Ini menceritakan kisah seorang pemuda yang memiliki sembilan Akar Spiritual, yang dianggap sebagai sampah oleh dunia kultivasi. Namun, tanpa sengaja, ia justru dibimbing oleh dua sosok legendaris yang telah berdiri di puncak dunia kultivasi.
Membawa dua cincin warisan tersegel yang menyimpan kekayaan dari dua sekte besar, Shen Luo memulai perjalanannya di dunia kultivasi.
Di tengah perjalanan, ia harus terseret ke dalam perselisihan masa lalu kedua gurunya, berhadapan dengan seorang Iblis Suci yang mematikan, serta terikat dalam perjodohan dengan seorang Putri Es yang telah mencintai pria lain.
Dengan sembilan Akar Spiritual yang dianggap sebagai kelemahan, Shen Luo harus bertahan hidup dan mengungkap rahasia kekuatannya, hingga suatu hari segel kedua cincin warisan itu terbuka dan takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Penyembuhan
Angin malam menyapu sisa-sisa Formasi Penjara Racun Peluruh Tulang yang perlahan menghilang. Danau lumpur yang retak kembali sunyi. Hanya suara serangga beracun terdengar dari kejauhan.
Kabut di langit Hutan Kabut Berdarah mulai menipis. Bulan purnama berwarna merah darah perlahan menampakkan diri dan menerangi tumpukan mayat para pembunuh bertopeng serta murid-murid elit Sekte Pedang Awan.
Di tengah genangan darah itu, dua sosok muda duduk terpisah beberapa meter.
Ji Ruyue, menopang tubuhnya dengan pedang tipis yang tertancap di tanah. Jubah merahnya telah dipenuhi noda darah. Wajahnya yang seputih es tampak pucat. Napasnya berat akibat racun peluruh tulang yang masih menggerogoti meridiannya.
Meski tubuhnya lemah, punggungnya tetap tegak. Tidak sedikit pun keangkuhan seorang pewaris Lembah Darah Neraka luntur dari dirinya.
Di seberangnya, Shen Luo duduk bersila di atas batu. Jubah abu-abunya yang penuh tambalan tampak jauh lebih tenang. Ia mengatur napas dan membiarkan Sembilan Akarnya menyerap energi malam untuk memulihkan Qi yang terkuras.
Wajahnya tenang tanpa sedikit pun riak.
Tatapan Ji Ruyue terus tertuju kepadanya. Niat membunuh di matanya telah berkurang, digantikan oleh rasa curiga dan kewaspadaan.
“Kau membunuhnya dengan tangan kosong.”
Suara Ruyue memecah kesunyian. Merdu, tetapi tajam.
“Pemimpin anjing-anjing itu. Kau merobek tenggorokannya tanpa menggunakan Niat Pedang.”
Shen Luo membuka mata.
“Leher manusia sama rapuhnya dengan kertas jika kau tahu titik lemahnya.” Ia menatap Ruyue dengan tenang. “Untuk membunuh seekor serangga, tidak perlu menggunakan pedang.”
Ruyue tertawa pelan. Tawanya segera berubah menjadi batuk tertahan karena rasa sakit.
“Jangan mencoba membohongiku, Bocah Aliran Lurus.” Tatapannya menajam. “Aku adalah calon pewaris Lembah Darah Neraka. Aku telah membaca ribuan kitab peninggalan para leluhur.”
Ia mengamati tangan Shen Luo.
“Gerakan jarimu, cara kau mengerahkan tenaga, hingga aliran Qi yang kau kumpulkan di ujung kuku... semuanya terlalu mirip.”
Mata Ruyue menyipit.
“Itu Teknik Cakar Bayangan Darah.”
Shen Luo tidak menjawab.
“Teknik pamungkas yang diciptakan Dewa Iblis Yan Wusheng, leluhur pertama Lembah Darah Neraka.” Suara Ruyue menjadi dingin. “Teknik itu telah lenyap bersama dirinya. Dari mana kau mempelajarinya?”
Mendengar nama Yan Wusheng, Hati Dao Shen Luo bergetar samar.
Namun wajahnya tetap tenang.
Ia tahu betapa berbahayanya keadaan ini. Jika Ruyue mengetahui bahwa dirinya adalah pewaris warisan Sikong Jian dan Yan Wusheng, dua sosok legendaris yang pernah mengguncang benua Langit Misterius, maka bukan hanya Sekte Bintang Jatuh yang akan memburunya.
Aliran Lurus dan Aliran Hitam akan sama-sama mengejarnya demi merebut kedua warisan tersebut.
Shen Luo berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Nona terlalu mengagungkan teknik leluhurmu.”
Ia memalingkan wajah ke arah bulan darah.
“Aku hanya seorang kultivator pengembara yang hidup dari mencari tanaman obat. Tiga tahun lalu, aku memasuki dasar Jurang Ratapan untuk mencari Bunga Roh Es. Tanpa sengaja, aku terjebak di sebuah gua yang runtuh.”
