NovelToon NovelToon
ASH

ASH

Status: sedang berlangsung
Genre:Matabatin / Persahabatan / Roh Supernatural / Horor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Luckystar20

Elio pindah bukan karena mau.Seminggu setelah neneknya meninggal di desa, ibunya memaksanya pindah dari Jakarta ke SMA pinggiran yang dikelilingi kebun dan kabut. Rumah peninggalan nenek itu dingin, lembab, dan penuh sesajen yang belum sempat dibuang.Di malam terakhir nenek, nenek membisikkan satu hal sambil menggenggam tangan Elio erat: "Nenek buka jalannya ya, biar kamu gak kesepian."Sejak itu Elio melihat mereka.Awalnya hanya bayangan di ujung sawah. Lalu anak kecil tanpa kepala yang duduk di gerbang sekolah. Elio pikir dia gila.Sampai dia bertemu Ash.Di gudang belakang SMA-nya yang terkunci, ada cowok seumuran pakai seragam lama yang sobek. Tampan, pucat, dan tersenyum ke Elio. "Akhirnya ada yang bisa lihat lagi."Namanya Sean. Mereka memanggilnya Ash, karena dia seperti abu — tipis, beterbangan, selalu ada di sebelah, gak bisa diusir.Masalahnya, Ash bukan satu-satunya.SMA baru Elio menyimpan arwah penasaran dari tahun 90-an, dan semua mulai mendekat karena mata Elio

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luckystar20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama dan Bayangan Misterius

Jarum jam dinding tua di rumah Nenek Suri tepat menunjukkan pukul sebelas malam lewat empat puluh lima menit. Suasana malam minggu di Desa Parangkusuma benar-benar mati. Kabut tebal turun bergulung-gulung dari arah pegunungan pinus, membungkus jalanan tanah yang sepi dengan kenyamanan yang menekan dada.

Elio, Alvian, dan Bima sudah berdiri rapi di teras depan. Mereka bertiga mengenakan jaket tebal berwarna gelap. Di samping Elio, Ash melayang pelan dengan wujud abunya yang tampak sangat padat dan bersinar redup.

"Perlengkapan siap semua?" tanya Elio pelan sambil menatap dua sahabatnya.

Bima menampar tas ranselnya yang kini terasa pas di punggung. "Linggis kecil ada, tang pemotong rantai ada, senter SWAT tiga biji siap. Garam tiga bungkus tetap gue bawa buat benteng pertahanan!"

Alvian membetulkan letak kacamatanya, mendekati jaket hitamnya. "Kakek gue konfirmasi masih ada di balai desa bagian selatan sampai jam dua pagi. Jalur utara Jalan Kenanga bersih dari pengawasan warga. Ini waktu paling aman."

“Gue di depan,” timpal Ash mantap, membusungkan dadanya. "Energi abu gue bakal membentengi kalian dari sisa-sisa pemagaran gaib tua di pekarangan rumah itu."

Tanpa banyak bicara lagi, keempatnya melangkah menembus malam. Suara langkah kaki mereka beradu pelan dengan tanah basah. Menyusuri lorong-lorong sempit desa yang gelap, mereka bergerak seperti bayangan yang tak terlihat.

Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit melintasi jalanan desa yang semakin meremang, vegetasi di sekitar mereka berubah. Pohon-pohon bambu tua tumbuh semakin rapat, melengkung di atas kepala seolah membentuk terowongan alami yang menutupi langit malam. Udara di tempat ini tiba-tiba terasa jauh lebih dingin dan berbau tanah lembap campur aroma bunga kenanga kusam yang menusuk hidung.

Mereka telah sampai di ujung lorong mati desa bagian utara: Jalan Kenanga Nomor 14.

Di balik pagar kayu yang lapuk dan tertutup semak belukar liar, berdiri sesosok bangunan tua. Bangunan berarsitektur Belanda-Jawa era 90-an tampak kusam, dengan atap seng yang sudah berkarat dan tembok cat putih yang terkelupas parah. Kaca-kaca jendelanya pecah di beberapa bagian, diisi sarang laba-laba tebal.

"Ini... tempat tinggal lo dulu, Ash?" bisik Elio pelan sambil menengadah menatap bangunan usang di depannya.

Abu melayang kaku di udara. Manik mata cetaknya menghadap tiang teras dan pintu kayu utama rumah itu. Keheningan dalam dada berguncang hebat—kenangan pahit, bayangan mengundang orang lain, hingga rasa kesepian masa kecilnya tiba-tiba berkelebat cepat di kepalanya.

“Iya, El…” bisik Ash parau. "Di sini tempat semuanya dimulai..."

“Hawa gaibnya pekat banget,” ujar Alvian pelan. Cowok berkacamata itu memegang gelang kayu di tangannya. "Tapi pendaran aura abu milik Sean berhasil menetralkan pemagaran tua di pekarangan ini. Kita bisa masuk."

Bima menelan ludahnya yang kasar, badannya gemetaran tipis walaupun ia berusaha terlihat berani. "Oke... oke... Bima kuat, Bima berani. Mari kita eksekusi pintu di depannya!"

Mereka perlahan melangkah menembus semak belukar pekarangan, mendekati teras rumah yang berdebu tebal.

Di hadapan mereka, pintu kayu jati utama rumah itu dikelilingi oleh rantai besi tebal berkarat yang dipasangi sebuah gembok tua berukuran besar. Gembok itu nampaknya sangat kuno, dililiti benang hitam kering yang kusam.

