Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjutan bab 8
Kata itu keluar begitu saja, kecil, tersandung di tengah, dan Kenzo sendiri tidak yakin kapan terakhir ia mengucapkannya, atau apakah ia pernah mengucapkannya. Victor membeku. Cengkeramannya mengendur. Wajah tuanya, wajah yang pernah menatap pasukan bersenjata tanpa gentar, perlahan kehilangan semua bentuk, dan lelaki itu hanya berdiri di sana dengan mulut setengah terbuka seperti orang yang baru dipukul dari dalam.
"Papa," ulang Kenzo, lebih pelan, dan air matanya akhirnya jatuh. "Aku pergi bukan karena aku nggak sayang. Aku pergi karena aku sayang. Kalau aku diem di sini dan mereka dateng lagi seperti di Kota Tua, Papa yang pertama mati. Dan aku nggak akan maafin diriku sendiri. Aku nggak sanggup, Pa. Aku udah pernah lihat... aku udah pernah lihat itu, waktu kecil."
"Kenzo..."
"Aku bakal pulang. Aku janji."
"Orang selalu janji gitu!" Teriakan itu pecah dan Victor jatuh berlutut, tepat di tengah ruang makan, di antara kursi yang terguling dan cangkir yang tinggal dingin. Kedua tangannya mencengkeram kaus Kenzo seperti orang tenggelam mencengkeram tali. "Ayahmu juga janji. Laras juga janji. Dimas juga... Dimas bilang Papa pulang cepat ya, dan Om janji... Om janji, Nak... Om janji..."
Kenzo ikut berlutut. Ia memeluk kepala lelaki itu ke dadanya, kepala yang sekarang seluruhnya beruban, dan membiarkan bahu itu terguncang di bawah dagunya, lama, sampai tangis Victor berubah dari teriak menjadi isak yang patah-patah dan akhirnya menjadi napas tersengal yang lelah. Di tengah gelap ruang makan itu, dua orang yang saling melindungi dengan satu-satunya cara yang mereka tahu, yaitu berbohong, duduk di lantai tanpa berkata apa-apa.
Jam dinding berdentang sebelas kali.
Di luar, mesin mobil itu mati.
"Kalau..." Victor mengangkat wajah, matanya merah dan bengkak, dan di sana, di balik semua air mata itu, Kenzo melihat sesuatu yang membuat dadanya perih lebih dari tangis: pengakuan. Victor tahu ia sudah kalah. "Kalau Om nggak bisa nahan kamu, setidaknya... setidaknya dengar tiga hal. Boleh?"
Kenzo mengangguk.
"Satu. Jangan pernah percaya angka. Mereka suka memberi kamu nomor, menyuruhmu merasa jadi bagian dari sesuatu. Itu cara paling gampang buat menghapus namamu." Ia menelan ludah. "Dua. Kalau kamu ketemu orang yang pakai cincin... jangan balas dia. Jangan lari. Telepon Axel, dan menghilanglah. Kamu belum punya apa-apa buat melawannya."
"Cincin batu hijau?"
Victor tidak mengiyakan, tapi juga tidak menyangkal. "Tiga." Suaranya nyaris hilang. "Kalau suatu hari kamu ketemu orang yang kamu rasa... yang kamu rasa terlalu baik, terlalu peduli, terlalu mirip seseorang yang kamu kenal... jangan langsung percaya. Dan jangan langsung benci. Dengarkan dulu."
"Siapa maksud Papa?"
"Om nggak bisa bilang." Victor memejamkan mata. Dari saku kemejanya ia mengeluarkan sesuatu dan meletakkannya di telapak tangan Kenzo, melipat jari-jari anak itu di atasnya. Selembar kertas tua yang sudah menguning, lembut seperti kain, dengan satu nama dalam tulisan miring seorang bocah. "Bawa ini. Biar kamu ingat ada yang nunggu kamu pulang."
"Pa, ini milik Papa. Ini..."
"Bawa."
Kenzo menggenggamnya. Ia tidak berkata apa-apa lagi, hanya mencium kening lelaki itu sekali, lama, seperti yang dulu Ibu lakukan di bawah akar besar, lalu berdiri dan keluar dari pintu depan tanpa menoleh. Jika ia menoleh, ia tahu ia tidak akan sanggup pergi.
---
Mobil hitam itu menunggu dengan pintu belakang terbuka. Pengemudinya adalah seorang perempuan muda berjas hitam dengan wajah tanpa ekspresi, dan di kursi belakang duduk lelaki lain yang bahkan tidak menoleh ketika Kenzo masuk. Pintu ditutup. Kenzo tidak menoleh ke belakang.
Di rumah, Victor masih berlutut di lantai ruang makan. Perlahan, dengan tangan gemetar, ia merangkak ke meja, mengambil telepon genggam dari bawah taplak, dan menekan satu nomor yang sudah dua puluh tahun tidak ia sentuh dengan jari sendiri. Nada sambung hanya sekali sebelum diangkat.
"Dia pergi," kata Victor, suaranya parau, nyaris hancur. "Dia pergi ke mereka, Tuan. Anak itu terlalu keras kepala. Apa... apa yang harus saya lakukan?"
Jeda di seberang sana. Bunyi gelas diletakkan, dentingnya jernih dan mahal. Lalu suara itu terdengar, tenang, dalam, dan untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun, ada sesuatu di dalamnya yang bukan lagi ketenangan. Sesuatu seperti ketakutan yang disembunyikan dengan sangat baik.
"Tidak ada," jawab suara itu. "Kita tidak melakukan apa-apa, Victor. Dia sudah masuk ke tempat yang paling kuhindari seumur hidupku."
Hening.
"Dan satu-satunya orang di Jari Algozo yang bisa menyelamatkannya..." Suara itu berhenti, dan dalam senyap itu terdengar napas yang tertahan. "...adalah orang yang paling tidak boleh ia temui."
Telepon terputus. Victor menatap layar yang gelap itu, dan dari sela jarinya, jatuh selembar kertas kecil yang tadi ia kira sudah ia berikan seluruhnya. Satu foto. Hitam putih, buram, diambil dua puluh tahun lalu: seorang perempuan muda yang tertawa di bawah pohon jambu dengan seorang bocah empat tahun di pangkuannya, dan di belakang mereka, setengah tersembunyi di balik bayangan batang pohon, seorang lelaki berjas yang wajahnya sengaja dicoret dengan tinta hitam.
Di sudut foto, dengan tulisan Victor sendiri, ada satu kalimat pendek yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
*Dia tidak pernah bilang dia yang menolongku.*
---
*Bersambung ke Bab 9*