Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 — DOKUMEN YANG DISERAHKAN PADA PUKUL 23.41
Malam itu, Arga Pratama tidak langsung tidur.
Foto yang dikirim seseorang tanpa nama masih terpampang di layar ponselnya. Dalam foto tersebut, ia terlihat duduk di sebuah ruangan kantor proyek ARX-9 lima tahun lalu. Di hadapannya berdiri Bima Saputra, mengenakan seragam petugas keamanan dengan sebuah map tipis di tangannya.
Sudut kanan foto menunjukkan angka waktu yang sulit terbaca, tetapi setelah diperbesar, Arga menemukan tulisan yang sama seperti keterangan pengirim.
23.41.
Waktu itu cocok dengan catatan di buku lamanya.
TR-09/17-B — salinan diterima, lampiran belum lengkap.
Arga menatap tulisan tersebut cukup lama.
Ia memang tidak mengingat seluruh kejadian lima tahun lalu. Setelah insiden ARX-9, hidupnya berubah begitu cepat. Namanya dicoret dari proyek, reputasinya dihancurkan, dan sebagian besar orang yang dahulu mengenalnya memilih menjauh.
Namun, jika foto itu asli, berarti ada satu pertemuan penting yang terlupakan olehnya.
Pertemuan dengan Bima.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan baru masuk dari nomor yang sama.
Sekarang kau tahu siapa yang menyerahkan dokumen itu. Tanyakan kepada Bima mengapa dia membantumu malam itu, lalu membiarkan semua orang percaya bahwa dia tidak pernah melihat laporan keselamatan awal.
Arga membaca pesan itu berulang kali.
Ada dua kemungkinan. Bima memang menyembunyikan sesuatu, atau seseorang sedang menyusun cerita untuk membuatnya mencurigai orang yang salah.
Arga tidak ingin mengulangi kesalahan lima tahun lalu: mempercayai dokumen tanpa mengetahui siapa yang menyusunnya dan untuk tujuan apa dokumen itu dibuat.
Ia mengambil buku catatan lama, membuka halaman yang memuat kode TR-09/17-B, lalu menuliskan tiga pertanyaan.
Pertama, apakah foto itu asli?
Kedua, dokumen apa yang diserahkan Bima?
Ketiga, apakah Bima pernah membaca laporan keselamatan awal secara lengkap?
Arga menutup buku tersebut.
“Kalau ada yang ingin menjebakku lagi,” gumamnya, “kali ini aku akan memeriksa setiap jejaknya.”
Keesokan paginya, Arga datang ke bengkel lebih awal.
Pak Darto sedang memeriksa sebuah mobil keluarga ketika Arga meletakkan ponselnya di meja kerja.
“Pak, saya ingin menemui Bima hari ini.”
Pak Darto menghentikan pekerjaannya.
“Karena foto itu?”
Arga mengangguk.
“Saya tidak tahu apakah foto tersebut asli atau tidak. Tapi waktunya cocok dengan catatan di buku saya.”
Pak Darto membersihkan tangannya menggunakan kain lap.
“Kalau memang benar Bima menyerahkan dokumen kepadamu, belum tentu dia mengetahui seluruh isinya.”
“Saya tahu, Pak. Saya tidak akan menuduhnya sebelum mendengar penjelasannya.”
Pak Darto memandang Arga dengan serius.
“Bagus. Ingat, orang bisa berbohong, tetapi dokumen juga bisa dipakai untuk membuat orang berkata sesuatu yang tidak pernah mereka maksudkan.”
Arga menyimpan kembali ponselnya.
“Saya akan meminta dia menunjukkan catatan asli jika masih ada.”
“Dan jangan pergi sendirian tanpa memberi tahu siapa pun.”
Arga tersenyum tipis.
“Saya akan mengajak Nadia.”
Pak Darto mengangguk, lalu kembali memeriksa mesin mobil.
Sebelum Arga berangkat, lelaki tua itu memanggilnya sekali lagi.
“Arga.”
“Ya, Pak?”
“Kalau ternyata Bima memang menyembunyikan sesuatu, jangan langsung menganggap seluruh kesaksiannya palsu. Bisa jadi dia hanya menyembunyikan satu bagian karena takut. Tugasmu adalah mencari tahu bagian mana yang benar.”
Arga mengangguk.
Nasihat itu terdengar sederhana, tetapi justru itulah yang paling sulit dilakukan ketika masa lalu telah melukai begitu banyak orang.
