Sofía hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang hidup di New York—kuliah sambil bekerja sebagai resepsionis, tanpa keluarga, tanpa sandaran. Sampai satu malam di sebuah pesta mewah, ia berpapasan dengan Alejandro: CEO miliarder yang tampan, dingin, dan menyimpan satu rahasia mematikan—ia pemimpin mafia Rusia yang ditakuti seluruh dunia hitam.
Pria yang tak percaya cinta itu tiba-tiba menginginkan Sofía menjadi miliknya seorang. Namun di balik gairah dan kemewahan yang memabukkan, tersembunyi pengkhianatan, kecemburuan, dan sebuah tragedi yang akan menghancurkan segalanya.
Ketika takdir melemparkannya jatuh, Sofía menemukan kebenaran yang mengguncang: ia bukan sekadar gadis miskin, melainkan putri yang hilang dari sebuah dinasti mafia berkuasa. Dan di sanalah ia bertemu Fernando Valentini—sang "Bestia", raja dunia hitam yang kejam sekaligus pemilik imperium bisnis yang tak tersentuh. Seorang pria yang bersumpah takkan pernah lagi mencintai... sampai ia bertemu perempuan yang mampu meruntuhkan setiap tembok di hatinya.
Di antara dua raja dunia hitam yang sama-sama berbahaya, di antara cinta, dendam, dan darah, Sofía harus memilih. Tapi dalam dunia tempat kekuasaan adalah segalanya dan nyawa bisa lenyap dalam sekejap, apakah cinta sejati sanggup bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lopez ibarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Carol sedang berdansa dengan seorang pria, begitu pula Jessica dengan pria lain. Aku merasa sedikit pusing karena minuman, lalu duduk di sofa saat Jessica menghampiriku.
"Sofía, kita ada masalah," kata Jessica.
"Masalah apa?" tanyaku.
"Alejandro menelepon. Dia marah besar karena kita tidak ada di rumah. Dia menelepon lagi. Bagaimana ini?"
"Biar aku yang bicara dengannya. Berikan ponselmu," kataku.
"Kau yakin? Kau sudah agak mabuk."
"Berikan saja."
"Ini," kata Jessica sambil menyerahkan ponsel padaku.
"Halo?" sapaku.
"Sofía, ini kamu? Di mana kalian, sialan?" suara Alejandro terdengar geram.
"Jangan khawatirkan kami. Kami sedang bersenang-senang. Kau lanjutkan saja bersenang-senang dengan si pirang itu," kataku.
"Apa maksudmu, Sofía?"
"Wanita yang keluar bersamamu dari perusahaan. Jangan pura-pura tidak tahu, Pak Antonov."
"Kamu mabuk, Sofía?"
"Tentu saja tidak. Aku baru minum sedikit."
"Aku akan menjemput kalian. Jangan pergi ke mana-mana."
"Jangan harap. Aku mau berdansa dengan pria yang sangat tampan."
"Jangan coba-coba, Sofía. Kamu tidak tahu aku sanggup berbuat apa…"
Aku memutus sambungan telepon.
"Ups, sepertinya teleponnya terputus, hahaha," kataku.
"Ada apa, Sofía?" tanya Jessica.
"Tidak ada. Jangan khawatir. Ayo berdansa dan lanjut minum," jawabku.
Kami pun kembali minum dan berdansa. Lalu seorang pria yang sangat tampan mendekat dan menempel padaku. Aku tidak menolak, malah sebaliknya, aku bergerak makin menggoda karena alkohol sudah terlalu banyak bekerja di tubuhku. Tangannya melingkar di pinggangku ketika aku merasa ada yang menarikku, dan aku jatuh menabrak dada yang begitu berotot.
* * *
POV Alejandro
Tiana dan aku makan malam, lalu mengobrol terlalu lama. Ketika aku sadar, jam sudah lewat pukul sepuluh malam. Kuantar dia pulang ke rumahnya, dan kami berpisah dengan janji bertemu besok di kantor untuk menandatangani kontrak.
Aku sudah tak sabar tiba di rumah dan melihat Sofía-ku yang cantik. Aku merindukannya.
Aku turun dari mobil dan masuk ke rumah. Semuanya gelap. Kubuka pintu, dan dari dapur muncul Bibi Laura, pengasuhku.
"Aduh, Nak, syukurlah kau sudah pulang. Kubuatkan makan malam, ya?" kata Bibi Laura.
"Jessica dan Sofía sudah makan malam?" tanyaku.
"Sudah, sejak lama."
"Di mana mereka sekarang?"
"Aduh, Nak, kupikir kau sudah tahu. Mereka keluar bersama. Cantik sekali mereka waktu berangkat tadi."
"Keluar bagaimana? Ke mana?"
"Aku tidak tahu."
"Kau tidurlah, Bibi. Biar aku yang urus."
"Jangan terlalu keras pada mereka. Mereka hanya ingin bersenang-senang," kata Bibi Laura.
"Kau tahu sendiri mereka tidak bisa pergi seenaknya. Bisa berbahaya."
"Tapi Jessica membawa pengawal. Jangan khawatir."
"Baiklah, kau istirahatlah. Sudah larut."
"Sampai besok, Nak," kata Bibi Laura sambil berlalu.
Aku duduk beberapa saat menunggu apakah mereka pulang, tapi tidak ada tanda-tanda. Kutelepon Jessica, tapi tidak dijawab. Kucoba lagi, dan kali ini dia mengangkat.
"Jessica, kalian di mana?" tanyaku.
"Di klub malam," jawabnya.
"Dan Sofía?"
"Dia sedang duduk. Jangan khawatir, kami baik-baik saja."
"Aku mau kalian pulang ke rumah sekarang juga, Jessica."
"Tidak, Alejandro. Kami sedang bersenang-senang."
"Jangan menantangku, Jessica. Aku akan menjemput kalian."
"Oh, Kakak, sepertinya sinyalnya mulai hilang. Dah." Dia memutus sambungan.
Aku harus memberi tahu Sofía, pikir Jessica.