NovelToon NovelToon
Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Diam-Diam Cinta
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
​Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
​Dan malam itu, doa Arga terkabul.
​Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Di ambang batas antara dapur dan ruang keluarga, Bi Darsih mematung dengan napas tertahan. Kantong plastik berisi oleh-oleh dari kampung halamannya yang baru saja jatuh ke lantai, terabaikan begitu saja.

Mata perempuan paruh baya itu terbelalak lebar, menyapu pemandangan di depannya dengan perasaan ngeri yang luar biasa.

Ruang tamu yang biasanya selalu dibersihkan dengan telaten oleh Nisa hingga mengilap dan beraroma lavender, kini tak ubahnya seperti bar murahan. Botol-botol kaca berserakan, karpet bulu yang mahal ternoda tumpahan cairan kuning, dan kepulan asap rokok membuat udara terasa pengap.

Namun, yang paling membuat dada Bi Darsih bergemuruh adalah sosok majikan laki-lakinya. Arga duduk di tengah sofa, dikelilingi teman-temannya yang sedang mabuk, dan seorang wanita berpakaian minim yang tanpa malu menggelayut manja di pelukannya.

"Astaghfirullahaladzim... Den Arga!" tegur Bi Darsih dengan suara bergetar. Ia melangkah maju menembus dentuman musik, mengabaikan tatapan tajam dari teman-teman Arga. "Ini ada apa? Kenapa rumah jadi berantakan begini? Den Arga mabuk-mabukan di ruang tamu?!"

Arga tak menjawab. Pria itu hanya menunduk, mencengkeram gelas kristalnya dengan rahang mengeras.

"Ya Allah, Den! Istighfar!" Bi Darsih menggelengkan kepalanya tak percaya, air mata kekecewaan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kalau Non Nisa tahu kelakuan Den Arga bawa teman-teman minum dan bawa perempuan begini ke rumah, Non Nisa pasti marah besar, Den! Kasihan Non Nisa, Den, dia itu selalu jaga kehormatan rumah ini!"

Mendengar nama Nisa disebut, Riko yang sedang asyik menari langsung menghentikan gerakannya. Pria itu sempoyongan melangkah mendekati Bi Darsih, tangan kanannya masih menggenggam erat botol vodka yang isinya tinggal separuh.

"Heh, Bibi! Berisik amat sih lo baru datang juga!" bentak Riko dengan suara serak khas orang mabuk. Ia menunjuk wajah Bi Darsih dengan leher botolnya. "Nggak usah bawa-bawa nama perempuan gatal itu lagi di rumah ini. Siapa yang bakal marah? Nisa? Hah!"

Riko tertawa sumbang, menoleh ke arah teman-temannya yang ikut terkekeh. "Asal Bibi tahu ya, sobat gue sama Nisa itu udah cerai! Hari ini palu udah diketuk! Jadi, udah nggak ada lagi tuh yang namanya Nyonya Nisa di rumah ini. Nggak akan ada lagi yang berani ngelarang-ngelarang Arga. Bebas!"

Mata Bi Darsih terbelalak sempurna. Tubuhnya serasa disambar petir di siang bolong. "Ce... cerai?"

Bi Darsih menoleh dengan cepat ke arah Arga, mencari kebohongan dari ucapan pria mabuk itu.

"Den Arga? Beneran Den Arga menceraikan Non Nisa? Non Nisa yang sebaik malaikat itu, Den?!"

Bi Darsih benar-benar terkejut. Ia hanya cuti satu bulan dan perubahan di rumah ini ternyata sudah sebesar ini.

Arga membuang muka. Tak sanggup menatap sorot mata penuh kekecewaan dari asisten rumah tangganya sendiri.

"Udah, udah, sana lo pergi ke belakang!" usir Riko kasar, mengibaskan tangannya seolah mengusir lalat yang mengganggu. "Bikin mood rusak aja lo, Bi. Cuci piring kek, ngepel kek, asal jangan ganggu pesta kita di sini. Hush! Sana!"

Bi Darsih menatap Arga untuk terakhir kalinya. Hatinya hancur melihat majikan yang dulu selalu ia hormati kini terlihat begitu menyedihkan. Dengan air mata yang akhirnya menetes membasahi pipi keriputnya, Bi Darsih menggeleng prihatin.