Pukul sepuluh pagi, Arga dan Nadia bertemu Bima di ruang konsultasi teknis yang telah disediakan panitia kompetisi.
Bima datang membawa tas hitam dan sebuah map dokumen.
Ia terlihat lebih tegang daripada pertemuan mereka sebelumnya.
“Terima kasih sudah datang,” kata Bima.
Arga duduk di seberangnya.
“Saya ingin membicarakan sesuatu yang terjadi lima tahun lalu.”
Bima mengangguk pelan.
“Silakan.”
Arga tidak langsung menunjukkan foto anonim itu.
Ia terlebih dahulu membuka buku catatannya dan meletakkannya di atas meja.
“Apakah kamu pernah menyerahkan dokumen berkode TR-09/17-B kepadaku?”
Bima menatap kode tersebut.
Beberapa detik berlalu sebelum ia menjawab.
“Saya ingat pernah menyerahkan salinan catatan pemindahan dokumen. Tapi saya tidak ingat apakah kodenya persis seperti itu.”
“Di mana?”
“Di kantor administrasi proyek ARX-9.”
“Jam berapa?”
Bima mengusap wajahnya.
“Malam. Saya tidak bisa memastikan waktunya.”
Arga memperhatikan perubahan ekspresinya.
“Apakah kamu juga memberikan laporan keselamatan awal?”
Bima terdiam.
Nadia membuka buku catatan kecilnya, tetapi tidak menyela.
“Saya pernah melihat bagian dari laporan itu,” jawab Bima akhirnya. “Namun, saya tidak pernah mengatakan bahwa saya membaca keseluruhan laporan.”
Arga mencondongkan tubuh sedikit.
“Bagian apa yang kamu lihat?”
“Halaman yang membahas ketidaksesuaian konfigurasi. Ada catatan bahwa pengujian seharusnya dihentikan sampai pemeriksaan tambahan selesai.”
“Apakah nama saya tercantum di sana?”
“Saya tidak ingat dengan pasti.”
“Apakah kamu tahu bahwa laporan akhirnya justru menyalahkan saya?”
Bima menunduk.
“Saya mengetahuinya setelah laporan akhir diterbitkan.”
“Lalu mengapa kamu tidak pernah menyampaikan apa yang kamu lihat?”
Pertanyaan itu membuat suasana ruangan menjadi sunyi.
Bima menatap Arga, tetapi tidak segera menjawab.
“Karena saya tidak memiliki salinan lengkap,” katanya akhirnya. “Saya hanya petugas administrasi keamanan. Saya takut memberikan kesaksian tentang sesuatu yang tidak bisa saya buktikan.”
“Apakah kamu pernah mencoba mencari laporan itu lagi?”
“Pernah. Tapi setelah proyek berakhir, saya menerima instruksi bahwa pemeriksaan kartu akses dan dokumen terkait telah diambil alih oleh bagian pengawasan.”
“Siapa yang memberikan instruksi?”
Bima menggeleng.
“Pesannya menggunakan jalur EW-01. Tidak ada nama pribadi yang tercantum.”
Arga mengeluarkan foto anonim dari ponselnya dan meletakkannya di atas meja.
“Kalau begitu, jelaskan ini.”
Bima memandangi foto tersebut.
Wajahnya berubah.
“Saya mengenali ruangan ini.”
“Apakah kamu mengenali orang di dalamnya?”
Bima menatap gambar itu lebih dekat.
“Itu terlihat seperti saya.”
“Dan orang yang duduk di depanmu?”
Bima terdiam beberapa saat.
“Itu kamu, Arga.”
Nadia segera mengangkat pandangan.
Arga tidak menunjukkan keterkejutan. Meski jawaban tersebut menguatkan dugaan mereka, ia masih membutuhkan bukti lain.
“Jadi, kamu mengakui bahwa kita bertemu malam itu?”
“Ya. Sekarang saya mengingatnya.”
“Mengapa sebelumnya kamu tidak menyebutkan pertemuan tersebut?”
Bima mengembuskan napas panjang.
“Karena saya tidak mengingatnya dengan jelas. Saya menangani banyak dokumen pada malam itu. Setelah insiden, saya juga diperiksa beberapa kali. Saya berusaha menjawab berdasarkan apa yang benar-benar saya ingat, bukan berdasarkan dugaan.”
