NovelToon NovelToon
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: Imron Tohari

Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.

Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.

Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 5

BAB 5

Gema kalimat Rendra di lorong remang-remang kemarin sore masih menggantung tebal di dalam benak Maya.

"Aku tidak ingin melihat keindahanmu runtuh untuk kedua kalinya."

Kalimat itu berputar berulang-ulang di kepalanya bagaikan pemutaran audio berulang dalam aplikasi yang mengalami penundaan loading—terus mengetuk dinding kesadarannya dengan tanda tanya besar. Apakah Rendra sekadar bersikap dramatis untuk menjatuhkan mentalnya, ataukah ada makna yang jauh lebih dalam yang belum sanggup ia pahami? Namun, jadwal kompetisi yang bergerak cepat tak memberinya ruang untuk hanyut dalam analisis emosional.

Pagi ini, area workshop eksklusif pameran IFW dipenuhi atmosfer yang jauh lebih menegangkan. Seluruh peserta lima besar dipanggil untuk melakukan verifikasi ulang berkas konsep, kurasi material, dan rekam jejak akademis/profesional sebelum memasuki babak pembuktian karya menuju tiga besar. Langkah kaki para peserta yang terburu-buru dan bisik-bisik tegang di sepanjang koridor makin mempertegas betapa tingginya pertaruhan di tahap ini.

Maya duduk di sofa kulit ruang tunggu eksekutif bersama Nia dan Dito. Di meja sebelah, Clarissa Arum tampak anggun dalam balutan setelan blazer rancangan rumah mode Paris. Di samping Clarissa, dua orang lelaki yang merupakan staffnya berdiri kaku dengan jas mahal, menampilkan senyum mengayomi yang terasa sangat dibuat-buat.

"Ah, Maya," panggil Clarissa dengan suara halus yang sarat nada sindiran begitu melihat Maya selesai menandatangani berkasnya. "Luar biasa ya, kau bisa bertahan kokoh di posisi kedua. Mengingatkan kita pada dinamika di Fakultas Desain dulu, bukan?"

Maya menoleh perlahan. Ia menutup bolpoinnya dengan bunyi klik yang tegas.

"Masa-masa di kampus sudah lama berlalu, Clarissa," balas Maya dingin.

"Memang," sahut Clarissa mengibaskan rambutnya yang tertata sempurna, menyunggingkan senyum tipis yang sarat rasa percaya diri semu. "Tapi kecenderungan sejarah itu selalu konsisten, kan? Kau dengan bakat 'alamiah' dan idealisme puitismu yang selalu dipuja dosen, sementara aku harus melipatgandakan energi untuk membuktikan bahwa keanggunan kelas atas butuh modal, strategi, dan keberanian eksekusi."

Dito yang duduk di samping Maya berdehem pelan, mengisyaratkan Maya melalui tatapan mata untuk tetap tenang dan tidak membiarkan emosinya terpancing. Namun, Nia sudah memutar matanya malas, tak mampu menahan rasa muak pada kepura-puraan Clarissa.

"Modal besar dan strategi agresif tidak pernah bisa membeli orisinalitas ide, Clarissa," potong Nia cepat tanpa basa-basi. "Di studio pameran kampus dulu kau harus puas berada di bawah Maya karena rancanganmu kaku dan sibuk meniru gaya busana luar negeri. Dan di papan skor lima besar sekarang, pola itu terbukti berulang kembali!"

Clarissa melangkah satu pijakan lebih dekat ke arah Maya. Senyum formalnya meluruh, berganti dengan tatapan rendah yang penuh racun.

"Kau selalu merasa paling suci dengan 'bakat alam' yang kau agung-agungkan itu, kan, Maya?" bisik Clarissa dengan nada dingin yang menusuk. "Kau pikir dosen-dosen dulu benar-benar mengagumi karya gaunmu? Mereka hanya kasihan padamu! Kasihan melihat mahasiswi yang hanya bisa mengandalkan potongan kain sisa dan narasi cengeng untuk bertahan hidup!"

