NovelToon NovelToon
KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.

Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.

Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GUDANG DI BELAKANG PASAR LAMA

Kenzo baru saja selesai makan malam ketika Laras berdiri di dapur dengan ponsel di tangan, ragu-ragu.

Ia tidak bisa membawa anaknya ke tempat gelap seperti gudang pasar lama. Ia juga tidak bisa meninggalkannya sendirian, apalagi setelah kalimat Rudi tadi siang masih terngiang di kepalanya: *Saya harap ia selalu pulang dengan selamat.*

Dimas belum pulang. Ia hanya mengirim satu pesan singkat sore tadi: *Lembur lagi. Jangan tunggu.*

Laras menatap pesan Reza yang belum ia balas. Jempolnya melayang di atas layar. Mempercayakan Kenzo pada tetangga adalah keputusan yang berisiko. Tapi ia tahu satu hal tentang Reza yang tak mungkin dipalsukan: pria itu terlalu tulus untuk menyakiti anak kecil.

Ia mengetik: *Mas Reza, semua baik-baik saja. Tapi saya butuh bantuan. Bisa tolong temani Kenzo di rumah satu jam? Saya ada urusan mendadak.*

Balasan datang dalam hitungan detik. *Saya ke sana sekarang.*

Lima menit kemudian Reza berdiri di ambang pintu dapur, mengenakan kaus rumahan dan membawa buku gambar yang katanya "mungkin Kenzo suka". Rambutnya masih basah, seperti baru mandi tergesa-gesa.

"Mbak nggak apa-apa?" tanyanya pelan. "Wajah Mbak pucat."

"Cuma capek, Mas. Terima kasih sudah mau repot."

Reza menatapnya sebentar, lalu mengangguk, tidak bertanya lebih jauh. Kenzo berlari dari ruang tengah dan langsung menarik tangan pria itu. "Om! Aku punya benteng dinosaurus! Mau lihat?"

"Wah, besar sekali. Itu benteng buat dinosaurus yang baik atau yang jahat?"

"Yang baik! Yang jahat dikunci di luar!"

Reza tertawa kecil. Laras memperhatikan keduanya sekilas, pemandangan sederhana yang tiba-tiba terasa begitu rapuh, lalu mengambil kunci motor dan jaket.

"Satu jam, Mas. Paling lama."

"Hati-hati, Mbak," kata Reza. Lalu, lebih pelan, nyaris hanya untuk dirinya sendiri, "Apa pun yang Mbak hadapi, Mbak nggak sendirian."

Laras terdiam di ambang pintu. Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang bisa ia sembunyikan. Ia mengangguk tanpa menoleh, takut wajahnya mengkhianati dirinya.

---

Pasar lama itu sudah lama mati.

Dulu tempat ini ramai oleh pedagang sayur dan penjual ikan. Kini bangunannya terbengkalai, atap seng berkarat, lorong-lorong gelap berbau lembap dan tikus. Laras memarkir motornya di bawah satu-satunya lampu jalan yang masih menyala, lalu berjalan menyusuri tembok belakang dengan jantung berdetak liar.

Gudang itu berdiri di ujung gang sempit, sebuah bangunan beton tanpa jendela dengan pintu besi bercat hijau yang mengelupas. Cahaya redup merembes dari celah di bawahnya.

Ia mengetuk dua kali, pelan.

Pintu bergeser. Mira berdiri di baliknya, wajahnya tegang tapi lega. "Cepat masuk."

Di dalam, udara pengap bercampur bau debu dan kertas lama. Sebuah lampu neon tunggal menggantung dari langit-langit, menerangi deretan loker besi berkarat yang berjajar di sepanjang dinding. Vania duduk di sebuah kursi lipat di tengah ruangan, memeluk lututnya, matanya sembap.

"Kamu datang," kata Vania lirih.

"Aku bilang akan datang," jawab Laras. "Sekarang jelaskan. Kenapa di sini?"

Mira mengambil sebuah kunci kecil dari saku dan mengangkatnya ke bawah cahaya. Kunci kuningan, di ujungnya tergantung label plastik bertuliskan angka: **27**.

"Ras, kamu ingat dua tahun lalu Dimas minta fotokopi KTP dan kartu keluargamu? Katanya untuk mengurus asuransi kantor."

Laras mengangguk pelan. Perutnya menegang.

"Dia memakainya untuk menyewa unit penyimpanan di gudang ini. Atas namamu." Mira berjalan ke deretan loker dan berhenti di depan salah satunya, nomor 27. "Aku menemukan catatannya di arsip pemilik gudang. Tidak ada yang pernah datang mengambil barang selama berbulan-bulan, tapi iurannya dibayar lunas setiap bulan lewat transfer dari rekening tersembunyi."

"Kamu sudah membukanya?"

"Belum." Mira menyerahkan kunci itu pada Laras. "Itu atas namamu, bukan namaku. Aku nggak mau ada yang bilang aku menyentuh barang bukti. Kalau isinya yang kita duga, ini harus dibuka olehmu."

Laras menatap kunci kecil itu. Logam dingin itu terasa berat di telapak tangannya, seolah menyimpan sepuluh tahun kebohongan.

Ia melangkah ke loker nomor 27, memasukkan kunci, dan memutarnya. Bunyi klik pelan memecah kesunyian.

Pintu loker terbuka dengan derit panjang.

Di dalamnya ada tiga benda. Sebuah kotak besi kecil berkunci. Sebuah amplop cokelat tebal. Dan sebuah perekam suara digital tua, tertempel selotip dengan satu kata tertulis dengan spidol: *RUDI*.

