Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.
Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.
Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.
“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”
Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Ancaman Dibalik Makan Malam Romantis
Malam berganti dengan cepat. Suasana di dalam penthouse mewah milik Gabriel terasa hangat dan dipenuhi aroma sedap masakan rumahan. Di meja makan berbalut taplak putih bersih, tersaji tiga menu sederhana buatan Aira: sup ayam hangat, tumis buncis daging cincang, dan sepiring telur dadar tebal.
Gabriel duduk di kursi dengan mata berbinar-binar menatap makanan di depannya, seolah-olah itu adalah hidangan bintang lima dari restoran Michelin.
"Wah... Aira, ini benar-benar kamu yang masak?" tanya Gabriel takjub, bahkan tangannya menangkup pipinya sendiri dengan gaya manja.
Aira yang sedang meletakkan mangkuk nasi di dekat piring Gabriel menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum geli. "Iya, Gabriel. Jangan berlebihan begitu. Cepat dicoba, nanti keburu dingin."
Tanpa aba-aba lagi, Gabriel langsung menyuap sesendok nasi dan sup ayam buatan Aira. Begitu kuah hangat itu menyentuh lidahnya, ekspresi wajah Gabriel berubah drastis. Matanya melebar, dan untuk sedetik, pria itu tampak seperti ingin menangis.
"E-eh? Kenapa? Tidak enak ya?" tanya Aira panik melihat reaksi suaminya.
Gabriel menggeleng kuat-kuat. Ia menelan makanannya dengan susah payah karena tenggorokannya tercekat oleh rasa haru yang luar biasa. "Enak... Enak banget, Aira! Rasanya seperti... seperti masakan malaikat surga! Selama bertahun-tahun hidup sendirian di dunia hitam, aku tidak pernah merasakan makanan yang sehangat ini..."
Aira menghela napas lega, meski pipinya sedikit merona mendengar pujian berlebihan itu. "Alay sekali. Makan yang banyak, jangan kebanyakan bicara."
"Siap, Istriku!" seru Gabriel penuh semangat, langsung melahap makanannya dengan lahap seperti anak kecil yang kelaparan.
Melihat suaminya makan dengan begitu lahap, sudut bibir Aira terangkat membentuk senyuman tulus. Jantungnya berdegup hangat. Meskipun Gabriel menyembunyikan rahasia besar tentang statusnya sebagai ketua mafia, perhatian dan sisi manja yang ditunjukkan pria itu di hadapannya terasa begitu nyata dan tulus.
Namun, ketenangan di ruang makan itu tidak berlangsung lama.
Ting!
Ponsel khusus milik Gabriel yang diletakkan di dalam saku celananya bergetar sekali. Bunyi getaran itu sangat pelan, namun cukup membuat raut wajah Gabriel berubah dalam hitungan sepersekian detik. Sifat riang dan manjanya lenyap seketika, tergantikan oleh ketajaman mata seorang predator puncak.
Gabriel meletakkan sendoknya secara perlahan. Ia mengangkat tangan kirinya untuk mengisyaratkan agar Aira tidak khawatir.
"Aira, tunggu sebentar ya. Ada panggilan penting dari kantor cabang. Aku angkat telepon sebentar di balkon," ucap Gabriel dengan nada yang dibuat selusin mungkin agar terdengar biasa saja.
Aira mengangguk kecil. "Iya, jangan lama-lama ya. Supnya nanti keburu dingin."
Gabriel bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu kaca yang mengarah ke balkon luas di luar. Begitu ia menutup pintu kaca kedap suara itu dan memastikan Aira tidak bisa mendengarnya, Gabriel mengeluarkan ponsel khususnya.
Di ujung sambungan telepon, suara Felix terdengar terengah-engah dan penuh ketegangan.
[Tuan Besar! Situasi di pelabuhan darurat! Sisa anak buah Klan Carlone mencoba melakukan serangan balik dengan menyandera salah satu pengirim logistik kita. Mereka meminta tebusan dan menantang Anda datang sendiri!]
Mata Gabriel menyipit, memancarkan kilatan kebencian yang sangat dingin hingga embusan napasnya di udara malam berubah menjadi uap tipis.
"Berani sekali mereka," desis Gabriel dengan suara rendah penuh ancaman. "Berapa banyak orang yang mereka bawa di sana?"
[Sekitar tiga puluh orang bersenjata lengkap, Tuan. Mereka bersembunyi di gudang terbengkalai nomor empat.]
Gabriel melirik sekilas ke arah dalam melalui kaca balkon. Ia melihat Aira sedang meneguk air putih sambil menunggu dengan sabar. Gabriel tidak boleh membiarkan masalah ini merusak malam indahnya bersama sang istri, namun ia juga tidak bisa membiarkan duri di dalam daging itu terus berkeliaran mengancam keselamatan mereka.
"Dengarkan aku, Felix," perintah Gabriel dingin tanpa kompromi. "Kepung gudang itu dalam waktu sepuluh menit. Lumpuhkan semua penjaga pintu depan tanpa suara. Jangan biarkan ada satu pun peluru yang meleset ke arah pemukiman warga."
[Baik, Tuan! Lalu pemimpin mereka, Edward?]
"Biarkan dia hidup sampai aku tiba di sana," jawab Gabriel dengan senyuman maut tersungging di bibirnya. "Aku sendiri yang akan meremukkan tangan yang berani mengganggu waktu makanku."
[Laksanakan, Tuan Besar!]
Sambungan terputus. Gabriel menarik napas panjang, menetralkan seluruh aura membunuh di tubuhnya, lalu merapikan jas rumahannya. Dalam hitungan detik, ia kembali memasang raut wajah manis dan senyum lebar sebelum melangkah membuka pintu kaca balkon kembali masuk ke ruang makan.
"Maaf ya lama, Sayang. Masalah kecil di kantor, para direksi itu memang suka panik sendiri kalau ada dokumen yang kurang," ucap Gabriel manis, lalu kembali duduk di kursi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Aira menatapnya dengan penuh selidik. "Kamu tidak apa-apa, Gabriel? Wajahmu agak pucat tadi."
"Mana mungkin pucat kalau di depanku ada istri tercantik sedunia?" gombal Gabriel sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Aira langsung membuang muka karena salah tingkah
[Bersambung ke Bab 8...]
Bagaimanakah reaksi Aira saat mendapati Gabriel tertidur pulas di sampingnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa semalam? Dan rahasia apa lagi yang hampir terbongkar di pagi hari?