Song Qian adalah keturunan Dewa Leluhur Qing Tian yang lahir dari Menara Qian Kun setelah Tiga Alam diciptakan pada 70 ribu tahun yang lalu. Kelahirannya dianggap sebagai berkah bagi Tiga Alam. Song Qian berguru kepada Qian Gu untuk menguasai tiga elemen kekuatan semesta yang sudah ia miliki sejak lahir.
Namun, Qian Gu dan Song Qian tidak tahu apa saja rintangan yang akan menghampiri mereka di masa depan. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua mulai jatuh cinta. Banyaknya rintangan membuat mereka harus berjuang bersama-sama untuk terus bersatu dan melindungi Tiga Alam bersama dengan Dewa Agung lainnya serta melindungi cinta di hati mereka.
Apakah Song Qian dan Qian Gu dapat mencapai tujuan mereka untuk melindungi Tiga Alam sekaligus cinta di hati mereka atau mereka harus mengorbankan segalanya untuk memberikan kedamaian bagi Tiga Alam? Ikuti terus kisahnya!
Dilarang menjiplak novel ini!!!
IG : @bellakristyc_
E-mail : bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ilusi (2)
Pengorbanan Bibit Perasaan dan Rahasia Duka Mahadewa
"Aku merasa Song Qian seperti dirimu yang dulu, begitu ceria dan berambisi," kata Bai Yuan, sengaja mengalihkan topik pembicaraan emosional di antara mereka berdua.
"Tidak perlu mengungkit masa lalu," sahut Qian Gu dengan nada tegas, tatapannya membeku lurus menghadap dinding kamar.
Bai Yuan menyunggingkan senyum kecut, menghembuskan napas panjang. "Aku tidak bermaksud begitu. Mengenai Song Qian... apa yang sebenarnya akan kau lakukan untuk membimbingnya nanti?"
"Kalau Dewa Agung Bai Yuan begitu penasaran, kenapa tidak kau saja yang menjadikan Song Qian sebagai muridmu?" tanya Qian Gu dengan ekspresi datar tanpa riak emosi.
"Aku pernah berjanji padamu bahwa aku hanya menerimamu sebagai muridku. Tidak ada murid lain lagi yang akan kuterima sampai kapan pun," jawab Bai Yuan seraya menyunggingkan senyum lebar yang sangat tulus.
Qian Gu menghela napas lega mendengar jawaban mantap itu. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ada kepuasan hangat menyadari bahwa Bai Yuan tidak pernah sekalipun mengabaikan atau melupakan janji masa lalu mereka.
"Kau sungguh masih menganggap serius janji kuno itu? Itu terjadi sepuluh ribu tahun yang lalu, Bai Yuan."
"Memangnya kenapa walaupun sudah sepuluh ribu tahun yang lalu? Janji tetaplah janji," sahut Bai Yuan seraya menatap dalam kedua mata indah Qian Gu. "Lagipula, kaulah sosok guru yang paling cocok untuk membimbing dan mengimbangi bakat tiga elemen milik anak itu."
Qian Gu mengalihkan pandangannya, menatap pusaran pendar cahaya di atas meja giok. "Apa saja yang sebenarnya kau tunjukkan padanya di dalam cermin ilusi itu?"
"Apa yang dia lihat dan dengar di dalam sana, jujur saja aku pun tidak tahu," terang Bai Yuan menjelaskan. "Aku tidak mengarahkan ilusinya ke mana pun. Semua yang Song Qian saksikan murni tergantung pada batas kemampuan dan spiritualitasnya sendiri dalam menembus lapisan kejadian Tiga Alam."
"Dia bahkan belum resmi berguru padaku, tapi dia sudah harus menyaksikan beban berat kejadian di Tiga Alam," kata Qian Gu pelan. Ada sedikit kecemasan tersirat dari nada suaranya. "Semoga dia baik-baik saja di dalam sana."
Qian Gu lalu memutarkan badannya, melangkah anggun menuju ke arah pintu keluar kamar.
