Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Brum.
Suara mesin mobil mewah itu terdengar sangat halus saat berbelok memasuki sebuah gerbang besi hitam yang menjulang tinggi.
Dewi membelalakkan matanya melihat gerbang itu terbuka secara otomatis perlahan-lahan.
Klek. Klek. Klek.
Ini bukan gerbang rumah, ini lebih mirip gerbang istana kerajaan yang sering ada di film-film.
"Tuan Jas Mahal, apa kau yakin ini rumahmu dan bukan balai kota?" tanya Dewi dengan mulut sedikit terbuka.
Raka yang sedang mengecek sesuatu di tabletnya bahkan tidak repot-repot menoleh.
"Sudah kubilang panggil aku Tuan Raka, Nona Dewi."
"Dan tolong tutup mulutmu, kau terlihat seperti orang bodoh yang baru pertama kali melihat rumah besar," sindir Raka dingin.
Dewi langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat sambil mendengus kesal.
"Sombong sekali, awas saja kalau nanti kau jatuh miskin, aku akan menertawakanmu paling depan," batin Dewi bersungut-sungut.
Hamparan rumput hijau yang sangat luas langsung menyambut pandangan Dewi begitu mobil memasuki area pekarangan.
Ada air mancur besar di tengah taman dengan patung marmer putih berbentuk malaikat.
Dewi bisa melihat belasan tukang kebun berseragam sedang sibuk memangkas daun dan merapikan tanaman.
Sret.
Mobil akhirnya berhenti dengan mulus di depan lobi rumah yang memiliki pilar-pilar raksasa bergaya Eropa klasik.
Bram dengan sigap turun dari kursi depan dan membukakan pintu untuk Dewi serta Raka.
Ceklek.
"Silakan turun, Nona Dewi, kita sudah sampai," ucap Bram ramah.
Dewi mengangguk canggung dan mulai menggeser tubuhnya dengan sangat hati-hati.
Dia tidak ingin membangunkan Elvan yang tertidur pulas seperti koala kecil di pelukannya.
Angin sore ibu kota langsung menerpa wajah Dewi begitu dia keluar dari mobil.
Namun perhatiannya langsung tertuju pada barisan orang berseragam hitam putih yang berdiri rapi di depan pintu masuk.
Ada sekitar sepuluh orang pelayan wanita dan lima orang pelayan pria.
Mereka semua menunduk hormat dengan gerakan yang sangat sinkron saat Raka keluar dari mobil.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda Raka," ucap mereka serempak dengan suara lantang.
Dewi sampai sedikit tersentak mundur karena kaget mendengar paduan suara mendadak itu.
Seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi dan kacamata berbingkai tajam melangkah maju.
Dia adalah Kepala Pelayan di mansion ini, namanya Bi Marni.
"Tuan Raka, syukurlah Tuan Muda Elvan sudah ditemukan," ucap Bi Marni dengan nada lega.
Namun pandangan mata Bi Marni langsung berubah tajam bagai silet saat menatap ke arah Dewi.
Bi Marni memindai penampilan Dewi dari ujung rambut yang lepek hingga ujung sepatu ketsnya yang buluk.
Hidung Bi Marni bahkan sedikit berkerut, seolah mencium bau tidak sedap dari tubuh Dewi.
"Tuan, maaf kelancangan saya, tapi siapa wanita berpenampilan kumuh ini?" tanya Bi Marni tanpa basa-basi.
"Dan mengapa dia berani menyentuh Tuan Muda Elvan dengan tangan kotornya?" lanjutnya dengan nada sinis.
Dewi langsung merasakan darahnya mendidih mendengar hinaan terang-terangan itu.
"Heh Ibu Kacamata, tangan kotor ini yang baru saja menenangkan anak majikanmu yang menangis histeris di jalanan!" balas Dewi tajam.
Bi Marni melebarkan matanya, terkejut melihat gelandangan ini berani menjawab perkataannya.
"Berani sekali kau meninggikan suaramu di rumah keluarga Mahardika!" bentak Bi Marni.
"Cukup."
Suara Raka yang berat dan dingin langsung memotong keributan itu.
Semua pelayan seketika kembali menunduk takut, termasuk Bi Marni yang langsung mengatupkan bibirnya.
"Dia Dewi Anjani. Mulai hari ini dia akan tinggal di sini sebagai ibu asuh khusus untuk Elvan," jelas Raka singkat.
Terdengar suara helaan nafas tertahan dari barisan para pelayan.
Mereka saling lirik dengan tatapan tidak percaya.
Bagaimana mungkin Tuan Raka yang sangat terobsesi dengan kebersihan membawa wanita gembel ini ke dalam rumah?
"Tapi Tuan, apakah dia sudah dites kesehatannya? Bagaimana kalau dia membawa virus?" protes Bi Marni masih tidak terima.
Raka menatap Bi Marni dengan pandangan yang membuat wanita paruh baya itu langsung menelan ludahnya sendiri.
"Marni, sejak kapan kau yang mengatur keputusanku di rumah ini?" tanya Raka pelan tapi mematikan.
"M-maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud begitu," jawab Bi Marni dengan suara bergetar.
"Bram, bawa Nona Dewi ke kamar Elvan. Biarkan anak itu tidur di kasurnya."