Arga menunjuk map dalam foto.
“Apakah itu dokumen TR-09/17-B?”
Bima memperhatikan gambar itu sekali lagi.
“Saya tidak bisa memastikan hanya dari foto ini. Tapi bentuk mapnya mirip dengan map yang digunakan bagian administrasi.”
“Apakah kamu menyerahkan salinan dokumen kepadaku?”
“Ya, sepertinya begitu. Saya ingat ada catatan pemindahan berkas yang belum lengkap. Saya menyerahkannya karena kamu sedang mencari asal sebuah dokumen.”
Arga terdiam.
Ingatan tentang kejadian itu masih belum kembali sepenuhnya. Namun, setidaknya Bima tidak lagi menyangkal bahwa mereka pernah bertemu.
“Apakah kamu tahu isi lampirannya?” tanya Nadia.
“Tidak. Saya tidak membaca seluruh lampiran.”
“Lalu bagaimana kamu tahu dokumen itu berkaitan dengan pemindahan berkas?”
“Karena judul pada halaman depannya. Saya tidak tahu apakah isi berkas di dalamnya sesuai dengan judul tersebut.”
Arga mengangguk perlahan.
Jawaban itu masuk akal, tetapi belum cukup untuk menyelesaikan persoalan.
“Bima, saya ingin kamu memahami satu hal. Saya tidak sedang mencari orang untuk dijadikan kambing hitam. Saya ingin mengetahui siapa yang mengubah laporan awal, siapa yang memindahkan dokumen, dan siapa yang memerintahkan pengujian tetap berjalan meskipun ada permintaan penghentian.”
Bima menatapnya lama.
“Saya mengerti.”
“Kalau kamu mengingat sesuatu, sekecil apa pun, katakan sekarang. Jangan menunggu sampai seseorang mengirim foto lain untuk mengingatkan kita.”
Bima tampak tersentak oleh kalimat terakhir itu.
“Ada satu hal,” katanya pelan.
Arga dan Nadia langsung memperhatikannya.
“Malam itu, sebelum menyerahkan salinan dokumen, saya melihat seseorang keluar dari ruang administrasi bawah tanah.”
“Siapa?”
“Saya tidak tahu namanya. Orang itu mengenakan kartu akses hitam.”
Arga merasakan ketegangan kembali memenuhi dadanya.
“Kamu bisa mengenali wajahnya?”
“Tidak. Dia memakai topi dan sebagian wajahnya tertutup bayangan.”
“Apakah kamu melihat kode kartu aksesnya?”
Bima menggeleng.
“Tapi saya ingat sesuatu yang aneh. Ketika orang itu melewati pintu, lampu pembaca kartu menyala dua kali. Seolah-olah sistem sedang mencatat dua perintah akses.”
Nadia segera menuliskan keterangan tersebut.
“Apakah itu mungkin kesalahan sistem?” tanyanya.
“Mungkin. Tapi saya pernah memeriksa perangkat itu. Biasanya, satu penggunaan kartu hanya menghasilkan satu catatan akses. Jika lampunya menyala dua kali, perlu diperiksa apakah ada perintah tambahan dari sistem.”
Arga teringat tangkapan layar yang pernah mereka terima.
Kartu hitam yang tidak tercatat telah dikembalikan.
Akses ke arsip pengawasan pada pukul 02.17.
Pengguna tercatat sebagai EW-01.
Selama ini, mereka belum mengetahui apakah catatan tersebut asli. Namun, keterangan Bima membuka kemungkinan bahwa sistem akses bisa mencatat lebih dari satu perintah untuk satu kejadian.
“Apakah kamu pernah melaporkan kejadian itu?” tanya Arga.
“Saya menuliskannya dalam catatan pemeriksaan keamanan.”
“Di mana catatannya sekarang?”
Bima mengeluarkan sebuah map dari tasnya.
“Saya membawa salinan catatan lama. Saya menemukannya beberapa hari lalu ketika memeriksa arsip pribadi.”
Ia menyerahkan selembar kertas kepada Arga.
Tulisan di bagian atas berbunyi:
PEMERIKSAAN AKSES RUANG ADMINISTRASI — CATATAN SEMENTARA.
Di bawahnya terdapat beberapa baris tulisan tangan, sebagian sudah memudar.
Arga membaca dengan teliti.
Pada bagian paling bawah, terdapat keterangan:
21.50 — kartu hitam, identitas pemegang belum terverifikasi.