"Bibi nggak tahu apa yang ada di pikiran Den Arga. Tapi Den Arga sudah membuang berlian demi memungut batu kali," gumam Bi Darsih pelan namun penuh penekanan.

"Siapa yang Bibi sebut batu kali, hah? Aku? Hati-hati ya kalau ngomong! Mata Bibi udah buta, ya?" protes Adelia.

Tanpa memedulikan umpatan Adelia yang tak terima dikatai 'batu kali', Bi Darsih memungut kantong plastiknya dan melangkah pergi menuju dapur, meninggalkan ruang tamu yang kini kembali bising oleh dentuman musik.

Setelah kepergian Bi Darsih, Adelia mencoba mengembalikan suasana. Ia kembali merapatkan tubuhnya pada Arga, menyandarkan dagunya di dada bidang pria itu sambil memainkan kancing kemeja Arga.

"Mas, jangan dipikirin omongan pembantu tua itu," bujuk Adelia dengan suara mendayu-dayu. "Dia itu nggak tahu apa-apa. Yang penting sekarang kan kita udah bisa sama-sama."

Adelia mendongak, menatap mata Arga dengan binar penuh harap. "Nah, karena surat cerainya udah keluar... kapan kamu mau melamar aku, Mas? Kapan kita nikah?"

Pertanyaan itu meluncur begitu mulus, namun efeknya bagi Arga bagaikan tersiram air es. Jantung pria itu berdegup tak karuan.

Arga menunduk menatap wajah Adelia. Riasan wanita itu terlihat sempurna, parfumnya sangat mahal, dan senyumnya begitu menggoda. Namun, entah mengapa, Arga merasa hampa. Tidak ada desiran di dadanya. Tidak ada rasa antusiasme yang dulu selalu menggebu-gebu setiap kali ia membayangkan masa depannya bersama Adelia.

Pria itu justru merasa kebas. Di saat rintangannya sudah hilang, ia menyadari satu hal yang menakutkan: ia sudah tak lagi tertarik untuk menikahi Adelia.

Pikirannya justru melayang pada sosok Nisa yang berdiri tegar di ruang sidang tadi siang.

"La-mar?" ulang Arga kaku. Tenggorokannya mendadak terasa kering.

"Iya, Mas! Lamar!" Adelia mengangguk antusias, merengek manja. "Kita bikin pesta yang mewah ya? Teman-teman sosialitaku udah nungguin undangan dari kita, lho."

Arga mengalihkan pandangannya, menatap botol kosong di atas meja. Otaknya bekerja cepat mencari jalan keluar. Ia tidak bisa menikahi Adelia sekarang. Belum. Mungkin tidak akan pernah.

"Tunggu dulu, Del," ucap Arga pelan, mencoba terdengar sehalus mungkin. "Kita nggak bisa buru-buru."

Senyum Adelia memudar perlahan. "Tunggu apa lagi, Mas? Kan Nisa udah nggak ada!"

"Keluargaku," kilah Arga, menjadikan keluarganya sebagai tameng utama. "Mami, Papi, dan Kakek belum tahu soal perceraian ini. Aku belum bilang sama mereka. Kamu tahu sendiri kan, Kakek punya penyakit jantung. Kalau aku tiba-tiba datang bawa kabar cerai dan langsung minta izin nikah sama kamu, Kakek bisa collapse, Del."

"Tapi Mas..." Adelia merengut, wajahnya mulai berubah tegang. Ia menunjuk perutnya yang tertutup gaun ketat. "Perutku ini makin lama bakal makin membesar! Kamu ingat kan, aku lagi hamil anak kamu? Masa aku harus nunggu sampai perutku buncit baru kita nikah? Nanti apa kata orang?!"

Arga mengusap wajahnya dengan frustrasi. Kepalanya mulai berdenyut nyeri. "Sabar, Del. Tolong bersabar sedikit lagi. Beri aku waktu untuk mencari momen yang tepat buat ngomong ke keluargaku. Setelah semuanya tenang, baru kita bicarakan soal pernikahan. Mengerti?"

