Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Dikucilkan
Pagi setelah foto gudang arsip itu viral di grup WA pabrik, Nadia datang ke kantor jam tujuh kurang sepuluh, lebih pagi dari biasanya.
Ia sengaja datang pagi, biar bisa bereskan laporan timbangan sebelum orang lain datang.
Ruang administrasi masih sepi, hanya ada Mbak Sari yang lagi nyapu.
Nadia senyum, coba sapa seperti biasa.
"Pagi Mbak Sari," kata Nadia.
Mbak Sari lihat Nadia sebentar, tidak jawab, terus nyapu, pura-pura tidak dengar. Sapunya sengaja dibanting agak keras di dekat kaki Nadia.
Nadia diam, jantungnya berdebar. Ia jalan ke mejanya, duduk, buka laptop.
Sepuluh menit kemudian, Bu Lastri datang, bawa rantang. Biasanya Bu Lastri selalu bagi kue ke Nadia.
Pagi itu Bu Lastri lewat di depan meja Nadia, tidak lihat Nadia, langsung duduk di pojok, buka rantang, bagi kue ke Mbak Sari.
"Mbak Sari, ini kue lapis buat kamu, tadi malam aku bikin," kata Bu Lastri agak keras, biar Nadia dengar.
Mbak Sari ketawa.
"Wah makasih Bu Lastri, enak banget ini," jawab Mbak Sari.
Nadia tertunduk, pura-pura fokus ke laptop, tapi matanya sudah berkaca-kaca. Tangannya yang pegang mouse gemetar.
Jam tujuh lewat lima belas, dua staf timbangan cowok masuk. Mereka lihat Nadia, langsung bisik-bisik sambil ketawa kecil.
"Tuh, yang di foto gudang arsip," bisik yang satu.
"Iya, jam delapan malam, berduaan," bisik yang lain, lalu ketawa.
Nadia dengar jelas. Ia gigit bibir, tahan tangis.
Di luar, di lapangan, nasib Arif juga tidak lebih baik.
Arif lagi cek truk TBS yang mau bongkar, tiba-tiba mandor panen datang.
"Pak Arif, katanya semalam di gudang arsip macet ya pintunya? Lama ya benerinnya?" tanya mandor itu sambil senyum miring.
Arif tahu itu sindiran. Ia jawab singkat.
"Sudah beres, Pak. Sudah saya lapor ke Pak Hendra," jawab Arif tegas.
Mandor itu pergi, tapi masih ketawa sama dua karyawan lain.
Jam delapan, Pak Hendra panggil semua staf administrasi rapat pagi.
Semua duduk melingkar, kecuali Nadia. Kursi di sebelah Nadia kosong, tidak ada yang mau duduk di situ. Mbak Sari sengaja pindah duduk dekat Bu Lastri, jauh dari Nadia.
Pak Hendra lihat itu, pura-pura tidak lihat, lanjut rapat.
"Nadia, tolong laporan harian kemarin," kata Pak Hendra.
Nadia berdiri, suaranya kecil.
"Laporan timbangan kemarin total 1.500ton Pak, dari 150 truk. Rata-rata rendemen 22 persen," kata Nadia, suaranya hampir tidak terdengar.
"Terima kasih," jawab Pak Hendra singkat.
Rapat selesai, semua keluar, tidak ada yang ajak Nadia ngobrol.
Siang jam dua belas, jam makan siang.
Biasanya Nadia makan di kantin sama Mbak Sari dan Bu Lastri. Siang itu kantin ramai, semua karyawan makan.
Nadia datang bawa piring, cari tempat duduk. Di meja yang biasa, Mbak Sari dan Bu Lastri sudah duduk, tapi tas mereka ditaruh di kursi kosong, biar tidak ada yang duduk.
Nadia berdiri di depan meja itu.
"Mbak, boleh duduk di sini?" tanya Nadia pelan.
Mbak Sari lihat Nadia, lalu jawab, "Wah maaf ya, sudah ada yang pesan tempat ini, Bu Nadia. Penuh."
Padahal kursi itu kosong, hanya ada tas.
Nadia angguk, senyum dipaksakan, jalan ke meja paling pojok, duduk sendirian.
Dari meja sebelah, beberapa ibu-ibu kompleks lihat Nadia, bisik-bisik.
"Itu yang di foto itu ya? Kasihan Calon suaminya di kampung," kata seorang ibu.
Nadia dengar, nasinya jadi tidak enak. Ia makan dua suap, lalu berhenti, tidak habis.
Di mess putri sore jam lima, lebih parah lagi.
Nadia baru pulang, mau mandi, lihat ember di kamar mandi mess hilang. Gayungnya juga hilang.
Ia tanya ke penghuni mess lain.
"Mbak, lihat ember saya?" tanya Nadia.
Seorang mbak jawab ketus, "Gak tahu. Cari saja sendiri."
Nadia akhirnya mandi pakai ember pinjam dari dapur umum, airnya dingin.
Malam jam tujuh, di mess putra.
Arif tidak tahan lagi lihat Nadia dikucilkan seharian. Ia tahu semua ini gara-gara foto yang disebar Pak Bambang.
Ia jalan ke mess putri, bawa kantong plastik berisi roti dan susu.
Di depan mess putri, ia panggil.
"Nadia," kata Arif pelan.
Nadia keluar, kaget lihat Arif.
"Pak Arif, jangan di sini, nanti ada yang foto lagi," kata Nadia takut.
Arif kasih kantong plastik itu.
"Kamu belum makan siang tadi kan? Aku lihat kamu di kantin cuma makan dua suap. Ini roti buat kamu. Makan ya," kata Arif.
Nadia terima, air matanya jatuh.
"Terima kasih Pak Arif," kata Nadia.
"Kamu kuat ya. Jangan dengerin omongan mereka. Mereka tidak tahu yang sebenarnya," kata Arif, suaranya pelan tapi tegas.
Nadia angguk, hapus air mata.
"Aku kuat, Pak Arif. Aku sudah biasa dikucilkan dari kecil. Cuma kali ini rasanya lebih sakit," jawab Nadia.
Arif ingin peluk Nadia, tapi ia tahan. Ia hanya mengangguk, lalu pergi cepat, sebelum ada yang lihat.
Nadia masuk ke kamar mess, buka roti itu, makan sambil nangis pelan.
Di luar, hujan turun lagi, seperti malam di gudang arsip itu.
Dua orang yang dikucilkan satu pabrik, hanya bisa saling kuatkan dari jauh.
Dan foto itu, yang sebenarnya hanya foto pintu macet, sudah berhasil bikin satu pabrik benci sama mereka.
Besok, mereka harus lebih kuat lagi, karena Pak Hendra sudah bilang, akan ada evaluasi besar-besaran.
Bersambung
---