23.41 — salinan TR-09/17-B diserahkan kepada personel teknis.
Catatan akses ganda diteruskan untuk pemeriksaan.
Namun, bagian yang seharusnya mencantumkan penerima laporan telah terpotong.
“Ini salinan dari catatan asli?” tanya Arga.
“Ya. Saya tidak pernah mengubah isinya. Tapi saya tidak bisa menjamin apakah salinan ini sudah lengkap sejak awal.”
Arga memotret dokumen itu, lalu meminta izin untuk mencatat sumber dan tanggal penerimaannya.
Bima menyetujuinya.
Untuk pertama kalinya, mereka memiliki bukti yang menghubungkan tiga hal: kartu hitam, penyerahan TR-09/17-B, dan catatan akses ganda.
Tetapi satu bagian tetap hilang.
Nama orang yang menerima laporan pemeriksaan keamanan.
Pertemuan berakhir tanpa tuduhan maupun kesimpulan akhir.
Sebelum berpisah, Arga mengajukan satu pertanyaan lagi.
“Bima, apakah kamu pernah melihat kotak arsip VIS-09?”
Bima langsung mengangkat kepala.
“VIS-09?”
“Kotak yang berisi catatan pengunjung, penerbitan kartu, dan dokumen keamanan.”
Bima berpikir sejenak.
“Saya pernah mendengar kode itu. Setelah proyek selesai, beberapa dokumen keamanan dipindahkan ke bagian pengawasan. Saya tidak tahu apakah semuanya berada di kotak yang sama.”
“Siapa yang mengurus pemindahannya?”
“Saya tidak melihat proses pemindahan secara langsung. Tapi saya ingat ada daftar inventaris yang harus ditandatangani oleh penerima.”
“Apakah kamu melihat tanda tangannya?”
Bima menggeleng.
“Tidak. Saya hanya tahu daftar itu dikembalikan dalam keadaan tidak lengkap.”
Arga menutup buku catatannya.
“Terima kasih. Untuk sekarang, saya tidak akan meminta kamu mengingat sesuatu yang memang tidak kamu ingat. Tapi jika kamu menemukan catatan lain, hubungi kami melalui jalur resmi.”
Bima mengangguk.
“Saya akan melakukannya.”
Saat Arga dan Nadia meninggalkan ruangan, Nadia berbicara pelan.
“Setidaknya, sekarang kita tahu foto itu tidak sepenuhnya palsu.”
“Benar,” jawab Arga. “Tapi kita juga belum tahu siapa yang mengirimkannya, bagian mana yang sengaja ditampilkan, dan bagian mana yang disembunyikan.”
“Menurutmu, Bima berkata jujur?”
Arga berhenti berjalan.
“Saya percaya dia benar-benar mengingat pertemuan itu. Namun, saya belum bisa memastikan bahwa seluruh keterangannya lengkap.”
Nadia mengangguk.
“Itu berarti kita harus mendapatkan dokumen aslinya.”
“Terutama SEC-22 dan VIS-09.”
Arga memasukkan salinan catatan Bima ke dalam map bukti.
“Kalau catatan akses ganda itu tercantum dalam SEC-22, kita bisa membandingkannya dengan log sistem. Kalau tidak, kita harus mencari tahu siapa yang menambahkan atau menghapusnya.”
Mereka kembali ke arena kompetisi.
Babak berikutnya akan dimulai dalam waktu kurang dari satu jam.
Tantangan hari itu adalah pemeriksaan sistem kendali kendaraan yang mengalami gangguan sesekali. Setiap tim harus menemukan penyebab gangguan, menjelaskan metode pengujian, dan menyusun laporan teknis yang dapat diperiksa oleh juri.
Arga bekerja bersama Rendy dan Dimas.
Rendy memeriksa pembacaan sensor, sementara Dimas mengamati perubahan sinyal dari modul kendali. Arga menguji sambungan kabel dan membandingkan hasil pengukuran dengan data referensi.
“Nilainya normal,” kata Dimas.
“Pada kondisi sekarang,” jawab Arga. “Kita harus tahu apa yang terjadi ketika beban berubah.”
Rendy mengatur simulasi beban.
Beberapa detik kemudian, pembacaan sensor melonjak.
“Nah, itu dia,” ujar Rendy.
