingin menemukan orang yang menciptakan kehidupanmu, kau harus pergi ke tempat yang tidak tercatat bahkan dalam Papan Kesepuluh.”

“Di mana?”

“Di tempat para pemain pertama kali belajar merasa takut.”

Lingkaran hitam di lantai mendadak berhenti bergerak.

Tulisan baru muncul di udara.

\[PEMERIKSAAN DITANGGUHKAN.\]

\[ALASAN: SUBJEK MEMILIKI INGATAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA.\]

\[PERINGATAN: JANGAN BIARKAN SUBJEK MENYEBUTKAN NAMA TERSEBUT.\]

Sosok berambut putih itu tersenyum.

“Sudah terlambat.”

Ia menoleh kepada Gu Chen dan mengucapkan satu kata.

Satu nama.

Gu Chen tidak mendengar bunyinya. Ia hanya merasakan sesuatu di dalam dirinya terlepas, seolah ada pintu yang selama ini tertutup rapat tiba-tiba terbuka sedikit.

Sesaat kemudian, seluruh botol di ruangan itu pecah bersamaan.

Cahaya putih menyelimuti mereka.

Ketika Gu Chen membuka mata, sosok berambut putih itu telah menghilang. Bai terbaring di lantai, bernapas dengan susah payah. Gu Yuan dan Lin Yue masih berada di dekatnya, tetapi semua rak dan botol di ruangan tersebut telah lenyap.

Mereka kini berada di sebuah aula kosong.

Di hadapan Gu Chen berdiri sebuah pintu batu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Tidak ada gagang. Tidak ada lambang sembilan garis. Tidak ada tulisan mengenai pemilik atau penjaga.

Hanya satu kalimat terukir di permukaannya.

TEMPAT INI DITUTUP OLEH ORANG YANG BELUM PERNAH DILAHIRKAN.

Gu Chen menyentuh tulisan itu.

Sebuah pesan muncul di hadapannya.

\[AKSES DITERIMA.\]

\[PENGUNJUNG: GU CHEN.\]

\[STATUS: TELAH DIKENALI.\]

Di bawahnya, muncul satu baris tambahan yang membuat Gu Chen tidak mampu bergerak.

\[PENCIPTA: SEDANG MENUNGGU DI DALAM.\]

Dari balik pintu terdengar suara seseorang.

Suara yang sangat dikenalnya.

Suara Gu Chen sendiri.

“Akhirnya kau datang. Aku sudah menunggumu sejak sebelum kau dilahirkan.”

Bersambung ke Bab 26 — Orang yang Menunggu Sebelum Kelahiran

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!