NovelToon NovelToon
Memanjakan Istriku Cukup Minta, Kuberikan

Memanjakan Istriku Cukup Minta, Kuberikan

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Tamat
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: Naysol C.

Sejak lahir, Emira Prawira hanyalah boneka hidup—dirancang untuk patuh, dibentuk untuk menyenangkan pria yang telah dijodohkan dengannya. Ia menelan setiap penghinaan, tersenyum di depan kamera, dan berpura-pura bahagia sebagai tunangan Marko Gunawan, sang pewaris dingin yang tak pernah sedetik pun memandangnya dengan lembut.

Tapi semua berubah saat seorang pria kembali ke dalam hidupnya.

Daniel Mahendra—konglomerat muda yang dijuluki "sang kaisar", pria paling berkuasa sekaligus paling diidamkan di negeri ini. Di mata dunia ia dingin dan tak tersentuh. Namun di hadapan Emira, ia rela menurunkan seluruh takhtanya. Posesif, memuja, dan tak kenal batas: "Cukup minta, dan akan kuberikan segalanya."

Ketika keluarga yang seharusnya melindunginya justru mengkhianatinya, Emira harus memilih—terus menjadi korban, atau bangkit menjadi wanita yang ditakuti dan dicintai. Di balik senyum lembutnya tersimpan dendam yang membara, rahasia keluarga yang berdarah, dan sebuah dunia kekuasaan yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naysol C., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

— Daniel —

Sesampainya di rumah, kuserahkan kartuku pada Emira dan kusuruh ia besok pergi berbelanja bersama sahabatnya untuk memilih gaun untuk acara yang akan digelar malam hari di Hotel White S. Aku harus mencari tahu apa yang sedang direncanakan Mafia Emas. Satu-satunya hal yang kami ketahui adalah nama pemimpinnya, Bara, putra mantan bos mafia itu, yang selamat dari kebakaran ketika orang tua kami dulu saling berhadapan.

Tujuanku datang dengan menyamar sebagai CEO J&G. Aku membawa Emira karena tempat itu tidak berbahaya. Lagi pula, saat kami tak bersama, Regina akan menemaninya untuk berjaga-jaga.

Keesokan paginya, ia berangkat dari rumah bersama sopir, tapi ia selalu dalam pengawalan; satu-satunya masalah adalah ia tak menyadarinya. Kalau tahu, ia pasti akan marah, tapi aku tak mau kejadian seperti terakhir kali dengan Marko terulang lagi. Selain itu, pria itu terus berputar-putar di sekitarnya seperti lalat. Meski begitu, kurasa ia sudah menyerah, sebab sudah tiga minggu ia tak muncul.

Beberapa saat kemudian, aku dan Wisnu menganalisis struktur seluruh hotel dan kemungkinan lokasi mereka menggelar pertemuan. Kami juga punya banyak dokumen tentang siapa saja kemungkinan sekutu Bara, tapi informasi mengenai anggota keluarganya telah diblokir oleh bos yang lama. Salah satu anggota keluarganya pasti telah mengambil alih pengasuhannya.

Setelah berjam-jam memeriksa dokumen tentang setiap anggota, aku melihat nama Viktor, ayah Emira. Ia pun bergabung dengan Bara, tapi bagaimana mereka bisa saling kenal? Perusahaannya tak ada kaitannya dengan teknologi atau persenjataan. Setelah berpikir panjang, aku menyuruh Leo mencari informasi tentang Viktor Prawira.

Ketika informasinya sampai, tak ada yang aneh. Hanya disebutkan bahwa ia pemilik perusahaan perhotelan dan punya seorang saudara tiri yang, setelah ia meninggal, mengambil alih perusahaannya. Saudaranya itu pun tak punya hubungan dengan Mafia Emas, dan istrinya tak punya kaitan apa pun dengan perusahaan. Yah, tak masalah. Sasaran penting saat ini adalah Bara.

— Emira —

Sementara berjalan-jalan di mal bersama Regina, aku bercerita bahwa aku sudah bertemu keluarga Daniel dan mereka orang-orang yang sangat menyenangkan dan tulus. Lalu kami masuk ke salah satu butik untuk mencari gaun yang menarik perhatianku. Regina menatapku dengan sedikit khawatir dan tampak ragu untuk bicara. Melihat sikapnya, aku bertanya,

"Ada apa? Kau kelihatan gelisah."

