Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Mobil sedan hitam mengilap milik Lucas berhenti tepat di lobby utama Hotel Bintang Purnama.
Pria bertato itu melangkah keluar dengan aura kepemimpinan yang dingin dan dominan, melangkah menyusuri koridor megah menuju ruang kerja megahnya di lantai paling atas.
Tak berapa lama setelah Lucas menduduki kursi kebesarannya, pintu ruang kerja diketuk pelan.
Arum, seorang manajer HRD hotel tersebut, masuk dengan mengapit beberapa berkas di tangannya.
"Pak Lucas, Chef Riko mendadak mengundurkan diri hari ini," lapor Arum sopan.
"Mengundurkan diri? Memang fasilitas yang diberikan hotel kita kurang?" tanya Lucas.
Arum menggelengkan kepalanya dan mengatakan kalau Chef Riko ternyata terlibat kasus korupsi telur
"Lalu, apakah kamu sudah menemukan pengganti Chef Riko?" tanya Lucas.
"Belum, Pak. Namun, saya sudah memublikasikan lowongan pekerjaan untuk posisi head chef dapur utama."
Lucas menyandarkan punggungnya, menatap Arum datar.
"Pilih yang terbaik, Arum. Dan, aku tidak mau kasus ini terulang lagi."
"Baik, Pqk. Tapi, bagaimana kalau pelamar terbaiknya seorang perempuan, Pak?" tanya Arum memastikan, mengingat standar dapur utama hotel ini sangat tinggi dan keras.
"Tidak masalah. Yang penting rasa dan profesionalitasnya," jawab Lucas singkat tanpa ragu.
"Baik, Pak. Saya akan segera menghubungi kandidat terpilih," ujar Arum seraya membungkuk hormat lalu kembali ke ruangannya.
Di meja kerjanya, Arum mulai memeriksa berkas-berkas lamaran yang masuk secara online.
Matanya terhenti pada satu berkas lamaran yang baru saja masuk beberapa saat lalu dan melihat berkas milik Aira.
Portofolio resep dan variasi hidangan yang dilampirkan Aira tampak sangat impresif dan rapi.
Arum merogoh ponsel di meja kerjanya, lalu menekan nomor telepon yang tertera pada berkas tersebut.
Sementara itu, di rumah kontrakan barunya, Aira sedang berbaring di atas tempat tidur sederhana.
Rasa lelah luar biasa akibat konflik dan kejadian semalam mulai menyerang tubuhnya.
Tepat ketika ia memejamkan mata hendak tidur siang, ponsel di samping bantalnya berdering nyaring.
Aira membuka matanya, meraih ponsel itu, dan memandangi layarnya dengan dahi berkerut.
"Nomor asing?" gumamnya heran.
Aira menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo?"
"Halo, selamat siang. Benar dengan Ibu Aira?" suara ramah seorang wanita terdengar dari seberang telepon.
"Saya Arum, Manajer dari Hotel Bintang Purnama. Kami telah menerima berkas lamaran Anda untuk posisi chef dapur utama. Apakah Anda ada waktu untuk datang ke hotel jam tiga sore ini untuk wawancara kerja?"
Deg!
Jantung Aira berdetak kencang seketika. Matanya terbuka lebar, rasa kantuknya hilang menguap tanpa bekas.
Hotel Bintang Purnama—hotel bintang lima yang baru beberapa menit lalu ia lamar—langsung memberikan respon!
"B-bisa, Bu! Saya sangat bisa!" jawab Aira mantap dengan suara bergetar menahan haru dan bahagia.
"Baik, sampai bertemu jam tiga sore di lobi manajemen Hotel Bintang Purnama, ya," tutup Arum sebelum mematikan sambungan.
Aira menggenggam ponselnya erat-erat di dada, menarik napas panjang seraya tersenyum lebar.
Ini adalah kesempatan emas pertamanya untuk membuktikan bahwa ia sanggup berdiri di atas kakinya sendiri.
Aira bangkit dari tempat tidur dengan semangat baru yang mendadak membakar dadanya.
Ia melangkah menuju lemari kayu, memilah-milah pakaian yang membawanya pada kesan rapi dan profesional.
Pilihannya jatuh pada kemeja putih bersih dipadu dengan celana kain hitam yang simpel namun elegan.
Saat meraih tasnya dari atas meja, pandangan Aira terhenti pada sebuah bingkai foto kecil yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi.
Foto kedua orang tuanya yang tersenyum hangat, berdampingan dengan foto batu nisan mereka.
Senyum di bibir Aira perlahan memudar, berganti dengan rasa rindu yang membuncah di dadanya.