Arga meminta mereka mengulangi pengujian untuk memastikan hasilnya bukan kesalahan pengukuran. Setelah tiga pengulangan, gangguan yang sama kembali muncul.
Mereka menemukan sambungan yang memiliki hambatan tidak stabil ketika suhu meningkat.
Rendy menghela napas lega.
“Kalau kita langsung mengganti modul kendali, kita akan membuang waktu.”
“Dan mungkin tidak menyelesaikan masalah,” kata Arga.
Dimas tersenyum.
“Kerja sama kita mulai membaik.”
Rendy melirik Arga.
“Jangan salah paham. Aku masih ingin mengalahkanmu.”
Arga tertawa kecil.
“Bagus. Berarti kamu belum kehilangan semangat.”
Mereka menyerahkan laporan dengan hasil pengukuran, urutan pemeriksaan, dan alasan teknis di balik kesimpulan mereka.
Kali ini, mereka tidak sekadar mencari jawaban yang benar. Mereka menunjukkan bagaimana jawaban itu diperoleh.
Ketika hasil sementara diumumkan, tim mereka kembali berada di posisi atas.
Namun, Arga tidak sempat menikmati kemenangan kecil itu terlalu lama.
Sebuah pesan masuk ketika ia sedang membereskan peralatan.
Nomor pengirimnya tidak dikenal.
Bima memang menyerahkan TR-09/17-B kepadamu. Tetapi dia tidak pernah menjelaskan siapa yang meminta dokumen itu disalin.
Arga menatap layar.
Pesan berikutnya muncul beberapa detik kemudian.
Periksa halaman terakhir SEC-22. Jangan hanya mencari nama EW-01.
Arga segera menunjukkan pesan itu kepada Nadia.
“Halaman terakhir SEC-22,” gumam Nadia. “Berarti pengirimnya tahu isi dokumen tersebut, atau setidaknya mengetahui sesuatu tentang strukturnya.”
“Dan dia sengaja mengarahkan kita ke bagian tertentu.”
“Apakah kita akan mengikutinya?”
“Kita akan memeriksa SEC-22 melalui jalur resmi. Pesan itu hanya petunjuk, bukan bukti.”
Arga mengirim permohonan akses ulang kepada panitia audit, melampirkan catatan Bima dan alasan teknis mengapa pemeriksaan kartu akses diperlukan.
Mereka tidak meminta seluruh arsip. Mereka hanya meminta bagian yang berkaitan dengan penerbitan kartu hitam, catatan akses ganda, dan penutupan temuan keamanan.
Beberapa jam kemudian, balasan resmi masuk.
Permohonan diterima untuk ditinjau.
Belum ada keputusan tentang kapan arsip dapat dibuka.
Arga meletakkan ponselnya di meja.
Mereka masih harus menunggu.
Namun, sebelum ia sempat membicarakan langkah berikutnya dengan Nadia, sebuah email baru tiba di kotak masuknya.
Tidak ada nama pengirim yang jelas.
Hanya satu lampiran PDF dengan nama berkas:
SEC22_FINAL_LASTPAGE.pdf
Arga tidak langsung membukanya.
Ia terlebih dahulu memeriksa informasi berkas, menyimpan salinan terpisah, dan mengirimkan metadata kepada Nadia untuk diperiksa. Setelah memastikan bahwa berkas tersebut tidak meminta akses ke akun atau sistem lain, mereka membuka halaman yang dikirimkan.
Halaman itu tampak seperti lembar penutupan pemeriksaan keamanan.
Di bagian atas tertulis:
SEC-22 — PEMERIKSAAN KARTU AKSES DAN PENUTUPAN TEMUAN.
Di bagian tengah terdapat tiga kolom.
TEMUAN.
TINDAKAN.
PENANGGUNG JAWAB.
Kolom pertama menyebutkan satu kartu akses hitam yang belum tercatat kembali.
Kolom kedua menyatakan bahwa pemeriksaan lanjutan dihentikan setelah instruksi dari jalur kewenangan eksternal.
Kolom ketiga berisi kode EW-01.
Arga membaca kalimat berikutnya.
Penutupan temuan tidak berarti kartu telah dikembalikan. Status fisik kartu belum dapat diverifikasi.
Nadia menahan napas.
“Jadi, mereka menutup pemeriksaan tanpa memastikan kartunya kembali.”
“Ya.”
Arga menggulir ke bagian bawah halaman.