“Bim, linggis sama tang pemotongnya,” panggil Elio.

Bima dengan sigap merogoh tas ranselnya, mengeluarkan sebuah tang pemotong rantai besi berukuran sedang dan linggis kecil. Tangannya agak gemetaran saat menyerahkan alat itu ke Elio.

Elio memegang rantai besi tua itu, sementara Alvian membantu menahan gembok agar tidak menimbulkan suara gaduh saat dipotong.

“Ash, tahan getaran suaranya pakai hawa dingin lo,” bisik Alvian.

Ash mengangguk cepat. Ia melayang mendekati pintu, merentangkan kedua tangannya. Pendaran gelombang abu dingin melingkupi area pintu utama, meredam getaran dan suara apa pun yang mungkin terpancar keluar.

Elio memegang gagang tang pemotong rantai erat-erat, memposisikan mata pisau besi itu tepat di celah mata rantai yang paling tipis.

RETAKAN!

Satu hembusan tenaga yang dipaksakan oleh Elio. Rantai besi berkarat itu akhirnya patah dengan sekali tekan! Gembok tua berukuran besar itu terlepas dan jatuh menimpa telapak tangan Alvian yang bersiap menahannya.

KRIEEET...

Begitu rantai dan gembok terlepas, engsel pintu kayu utama yang lapuk itu bergeser dan terbuka sedikit dengan sendirinya, menyisakan celah hitam pekat yang melewati hawa es kental dari dalam rumah.

"Berhasil..." bisik Elio lega, napasnya melepaskan uap putih.

"Anjir, mantap El!" sahut Bima girang setengah berbisik. "Ayo cepat masuk sebelum ada yang liat!"

Namun, sebelum Elio sempat mendorong pintu tua itu lebih lebar untuk melangkah masuk lebih jauh...

TAK. TAK. TAK.

Suara helaan langkah kaki yang sangat teratur dan pelan terdengar dari arah semak-semak di pekarangan belakang mereka.

Suara langkah kaki manusia hidup!

Seketika itu juga, Elio, Alvian, dan Bima membeku di tempat. Abu yang melayang di atas refleksnya meluncur turun, memasang posisi pasang membentengi mereka ketiga, mata memicing tajam menatap kegelapan pekarangan.

"Siapa itu?!" bisik Alvian rendah, memegang gelang kayunya siap tempur.

Bima refleks bersembunyi di belakang punggung Alvian sambil memegang dua kantong garamnya kencang-kencang. "M-Mbah Damar ya?! Atau warga desa?!"

Dari balik kegelapan kabut dan rimbunnya pohon bambu pekarangan, sesosok tubuh melangkah keluar dengan sangat pelan.

Cahaya senter redup milik Elio membiaskan sosok tersebut.

Bukan Mbah Damar. Bukan pula warga desa berbadan tegap.

Sosok yang baru saja datang menghampiri mereka adalah seorang gadis muda.

Gadis itu mengenakan jaket berbahan kain rajut berwarna cokelat kusam dan rok panjang bergaris. Rambut hitamnya yang lurus terurai sebatas bahu, sedikit basah akibat embun malam. Wajahnya tampak sangat tenang—bahkan terlalu tenang untuk ukuran seorang remaja yang berjalan sendirian di rumah hantu tengah malam.

Gadis itu berhenti melangkah maju tiga meter di hadapan mereka. Manik matanya yang bening namun memancarkan ketajaman misterius menatap Elio, Alvian, lalu Bima secara bergantian.

Bima yang tadinya gemetaran ketakutan tiba-tiba membelalakkan matanya lebar-lebar begitu melihat wajah itu di bawah pendaran cahaya senter.

"E-eh...?" Bima mengerjap-ngerjapkan matanya bingung, mulutnya menganga konyol. "Kok...kok mirip...?"

Elio menoleh cepat ke arah Bima. "Bim? Lo kenal sama dia?!"

"G-gue...gue kayak pernah liat mukanya, El!" bisik Bima panik bercampur heran, menggaruk kulit kepala yang tidak gatal. "Gue lupa liat di mana...di sekolah atau di mana gitu...tapi mukanya familiar banget!"

Gadis misterius itu tidak menjawab atau membalas perkataan Bima. Ia tetap berdiri diam di tengah remangnya malam, tanpa ada raut takut sedikit pun di wajahnya melihat tiga pria yang membawa linggis dan rantai di depan rumah kosong.

Anehnya, Ash yang melayang tepat di depan Elio tiba-tiba mematung total.

Manik mata pucat Ash menatap gadis itu tanpa berkedip. Partikel abu di sekitar tubuh hantu tampan itu bergetar hebat—bukan karena ancaman bahaya, melainkan karena dada gaib Ash tiba-tiba merasakan keinginan ikatan batin yang luar biasa aneh dan tajam saat menatap gadis tersebut!

Siapa gadis ini? Kenapa dia berada di rumah kosong Jalan Kenanga Nomor 14 pada tengah malam? Dan apa hubungannya dengan masa lalu Sean serta Bima?

Gadis misterius itu perlahan mengukir senyuman tipis yang sangat sulit diterjemahkan di lipatannya, menatap lurus ke celah pintu rumah yang baru saja terbuka, menyisakan teka-teki besar yang menggantung tegang di bawah naungan malam Desa Parangkusuma.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!