Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 WISUDA AKBAR
SELAMAT MEMBACA !!!
Hari ini acara wisuda akbar akan digelar dengan megah. Untuk Fira penyerahan ijazah dan sertifikat akan didampingi oleh Nyonya Sintya. Sementara Zafran, papanya yang akan menjadi walinya.
Semua wali yang hadir sudah memenuhi gedung aula. Dan acara akan segera dimulai.
"Kamu itu menatap siapa sih, Ma?" tanya Tuan Danendra kepada istinya.
Nyonya Dinda yang matanya menatap Fira, kini berbalik menatap suaminya, "Itu gadis yang sudah dijadikan istri sama Bryan!" jawabnya dengan nada sinis.
Namun Tuan Danendra justru tersenyum lembut, matanya tak lepas dari sosok Fira yang duduk bersama para sahabatnya dengan tenang dan wajahnya sangat anggun sekali. Fira mengenakan baju kebaya lengkap dengan hijabnya. Wajahnya cerah bercahaya memancarkan kehangatan.
"Kenapa, Pa. Kamu tertarik dengan gadis itu. Orang yang nggak jelas asal-usulnya dan yatim piatu pula. Dia mau menikah dengan Bryan pasti karena dia tau kalau Bryan itu anak orang kaya dan hanya ingin mengincar hartanya saja," ujarnya berbisik sambil memandang lekat ke arah Fira.
Tuan Danendra menatap wajah istrinya, lalu berucap, "Jangan bicara begitu, Ma. Jangan pernah menilai orang dari covernya, jika covernya jelek isinya ikut jelek itu belum tentu. Lihatlah dia sangat disayangi oleh teman-temannya. Kamu juga harus ingat tingkah laku Bryan sekarang berubah dari semenjak dia punya istri. Bayangkan dulu pernahkah dia bicara dengan kita panjang kali lebar? Pernahkah dia menghormati kita, semenjak Mama menentang dia ingin masuk jurusan arsitek?!" tanya Tuan Danendra dengan tegas, mengingatkan otak istri supaya berpikir dengan positif.
Nyonya Dinda terdiam dengar ucapan dari suaminya, segitu berharganya sehingga suaminya berbicara begitu di tempat umum begini.
Rektor sudah berdiri tegak ditempat yang digunakan untuk pidato. Dengan suara lantang dan penuh kehangatan, beliau menyampaikan pesannya.
"Anak-anakku para wisudawan yang saya banggakan. Hari ini bukan sekedar hari perpisahan dengan bangku kuliah, melainkan awal dari masa depan kalian yang akan dimulai.
Gelar yang kalian terima hari ini bukanlah tujuan akhir, melainkan bekal awal untuk masa depan kalian. Jadilah orang yang tidak hanya cerdas di otak, tetapi juga mulia di hati. Tetaplah rendah hati, jujur, dan saling merangkul sesama, karena di dunia ini tak ada kesuksesan yang diraih sendirian, di balik pencapaian kalian selalu ada doa dan keringat orang-orang yang menyayangi kalian.
Pesan Bapak yang terakhir, ingatlah di mana pun kalian berada, jadilah cahaya yang menerangi orang-orang disekeliling kalian. Selamat berjuang anak-anaku! Selamat menempuh jalan baru dan harapan baru!" pesan dari Bapak Rektor.
Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan, menyambut pesan tulus dan penuh makna.
Suara pembawa acara itu menghentikan keriuhan suasana haru itu.
"Selanjutnya kami akan panggil peraih nilai tertinggi dari masing-masing jurusan!
Peraih nilai tertinggi jurusan ekonomi di raih oleh Bryan Putra Danendra, silahkan maju ke depan bersama salah satu walinya.
Jurusan pendidikan diraih, Ratih angelina juga maju dengan salah satu walinya.
Jurusan hukum diraih Daniel Aditya, silahkan maju jangan lupa dengan walinya.
Dan ntuk jurusan desain...dengan nilai sempurna, tertinggi di antara semua wisudawan yang hadir disini... Zhafira Nayara Humaira! Silahkan maju bersama walinya.
Tepuk tangan dari semua orang diruangan itu membuat ruangan itu menjadi ramai sekali. Nyonya Sintya melangkah maju ke depan dengan rasa bangga dihatinya. Ia yang akan menjadi wali untuk mendampingi Fira menerima penghargaan dari pihak kampus.
Sesampainya di atas panggil, Nyonya Sintya langsung memeluk tubuhnya Fira, "Selamat, Sayang. Kamu sudah bisa membuktikan pada orang-orang bahwa kamu bisa menjadi peraih nilai tertinggi di angkatan tahun ini!" seru Nyonya Sintya.
"Terima kasih, Ma. Atas segala dukungan yang Mama, Papa dan sahabatnya Fira," jawab Fira.
Sementara Bryan dan Tuan Danendra tersenyum penuh haru dan bangga atas pencapaian yang diraih oleh Fira.