Adelia terdiam. Matanya menatap Arga tajam, mencoba mencari celah kebohongan dari wajah pria itu. "Berapa lama, Mas?"

"Aku nggak tahu. Pokoknya sabar dulu," potong Arga cepat, tak ingin memperpanjang perdebatan. Pria itu kembali meraih gelas minumannya, menenggak alkohol itu dan sengaja membuang muka ke arah lain, menghindari tatapan menuntut Adelia.

Di sebelah Arga, Adelia mematung. Senyum manisnya benar-benar lenyap tak berbekas.

Perlahan, kedua tangan wanita itu mengepal sangat erat di atas pangkuannya. Kuku-kuku panjangnya menancap menyakiti telapak tangannya sendiri. Napas Adelia memburu menahan amarah yang mendidih di dada.

Matanya menatap tajam sisi wajah Arga yang terlihat muram dan kosong. Adelia tidak bodoh. Ia tahu tatapan itu. Itu bukan tatapan pria yang sedang memikirkan kesehatan kakeknya. Itu adalah tatapan pria yang sedang diselimuti penyesalan.

Brengsek, umpat Adelia dalam hati. Giginya bergemeletuk menahan amarah.

Nisa sudah berhasil ia singkirkan. Perempuan itu sudah resmi didepak dari rumah ini. Surat cerai sudah ada di tangan. Namun, mengapa Arga justru terlihat semakin menjauh? Kenapa pria itu terus menunda-nunda pernikahan mereka?

Adelia menyadari kebenaran pahit malam itu. Nisa memang sudah berhasil ia usir dari rumah ini secara fisik, namun bayang-bayang wanita itu ternyata masih tertinggal pekat, merantai hati dan pikiran Arga, membuat Adelia merasa belum memenangkan apa pun.

1
Bella. pr1ncess
males thor kalau nisa mau kembali sama arga padahal kan arga udah berzina sama adel kenapa tidak ada tokoh wanita yg trgas disetiap cerita sih. yg ada hanya wanita yg mengalah menye menye bosan
Bella. pr1ncess
tolong jangan k mbalikan nisa sama arga thor kalau nnti nisa balek sama arag aku udah gak minat baca
Bella. pr1ncess
bangkitlah nisa kamu masih muda jemputlah takdirmu sendiri lepaskan bebanmu semoga kamu sudah tidak mau kembali pada laki2 durjana seperti arga
Bella. pr1ncess
heh laki2 bulshit dia yg minta cerai setelah nisa mengabulkan malah marah memang laki2 hanya kamu semoga nisa vertemu laki2 baik setelah berpisah dari arga
Bella. pr1ncess
bagus nisa jadilah wanita yg tegar jangan menye2 raihlah bahagiamu sendiri jangan terus mau diinjak lelaki durjana
Turi77 Turi77
Next selanjutnya thor 🥰
merry
jgn mau rujuk nisa laki murahan kyk segala gk pnts di perjuangkan,,
Adinda
bongkar aja lngsung sama keluarganya arga jangn mau dimanfaatin
Turi77 Turi77
skrng Arga bkn,suami km lg Nisa dri pda menutupi lbh baik jujur apapun kondisi Kakek Arga,
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
Mundri Astuti
ancem aja nis....kamu beberin selingkuhan Arga klo ga ngomong sama keluarganya
ryuka
baguussss.. dijamin seruu..
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
ryuka
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥 semangat nisaa 👍👍👍👍👍
Aidil Kenzie Zie
bagus Nis harus tegas👍🏻👍🏻👍🏻
Adinda
buat keluarga arga tau biar arga dimiskinkan biar belang pelakor ketahuan
Turi77 Turi77
Alhamdulillah akhirnya cerai jga, semoga setelah ini hari mu selalu bahagia lahirdan batin Nisa 🫰🥰....janda rasa perawan mkn kedepan 🥰🥰🥰💪💪💪
MamDeyh
Nahhhhh mantaap ortu sama kakek nya dtg
ryuka
kamu ga akan pernah menang batu kali/Puke//Puke//Puke//Puke//Puke/
Sri Widiyarti
Alhamdulillah ketahuan....
Enz99
Bagus
Heni Fitoria
nah lho ketahuan....
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!