Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
KILAS BALIK — 15 tahun lalu
Erlyn berusia 20 tahun
Sudah hampir setahun Erlyn tinggal di penthouse itu. Hari-harinya diisi dengan menunggu.
Menunggu Om Hendi pulang, menunggu perintahnya, menunggu hari berganti. Namun di suatu malam, malam itu terasa berbeda. Udara di ruangan terasa lebih berat dari biasanya.
Saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam, pintu kamar Erlyn terbuka. Om Hendi berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan tatapan yang membuat seluruh bulu kuduk Erlyn berdiri.
"Ikut aku," katanya singkat, lalu berbalik berjalan menuju kamar tidur utamanya yang berada di ujung lorong.
Kaki Erlyn terasa berat sekali untuk melangkah. Ia tahu apa yang akan terjadi, namun ia belum siap. Ia masih gadis yang belum pernah disentuh siapa pun, belum pernah dekat dengan pria mana pun.
Jantungnya berdegup kencang seakan mau meledak di dada. Ia menelan ludah, menarik napas panjang, lalu melangkah mengikuti punggung pria itu dengan tangan yang dingin dan gemetar.
Di dalam kamar tidur yang remang itu, Om Hendi memintanya berdiri di tepi tempat tidur yang besar dan empuk. Ia berjalan mengelilingi Erlyn perlahan, seolah sedang meneliti sebuah benda berharga yang baru saja ia miliki sepenuhnya.
Tatapannya terasa panas di kulit Erlyn, membuat gadis itu menunduk dalam, takut jika matanya bertemu dengan tatapan pria itu.
"Angkat wajahmu, Erlyn," perintahnya lembut namun tak bisa dibantah.
Erlyn perlahan mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. Om Hendi berdiri tepat di hadapannya, tinggi tubuhnya membuat Erlyn merasa semakin kecil dan tak berdaya.
Tangannya Om Hendi terulur, menyentuh dagu Erlyn, lalu perlahan menyisir rambut gadis itu ke belakang telinga. Sentuhannya terasa halus, namun ada sesuatu yang mengintimidasi di gerakannya, seolah ia sedang menandai wilayahnya.
"Kau tahu malam ini apa yang akan terjadi?" tanyanya suaranya rendah, bergetar di udara yang hening.
Erlyn mengangguk pelan, bibirnya bergetar. "Iya, Om. Tapi... aku takut. Tolong... jangan kasar ya Om."
Om Hendi tersenyum tipis, namun senyum itu terasa menakutkan. "Takut itu wajar. Tapi kau harus ingat, ini bagian dari apa yang kita sepakati. Aku yang menyelamatkan ayahmu, dan kau... kau adalah milikku. Tubuhmu, keperawananmu, semuanya milikku. Dan aku akan menjadi orang pertama yang menikmatimu."
Erlyn menutup matanya rapat-rapat. Ia ingin lari, ingin menghilang, namun di mana pun ia melangkah, ia tahu pintu-pintu sudah terkunci dan dijaga. Tidak ada jalan keluar.
Saat itu terjadi, rasa sakit yang tajam menyergap tubuh Erlyn. Ia menahan jerit di kerongkongannya, menggigit bibirnya sendiri agar tidak bersuara.
Air mata jatuh membasahi pipinya satu per satu tanpa suara. Hendi tidak berhenti, ia terus melakukannya dengan cara yang kasar dan tidak lembut, seolah sedang menegaskan kekuasaannya atas tubuh muda yang belum pernah disentuh siapa pun itu.
Ia terlihat sangat menikmatinya, sementara Erlyn hanya terbaring kaku, menahan napas, berharap waktu berjalan lebih cepat agar malam itu segera berakhir.
Ketika akhirnya selesai, Hendi terlihat sangat puas. Ia mengusap rambut Erlyn yang berantakan dengan punggung tangannya. Matanya berbinar senang.
"Sempurna," bisiknya. "Kau benar-benar murni. Dan aku satu-satunya orang yang pernah menyentuhmu. Kau milikku sepenuhnya, Erlyn. Selamanya."
Sejak malam itu, hal seperti itu menjadi rutinitas yang menakutkan baginya. Hampir setiap malam, Hendi akan datang ke kamarnya atau memanggilnya ke kamar utama.