"Yah... Emira, kau tahu di mana acaranya akan diadakan?"

"Di Hotel White S. Kenapa?"

"Yah, coba ingat, siapa yang dulu sudah memesan tempat jauh-jauh hari di hotel itu."

Aku mengangkat sebelah alis. "Aku tak ingat. Siapa?"

"Sekretaris Marko yang berdada besar itu yang melakukan pemesanan."

Benar juga. Itu terjadi sehari sebelum kami putus, saat Marko menggoda sekretarisnya di depanku. Aku sampai benar-benar lupa. Kurasa bukan ide bagus menceritakan hal ini kepada Daniel. Ia sedang sibuk, dan aku tak mau menambah bebannya dengan hal sepele. Lagi pula, Marko tak akan punya waktu, karena yang ia pedulikan hanyalah koneksi yang bisa ia jalin di acara itu.

"Menurutku sebaiknya kau beri tahu CEO Daniel," ujar Regina.

"Tidak..."

"Baiklah." Ia tampak cemas. "Tapi setidaknya, tak ada salahnya memberi tahu Wisnu."

"Aku tahu, tapi tak perlu." Aku menunjuk diam-diam dengan pandangan ke arah samping, tempat para pengawal berada. "Lagi pula, bosmu itu keras kepala dan paranoid; aku selalu dijaga setiap kali keluar."

"Hi hi hi." Regina menahan tawa. "Kukira kau tak sadar. Awalnya kau ribut besar sampai satu perusahaan tahu. Mereka bilang CEO memanjakanmu, dan semua orang iri melihat caranya memperlakukanmu."

"Tapi ia memperlakukan semua orang sama saja. Aku tak lihat bedanya."

"Benar... hanya saja, saat berada di dekatmu, sikapnya berubah jadi seperti anak anjing yang riang. Tapi kalau kau tak ada di kantor, semua orang kadang gemetar, karena ia berubah"—Regina bergidik—"jadi iblis berdarah dingin yang mendominasi."

"Ha ha ha." Aku tergelak. "Aku ingin sekali melihat iblis berdarah dingin yang membuat sahabatku gemetar itu." Aku memeluknya.

"Sudah, berhenti mengejekku." Regina mengambil sebuah gaun. "Lihat, Emira, gaun ini cantik sekali, coba pakai."

Sementara aku dan sahabatku mengobrol, Selena datang dengan angkuh dan menatapku dengan pandangan meremehkan, lalu berkata kepada seorang pramuniaga,

"Gaun itu kuambil. Lebih cocok di tubuhku."

"Kau pikir siapa dirimu?" balas Regina berang, menghadapinya. "Buta, ya? Kami yang datang lebih dulu."

"Maaf," ujar pramuniaga itu kepada Selena, "tapi gaun itu edisi terbatas, dan hanya tinggal satu-satunya."

"Kau tak dengar aku bicara?" ujar Selena angkuh. "Sudah kubilang aku akan membayarnya." Ia melirik Regina. "Kau pikir gembel itu sanggup membayarnya?"

"Gembel. HA." Regina murka. "Aku lebih rela jadi gembel seribu kali, daripada jadi pelacur murahan sepertimu."

"KAU PEREMPUAN JALANG!" jerit Selena penuh amarah.

Aku sudah begitu geram menahan diri melihat cara Selena memperlakukan sahabatku. Maka ketika ia mengangkat tangan hendak menampar Regina, aku melangkah maju, mencengkeram pergelangan tangannya, dan mendorongnya ke belakang hingga ia tersandung hak sepatunya sendiri dan jatuh ke lantai.

Kutatap ia dengan pandangan membunuh penuh jijik, sambil mengeluarkan kartu yang diberikan Daniel.

"Aku yang akan membayar gaun itu," ucapku tegas.

Ketika para pramuniaga melihat kartu hitam itu, mereka terkejut, sebab hanya sedikit orang yang memilikinya. Aku mengamati reaksi mereka. Setelah gaun itu diserahkan kepadaku, kulemparkan ke arah Selena yang sedang berusaha bangkit.

"Tak usah berterima kasih," ujarku sinis. "Aku hanya melakukannya karena kasihan."

Kugandeng lengan sahabatku, lalu kami keluar dari butik itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!