NovelToon NovelToon
Suara Untuk Dia

Suara Untuk Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Idola sekolah
Popularitas:153
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Putra Satria Hsb

【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6- Di Antara Keringat dan Lembaran Kertas

Malam baru saja beranjak makin larut ketika aku selesai mandi dan membersihkan sisa-sisa debu yang menempel di tubuhku dari area lapangan sekolah. Di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter yang cukup sederhana itu, lampu bohlam lima belas watt memancarkan cahaya kekuningan yang agak temaram, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding kamar. Di atas meja belajar kayu yang catnya sudah agak mengelupas di beberapa bagian, formulir pendaftaran ekstrakurikuler pencak silat tergeletak rapi di samping buku catatan Fisika dan Kimia yang tebal.

Aku menarik kursi kayu pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara berdecit yang bising, lalu duduk tercenung sambil menatapi lembaran formulir berwarna merah muda itu. Di pojok bawah kertas, tertera tanda tangan dari senior bertubuh kekar yang kuingat bernama Mas Teguh. Mengingat kembali gertakan suaranya yang berat dan tatapan matanya yang tajam di area lapangan tengah sekolah tadi sore, sejujurnya ada sedikit rasa gentar yang menyelinap halus di dalam dada. Ini bukan sekadar eskul biasa yang diisi dengan gurauan santai atau tempat berkumpul untuk mengisi waktu luang. Ini adalah dunia baru yang menuntut ketahanan fisik luar biasa, latihan berat di bawah sengatan terik matahari, serta kedisiplinan tingkat tinggi tanpa ampun.

Namun, di tengah rasa ragu yang sempat berbisik pelan itu, bayangan wajah Nara saat mengacungkan dua jempol tangan dari bawah naungan pohon mahoni tadi sore mendadak melintas sangat jelas di ingatan. Senyum cantiknya yang tulus dengan ukiran lesung pipi yang dalam seolah-olah menyapu bersih seluruh rasa cemas di kepalaku dalam sekejap. Aku mengepalkan jemari tangan kananku erat-erat di atas meja kayu.

"Kalau cuma mau gaya-gayaan biar kelihatan keren di depan cewek, mendingan mundur dari sekarang dan pulang ke rumah!" Kalimat tegas dari Mas Teguh tadi kembali bergema nyaring di dalam cuping telingaku.

Aku menghela napas panjang, merapikan letak formulir tersebut di dalam tas sekolah. "Lihat saja nanti, Mas. Saya tidak akan pernah mundur sejangkat pun," gumamku pelan pada diri sendiri, memantapkan tekad yang mulai membara di dalam dada.

Keesokan paginya, suasana ruang kelas X IPA 2 sudah ramai seperti hari-hari biasanya saat bel tanda masuk sekolah tinggal menghitung menit. Suara gelak tawa Diko yang melengking khas menggema dari sudut belakang kelas. Di sana, sahabat karibku itu sedang asyik memamerkan beberapa gerakan jurus silat asal-asalan kepada beberapa anak cowok sekelas yang berkumpul mengelilinginya dengan antusias.

"Lihat ini, Bro! Ini namanya jurus Macan Mengaum hasil berguru sama Satria kemarin malam!" seru Diko penuh percaya diri sambil memasang posisi kuda-kuda konyol yang justru lebih mirip gerakan orang yang mau jatuh dari lantai dua.

Aku yang baru saja melangkah masuk dan meletakkan tas ransel di atas meja cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ajaib sahabatku itu. "Jangan bikin malu eskul silat kamu, Dik. Belum juga ikut latihan pertama nanti sore, sudah berani-beraninya bikin jurus sendiri di depan anak-anak."

"Yee, biarin kenapa sih, Sat! Yang penting itu mentalnya dulu, mental juara!" sahut Diko santai sambil menyeringai lebar, lalu melangkah menghampiri meja barisan kedua dan langsung mendaratkan pantatnya di kursi sebelahku. "Tapi jujur ya, Sat... Kamu deg-degan enggak sih buat latihan nanti sore? Mas-mas senior kemarin mukanya galak banget, kayak belum makan tiga hari."

"Dikit sih, tapi ya mau gimana lagi. Udah terlanjur basah, ya mandi sekalian," jawabku terkekeh pelan sambil merapikan letak bangkuku.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang halus dan teratur terdengar mendekati pintu depan kelas. Nara dan Lina baru saja memasuki ruangan. Seperti biasa, penampilan Nara selalu terlihat sangat rapi, bersih, dan memikat. Jilbab putih yang dikenakannya terpasang sempurna tanpa ada lipatan kusut sedikit pun. Di dalam dekapan tangannya, dia membawa sebuah buku cetak tebal berukuran besar dengan sampul penuh gambar rumus-rumus Kimia.

Saat berjalan melewati meja barisan kedua tempatku duduk, langkah kaki Nara terhenti sejenak. Dia menoleh ke arahku, menatapku lurus dengan mata bulatnya yang jernih dan teduh.

