NovelToon NovelToon
Cegil Berhenti Terobsesi

Cegil Berhenti Terobsesi

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Balas Dendam
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."

Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.

Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.

Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gagal Merazia 22.

Gerimis yang mengguyur kota kemarin sore rupanya menyisakan hawa dingin yang awet hingga pagi ini.

Koridor SMA Nusantara masih tampak lengang saat Firdaus melangkah dengan aura yang berbeda.

Tidak ada lagi senyum ramah sang Ketua OSIS yang biasanya menyapa setiap murid.

Wajahnya menekuk datar, dengan gurat lelah yang tercetak jelas di bawah kelopak matanya. Semalaman, bayangan jemari Aris yang merapikan rambut Elsa di balik kaca kafe itu berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Membakar warasnya hingga abu.

Sebagai pemegang otoritas tertinggi kedisiplinan siswa, Firdaus tahu dia punya senjata.

Dan pagi ini, ego yang terluka menuntun langkahnya menuju gerbang sekolah lebih awal dari biasanya.

Dia berdiri di gerbang utama mendampingi Pak Satrio — guru piket, untuk melakukan razia rutin.

Tepat pukul tujuh kurang sepuluh menit.

Suara deru motor sport ninja hitam yang memekakkan telinga memecah keheningan gerbang. Aris datang.

Seperti biasa, cowok itu memarkirkan motornya asal-asalan lalu berjalan santai melewati gerbang dengan jaket levis yang tidak dikancingkan, memperlihatkan kaus putih di balik seragamnya.

"Aris, berhenti," suara Firdaus terdengar dingin, memotong langkah Aris.

Aris menghentikan langkahnya, menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan malas. "Kenapa, Pak Ketua? Seragam gue lengkap, atribut lengkap. Mau nyari celah apa lagi lo?"

Firdaus tidak menjawab. Matanya justru terfokus pada tas ransel hitam milik Aris yang tersampir di bahu kanan.

Lebih tepatnya, pada sebuah benda kecil yang menggantung di ritsleting tas tersebut.

Sebuah gantungan kunci berbentuk anyaman tali makrame berwarna biru langit dengan inisial 'A' kecil di tengahnya.

Jantung Firdaus mencak-mencak. Dia mengenali anyaman itu. Sangat kenal. Itu adalah teknik anyaman yang sama dengan yang pernah Elsa buatkan untuknya setahun lalu sebagai hadiah ulang tahun—hadiah yang berakhir mengenaskan di dalam laci meja belajar Firdaus, terlupakan dan berdebu.

Sekarang, benda serupa, dengan ketelitian yang sama, menggantung di tas seorang berandal sekolah.

"Tas lo. Sini," ucap Firdaus, suaranya naik satu oktav, menuntut.

Aris mendengus remeh. "Razia tas? Tumben banget. Perasaan jadwal razia barang bawaan baru bulan depan."

"Ini inspeksi mendadak atas instruksi sekolah. Kasih tas lo, atau gue catat nama lo di buku pelanggaran akumulatif," potong Firdaus tanpa kompromi. Matanya menatap Aris dengan kilat permusuhan yang samar namun tajam.

Ogah memperpanjang urusan, Aris melempar tasnya ke dada Firdaus.

Firdaus menangkapnya dengan sigap. Tangannya bergerak cepat, seolah menggeledah isi tas, namun target utamanya sejak awal adalah gantungan kunci tersebut.

Dengan satu sentakan yang agak kasar, Firdaus melepas paksa gantungan kunci anyaman itu dari ritsleting tas Aris.

"Gantungan kunci ini gue sita," ujar Firdaus datar, langsung memasukkan benda itu ke dalam saku celana abu-abunya.

Raut wajah Aris seketika berubah.

Santai yang tadi melekat di wajahnya menguap, digantikan oleh tatapan mengancam yang dingin. Dia melangkah maju, memangkas jarak hingga dadanya hampir bersentuhan dengan dada Firdaus. "Maksud lo apa? Itu cuma gantungan kunci biasa. Gak ada sajam, gak ada rokok. Aturan mana yang ngelarang murid pakai gantungan kunci, hah?"

Atmosfer di gerbang sekolah mendadak mencekam.

Beberapa murid yang baru datang sengaja memperlambat langkah, mencium aroma keributan antara sang penguasa akademik dan sang penguasa jalanan.

"Ini barang non-fasilitas sekolah yang berpotensi memicu distraksi. Gue punya hak buat menertibkan," kilih Firdaus, sebuah alasan klise yang terdengar sangat dipaksakan bahkan di telinganya sendiri. Dia hanya ingin melenyapkan bukti bahwa Elsa telah berpaling. Dia tidak sudi melihat karya tangan Elsa mendampingi hari-hari cowok lain.

"Balikin, Firdaus. Gue gak main-main," desis Aris. Rahangnya mengeras, tinjunya di samping tubuh sudah mengepal erat. Tinggal satu sulutan lagi, dan pukulan mentah dipastikan akan melayang ke wajah sang Ketua OSIS.

"Gak."

"Ada apa ini?" Sebuah suara feminin, jernih namun sedingin es, mendadak mengintervensi ketegangan di antara keduanya.

Elsa berdiri di sana. Dia baru saja turun dari angkutan umum dan langsung disuguhi tontonan drama di depan gerbang.