"Kau mau pergi ke mana?" tanya Bai Yuan dengan wajah kebingungan. "Apakah kau tidak mau menunggu Song Qian keluar dari dalam cermin ilusi?"
"Aku harus pergi ke Alam Manusia," jawab Qian Gu tanpa menghentikan langkahnya. "Pasukan suku Iblis mulai menyusup dan memicu kekacauan di kota-kota fana. Aku harus turun tangan membantu manusia."
Bai Yuan menatap punggung bergaun putih itu hingga menghilang di balik pintu. Ia bersandar pada pilar kamar seraya bergumam pelan dengan senyum puitis yang getir, "Qian Gu... sampai detik ini kau masih terus pasang badan melindungi Tiga Alam dengan tanganmu sendiri. Alih-alih memerintahkan para dewata lain untuk turun membantu manusia, kau selalu memilih untuk menanggung penderitaan itu sendirian..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BZZZZZZT!
Sementara itu, di dalam pusaran ilusi dimensi ruang-waktu...
Tubuh Song Qian terlempar menembus kabut waktu dan tiba di batas Alam Iblis pada kurun waktu lima ribu tahun yang lalu.
Di hadapannya, membentang pemandangan yang sangat mengerikan. Di tengah kawah gunung berapi yang membara, berdiri Penjara Haotian raksasa tempat Raja Iblis Mo Xuan dikurung. Namun, formasi segel emas purba yang menopang penjara itu tampak retak-retak hebat, memuntahkan hawa hitam pekat berbau amis yang mengancam keselamatan Tiga Alam.
Di depan formasi yang hampir hancur itu, Song Qian melihat sosok Qian Gu muda dan Dewa Agung Tian Zi sedang berdiri bertarung menahan tekanan sihir Iblis.
"Qian Gu! Apakah kau benar-benar sudah yakin dengan keputusan gila ini?!" seru Tian Zi dengan wajah cemas luar biasa, matanya memerah menatap sahabatnya.
"Tentu saja aku sangat yakin," jawab Qian Gu muda tegas tanpa ada keraguan sedikit pun di paras cantiknya.
Mendengar jawaban dingin itu, Tian Zi kembali memegang pundak Qian Gu, mencoba membujuknya dengan nada memelas. "Mengorbankan bibit perasaanmu akan membuatmu mati rasa selamanya, Qian Gu! Kau tidak akan pernah bisa mencintai siapa pun lagi! Kau bahkan tidak akan sanggup mengingat manisnya kenangan yang pernah kau lalui bersama orang yang kau cintai! Apakah kau tetap bersikeras ingin melakukannya?!"
Qian Gu menatap retakan segel Penjara Haotian yang kian membesar dengan tatapan tajam membakar.
"Saat ini, Raja Iblis Mo Xuan haus akan darah dan berambisi menguasai seluruh Tiga Alam. Jika Tiga Alam sampai jatuh dan hancur di dalam genggamannya, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri!" ucap Qian Gu penuh wibawa.
"Tapi Qian Gu... kau akan sangat menderita jika hidup tanpa memiliki bibit perasaan—"
"Tidak perlu membujukku lagi, Tian Zi!" potong Qian Gu dengan nada tinggi yang membungkam arena. "Penderitaan mati rasa seumur hidup tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kedamaian seluruh Tiga Alam! Aku adalah Mahadewa Semesta, prioritasku yang paling utama adalah keselamatan Tiga Alam. Jika aku bahkan tidak sanggup melindungi Tiga Alam, untuk apa lagi aku layak hidup di semesta ini?!"
Tian Zi membisu, air mata bergulir di pipinya. Ia memalingkan wajah, menghembuskan napas pasrah. "Baiklah... aku tidak akan membujukmu lagi. Lakukanlah apa yang harus kau lakukan. Aku akan berjaga di sisimu hingga akhir."
Qian Gu memejamkan mata. Dengan menyalurkan seluruh sisa kekuatan dewanya, ia merogoh ke dalam dadanya sendiri dan mencabut benih cahaya keemasan yang bergetar manis—Bibit Perasaan.