Laras mengambil amplop itu lebih dulu. Tangannya gemetar saat membukanya. Di dalamnya ada selembar dokumen berkop notaris, tulisannya sudah menguning di sudut-sudutnya. Judulnya terbaca jelas bahkan dalam cahaya neon yang buruk:

*SURAT WASIAT — HENDRA WIJAYA.*

Mira dan Vania berdiri serentak, mata mereka membulat.

"Itu dia," bisik Vania. "Itu aslinya."

Laras membaca beberapa baris pertama dengan mata yang mulai kabur. Seluruh saham perusahaan, seluruh aset, dan seluruh hak kepemilikan diwariskan kepada putra tunggal Hendra dan Sari Wijaya: *Reza Pratama Wijaya.*

Di bagian paling bawah, tertera tanda tangan dua saksi dan stempel notaris. Dan di samping tanda tangan itu, sebuah catatan tangan dengan tinta biru:

*Jika terjadi sesuatu padaku, percayakan semuanya pada istriku Sari. Jangan percaya Rudi.*

Hening.

"Dimas menyimpan ini selama delapan tahun," gumam Laras, lebih pada dirinya sendiri. "Dan nggak pernah menyerahkannya pada Reza."

"Karena itu senjatanya," kata Mira getir. "Selama wasiat ini ada padanya, dia punya kekuatan tawar terhadap Rudi dan terhadap Reza."

Laras mengambil perekam suara. Ada tombol kecil di sisinya. Dengan ibu jari yang ragu, ia menekannya.

Suara serak dan berdesis terdengar dari speaker kecil itu. Dua suara pria, salah satunya ia kenali dengan sangat baik.

*"Kalau Bapak menyentuh keluargaku, wasiat itu akan sampai ke polisi."* Itu suara Dimas, lebih muda, lebih berani. *"Aku sudah menitipkannya di tempat yang tak akan pernah Bapak temukan."*

Lalu suara kedua, dingin dan tenang, suara yang baru siang tadi duduk di sofa rumahnya.

*"Dimas, Dimas. Kau pikir kau yang memegang kartu? Aku yang membuatmu jadi apa kau sekarang. Dan kalau kau macam-macam, bukan hanya kau yang akan hilang. Istrimu, anakmu, semuanya."*

Rekaman terhenti dengan bunyi klik.

Laras berdiri kaku. Di sampingnya, Vania sudah menangis tanpa suara.

Jadi Dimas tidak sepenuhnya jahat. Atau setidaknya, tidak sejak awal. Ada masa ketika ia pernah berusaha melindungi mereka. Ada masa ketika ia pernah berani. Lalu entah kapan, rasa takut dan serakah menggerogotinya sedikit demi sedikit, sampai yang tersisa hanya seseorang yang menjual keluarganya sendiri untuk bertahan hidup.

"Aku nggak tahu harus merasa apa," bisik Laras.

"Kamu boleh marah," kata Mira lembut. "Kamu boleh benci."

"Aku sudah." Laras menutup mata. "Dan itu yang paling menyakitkan. Karena sebagian dari diriku masih mencintainya."

Vania mengusap pipinya dengan punggung tangan. Ia menatap Laras lama, seperti orang yang menimbang sesuatu yang berat.

"Mbak," katanya pelan. "Boleh aku tanya sesuatu? Waktu pertama kali Mbak tahu soal aku dan Dimas, Mbak ingin melakukan apa?"

Pertanyaan itu menggantung di ruangan yang pengap. Mira menoleh. Laras tak langsung menjawab.

Ia bisa berbohong. Ia bisa bilang ia hanya ingin kebenaran, hanya ingin keadilan. Tapi gudang ini, kunci ini, dan rekaman ini telah mengupas lapisan terluar dari dirinya, dan kejujuran terasa seperti satu-satunya hal yang tersisa.

"Aku ingin membalas," katanya akhirnya. Suaranya datar. "Aku ingin merebut Reza. Semalam, di dapurnya, aku duduk di depannya dan berpikir, kalau kau bisa mengambil suamiku, aku pun bisa mengambil suamimu."

Mira menghela napas pendek. Tapi Vania hanya tersenyum tipis, senyum yang terlalu letih untuk menjadi marah.

"Aku pantas menerimanya."

"Tidak," kata Laras. "Dulu aku pikir begitu. Sekarang aku tahu kita berdua cuma bidak di papan orang lain." Ia menggenggam surat wasiat itu erat-erat. "Tapi kalimat itu masih ada di kepalaku, Vania. *Kau pikat suamiku, kurebut suamimu.* Aku nggak akan bohong. Aku sempat menikmatinya."

Sebelum Vania sempat menjawab, terdengar bunyi dari luar gudang. Deru mesin mobil, pelan dan mendekat. Cahaya putih tajam menyapu celah di bawah pintu besi, lalu berhenti.

Mira membeku. Ia menoleh ke arah pintu dengan mata melebar. "Itu bukan kami."

Ketukan keras menghantam pintu besi, tiga kali, berirama.

Lalu suara Dimas, jelas dan dingin, dari balik pintu.

"Laras. Aku tahu kamu di dalam. Buka pintunya."

1
Shankara Senja
hurufnya emang dibuat miring ya...dan tebal
Nuna_Pena: hehe.. iy
total 1 replies
Shankara Senja
bagus....lo jual,gw beli..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!