Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.
Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.
Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan
Hari itu, taman luas di belakang mansion keluarga Wu dihiasi dekorasi pernikahan yang elegan. Bunga-bunga putih menghiasi sepanjang jalan menuju altar, sementara kursi para tamu ditata rapi di bawah tenda bunga yang melindungi mereka dari terik matahari.
Jumlah tamu yang hadir tidak terlalu banyak. Hanya keluarga dekat dan beberapa kerabat penting keluarga Wu serta keluarga Lin yang mendapatkan undangan.
Sebenarnya, Nyonya Cassia ingin mengadakan pesta pernikahan besar-besaran. Ia bahkan sudah membayangkan pesta mewah dengan ratusan tamu, tetapi Kendra menolak keras rencana tersebut.
“Kenapa harus mengundang sebanyak itu, Mi?” tanya Kendra beberapa hari sebelumnya. “Aku tidak membutuhkan pesta besar.”
Cassia mengerutkan kening. “Ini pernikahanmu, Kendra. Mami tentu ingin merayakannya dengan meriah.”
“Aku tidak suka terlalu banyak orang,” jawab Kendra singkat.
Cassia ,masih mencoba membujuknya. “Tapi kau hanya menikah sekali.”
Kendra terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Selain itu, kondisiku sekarang tidak memungkinkan untuk berada di tengah kerumunan besar. Musuh pasti akan memanfaatkan hal itu, terlebih aku tidak bisa melindungi Kirana nanti,” ujarnya beralasan menyebut nama Kirana.
Cassia akhirnya mengalah. Ia memahami bahwa putranya yang masih menggunakan kursi roda memang tidak ingin menjadi pusat perhatian terlalu banyak orang.
Tapi tentu ada alasan lain yang tidak pernah Kendra katakan kepada ibunya. Pernikahan ini sejak awal bukan karena cinta, melainkan sebagai perjodohan keluarga sekaligus sebuah perjanjian antara dirinya dan Kirana.
Kendra belum mencintai wanita yang akan menjadi istrinya. Begitu kakinya sembuh dan Kirana mendapatkan apa yang ia inginkan, keduanya telah sepakat untuk mengakhiri pernikahan tersebut. Karena itu, bagi Kendra, pesta besar bukanlah sesuatu yang perlu dilakukan.
Kini, semua orang telah menunggu di taman. Di bagian kiri bawah panggung, Nyonya Cassia duduk bersama Nyonya Meylan, Tuan Leo, Arthur, Sean, dan Shania.
Cassia terlihat begitu antusias, sementara Shania hanya duduk dengan wajah muram karena sejak awal ia tidak pernah menyukai pernikahan ini.
Di sisi kanan panggung, duduk keluarga Wu. Tuan Wu, ayah Kendra, berada di barisan depan bersama beberapa kerabat lainnya.
Di sampingnya terdapat seorang pria dewasa yang usianya tidak jauh berbeda dari Kendra alias adik tiri Kendra, ditemani seorang wanita paruh baya, istri Tuan Wu. Mereka sesekali berbicara pelan sambil memperhatikan altar.
Di tengah panggung, Kendra sudah menunggu dengan mengenakan jas pengantin berwarna hitam. Ia duduk tegak di atas kursi roda dengan wajah tenang, seolah-olah acara besar di hadapannya sama sekali tidak membuatnya gugup.
Cassia beberapa kali melihat ke arah jalan masuk.
“Kenapa pengantinnya belum datang juga?” gumamnya tidak sabar.
Marco yang berdiri tidak jauh dari sana hanya tersenyum tipis. “Nyonya, acaranya masih sesuai jadwal.”
“Aku tahu,” jawab Cassia. “Tapi aku sudah tidak sabar melihat menantuku, Kirana.”
Beberapa saat kemudian, musik pernikahan mulai terdengar. Semua percakapan di antara para tamu langsung berhenti. Perlahan, seluruh kepala menoleh ke arah jalan masuk.
Kirana akhirnya muncul. Wanita itu mengenakan gaun pengantin putih yang anggun. Rambutnya ditata rapi, sementara veil putih menjuntai lembut dari kepalanya hingga ke belakang tubuh.
Langkahnya tidak tergesa-gesa. Ia berjalan dengan tenang dan anggun menuju altar, sesekali melirik ke arah para tamu yang hadir.
Cassia langsung tersenyum lebar.
“Cantik sekali,” gumamnya dengan mata berbinar. “Kendra benar-benar beruntung.”
Kendra yang mendengar ucapan itu hanya diam. Tatapannya tertuju kepada Kirana yang semakin mendekat.
