Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Pengembangan Wilayah
Bab 31: Pengembangan Wilayah
Masa istirahat tiga hari yang diberikan untuk pasukan inti tidak berlaku bagi Arya. Memegang kendali baroni berarti ia harus memikirkan logistik. Pasukan yang kuat tidak ada artinya jika lumbung makanan mereka kosong sebelum musim dingin berakhir.
Pagi itu, kabut tipis masih menyatukan Baroni Denwick. Gerbang kastil berderit terbuka, dan Arya memacu kudanya keluar dari pelataran. Ia mengenakan pakaian kulit biasa dengan pedang tersarung di pinggang. Hans, kepala pelayan kastil, memacu kudanya tepat di belakang Arya.
Mereka tidak sedang berpatroli militer, melainkan memetakan kondisi nyata wilayah tersebut.
Tujuan pertama mereka adalah sebuah desa agraris di sisi utara baroni. Saat mereka tiba, hamparan ladang yang seharusnya ditumbuhi gandum justru terlihat seperti kubangan lumpur. Beberapa petani yang berlumuran kotoran tampak sedang mencabuti sisa-sisa tanaman yang menghitam.
Arya menghentikan kudanya di tepi ladang. Ia turun, melangkah ke jalanan tanah liat yang becek, dan mendekati seorang petani tua yang sedang memegang cangkul.
Melihat kedatangan tuan muda mereka secara langsung, beberapa warga yang bekerja menghentikan aktivitasnya. Petani tua itu buru-buru memerintahkan kepala.
"Bagaimana panen musim ini?" tanya Arya langsung.
Petani itu ragu sejenak sebelum menjawab. "Buruk, Tuan Muda. Hujan turun lebih sering dari biasanya. Tanah di ladang kami tidak menyerap udara. Akar gandum kami membusuk sebelum batangnya bisa tumbuh."
Arya tidak membalas. Ia melangkah maju ke batas ladang, berjongkok, lalu meraih segenggam tanah. Tanah itu sangat basah dan lengket seperti tanah liat. Ia merabanya, merasakan tekstur lumpur yang pekat.
Masalahnya jelas. Baroni Denwick terus memaksakan diri menanam gandum di lahan kering di atas tanah yang secara alami adalah lahan basah.
"Dari mana luapan air ini berasal saat hujan?" tanya Arya sambil membersihkan tangan.
"Dari perbukitan di timur desa, Tuan. Air dari aliran sungai kecil di sana sering meluap dan merendam ladang kami," jawab petani itu.
Arya mengangguk pelan. "Lanjutkan pekerjaan kalian."
Ia kembali ke kudanya dan menaiki pelana. "Hans, bawa aku ke perbukitan timur yang dia maksud."
Hans mengangguk dan segera memimpin jalan. Mengingat ukuran wilayah Baroni Denwick yang tidak terlalu luas, perjalanan menuju sisi timur tidak memakan waktu lama. Setelah sekitar lima belas menit bersepeda santai, kontur tanah berlumpur mulai berganti menjadi bebatuan padas dan semak belukar.
Langkah kuda mereka berhenti di area berbatu yang sedikit menanjak. Arya turun dan berjalan menyibak semak.
Di depannya, sebuah anak sungai selebar tiga meter mengalir dengan tenang. Airnya jernih dan debitnya stabil. Namun, karena tepian sungainya rendah, luapan air terus tumpah ke arah desa setiap kali hujan turun, merendam ladang-ladang di bawahnya dan mengubahnya menjadi rawa.
Arya berjalan menyusuri tepian aliran itu hingga langkahnya terhenti. Beberapa belas meter di depan mereka, aliran selebar tiga meter itu melewati sebuah celah sempit di antara dua tebing batu kapur kecil. Jarak antara kedua batu itu hanya sekitar dua meter, membentuk lorong alami sebelum sungainya kembali melebar.
Arya mengamati struktur tebing batu tersebut. Otaknya memvisualisasikan kalkulasi spasial.
"Ini sumber air utamanya, Tuan Muda. Alirannya tidak pernah kering sepanjang tahun," jelas Hans yang baru saja turun dari kudanya.