Maya menegakkan kepala, menatap Clarissa tanpa mengedipkan mata sedikit pun.

"Tangan yang membuat karya ini mungkin tidak dibalut perhiasan mahal sepertimu, Clarissa. Tapi tangan ini tidak pernah mencuri ide orang lain atau membeli nilai dengan uang sponsor."

Rahang Clarissa mengetat, mukanya memerah menahan gumpalan amarah yang hampir meledak.

"Kita lihat seberapa jauh tanganmu itu bisa bertahan di industri ini, Maya. Saat panggung utama roboh dan sponsor memalingkan muka, gaya melankolis murahmu itu tidak akan bisa menyelamatkan studiomu dari kebangkrutan!"

Mata Clarissa berkilat tajam. Sorot iri dan dendam lama yang mengendap bertahun-tahun sejak masa kuliah mendadak mencuat di balik lapisan riasan tebalnya. Sejak di bangku akademis, Clarissa tidak pernah bisa menerima fakta bahwa eksplorasi tekstilnya selalu kalah bernyawa dibanding karya-karya Maya. Bagi Clarissa, keberadaan Maya adalah kerikil utama yang merusak ambisinya untuk tampil paling sempurna.

Maya tidak bergeming. Ia justru menyunggingkan senyum tipis yang dingin, menatap lurus ke dalam iris mata Clarissa yang menyala.

"Kebangkrutan fisik bisa dipulihkan dengan kerja keras, Clarissa. Tapi kebangkrutan ideologi? Kau harus terus-menerus membeli validasi dan bersembunyi di balik ketiak sponsor hanya untuk merasa utuh. Kasihan. Ternyata bertahun-tahun setelah lulus, jiwamu masih saja dipenjara oleh bayang-bayang karyaku."

"Hati-hati dengan artikulasi ucapanmu, Maya," potong Victor, lelaki yang baru datang sekaligus relasi penting Clarissa. Suara beratnya terdengar mengancam secara halus. Setelah menepuk bahu Clarissa pelan, tatapannya beralih intens kepada Maya.

Kemunculan Victor yang mendadak dengan langkah tenang namun penuh intimidasi seolah membawa udara dingin ke tengah perdebatan. Pria yang dikenal sebagai relasi penting sekaligus penyokong utama di balik kemewahan proyek-proyek Clarissa itu berdiri tegap, memancarkan aura dominasi kapital yang kuat. Senyum tipis mengembang di bibirnya, namun sorot matanya yang tajam menatap Maya dengan penuh penilain yang merendahkan.

Maya membalas tatapan itu tanpa gentar, meski ia bisa merasakan atmosfer di sekitar mereka berubah semakin berat. Kehadiran Victor mempertegas bahwasanya pertarungan di panggung pameran ini bukan lagi sekadar adu kreativitas antar desainer, melainkan benturan antara idealisme karya dan kekuatan modal industri yang dingin. Setiap kata yang keluar dari mulut investor ini bisa menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan studio kecil yang susah payah Maya bangun.

Nia dan Dito refleks menggeser posisi duduk mereka, bersiap pasang badan menghadapi tekanan dari pria berpengaruh tersebut. Dito mengepalkan tangannya di balik paha, sementara Nia pasang muka menantang untuk melindungi sahabat mereka. Namun, sebelum Maya sempat melayangkan tanggapan atas kalimat pembuka dari pria itu, Victor melangkah satu tapak lebih maju, memangkas jarak sembari menyilangkan kedua tangannya di dada. Dengan nada suara berat yang dirancang untuk meruntuhkan mental, ia mulai angkat bicara—menegaskan batas tegas antara angan-angan akademis dan realitas industri.

Raut wajah Victor melunak oleh senyum tipis yang dingin, tetapi sorot matanya yang tajam mengunci pandangan Maya tanpa ampun. Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit, membiarkan aura kekuasaannya yang angkuh menghimpit udara di antara mereka.

Ia memiringkan kepala, lalu menarik napas dalam-dalam siap melontarkan kalimat serangan yang akan meremukkan seluruh rasa percaya diri Maya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!