Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.
Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.
Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.
Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.
Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Kampung Yang Hilang Dari Peta
Malik pingsan di pangkuanku. Dada bolongnya masih keluar darah putih. Napasnya pelan. Pedang besar dua meter sudah hilang jadi cahaya.
Di depan kami, tanah tempat Raja Iblis merangkak masuk masih bolong hitam, keluar asap hitam tipis, dari lubang itu masih terdengar suara seribu orang ketawa, "Kampung hilang... kampung hilang..."
Aku pikir selesai. Ternyata baru mulai.
Lingkaran api hitam yang tadi kurung aku dan Raja Iblis, padam total. Begitu padam, 400 pasukan Jin Kafir yang dari tadi kepung masjid, yang lihat rajanya kalah patah tanduk putus tangan, mereka tidak kabur, mereka malah sujud ke lubang tempat raja mereka masuk, lalu mereka semua berdiri bersama, 400 pasang mata merah menyala bersama.
Kiai Jirji teriak dari dalam masjid, "Arga! Mereka mau ritual terakhir! Ritual hilangkan kampung dari peta! Kalau ritual itu jadi, Krajan tidak akan bisa ditemukan manusia lagi selamanya! ucap Kiai Jirji.
Aku angkat Malik, bawa lari masuk masjid. Pintu masjid aku tutup.
Di dalam masjid 40 warga masih pingsan habis ledakan pedang vs gada. Ibu kandungku Mira setengah badan di retakan dua meter cahaya putih, dia lihat ke luar, wajahnya pucat.
"Arga, dulu tahun 2009 sebelum Ibu ditarik ke sumur, Ibu lihat ini... langit Krajan jadi hitam, lalu dari langit turun kabut hitam tebal, lalu semua jalan keluar Krajan hilang... motor tidak bisa keluar... orang Surabaya cari Krajan tidak ketemu... itu tanda kampung mau dihapus dari peta dunia manusia..."ucap ibuku.
Aku lihat keluar jendela masjid yang kacanya sudah pecah.
Langit Dusun Krajan yang tadi malam gelap biasa, sekarang berubah.
Langitnya turun. Benar benar turun pelan-pelan, seperti atap hitam turun ke tanah. Bukan awan, tapi kabut hitam pekat, tebal, dari kabut itu menetes darah hitam, darah yang sama seperti di kitab bakar jantung Raja Iblis.
400 pasukan Jin Kafir di sawah, di jalan tanah tulang, di atas pohon beringin, mereka semua angkat tangan, baca mantra bersama ,mantra kafir yang tidak bisa dilawan manusia, mantra yang sama Raja Iblis. "Sangkala ghaib, tebus nyawa, darah perawan, buka gerbang... tutup dunia... hapus peta..."
Setiap mereka baca, kabut hitam di langit turun satu meter.
Sawah timur yang masih ada padi mati, jadi abu, sekarang abu itu naik ke kabut, jadi kabut makin tebal.
Jembatan bambu satu-satunya jalan keluar Krajan ke jalan raya Ponorogo, dari jendela masjid aku lihat, jembatan itu mulai hilang pelan-pelan, seperti dihapus penghapus, papannya hilang satu per satu dimakan kabut.
Anak kecil di dalam masjid, Sari anaknya Bu Lastri, menangis, "Mas Arga, Bapakku masih di sawah, Bapakku belum masuk masjid! ucap Sari.
Pak Min yang tadi jaga pintu, dia coba telepon anaknya di Ponorogo pakai HP, sinyal hilang total, HP tulis "No Service", padahal tadi siang masih ada.
Kiai Jirji buka kitab kulit kerbau halaman 167, halaman itu judulnya "Kampung Hilang". Tulisan Mbah Suro Joyo: "Kalau penghulu kalah, anak buahnya akan lakukan ritual pamungkas, hapus kampung dari peta manusia, supaya tidak ada bantuan luar bisa masuk, supaya kampung jadi kerajaan mutlak Jin Kafir, selamanya tertutup, manusia di dalam jadi ternak."