ARRRGH!
Jeritan kesakitan tertahan terpancar saat Qian Gu meleburkan Bibit Perasaannya untuk menambal retakan segel Raja Iblis. Murni, pekat, dan sempurna—segel Penjara Haotian kembali kokoh bercahaya! Namun sebagai imbalannya, tubuh Qian Gu memuntahkan darah segar dan ambruk pingsan. Tian Zi dengan sigap menangkap tubuh lemah Sang Mahadewa dalam pelukannya.
Meski tubuhnya sangat lemah dan pucat bagai mayat, Qian Gu yang baru saja kehilangan jiwanya berbisik lirih saat membuka mata, "Meski Raja Iblis gagal bebas... mata-mata suku Iblis sudah menyusup ke Tiga Alam. Kerusuhan bisa meletus di mana saja... Tian Zi, ayo kita pergi memeriksa Alam Manusia..."
"Tubuhmu sudah sangat lemah bersimbah darah seperti ini, dan kau masih memikirkan kekacauan di Alam Manusia?!" gertak Tian Zi panik. "Kau tidak boleh pergi! Biar aku saja yang turun ke sana!"
Tiba-tiba, kilatan cahaya emas membelah udara. Sesosok dewa berzirah perang muncul menapak bumi seraya memegang pedang yang bersimbah darah hitam suku Iblis.
"Bai Yuan?! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Tian Zi kaget.
"Aku baru saja membasmi sarang mata-mata suku Iblis di Alam Manusia," jawab Bai Yuan dingin. Ia memberikan isyarat mata yang tegas kepada Tian Zi. "Kalian berdua cepatlah kembali ke Istana Langit untuk merawat luka Qian Gu. Biar aku sendiri yang membereskan sisa-sisa prajurit bawahan Mo Xuan di Alam Manusia!"
"Baik! Terima kasih banyak, Bai Yuan!" sahut Tian Zi, yang langsung membopong tubuh Qian Gu dan melesat pergi meninggalkan Alam Iblis.
Song Qian, yang menyaksikan seluruh drama tragis masa lalu itu dari sudut ilusi, berdiri terpaku dengan dada terasa dihantam batu raksasa. Air mata tanpa sadar menetes membasahi pipinya.
Jadi ini alasannya... batin Song Qian bergetar hebat. Kak Qian Gu bukan bersikap dingin karena angkuh atau membenciku... Hatinya telah mati rasa karena ia mengorbankan bibit perasaannya demi menyelamatkan Tiga Alam!
Dengan gejolak emosi yang membara di dada, Song Qian menghentakkan kekuatannya, memecahkan formasi ilusi Alam Iblis untuk menembus lapisan berikutnya!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
CRASHHH!
Song Qian terlempar dan mendarat di panggung ilusi berikutnya: Alam Manusia pada masa perang lima ribu tahun lalu.
Pemandangan di sekelilingnya begitu memilukan. Kota-kota fana hancur menjadi puing, jeritan tangis anak-anak bergema di mana-mana, sementara ribuan warga menderita kelaparan, kedinginan, dan disiksa sebagai budak oleh prajurit-prajurit suku Iblis yang kejam.
"Kenapa Alam Manusia bisa hancur semenyedihkan ini...?" gumam Song Qian terperanjat kaget.
Di tengah alun-alun kota yang luluh lantak, seorang pria paruh baya berpakaian lusuh berdiri di atas batu besar, berteriak memprovokasi kerumunan warga yang putus asa.
"Jika para dewa di Istana Langit itu benar-benar ada, kita pasti sudah lama keluar dari penderitaan ini! Kita telah berdoa dan menyembah mereka setiap hari, namun mereka membiarkan kita mati kelaparan! Para dewa telah membuang kita!" seru pria itu membakar kemarahan warga.
