Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.
Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.
Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.
Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.
Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Robot Mulai cemburu
Malam sudah larut, Aira merebahkan tubuh di kasur empuk itu, napasnya terasa ringan setelah hari panjang. Matanya hampir terpejam sepenuhnya saat ponsel di atas nakas mendadak bergetar pelan.
Satu pesan masuk. Dari Sean.
"Kak Aira, ke taman tengah sekarang. Gue baru mendarat. Ada yang penting."
Aira menghela napas malas, menarik selimut lebih tinggi. Tapi kenal sifat adiknya yang keras kepala, dia terpaksa bangkit dan melangkah keluar kamar.
Di kamar tidurnya Evan belum tidur. Duduk di sofa dengan laptop menyala, memeriksa laporan investasi yang tertunda. Jemari bergerak lincah di atas papan ketik, sampai suara pintu terbuka dan langkah kaki terburu-buru terdengar.
Evan menghentikan ketukan jarinya. Alisnya bertaut melihat jam digital di sudut layar laptop yang menunjukkan pukul sebelas malam.
Mau ke mana dia jam segini? batinnya curiga.
Meletakkan laptopnya, berjalan tanpa suara ke jendela kaca besar. Tirai sedikit ditarik ke samping, mata mengawasi ke bawah.
Di bawah temaram lampu taman, Sean sudah berdiri menunggu. Begitu melihat Aira mendekat, senyumnya melebar.
"Ngapain sih malam-malam nyuruh keluar?" ketus Aira sambil melipat tangan di dada. "Gue udah mau tidur, tahu."
Sean tertawa renyah, merogoh saku jaketnya. "Kangen sama mekanik andalan gue, Kak. Nih, oleh-oleh khusus pas gue balapan di Italia kemarin."
Sebuah kotak beludru biru tua disodorkan ke depan wajah Aira. Saat dibuka, kilau berlian memantul indah di bawah cahaya remang.
"Gila..." Aira mundur selangkah, buru-buru menutupnya. "Ini kalau dijual bisa buka cabang bengkel! Gue nggak bisa terima, lo bawa pulang aja."
Sean menahan tangan Aira dengan lembut tapi teguh. "Nggak ada penolakan. Gue cuma pengen lo punya barang bagus. Anggap bonus biar makin semangat pegang mobil balap gue."
Aira mendengus pasrah, tahu tak bisa menolak. "Dasar suka maksa. Ya udah, gue terima. Tapi jangan begini lagi ya."
Dari balik kaca lantai dua, rahang Evan mengeras. Jarinya mencengkeram kusen sampai buku jarinya memutih. Melihat kedekatan mereka, dada mendadak sesak dan panas. Ada rasa tak rela yang membakar logikanya.
Beberapa menit kemudian, Aira masuk ke ruang tengah. Langkahnya terhenti. Evan berdiri di dekat tangga, wajahnya sedingin es.
"Bagus ya," suaranya rendah, tajam. "Keluar malam-malam cuma terima barang mewah dari pria lain? Kau lupa statusmu di rumah ini sebagai apa?"
Aira meletakkan kotak itu di meja samping, bunyi ketukan tegas. "Gue cuma menghargai pemberian Sean. Nggak usah drama. Ini cuma kalung."
Evan melangkah mendekat, memangkas jarak. "Cuma kalung? Menerima barang mewah dari pria lain bisa membuat orang berpikir macam-macam! Apa kau tidak punya harga diri?"
Udara memanas. Aira tidak mundur selangkah pun. Dia justru mendongak, menatap lurus ke mata suaminya yang tampak gelisah di balik kemarahan. Senyum miring terukir.
"Eh, tunggu deh..." matanya menyipit jahil. "Lo dari tadi ngomongin nama baik, tapi mata lo nggak lepas dari kotak ini. Muka lo juga tegang banget."
"Maksudmu?"
"Lo cemburu, ya?" tembaknya langsung. "Cemburu lihat gue deket sama Sean? Cemburu karena dia kasih hadiah, sedangkan lo cuma bisa marah-marah?"