Di sana terdapat kolom kecil yang hampir terpotong dari hasil pemindaian.
KETERANGAN TAMBAHAN: DOKUMEN PENDUKUNG DISERAHKAN KEPADA—
Nama penerimanya tertutup noda hitam.
Namun, di samping noda tersebut terdapat dua huruf yang masih terbaca.
R.W.
Arga membeku.
Inisial yang sama muncul pada catatan permintaan penghentian pengujian lima tahun lalu.
Raka Wibisono.
Sebelum mereka sempat membahasnya, Nadia menemukan sesuatu di bagian paling bawah halaman.
Sebuah nomor referensi yang sebelumnya tidak pernah mereka lihat.
TR-09/17-B — SALINAN KEDUA.
Bukan salinan yang ditemukan dalam buku catatan Arga.
Bukan pula dokumen yang diserahkan Bima.
Ini adalah salinan kedua dari berkas yang sama.
Dan pada kolom statusnya tertulis:
SALINAN PERTAMA: DITERIMA PERSONEL TEKNIS.
SALINAN KEDUA: TIDAK DITEMUKAN DALAM INVENTARIS.
Arga menatap layar tanpa berkata-kata.
Selama lima tahun, ia mengira catatan di buku lamanya hanyalah sisa dokumen yang tidak lengkap. Kini, ia mengetahui bahwa salinan yang pernah diterimanya bukan satu-satunya dokumen yang hilang.
Ada salinan kedua.
Seseorang pernah memegangnya.
Seseorang juga memastikan bahwa salinan itu tidak tercatat dalam inventaris.
Ponsel Arga kembali bergetar.
Kali ini, pesan tersebut hanya berisi satu kalimat.
Kalau kau ingin tahu siapa yang menerima salinan kedua, tanyakan kepada orang yang menandatangani penutupan SEC-22.
Arga dan Nadia langsung mencari bagian tanda tangan.
Namun, tepat di bawah kolom penanggung jawab, halaman itu terpotong.
Tidak ada nama.
Tidak ada jabatan.
Hanya sisa tinta berbentuk lengkungan, seolah-olah tanda tangan tersebut sengaja dihilangkan sebelum halaman dikirimkan.
Arga memperbesar gambar itu.
Di sudut kanan bawah, ia menemukan sebuah kode kecil yang hampir tak terlihat.
GW-04.
Arga terdiam.
Inisial itu bisa merujuk kepada banyak hal. Tetapi setelah semua catatan tentang Gunawan Wiratama, kantor pengawasan, dan dokumen yang diterima tanpa tanda terima, kode tersebut terlalu penting untuk diabaikan.
“Kita belum bisa menyimpulkan bahwa GW-04 milik Gunawan,” kata Nadia, seolah membaca pikirannya.
“Aku tahu.”
“Lalu apa yang akan kita lakukan?”
Arga menyimpan halaman itu bersama bukti lain.
“Kita cari dokumen pembanding. Kalau kode itu benar-benar terhubung dengan kantor Gunawan, harus ada catatan administrasi yang bisa mengonfirmasinya.”
Ia menutup berkas tersebut.
Di luar arena, suara kendaraan uji terdengar dari lintasan. Kompetisi akan terus berjalan, dan Arga masih harus mempertahankan posisinya.
Tetapi kini ia memahami sesuatu yang lebih besar daripada sekadar laporan yang diubah.
Lima tahun lalu, ada orang yang menghentikan pemeriksaan kartu akses sebelum kartu itu ditemukan.
Ada orang yang menerima atau memindahkan dokumen tanpa meninggalkan catatan lengkap.
Dan ada seseorang yang memastikan bahwa satu salinan penting tidak pernah muncul dalam inventaris resmi.
Arga mengambil buku catatan lamanya, lalu menambahkan satu baris di bawah kode TR-09/17-B.
SALINAN KEDUA — PENERIMA BELUM DIKETAHUI. KODE PENUTUPAN: GW-04.
Ia menatap tulisan itu.
Kali ini, ia tidak akan membiarkan satu kode pun berubah menjadi tuduhan tanpa bukti.
Namun, satu hal sudah pasti.
Rahasia ARX-9 belum berakhir pada malam pengujian.
Rahasia itu terus disembunyikan bahkan setelah laporan akhir diterbitkan.
Dan seseorang masih berusaha mengendalikan apa yang boleh diketahui Arga.
Bersambung.