Kedua orang tuanya telah pergi untuk selamanya dalam tragedi kecelakaan pesawat beberapa tahun silam dan meninggalkan Aira sendirian bertarung menembus kerasnya dunia.
Aira mengelus kaca bingkai foto itu dengan lembut.
Air mata tipis menggenang di sudut matanya, namun ia menahannya agar tidak jatuh merusak riasan tipis di wajahnya.
"Ayah, Ibu, doakan Aira, ya," gumam Aira lirik, suaranya bergetar penuh keharuan.
"Aira mau berjuang dari nol lagi. Aira janji bakal bikin Ayah sama Ibu bangga di sana."
Ia mengecup bingkai foto itu perlahan, lalu meletakkannya kembali di tempat yang aman.
Dengan napas panjang dan dada yang berkobar penuh keyakinan, Aira menyandang tasnya, meraih kunci rumah, dan melangkah keluar menyongsong takdir barunya di Hotel Bintang Purnama.
Tok! Tok! Tok!
Arum kembali mengetuk pintu dan melangkah masuk ke ruangan Lucas dengan membawa lembar catatan berkas pelamar.
"Pak, nanti jam tiga sore ada jadwal wawancara untuk calon chef baru," lapor Arum ramah.
Lucas yang sedang merapikan beberapa dokumen di mejanya menatap Arum sekilas.
"Kamu urus semuanya, Arum. Hari ini, aku harus berangkat ke Singapura selama beberapa minggu untuk mengurus ekspansi bisnis. Aku cuma mau satu hal, pastikan chef baru kita bisa menciptakan menu yang khas agar tamu-tamu kita tidak bosan."
"Baik, Pak. Akan saya pastikan hal itu," jawab Arum mantap seraya membungkuk hormat lalu melangkah keluar dari ruangan.
Tak berapa lama setelah Arum keluar, Randy melangkah masuk dengan wajah serius.
Lucas langsung menghentikan kegiatannya, menatap asisten pribadinya itu penuh harap.
"Bagaimana, Randy? Ada kabar tentang wanita itu?"
Randy menunduk pelan lalu menggelengkan kepalanya.
"Maaf, Tuan. Kamera CCTV di sekitar lokasi taksi menurunkan penumpang terlalu buram, dan plat nomor taksinya melintas di area tak terjangkau sinyal GPS. Tim kita masih terus berusaha melacak keberadaannya."
Lucas menarik napas panjang, mencoba meredam rasa kecewa yang menyusup di dadanya.
Wajah wanita semalam kembali berputar di ingatannya, namun tugas bisnis tidak bisa ditunda.
"Baiklah, sekarang kita berangkat ke Singapura," ujar Lucas dingin seraya meraih jasnya.
"Siap, Tuan," Randy menganggukkan kepalanya patuh, lalu menyamai langkah lebar Lucas yang berjalan meninggalkan ruangan megah itu.
Detik demi detik berganti, sang waktu merambat pasti hingga jarum jam menunjuk tepat ke angka tiga sore.
Aira telah berdiri di lobi megah Hotel Bintang Purnama.
Pilar-pilar marmer nan tinggi serta lampu kristal gantung yang berkilauan sempat membuat napasnya tertahan sejenak.
Namun, ia menyentuh dada kirinya, menegakkan bahu, lalu melangkah mantap menuju meja resepsionis.
"Selamat sore. Permisi, apakah Ibu Arum ada? Saya ada janji wawancara," tutur Aira dengan senyum ramah dan sopan.
Resepsionis cantik berpakaian seragam rapi itu menatap Aira hangat.
"Selamat sore. Apakah Anda Ibu Aira?"
Aira menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, benar."
"Mari, Bu, saya antar ke ruang manajemen," ujar resepsionis itu seraya mengarahkan jalan.
Aira melangkah berdampingan dengan resepsionis menuju area lift khusus staf dan manajemen.
Pintu lift terbuka, membawa mereka meluncur naik hingga lantai lima.
Ting!
Pintu lift terbuka lebar, memperlihatkan lorong karpet tebal bernuansa elegan.
Di sudut lorong, Arum tampak baru saja keluar dari sebuah ruangan dengan berkas di tangannya.
"Ibu Aira?" panggil Arum menyapa begitu melihat Aira melangkah keluar dari lift.
"Iya, Ibu Arum," jawab Aira.
Arum tersenyum hangat dan langsung menjabat tangan Aira erat.
"Senang bertemu dengan Anda. Mari, silakan masuk ke ruangan saya."
Aira mengikuti Arum masuk ke dalam ruang kerja yang luas dan rapi.
waduh... dapat orderan nih menu barunya 🤣🤣
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣
niat hati menjatuhkan chef Aira, kamu yang akan menghadapi kekuasaan Lucas