Mata Evan melebar sesaat. Langsung membuang muka, suaranya berubah serak. "Jangan konyol! Siapa juga cemburu sama wanita kasar sepertimu? Tidak usah kepedean! Saya cuma tidak mau nama keluarga rusak!"
Aira tertawa lepas, suaranya renyah mengisi ruang sunyi. "Hahaha! Dasar Tuan Robot. Mulut bisa bohong, tapi muka lo merah padam tuh! Udah ah, gue mau tidur!"
Berjalan melewatinya begitu saja. Evan diam membeku, merutuki jantungnya yang berdegup gila. Gengsi hancur, perasaan tak terbendung.
*
*
Keesokan harinya. Hari ketiga sekaligus terakhir hukuman Evan di Veloctra Motors.
Bengkel sudah bising sejak pagi. Evan berdiri di sudut, kemeja masih rapi, tampak lelah karena kurang tidur memikirkan kejadian semalam.
Aira yang sedang membongkar blok mesin berat, keringat menetes di pelipis. Tangan mulai gemetar menahan beban.
"Heh, Tuan Robot!" serunya. "Daripada berdiri kayak tiang, mending bantu pegangin ini! Berat banget nih."
Evan mengernyitkan jengkel. "Saya tidak mau. Tangan saya bisa kotor penuh minyak."
"Halah, gengsi lo gedein!" balas Aira tajam. "Kakek nyuruh lo ke sini buat kerja nyata, bukan jadi pajangan!"
Sean yang duduk di ruang tunggu langsung bangkit melihat Aira kesulitan. Melangkah cepat keluar.
"Sini, Kak Aira, biar gue aja," mengulurkan tangan.
Melihat Sean yang bergerak maju. Evan tidak akan membiarkan adiknya menjadi pahlawan di depan istrinya sendiri.
"Singkirkan tanganmu, Sean. Jangan ikut campur," potongnya dingin, memotong jalan adiknya.
Sean berhenti, alis terangkat. "Katanya takut kotor?"
Daripada Kak Aira keberatan, mending gue yang bantu."
"Sudah kubilang, aku suaminya!" Evan meraih blok mesin itu. Tangan bersihnya kini berlumur oli hitam, mencengkeram kuat menahan beban. Wajahnya tegang, tak biasa.
Aira tersenyum jahil. Mengambil sedikit noda oli, lalu dengan gerakan cepat menempelkannya tepat di hidung mancung Evan.
Tap.
"Hahaha! Nah, gitu dong!" Aira tertawa lepas. "Sekarang lo baru kelihatan kayak montir beneran, bukan model mobil mewah!"
Evan tersentak, refleks ingin menghapus noda itu, tapi gerakannya terhenti saat melihat Aira. Gadis itu tertawa begitu lepas dan cantik di depan matanya. Kemarahan Evan menguap seketika. Ada getaran halus merambat di dadanya, hangat dan asing. Sudut bibirnya terangkat pelan, nyaris tak terlihat.
"Aira..." gumamnya lembut.
"Sini, pipi lo juga gue coret!" jari menjulur mendekat.
"Jangan macam-macam," balas Evan cepat menepis tangan Aira, namun dia sama sekali tidak menjauhkan wajahnya.
Mereka saling menghindar dan meledek dalam jarak yang semakin menipis. Saat Evan menangkap pergelangan tangan Aira untuk menghentikan godaan gadis itu, tubuh mereka bertabrakan ringan. Wajah mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Mata mereka terkunci rapat, saling membaca debaran kuat yang bergemuruh di dada masing-masing, mengabaikan bisingnya suasana bengkel di sekeliling mereka.
Melihat pemandangan itu dari jarak dekat, Sean yang urung membantu hanya bisa terdiam. Senyuman di wajahnya memudar. Tangannya mengepal pelan di sisi tubuh. Dan tatapan mata yang meredup dengan rasa tidak rela yang mendalam.