“Hans,” panggil Arya sambil menunjuk ke arah celah sempit dua meter di tebing antara batu tersebut. "Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk meruntuhkan bagian atas kedua tebing ini hingga batunya jatuh menutup celah di bawahnya?"
Hans menatap celah itu dengan saksama. "Jika menggunakan pekerja tambang dan pemecah alat batu yang mampu, mungkin sekitar dua atau tiga hari, Tuan."
"Apa yang terjadi jika celah itu tersumbat batu?"
"Aliran sungainya akan tertahan," jawab Hans. "Udara tidak akan langsung mengalir ke bawah. Sisa airnya akan melebar dan mengisi area berbatu yang mencekung di belakang tebing ini, membentuk sebuah lingkaran besar."
“Tepat,” Arya menatap area di balik celah tersebut. "Kita bedung celah ini. Luapan air yang biasanya merendam ladang penduduk akan tertahan di sini menjadi sebuah tambak air tawar alami. Airnya konstan dan jernih. Jika kita menebar bibit ikan, ini akan menjadi pasokan daging yang stabil untuk baroni."
Hans terdiam sejenak, memproses rencana tersebut. Mengubah sumber luapan air menjadi tambak ikan adalah langkah logistik yang tidak pernah terlintas dalam pikiran pengelola sebelumnya.
"Lalu bagaimana dengan sisa air dari hulu? Genangan tambaknya nanti pasti penuh, Tuan," tanya Hans.
“Kita gali jalur irigasi. Buat parit terstruktur dari tambak ini yang mengarah langsung ke desa,” jelas Arya. “Sisa limpahan airnya dialirkan secara terukur. Kita atur agar udara yang masuk ke ladang penduduk sesuai kebutuhan.”
"Tapi lahan mereka sudah menjadi lumpur, Tuan. Meski airnya diatur, gandum tetap tidak akan tumbuh subur di tanah berair."
“Kita berhenti menanam gandum kering,” ucap Arya. “Kita harus beradaptasi dengan kondisi tanah, bukan melawannya.”
"Ada tanaman lain yang bisa diandalkan sebagai makanan pokok selain gandum?"
"Ada," jawab Arya. Ia mengingat rute logistik perdagangan dari wilayah barat. "Di kerajaan para elf, ada komoditas bernama gandum air, atau padi. Tanaman ini justru harus ditanam di tanah berlumpur yang tergenang udara secara teratur."
Hans menelan ludah. Rencana ini kelemahan mengubah geografis menjadi keuntungan. Bendung aliran sungai, buat tambak ikan di hulu, lalu gunakan irigasinya untuk mengairi lahan basah di desa yang telah diubah menjadi sawah gandum air.
“Ini rencana yang sangat masuk akal, Tuan Muda,” kata Hans akhirnya. “Tapi kita tetap membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar untuk menggali jalur irigasinya.”
"Kita gunakan warga desa," jawab Arya. "Kita membayar mereka dengan makanan."
"Kita tidak punya banyak sisa makanan di kastil untuk mengupah ratusan warga desa."
“Karavan dari Vane akan tiba besok, membawa lima gerobak penuh gandum,” kata Arya sambil memutar tubuhnya untuk kembali ke kuda. "Pasokan itu cukup untuk memberi makan pekerja selama tetesan air. Aku juga akan meminta Vane mencari bibit gandum air itu besok."
“Lalu bagaimana dengan meruntuhkan tebing ini? Kita tidak punya alat berat,” tambah Hans.
Arya menatap batu kapur di depannya. Formasinya tua dan memiliki retakan di beberapa titik. Pukulan fisik yang diperkuat dengan teknik sirkulasi pernapasan cukup untuk menghancurkan titik lemah batu tersebut hingga runtuh.
"Aku yang akan meruntuhkannya. Siapkan saja tenaga kerja untuk irigasinya," jawab Arya. Ia menaiki kudanya. "Kita kembali ke kastil. Umumkan kepada penduduk desa, lusa irigasi dimulai."
👍