Tiba-tiba, sebilah pedang emas melesat turun dari angkasa, menancap tepat di depan batu tersebut! Dewa Agung Bai Yuan mendarat anggun, lalu mencengkeram leher pria paruh baya itu hingga terangkat ke udara.
"Jika suku Iblis tidak menyamar menjadi manusia licik sepertimu untuk menyebarkan fitnah, mana mungkin doa murni manusia tidak terdengar oleh Alam Dewa?!" gertak Bai Yuan tajam.
Dengan satu kibasan pedangnya, Bai Yuan membongkar wujud asli siluman Iblis dari pria itu, lalu membantainya seketika! Tak berhenti di situ, Bai Yuan melesat bagai kilat, menebas seluruh prajurit suku Iblis yang sedang memperbudak para warga fana.
Hanya dalam hitungan helaan napas, area kota berhasil dibebaskan. Para warga fana berlutut bersujud penuh rasa syukur di hadapan Sang Dewa Perang.
"Dewa Agung... terima kasih banyak telah menyelamatkan nyawa kami!" tangis para warga bergaung tulus.
"Tidak perlu sungkan," hibur Bai Yuan lembut. "Kembalilah ke rumah kalian masing-masing, dan jangan keluar rumah untuk beberapa hari ke depan sampai situasi benar-benar aman."
Song Qian menatap sosok Bai Yuan yang berdiri gagah di tengah kota fana. Benaknya bergolak penuh pertanyaan mendalam.
Bahkan meski Mahadewa Semesta dan para Dewa Agung melindungi Tiga Alam dengan mempertaruhkan jiwa dan perasaan mereka... Raja Iblis dan pasukannya tidak akan pernah berhenti berusaha menghancurkan kedamaian ini. Bisakah Kak Qian Gu menjaga tatanan Tiga Alam ini sampai akhir?
Tanpa membuang waktu lagi, Song Qian kembali mengepalkan tangan dan meretakkan formasi ilusi Alam Manusia tersebut.
BZZZZT!
Sensasi pusaran udara berputar hebat. Dan akhirnya... Song Qian tiba di lapisan tujuan utamanya: Rawa Yuanling di dalam cermin ilusi.
Song Qian melangkah memasuki area hutan rawa yang tandus dan berudara membekukan. Di sekelilingnya, tampak anak-anak siluman dan para tetua suku Siluman sedang berlatih ilmu sihir dasar dengan wajah-wajah yang murung, dingin, dan penuh isolasi dari Tiga Alam.
Song Qian mencoba mendekati seorang anak siluman dan mengulurkan tangannya. Namun, jemarinya hanya menembus angin hampa. Sebagai sosok yang berada di dalam cermin ilusi, para siluman itu sama sekali tidak bisa melihat, mendengar, ataupun menyentuh keberadaannya.
Song Qian terduduk di atas batu rawa yang dingin, mengepalkan kedua tangannya seraya berpikir keras.
"Gu Long bilang... aku hanya perlu menunjukkan perasaan tulusku dari dalam tempat ilusi ini untuk menghibur mereka," gumam Song Qian frustrasi. "Tapi... perasaan yang paling tulus itu wujudnya seperti apa? Mereka bahkan tidak bisa melihat wujudku di sini... bagaimana bisa aku membuat mereka tertawa dan bahagia jika aku hanyalah bayangan hampa?!"
Keputusan nekat apakah yang akan diambil oleh Song Qian untuk menembus batas dimensi ilusi? Akankah penggabungan tiga elemen kekuatan semesta miliknya sanggup menciptakan keajaiban yang mengubah Rawa Yuanling menjadi surga terindah, atau justru meledakkan cermin ilusi dan membahayakan jiwanya sendiri?
Bersambung........
Halo semuanya, terima kasih sudah mampir ke novel ini. Kalau kalian suka dengan ceritanya, boleh kasih like, vote, tips, dan tambahkan novel ini ke favorit ya. Kalau ingin memberikan kritik dan saran, silakan tulis di kolom komentar ya. Ikuti terus kisah Song Qian sampai selesai.