"Pagi, Satria. Pagi, Diko," sapanya halus dengan nada suara plastis yang selalu berhasil membuat suasana hatiku yang tadinya tegang mendadak menjadi sangat tenang.

"Pagi juga, Ra," balasku refleks sambil berusaha menata raut wajah agar tidak kelihatan terlalu salah tingkah atau canggung di depannya.

"Oiya, Satria, jangan lupa ya," lanjut Nara sambil sedikit merapikan letak buku cetak tebal di pelukannya. "Nanti pas jam pelajaran Kimia dengan Pak Bambang, kita kan dibilang duduknya berkelompok. Kemarin tugas ringkasan tabel periodik unsur yang dikasih minggu lalu sudah kamu selesaikan belum?"

Pertanyaan sederhana yang keluar dari mulut Nara itu seketika membuat pikiran dan ingatanku memutar kembali kejadian semalam. Aku sempat menggaruk tengkuk leherku yang sama sekali tidak gatal, merasa agak malu dan serba salah di hadapannya.

"Sudah sih, Ra... Tapi ya gitu deh, aku enggak tahu jawaban dan ringkasanku itu bener atau salah. Aku cuma ngerjain sebisanya aja semalam," jawabku jujur tanpa berusaha menutupi kekuranganku. Di dalam ruang kelas unggulan IPA 2 ini, berada di dekat sosok Nara memang selalu memberikan perasaan yang serba canggung. Aku ingin sekali terlihat pintar dan mampu di depannya, tapi di sisi lain, aku sadar betul bahwa kapasitas otakku dalam hal pelajaran sekolah berada jauh di bawah rata-rata anak-anak lain.

Namun, reaksi yang diberikan Nara justru di luar dugaan. Dia tersenyum kecil, mengoleskan kerutan manis di sudut bibirnya. Sama sekali tidak ada raut wajah menghakimi, meremehkan, atau pandangan rendah yang keluar dari wajah cantiknya itu.

"Gak apa-apa, Satria. Nanti pas jam diskusi kelompok kita cek dan koreksi bareng-bareng," kata Nara pelan namun penuh penekanan yang menenangkan. "Kalau ada rumus atau bagian yang bikin kamu bingung, langsung tanya aja ke aku. Jangan sungkan, kan kita belajar bareng-bareng di kelas ini."

Kata-kata "belajar bareng-bareng" yang diucapkannya terasa bagaikan hembusan angin segar di tengah teriknya siang yang menyengat. Sederhana, sangat sederhana, tapi maknanya begitu besar dan mendalam bagi seorang Satria Putra—seorang anak konyol yang selalu merasa terasing dan minder di tengah-tengah kumpulan murid terpintar di sekolah ini.

Ketika bel jam pelajaran Kimia akhirnya berbunyi nyaring, suasana di dalam kelas X IPA 2 mendadak berubah menjadi hening dan penuh tekanan. Pak Bambang, seorang guru bermuka datar dengan kacamata minus tebal yang menempel di ujung hidungnya, melangkah masuk ke dalam kelas sambil membawa tumpukan lembaran kertas soal. Tanpa banyak basa-basi, beliau langsung membagi seluruh murid di kelas menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari tiga hingga empat orang.

Seperti keberuntungan yang menaungiku hari itu, aku berada di dalam satu meja kelompok bersama Nara, Diko, dan Lina. Saat kertas lembaran diskusi dibagi-bagikan ke atas meja, Nara dengan sigap dan tenang langsung mengambil alih peran memimpin jalannya diskusi. Jemari tangannya yang lentik begitu lihai dan cepat menari-nari di atas kertas, menuliskan deretan rumus reaksi kimia yang menurut pandanganku lebih mirip susunan huruf hieroglif Mesir Kuno daripada materi pelajaran sekolah biasa.

"Nah, kalau yang bagian soal nomor tiga ini, tinggal dimasukkan saja nilainya ke dalam rumus mol yang ini, Satria," tunjuk Nara halus menggunakan ujung pulpen gelnya ke arah kertas catatanku yang masih setengah kosong. Bahunya yang secara tidak sengaja berdekatan dengan posisi dudukku membuat aroma wangi lembut khas dari tubuhnya tercium tipis namun sangat jelas di indra penciumanku.

Aku berusaha merapatkan konsentrasi setengah mati pada lembaran kertas di depan mata, walau jujur saja fokus pikiranku terbelah hebat antara berusaha memahami uraian soal Kimia atau sekadar menikmati momen langka berada begitu dekat di sampingnya.

"Gimana, Satria? Kamu paham gak bagian yang ini?" tanya Nara pelan sambil memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajahku dari jarak yang cukup dekat sampai aku bisa melihat dengan jelas pantulan cahaya di bola matanya.

"Agak... agak paham dikit kok, Ra," jawabku dengan suara yang sedikit terbata-bata karena kegugupan yang mendadak menyerang.