Bapak Rektor melangkah maju ke depan, menatap kelima wisudawan terbaik itu. Satu per satu beliau menyerahkan ijazah dan sertifikat yang menyatakan mereka sebagai peraih nilai tertinggi.
Tak ketinggalan beliau juga mengalungkan selendang yang bertuliskan, Nama di sertai julukan Sarjana jurusan dan peraih nilai tertinggi.
Bapak Rektor selendang ke Fira dengan tulisan Zhafira Nayara Humaira, S. Ds. Summa Cum laude. Begitukan yang lain. Nyonya Sintya merangkul pundak Fira dengan terharu.
Acara telah selesai, mereka semua keluar dari aula untuk saling mengabadikan kegiatan untuk hari ini.
Keluarga dari Zafran, Tasya dan Elena berkumpul termasuk Fira. Mereka memanggil fotografer untuk mengabadikan bersatunya keluarga mereka dengan Fira berada di tengah-tengah mereka.
Bryan ikut mendekat ke arah mereka, setelah meminta izin kepada Papanya, meskipun Mamanya melarang ia tak menanggapi ucapan Mamanya.
"Sini, Nak Bryan ikut bergabung!" panggil Papanya Zafran, biar semua orang-orang tak curiga.
Bryan disampingkan dengan Zhafira. Lalu mengajak Fira berbicara berdua tanpa menimbulkan orang lain curiga mereka masih di lingkungan keluarga para sahabatnya Fira.
"Yang!" panggilnya lirih.
"Aku mau izin pulang ke Jakarta sebentar bersama Papa dan Mama. Secepatnya aku akan pulang ke sini lagi. Mama katanya ingin merayakan hari kelulusanku di Jakarta. Atau kamu ikut sekalian untuk memperkenalkanmu kepada keluargaku yang berada di Jakarta, Yang," ujar Bryan menatap lekat wajah Fira.
Fira menunduk pelan, suaranya lembut namun tegas. Apalagi melihat wajah Nyonya Dinda sinis kepadanya. "Aku belum siap, Mas. Sebaiknya Mas berangkat dulu ke Jakarta. Jika nanti situasinya mengharuskan aku berkenalan dengan keluargamu aku siap, aku siap dibawa ke Jakarta."
Bryan menghela napas dengan pelan, lalu mengangguk memahami keputusan istrinya. "Baiklah jika itu keputusanmu, Yang. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam, Mas. Hubungi aku jika sudah sampai di Jakarta ya, Mas!" pesan Fira kepada suaminya, ia ingin mencium tangannya Bryan tapi bagaimana masih banyak orang di sana.
Fira kembali berkumpul dengan keluarga para sahabatnya. "Kenapa kamu nggak ikut ke Jakarta, Nak. Ini kesempatan kamu untuk mengenal keluarganya Bryan?" tanya Papanya Tasya.
Fira menunduk dalam, menyembunyikan kesedihan dan luka hatinya. Sebenarnya ia juga ingin ikut ke Jakarta, tapi melihat wajah sinisnya Nyonya Dinda, ia memilih mengalah sementara.
"Biarkan Mas Bryan dulu yang ke Jakarta, Pa. Aku ingin melihat bagaimana perjuangan Mas Bryan untuk mempertahankan pernikahan ini. Jika Mas Bryan sungguh-sungguh ingin mempertahankan pernikahan ini. Seharusnya dia sudah mendaftarkan pernikahan kita ke KUA tapi sampai sekarang dia belum pernah membahasnya denganku, Pa," jawab Fira sedih.
Tapi tanpa sepengetahuan Fira pernikahan mereka sudah diurus oleh Bryan. Dan semua orang belum ada yang tau kecuali Bagas dan Tuan Danendra, karena sebelumnya Bryan sudah meminta saran kepada Papanya.
Tuan Danendra memberikan masukan, sebaiknya segera diurus ke KUA supaya pernikahannya punya kekuatan hukum.
Sementara Nyonya Dinda beserta anak buahnya belum ada yang tau masalah ini. Seluruh urusan semua data yang berkaitan dengan kantior KUA yang mengurus Tuan Danendra sendiri.
Tuan Andika yang tau bagaimana perasaan putri angkatnya, beliau langsung mengajak mereka untuk ke restoran milik istrinya. "Ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusanmu, Nak. Ayo kita rayakan keberhasilan kalian dengan makan-makan di restoran. Aku sudah pesan pada Manager Haris untuk mengosongkan ruang VVIP untuk kita!"
Zafran, Tasya dan Elena ikut ke mobilnya Fira. Mereka ingin menghibur Fira. "Fir, kita liburan yuk ke rumahnya Bang Haikal. Kak Amara ingin berkenalan denganmu secara langsung. Mau ya Fir?" tanya Zafran.
Fira terdiam, mempertimbangkan ajakan Zafran. Tapi ia akan menunggu kabar dari suaminya dulu.
"Nanti ya, Zaf. Aku nunggu kabar dari Mas Bryan dulu. Kasian kalau dia ditinggal liburan," jawab Zhafira.
"Oh ternyata kamu nggak ada kabar, di sana sudah ada yang lain ya mas.....!"