Untuk beberapa detik, ia terdiam. Ia sudah pernah melihat Kirana sebelumnya, tetapi melihat wanita itu berjalan dalam balutan gaun pengantin membuatnya terlihat berbeda. Meski demikian, Kendra segera mengalihkan pikirannya dan kembali memasang ekspresi dingin.
Kirana akhirnya tiba di depan altar. Ia berhenti tepat di hadapan Kendra dan pendeta yang akan memimpin upacara pernikahan. Mata mereka sempat bertemu beberapa detik.
“Selamat datang,” ujar Kendra pelan.
Kirana hanya mengangguk.
Pendeta kemudian mulai memimpin upacara.
“Kendra Wu, apakah Anda bersedia menerima Kirana Lin sebagai istri Anda, untuk mendampinginya dalam keadaan baik maupun buruk?”
Kendra menatap Kirana sejenak. “Saya bersedia.”
Pendeta kemudian mengalihkan pandangan kepada Kirana.
“Kirana Lin, apakah Anda bersedia menerima Kendra Wu sebagai suami Anda dan mendampinginya dalam kehidupan yang akan kalian jalani bersama?”
Kirana mengangguk pelan. Ia kemudian mengambil buku kecil yang sudah disiapkan sebelumnya dan menunjukkan tulisan singkat kepada pendeta.
“Saya bersedia.”
Pendeta tersenyum dan melanjutkan prosesi.
Cassia segera memberikan kotak cincin kepada Kendra. Pria itu mengambil cincin tersebut, lalu menggenggam tangan Kirana dengan hati-hati.
“Dengan cincin ini, aku menerimamu sebagai istriku,” ucap Kendra.
Cincin itu perlahan terpasang di jari Kirana.
Selanjutnya, Kirana mengambil cincin pasangannya. Ia memasangkan cincin tersebut ke jari Kendra dengan gerakan tenang.
Para tamu mulai tersenyum dan berbisik-bisik. Setelah kedua cincin terpasang, pendeta menutup buku upacara.
“Dengan ini, kalian telah resmi menjadi pasangan suami istri.”
Tepuk tangan langsung terdengar dari seluruh penjuru taman.
Namun, pendeta masih tersenyum sambil mengatakan, “Kalian boleh memberikan ciuman sebagai tanda kasih—”
Kirana langsung menundukkan wajahnya karena ditarik oleh Kemdra. Ia tampak sedikit terkejut.
Kendra kemudian mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Kirana. Bukannya mencium, ia justru berbisik pelan di dekat telinga wanita itu.
“Jangan berharap lebih dariku.”
Kirana mengangkat wajahnya sedikit.
“Jangan lupa perjanjian kita,” lanjut Kendra dengan suara rendah agar hanya Kirana yang mendengarnya. “Setelah kakiku sembuh dan kau sudah bisa berbicara, kita bercerai.”
Tatapan Kirana menjadi tenang kembali. Ia hanya mengangguk. Tidak ada protes maupun rasa kecewa toh apa yang dikatakan Kendra memang benar.
Kendra kembali menjauhkan wajahnya, kemudian menghadap para tamu dengan ekspresi dingin seperti biasa.
Tepuk tangan kembali terdengar lebih meriah.
“Selamat!”
“Semoga langgeng!”
Di antara suara ucapan selamat itu, terdengar pula beberapa cibiran dalam hati mereka. Tentu mereka takut jika berbicara langsung di mansion Wu.
Kirana tentu tahu, tatapan dari keluarga Wu untuknyaa bukan tatapan bahagia melainkan cibiran dan sikap permusuhan. Tapi Kirana hanya mengangkat dagunya, tentu tidak takut.
Di sisi lain, Shania juga mendengar beberapa komentar tersebut. Bukannya merasa kasihan, ia justru menatap Kirana dengan senyum tipis yang sulit dibaca.
“Lihat saja,” gumamnya pelan. “Kita lihat berapa lama pernikahan ini akan bertahan. Tentu kau harus melawan keluarga Wu.”
Sementara itu, Kendra menoleh kepada Kirana. “Mulai hari ini, kita adalah suami istri di depan semua orang,” katanya pelan.
Kirana menatapnya sebentar, lalu mengangguk, hanya mereka berdua yang mengetahui kenyataan sebenarnya.
sat set tnpa drama
keren pojok nya
wuih jous gandos
aaahhh mboh lah mumet AQ sweeter
otornya lho bikin penasaran Mulu 🤣🤣🤣
🤭🤭🤭🤭