Aku bertanya "Cara berhentinya bagaimana, Kiai? tanyaku.
Kiai Jirji tunjuk sumur tua di belakang masjid, sumur yang selama ini ditutup papan kayu dan kain kafan, sumur tempat Ibu Mira ditarik tahun 2009.
"Ritual ini sumbernya dari sumur! 400 Jin Kafir itu kirim tenaga ke sumur, sumur itu gerbangnya! Kalau gerbang sumur tidak ditutup dalam tiga puluh menit, kabut akan tutup total, Krajan hilang! GPS tidak bisa baca, Google Maps tidak ada, orang luar lewat jalan raya akan lihat cuma hutan, tidak lihat kampung! ucap Kiai Jirji.
Aku lihat jam dinding masjid, jam 02:44 pagi. Kabut sudah turun setengah, jembatan bambu tinggal setengah, jalan tanah tulang depan masjid mulai hilang jadi kabut.
Ibu Mira dari retakan teriak, "Arga, tutup sumur pakai darahmu! Seperti kau tulis ayat pakai darah di Surabaya! Darah penjaga baru bisa tutup sumur!" ucap ibuku.
Malik yang pingsan di pangkuanku, tiba-tiba buka mata sebentar, darah putih masih menetes, dia bisik pelan, "Arga... jangan.... kalau kamu tutup sumur pakai darahmu sekarang... kamu... terikat jadi penjaga selamanya... kamu tidak bisa kembali ke Surabaya... ke Bu Wiwik..."ucap Malik.
Aku diam. Kalau aku tidak tutup, kampung hilang dari peta, 40 warga, Ibu Mira, 300 Jin Islam, semua hilang selamanya, tidak ada yang bisa cari.
Kalau aku tutup, aku jadi penjaga selamanya, "Aku Bukan Lagi Manusia". batinku.
Aku taruh Malik pelan di lantai masjid, aku ambil tongkat cendana yang masih merah darah, aku sobek telapak tanganku lagi, lebih dalam, darah keluar lebih banyak.
Aku lari keluar masjid, menuju sumur tua di belakang masjid.
400 pasukan Jin Kafir lihat aku lari ke sumur, mereka langsung lari hadang aku, mereka tidak mau sumur ditutup.
300 Jin Islam yang dari tadi diam di sekitar masjid, mereka lihat aku lari, mereka langsung bangun, teriak "Lindungi Penjaga Baru!" dan tabrak 400 Jin Kafir di tengah jalan tulang.
Perang kedua malam ini pecah di halaman belakang masjid, 300 vs 400, cahaya putih vs api hitam, tangisan vs tawa seribu suara.
Aku terus lari, sampai di sumur tua.
Sumur tua itu dalamnya hitam, tidak kelihatan dasar, dari dalamnya keluar kabut hitam pekat, kabut yang bikin kampung hilang, dari dalamnya juga keluar tangan-tangan hitam kecil yang pegang kaki Malik , tangan itu sekarang pegang bibir sumur.
Aku lihat ke dalam sumur, di dasar sumur yang hitam, ada cahaya kecil, cahaya itu peta, peta Dusun Krajan, peta itu terbakar pelan-pelan dimakan api hitam, setiap bagian peta terbakar, bagian kampung asli di atas juga hilang.
Aku tidak pikir panjang, aku teteskan darahku dari telapak tangan ke dalam sumur, sambil baca ayat yang aku tulis di Surabaya: "Bismillahirrahmanirrahim, Allahu la ilaha illa huwal hayyul qayyum..."
Darahku menetes ke peta yang terbakar di dasar sumur.
Setiap tetes darah merah jatuh, api hitam di peta padam sedikit, peta yang hilang muncul lagi sedikit.