"Lalu minta Dewi ke ruang kerjaku untuk menandatangani kontrak."
Raka memberikan perintah terakhirnya sebelum melangkah masuk ke dalam rumah megah itu tanpa menoleh lagi.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah sepatu kulit Raka bergema di lantai marmer yang mengkilap.
"Mari, Nona Dewi, saya antar ke lantai dua," ajak Bram sopan sambil menunjuk ke arah tangga melingkar yang sangat besar.
Dewi mengangguk dan mengikuti Bram melangkah masuk ke dalam mansion.
Matanya tidak berhenti berkedip melihat lampu kristal raksasa yang menggantung di tengah ruangan.
"Astaga, kalau lampu itu jatuh menimpaku, gajiku seratus tahun pun tidak akan cukup untuk menggantinya," batin Dewi ngeri.
Bi Marni dan pelayan lainnya menatap punggung Dewi dengan pandangan tidak suka.
"Lihat saja nanti, wanita kampungan itu pasti tidak akan bertahan lebih dari tiga hari di sini," bisik Bi Marni pada pelayan di sebelahnya.
Dewi tiba di kamar Elvan yang ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari kamar kos Dewi.
Semua perabotan di sana bernuansa biru muda dan putih, dipenuhi puluhan mainan mahal yang berserakan.
Dewi meletakkan tubuh kecil Elvan ke atas kasur empuk dengan sangat perlahan.
Sret.
Elvan kembali merengek pelan dalam tidurnya saat merasa kehangatan dari pelukan Dewi menghilang.
Dewi dengan cepat menepuk-nepuk dada anak itu dan menyodorkan sebuah boneka beruang berbulu halus ke pelukan Elvan.
Ajaibnya, Elvan langsung memeluk boneka itu erat-erat dan kembali bernapas teratur.
Dewi tersenyum kecil melihat wajah damai bocah tiga tahun itu.
"Anak ini sebenarnya sangat manis, sayangnya dia punya ayah sekaku kanebo kering," gumam Dewi pelan.
"Nona Dewi, Tuan Raka sudah menunggu di ruang kerjanya," tegur Bram dari ambang pintu.
"Oh iya, Pak Bram. Di mana ruang kerjanya?" tanya Dewi sambil merapikan sedikit kausnya yang kusut.
"Di ujung lorong lantai ini. Tapi sebelum itu, Bi Marni ingin bicara sebentar dengan Anda," jawab Bram sambil berlalu pergi.
Benar saja, begitu Dewi keluar dari kamar Elvan, Bi Marni sudah berdiri bersedekap dada di lorong.
Wajah wanita tua itu terlihat sangat angkuh dan merendahkan.
"Dengar ya wanita gembel, aku tidak tahu pelet apa yang kau gunakan sampai Tuan Raka memungutmu dari jalanan."
"Tapi di rumah ini, akulah yang mengatur semua urusan pelayan dan pekerja."
"Jangan harap kau bisa bersantai hanya karena kau mengasuh Tuan Muda."
Dewi memutar bola matanya malas, dia sudah sangat lelah hari ini dan tidak ingin berdebat dengan ibu-ibu cerewet.
"Iya, iya, terserah kau saja Bi. Sekarang minggir, aku mau menemui bosmu," balas Dewi santai sambil melangkah maju.
Ding!
Langkah Dewi seketika terhenti saat suara mekanis yang familiar itu kembali berbunyi di kepalanya.
Layar biru transparan mendadak muncul menghalangi pandangannya.
[Misi Sampingan Diaktifkan!]
[Kesan pertama adalah segalanya. Jangan biarkan pelayan sombong ini menginjak harga diri Anda!]
[Misi: Gunakan Item Pakaian Kasual Elegan dari Inventori sekarang juga untuk membungkam mulut mereka!]
[Hadiah Penyelesaian: Poin Kasih Sayang +5 dan Skill Aura Percaya Diri Aktif 1 Jam]
[Hukuman Kegagalan: Anda akan tersandung dan jatuh tengkurap di depan ruang kerja Tuan Raka!]
Mata Dewi membelalak membaca hukuman yang sangat memalukan itu.
"Sistem gila, kenapa hukumanmu selalu membuat harga diriku hancur?" rutuk Dewi dalam hati.
Bi Marni yang melihat Dewi mendadak diam mematung langsung tersenyum mengejek.
"Kenapa? Kau sadar diri kalau baju rombengmu itu akan mengotori karpet mahal di ruang kerja Tuan Raka?" sindir Bi Marni.
Dewi menarik nafas panjang dan memberikan senyum termanis yang dia punya.
"Bi Marni yang terhormat, di mana letak kamar mandi tamu terdekat?" tanya Dewi lembut.
Bi Marni menunjuk ke sebuah pintu kayu jati di ujung lorong sebelah kiri.
"Di sana. Jangan pakai sabun mahal yang ada di dalam, itu khusus untuk tamu penting."
"Bawel amat sih," gumam Dewi sambil berjalan cepat menuju kamar mandi tersebut.
Klek.
Dewi menutup pintu kamar mandi dan menguncinya rapat-rapat.
Bahkan kamar mandi tamu di rumah ini lebih mewah dari seluruh isi rumah kos Dewi.
Lantai marmernya berkilau, ada cermin besar berbingkai emas, dan wangi bunga lavender langsung tercium.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