Seringkali berlangsung berjam-jam lamanya. Erlyn harus menahan rasa sakit yang masih ada dari malam sebelumnya, harus berpura-pura tidak kelelahan, harus tersenyum meski hatinya menjerit.
Tubuhnya terasa seperti bukan miliknya lagi, hanya wadah yang bisa dimanfaatkan kapan saja sesuai keinginan pria yang jauh lebih tua dan berkuasa itu.
Jika suatu waktu Erlyn sedang sakit dan kelelahan, atau ia memberanikan diri menolak, reaksi Hendi selalu mengerikan.
Suatu malam, Erlyn menolak dengan suara lemah, "Maaf Om... aku sedang sakit kepala. Bisa nggak malam ini jangan dulu?"
Wajah Hendi langsung berubah dingin. Ia berdiri tegak, menatap Erlyn seolah gadis itu baru saja melakukan dosa besar.
"Kau menolakku?" tanyanya, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Kau pikir kau punya hak untuk menolak? Siapa yang membiarkan ayahmu tetap hidup? Siapa yang membayar semua biayanya? Kau pikir itu semua gratis?"
Ia berjalan ke sudut ruangan, mengambil sebilah rotan tipis yang tersimpan di lemari kecil, benda yang selalu membuat Erlyn gemetar melihatnya.
"Pilih, Erlyn," katanya sambil memutar rotan itu di jari-jarinya. "Kau mendekat padaku sekarang dan melayaniku, atau aku beri pelajaran malam ini. Dan besok pagi, perawat ayahmu akan mendapat telepon untuk menghentikan semua perawatan."
Ancaman pada ayahnya adalah senjata yang selalu membuat lutut Erlyn lemas. Ia tidak peduli pada rasa sakit di tubuhnya sendiri, namun ia tidak bisa kehilangan ayahnya.
Dengan air mata yang mengalir deras di pipinya, Erlyn menurunkan kepalanya, menelan rasa sakit di hatinya yang jauh lebih dalam daripada rasa sakit di tubuhnya, dan berjalan mendekat.
Rotan itu terkadang tetap mendarat di kulitnya, di lengan, di punggung, di paha dan meninggalkan garis merah yang perih dan butuh waktu lama untuk memudar. Hendi bilang itu pengingat, agar Erlyn tidak pernah lupa tempatnya.
Seiring berjalannya waktu, Hendi juga mulai memintanya memakai pakaian yang membuat Erlyn merasa malu sekali.
Pakaian yang terbuka, yang tidak pantas dipakai siapa pun kecuali di ruangan tertutup itu. Ia memotretnya dengan pakaian-pakaian itu, menyuruhnya tersenyum ke arah kamera meski matanya berkaca-kaca dan hatinya hancur berkeping-keping.
Jika senyumnya dianggap kurang tulus, ia akan dibiarkan sendirian di kamar yang gelap selama berhari-hari, pintu dikunci dari luar, makanan dan minuman hanya dikirim sedikit sekali.
"Jangan berpikir kau bisa menyembunyikan apa pun dariku," ucap Hendi suatu hari sambil menunjuk kamera pengawas di sudut ruangan.
"Aku melihat setiap gerakmu. Aku tahu kapan kau menangis, kapan kau marah, kapan kau berharap bisa pergi.
Kau di sini karena kau butuh aku. Dan aku di sini karena aku ingin kau. Itu kenyataan yang harus kau terima."
Erlyn belajar untuk diam. Ia belajar bahwa suaranya tidak didengar di sini. Bahwa keinginannya tidak penting. Bahwa ia harus bertahan, menunggu, dan berharap suatu hari nanti ada jalan yang terbuka untuknya.
Setiap malam sebelum tidur, ia berdoa dalam hati: Tolong beri aku kekuatan. Tolong jaga Ayah. Dan tolong... berikan aku jalan pulang.
bergerak sendiri, 😅
entah gimana entar kalian berdua ini kalo main sembunyi2in terus...
mungkin iqbal pergi buat nenangin pikiran mungkin, mungkin lho yaaa...
gpp2 terus kalo ditanyaa /Sob/