Tangan hitam kecil dari sumur mencoba tarik kakiku masuk, tapi darahku yang menetes bikin tangan itu menjerit terbakar.
Aku terus teteskan darah, makin banyak, kepalaku pusing, darah keluar banyak.
Di atas langit, kabut hitam yang sudah turun setengah, berhenti turun, tidak jadi turun lagi, karena sumbernya di sumur aku tahan pakai darah.
Tiba-tiba dari langit yang kabut hitam, ada suara keras, suara Raja Iblis yang tadi kalah dan merangkak masuk tanah, suaranya dari kabut: "PENJAGA BARU... KAU PAKAI DARAHMU TUTUP SUMURKU... KAU TAHU HARGANYA... KAMPUNG TIDAK JADI HILANG... TAPI KAU... KAU YANG AKAN HILANG DARI PETA MANUSIA... BUKAN KAMPUNG... TAPI KAU!"
Kabut hitam di langit pecah sedikit, cahaya bulan masuk lagi, jembatan bambu yang tinggal setengah, muncul lagi pelan-pelan, papan yang hilang balik lagi, jalan tanah tulang muncul lagi, sinyal HP Pak Min muncul lagi satu bar.
Tapi dari dalam sumur, ada rantai hitam besar keluar, rantai yang sama yang lilit kaki Malik, rantai itu lilit tanganku, tarik aku masuk ke dalam sumur sedikit.
Ibu Mira dari masjid lihat aku ditarik rantai sumur, dia teriak, "ARGA! JANGAN LEPAS TONGKAT!"
Aku pegang tongkat cendana erat, tongkat itu masih menyala merah darah, aku tancapkan tongkat itu ke bibir sumur.
Tongkat itu menahan rantai, rantai tidak bisa tarik aku masuk.
Aku setengah badan sudah di dalam sumur, setengah badan di luar.
Dari dalam sumur aku lihat, peta Krajan di dasar sudah padam apinya total, tidak jadi hilang, tapi di peta itu sekarang ada titik merah baru, titik itu tulisannya "Penjaga Baru - Arga".
Kampung tidak jadi hilang dari peta dunia, tapi namaku yang masuk ke peta gaib sumur, artinya aku sudah terikat.
Rantai hitam lepas dari tanganku, kembali masuk sumur.
Kabut hitam di langit hilang total, langit jadi malam biasa lagi, bintang kelihatan.
400 pasukan Jin Kafir yang berperang melawan 300 Jin Islam, mereka lihat kabut hilang, ritual gagal, mereka menjerit bersama lalu mereka lari masuk ke sawah, ke hutan, hilang dan kabur karena raja mereka kalah dan ritual gagal.
300 Jin Islam menang, tetapi banyak yang terluka.
Aku naik dari sumur, darah masih menetes dari tangan, tongkat cendana masih mencap di bibir sumur, sumur itu sekarang tertutup cahaya merah darah, tidak keluar kabut lagi.
Aku jalan balik ke masjid, Kiai Jirji, Ibu Mira, semua peluk aku.
Ibu Mira yang setengah badan, sekarang badannya sudah hampir penuh keluar dari retakan, cuma kakinya masih di dalam, karena sumur tertutup, gerbang ketutup, dia bisa keluar pelan-pelan.
Kiai Jirji buka HP, buka Google Maps, ketik "Dusun Krajan Ponorogo", dulu pas kabut tadi tidak ada, sekarang ada lagi, titiknya muncul lagi, kampung tidak jadi hilang.
Tapi di Google Maps, di titik masjid Krajan, ada nama kecil baru muncul yang tidak ada sebelumnya, tulisannya "Makam Penjaga Baru".
Aku lihat itu, aku jadi pusing, jatuh duduk di lantai masjid.
Malik yang sudah sadar sedikit, dia lihat aku, "Arga... ritual kampung hilang gagal... tapi harga tutup sumur pakai darah... kau... mulai hilang dari peta manusia... pelan-pelan..."