“Di dalam gua itu ada pahatan kuno. Beberapa sosok sedang memperagakan teknik tangan kosong. Tidak ada nama teknik atau kitab yang bisa kubaca. Hanya gerakan tubuh.”
Shen Luo berbicara dengan tenang.
“Aku tidak punya Batu Spiritual untuk membeli teknik bela diri. Jadi, aku hanya meniru pahatan itu untuk melindungi diri dari binatang buas.”
Ia menatap Ruyue.
“Aku tidak tahu bahwa teknik itu berasal dari leluhurmu. Mungkin saja leluhurmu dan aku memperoleh warisan dari tempat yang sama.”
Ruyue terdiam.
Cerita seperti itu terdengar terlalu sederhana.
Bagaimana mungkin seorang kultivator Pengumpulan Qi memahami teknik sakral hanya dengan melihat pahatan batu?
“Kau pembohong yang luar biasa.”
Tatapan Ruyue semakin dingin.
“Jika racun ini tidak mengunci meridianku, aku sudah mengorek lautan jiwamu dan mencari kebenarannya sendiri.”
Shen Luo mendengus.
“Kalau begitu, tunggulah sampai racun itu tidak membunuhmu lebih dulu.”
Begitu kata-kata itu selesai, wajah Ruyue tiba-tiba berubah.
Tubuhnya menegang.
Urat-urat hitam menjalar dari leher hingga ke pipinya.
“Ugh!”
Ia memuntahkan darah hitam pekat. Pedang tipis di tangannya terlepas dan tubuhnya jatuh ke tanah.
Racunnya telah menyerang jantung.
Shen Luo bangkit dan menatapnya tanpa ekspresi.
Ini kesempatan terbaik untuk pergi.
Ia bisa mengambil harta dari mayat para pembunuh lalu melanjutkan perjalanannya. Menolong pewaris Lembah Darah Neraka hanya akan membawa masalah.
Shen Luo berbalik.
Namun baru beberapa langkah, ia berhenti.
Jian Nantian sudah menjadi musuhnya. Sekte Bintang Jatuh memiliki banyak ahli dan kekuatan besar. Sementara dirinya hanyalah kultivator Tingkat 7 tanpa sekutu yang kuat.
Jika identitasnya terbongkar, ia akan menghadapi pengejaran tanpa akhir.
Tetapi jika ia menyelamatkan Ji Ruyue, seorang pewaris Lembah Darah Neraka akan berutang nyawa kepadanya.
Kelak, hutang itu mungkin menjadi pelindung yang sangat berharga.
Dalam dunia kultivasi, hutang nyawa jauh lebih berat daripada emas dan Batu Spiritual.
Shen Luo akhirnya berbalik.
Ia menghampiri Ji Ruyue yang sudah hampir kehilangan kesadaran. Kabut racun telah membuat tatapan gadis itu buram.
Melihat Shen Luo mendekat, Ruyue mengangkat tangan dengan susah payah.
“Mundur...” suaranya lemah. “Jangan sentuh tubuh ini, kau... bocah kotor...”
“Diam jika kau tidak ingin mati di tempat ini.”
Nada Shen Luo datar dan tegas.
Ia berlutut di belakang Ruyue lalu menempelkan telapak tangannya di antara kedua tulang belikatnya.
Tubuh Ruyue terasa sangat dingin.
Shen Luo memejamkan mata dan mengerahkan Qi Suci dari empat akar kanannya. Energi murni itu bertolak belakang dengan Qi Iblis yang memenuhi tubuh Ruyue.
“Teknik Penekan Racun yang aku pelajari mungkin akan terasa sakit.” Shen Luo berkata pelan. “Bertahanlah.”
Cahaya keemasan muncul dari telapak tangannya dan mengalir ke tubuh Ruyue.
Saat Qi Suci memasuki meridiannya, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Qi Lurus dan Qi Iblis tidak saling berbenturan.
Sebaliknya, Qi Suci Shen Luo mengalir dengan lembut melalui meridian Ruyue. Energi murni itu perlahan menekan racun yang menggerogoti tubuhnya.
Ruyue tertegun.
Qi para kultivator Aliran Lurus biasanya terasa seperti api yang membakar tubuhnya. Namun Qi milik Shen Luo justru terasa hangat dan menenangkan.
Rasa sakit di tubuhnya perlahan menghilang.
Tanpa sadar, tubuh Ruyue menjadi rileks dan bersandar pada dada Shen Luo.
Shen Luo tetap tenang. Ia terus mengalirkan Qi Suci untuk menekan racun di dalam tubuh gadis itu.
Di bawah cahaya bulan darah, dua kekuatan yang bertolak belakang perlahan menyatu.
Dukung cerita ini dengan cara Like, Rating, Vote, dan gift ya. Semakin banyak dukungan, semakin banyak updatenya.
Terimakasih👍
Moga2 MC nya ga kegatelan ma cewek2, dan ga punya banyak bini /Facepalm//Facepalm/