Nara terkekeh pelan melihat ekspresi wajahku. Sebuah tawa kecil dan halus yang hanya bisa didengar oleh kami berempat di meja kelompok itu. "Dasar kamu ini. Nanti pas jam istirahat kedua, kalau masih ada bagian rumus yang bikin pusing, aku jelasin lagi pelan-pelan dari awal ya."

Matahari di luar sana makin meninggi, memancarkan terik panas yang menembus kaca jendela ruang kelas X IPA 2. Di balik rasa pusing dan sakit kepala menghadapi deretan angka serta rumus Kimia, dan di tengah bayang-bayang ketakutan menghadapi gemblengan latihan fisik pencak silat nanti sore, sebuah perasaan baru mulai tumbuh, berakar, dan mengikat makin dalam di dalam dasar dadaku.

Aku tahu betul bahwa perjalanan panjang ini masih baru saja dimulai dari titik paling bawah. Aku belum menjadi siapa-siapa yang bisa dibanggakan di sekolah ini, dan aku masih berdiri sangat jauh di belakang sosok Nara dalam segala hal. Namun, setiap detik bernilai yang kuhabiskan di sampingnya, setiap perhatian kecil yang ditunjuktannya, dan setiap senyuman manis yang dia berikan, adalah alasan yang sangat kuat bagiku untuk tidak akan pernah menyerah pada keadaan. Aku akan terus berjuang menembus batas di atas kertas, dan aku akan mempertaruhkan seluruh jiwaku di atas gelanggang pertarungan.

Sore harinya, bel tanda berakhirnya jam pelajaran sekolah akhirnya berbunyi nyaring. Para siswa mulai berhamburan keluar dari kelas, namun bagiku dan Diko, perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Kami berdua berjalan menuju ruang ganti, mengenakan kaos olahraga sekolah dan celana kain longgar sebelum melangkah menuju aula bawah tempat latihan perdana pencak silat dilaksanakan.

Suasana di aula bawah terasa begitu magis sekaligus menekan. Udara agak pengap, bercampur dengan aroma lantai matras dan minyak angin khas tempat latihan bela diri. Belasan siswa baru sudah berbaris rapi di sana, sementara Mas Teguh dan beberapa senior lainnya berdiri tegap di depan barisan dengan tatapan dingin tanpa senyum.

"Seluruhnya, siap grak! Lencang depan, grak!" teriak seorang senior dengan suara menggelegar yang memantul di dinding-dinding aula.

Latihan perdana dibuka dengan pemanasan yang benar-benar menguras seluruh tenaga. Kami diminta berlari mengelilingi lapangan basket sebanyak lima belas putaran tanpa henti, dilanjutkan dengan *push-up*, *sit-up*, dan menahan posisi kuda-kuda tengah selama berenam puluh detik berturut-turut. Keringat deras langsung mengucur membasahi seluruh kaos olahragaku. Otot-otot paha dan betisku terasa gemetar hebat menahan beban tubuh, sementara napasku sudah terengah-engah dan tenggorokanku terasa sangat kering seperti terbakar.

Diko yang berada di barisan sebelah kiriku tampak sudah kepayahan. Wajahnya memerah padam dan napasnya memburu. "Sat... aku enggak kuat lagi nih, kakiku mau patah rasanya..." bisiknya lirih dengan suara gemetar.

"Tahan, Dik! Buka matamu, jangan menyerah di hari pertama!" bisikku menyemangati, walau sejujurnya rasa sakit di otot kakiku juga sudah berada di ambang batas ketahanan.

Di tengah rasa lelah yang luar biasa dan napas yang makin memburu itu, aku memejamkan mata sejenak. Di dalam kegelapan pikiran, aku membayangkan wajah Nara yang tersenyum manis saat memberikan semangat di lapangan kemarin. Bayangan itu seperti menyalurkan kekuatan gaib yang tak terlihat. Rasa sakit di paha dan betisku mendadak terkalahkan oleh dorongan ego dan tekad raksasa yang membara di dalam jiwa.

Aku kembali membuka mata, menegakkan punggung, dan mengunci posisi kuda-kuda tengahku dengan kokoh di atas matras. Mas Teguh yang sedang berjalan memutari barisan sempat menghentikan langkahnya tepat di depan posisiku. Senior bertubuh kekar itu memperhatikan posisi kuda-kudaku yang stabil tanpa bergoyang sedikit pun, lalu memberikan satu anggukan kepala pelan sebagai bentuk pengakuan tipis sebelum melangkah pergi.

Ketika latihan sore itu akhirnya ditutup dengan doa bersama, seluruh tubuhku rasanya lelah tak terkira. Namun, saat berjalan keluar dari aula bawah bersama Diko sambil menatap langit sore yang mulai memerah, ada rasa bangga luar biasa yang memenuhi dadaku. Hari ini, aku berhasil bertahan. Aku tidak mundur selangkah pun, dan ini adalah bukti pertama bahwa aku siap berjuang demi cita-cita dan cinta pertamaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!