Tatapan matanya langsung tertuju pada tangan Firdaus yang masih memegang erat saku celananya, lalu beralih pada wajah Aris yang sudah tersulut emosi.

Dengan cepat, Elsa bisa membaca situasi.

Elsa melangkah tegas, memosisikan dirinya tepat di antara Aris dan Firdaus. Dia menatap Firdaus lurus-lurus.

Tidak ada lagi binar hangat yang dulu selalu membuat Firdaus merasa jumawa.

Yang tersisa di mata Elsa kini hanyalah kekosongan yang membekukan.

"Itu punya Aris, nggak melanggar aturan sekolah. Balikin," ucap Elsa tegas, suaranya tenang namun memiliki penekanan yang mutlak di setiap kata.

Firdaus tertegun. Ujung hatinya seperti teriris melihat bagaimana Elsa berdiri pasang badan untuk Aris. "Sa, ini urusan kedisiplinan. Gue cuma menjalankan—"

"Menjalankan tugas atau ego?" potong Elsa cepat, membuat kalimat Firdaus tertelan kembali di tenggorokan.

Elsa maju satu langkah lagi. "Gue tahu persis buku saku aturan sekolah, Firdaus. Nggak ada satu pun pasal yang melarang murid memakai gantungan kunci buatan tangan. Lo sengaja mencari-cari kesalahan Aris."

"Gue nggak—"

"Balikin, Firdaus," ulang Elsa, kali ini dengan nada yang lebih rendah, namun sarat akan ancaman implisit. "Jangan bikin gue makin kehilangan rasa hormat yang tersisa buat lo."

Jleb.

Kata-kata Elsa menghantam dada Firdaus lebih telak daripada pukulan fisik apa pun.

Kehilangan rasa hormat. Jadi, di mata Elsa, dia bukan lagi sosok cowok sempurna yang patut dikagumi? Dia sudah jatuh seasing itu di hidup Elsa?

Aris di belakang Elsa hanya tersenyum miring, sebuah seringai kemenangan yang teramat kentara.

Dia menikmati bagaimana cara Elsa melindunginya, dan bagaimana cara cewek itu menjatuhkan mental Firdaus tanpa perlu menguras tenaga.

Firdaus berdiri mematung di bawah tatapan menuntut Elsa dan senyuman mengejek Aris. Tangannya di dalam saku meremas gantungan kunci anyaman itu dengan begitu kuat, hingga ujung-ujung jarinya memutih.

Rasanya panas. Hatinya bergejolak hebat antara harga diri sebagai Ketua OSIS dan rasa cemburu yang membakar dada.

Namun, melihat sorot mata Elsa yang begitu defensif demi Aris, Firdaus tahu dia sudah kalah telak sebelum bertarung.

Jika dia bersikeras, dia hanya akan terlihat seperti pecundang yang gagal move on.

Dengan perlahan, Firdaus mengeluarkan tangannya dari saku. Dia mengulurkan gantungan kunci itu ke arah Elsa dengan telapak tangan bergetar samar.

Firdaus terpaksa mengembalikannya dengan hati panas.

Elsa menyambar gantungan kunci itu dengan cepat, lalu berbalik badan tanpa mengucapkan terima kasih sepatah kata pun.

Dia menyerahkannya kembali kepada Aris dengan ulasan senyum tipis yang mendadak terbit di bibirnya. "Pasang lagi, Ris. Jangan sampai hilang."

"Gak bakal. Ini jimat gue," sahut Aris sengaja mengeraskan suara agar terdengar oleh Firdaus yang masih berdiri membeku di tempatnya.

Keduanya kemudian berjalan beriringan memasuki koridor sekolah, meninggalkan Firdaus yang menatap punggung mereka dengan napas yang memburu.

......................

...****************...

Tbc,

1
falea sezi
🤣🤣 lagii kurang q kirim sebanyak-banyaknya bunga🤭 buat Elsa gk menye
falea sezi
kurang kejam thor buat donk cegil di sukai cogan lain🤣
Queen Aisyah
/Drool//Drool/
falea sezi
🤣🤣 kasian di cuekin
Rofiwan: cegil ini lebih kejam dari pada Livy
total 1 replies
falea sezi
lanjut q krim hadiah
falea sezi
lanjut q kirim hadiah
falea sezi
btw author nya cwek apa cowok🤭
falea sezi
🤣 suka deh jangan jd cegil ngenes ya move on🤣
falea sezi
jangan ngemis ke cowok ya girl jd cwek mahal👍
Luna
US,,,US sadar woy , jangan dipaksa nanti malah kabur 🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
jujur penasaran dengan author nya umur berapa yh? tema cerita novel nya semua kebanyakan sekolah,,,GK apa apa sih malah lebih enak gitu GK terlalu berbobot lebih ceritanya ( mafia, pelakor,drama warisan,) ,jadi bisa mengenang masa putih abu-abu dulu,🤭🤭🤭🤭
Luna: jujur yh semua novel mu yg aku baca keren keren,GK terlalu ribet dan drama anak sekolah itu keren,,,sudah sering baca novel sejenis ini tapi yg bener bener sesuai dengan kehidupan anak sekolah yh novel mu ini,,, semangat Thor ,,,saya tunggu kelanjutannya💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!