Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Suasana di dalam ruangan CEO itu mendadak menjadi sangat dingin dan mencekam.
Hinaan dari pria buncit bernama Pak Herman itu menggema memantul di dinding kaca.
Raka yang tadinya sedang fokus pada dokumen di mejanya langsung mengangkat wajahnya perlahan.
Aura membunuh seketika menguar dari tubuh Raka hingga membuat suhu ruangan terasa turun drastis.
"Herman, apa kau sudah bosan hidup sehingga berani mendobrak pintu ruanganku?" tanya Raka dengan nada suara yang sangat rendah.
Pak Herman sedikit tersentak mendengar nada ancaman itu, tapi dia mencoba mempertahankan wajah angkuhnya.
"Raka, aku ini paman dari pihak ibumu sekaligus direktur di sini, hargai aku sedikit!" balas Pak Herman tidak mau kalah.
"Dan kau malah membawa wanita simpanan tidak jelas ke kantor? Ini bisa merusak citra perusahaan!"
Dewi yang sedari tadi diam hanya bisa memutar bola matanya malas.
Satu lagi orang tua menyebalkan yang minta diberi pelajaran gratis hari ini, batin Dewi.
Elvan yang masih bersembunyi di balik pot tanaman tampak ketakutan mendengar suara bentakan Pak Herman.
Anak kecil itu merengek pelan sambil memeluk lututnya sendiri.
Mendengar Elvan merengek, jiwa keibuan Dewi yang memang agak bar-bar seketika terbakar.
"Sistem, aktifkan item Kacamata Penilai Bos sekarang juga!" perintah Dewi di dalam hatinya.
Ding!
[Item Kacamata Penilai Bos berhasil diaktifkan!]
[Durasi penggunaan: 30 Menit. Mulai memindai target di depan Anda.]
Sebuah cahaya kebiruan yang hanya bisa dilihat oleh Dewi tiba-tiba berkedip di kedua matanya.
Pandangan Dewi terhadap Pak Herman seketika berubah.
Di atas kepala pria buncit itu, muncul sebuah kotak transparan berisi deretan teks berwarna merah terang.
[Target: Herman Direktur Keuangan]
[Tingkat Loyalitas pada Perusahaan: -80 persen Sangat Berbahaya]
[Rahasia Tersembunyi 1: Menggelapkan dana proyek properti di Batam sebesar 5 Miliar Rupiah untuk membayar hutang judi kasino di Makau.]
[Rahasia Tersembunyi 2: Berencana menjual data klien VIP Grup Lentera ke perusahaan saingan Grup Mandala pada hari Jumat besok.]
Mata Dewi berbinar terang membaca informasi super rahasia yang disajikan oleh sistem.
Ini bukan cuma senjata, ini adalah bom nuklir untuk menghancurkan pria tua sombong ini!
Dewi melangkah maju menutupi pot tanaman tempat Elvan bersembunyi, lalu tersenyum sangat manis ke arah Pak Herman.
"Permisi Bapak Buncit yang terhormat, namaku Dewi Anjani, dan aku bukan wanita simpanan."
"Aku adalah ibu asuh pribadi dari Tuan Muda Elvan, dibayar mahal secara profesional oleh keponakan Anda ini."
Pak Herman mencibir sinis mendengar perkenalan Dewi.
"Hah! Alasan macam apa itu? Raka, sejak kapan kau menurunkan standarmu sampai memungut wanita jalanan seperti ini?"
Brak!
Raka menggebrak meja kerjanya dengan sangat keras hingga membuat tumpukan dokumen sedikit bergeser.
"Jaga mulutmu Herman, atau aku sendiri yang akan merobeknya," desis Raka yang sudah kehilangan kesabaran.
Namun sebelum Raka sempat memanggil satpam, Dewi mengangkat tangannya memberi isyarat agar Raka berhenti.
"Tenang Bos, biarkan aku yang mengurus hama buncit ini," ucap Dewi santai sambil melangkah mendekati meja Raka.
Dewi bersandar di tepi meja kerja Raka dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Bapak Herman yang sok suci, daripada Bapak sibuk mengurus statusku di sini, bukankah Bapak punya masalah yang lebih besar?"
Pak Herman mengerutkan dahinya, merasa bingung dengan arah pembicaraan wanita di depannya ini.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan, wanita rendahan?!" bentak Pak Herman keras.
Dewi berdecak pelan sambil menggelengkan kepalanya dengan gaya dramatis.
"Ckckck, kasino di Makau itu pasti sangat menyenangkan ya Pak? Sampai Bapak rela menghabiskan dana proyek properti di Batam."
Deg!
Jantung Pak Herman seakan berhenti berdetak detik itu juga.
Wajah pria buncit yang tadinya merah karena marah kini berubah pucat pasi seperti mayat hidup.
"B-b-bagaimana... apa maksudmu?!" gagap Pak Herman sambil melangkah mundur tanpa sadar.
Raka yang tadinya berniat mengusir Herman kini langsung menajamkan pendengarannya.
Mata dingin CEO itu beralih menatap Dewi dan Herman secara bergantian.
"Lima miliar rupiah itu bukan uang yang sedikit loh Pak, apalagi kalau kalah judi," lanjut Dewi dengan nada mengejek.
"Kau... kau jangan memfitnahku sembarangan! Aku bisa menuntutmu atas pencemaran nama baik!" teriak Pak Herman panik.
Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes dari dahi pria paruh baya itu.
Dewi sama sekali tidak terintimidasi, dia malah tertawa kecil yang terdengar sangat meremehkan.
"Silakan tuntut saja. Sekalian kita bawa berkas rencana penjualan data klien VIP Grup Lentera ke Grup Mandala hari Jumat besok ke pengadilan."
Duarr!
Itu adalah bom kedua yang dijatuhkan Dewi dengan sangat telak tepat di wajah Pak Herman.
Tubuh Pak Herman mendadak lemas hingga dia harus berpegangan pada sandaran sofa agar tidak jatuh pingsan.
Raka langsung berdiri dari kursi kebesarannya.
Tatapan Raka kini benar-benar seperti dewa kematian yang siap mencabut nyawa siapa saja di ruangannya.
"Bram," panggil Raka dengan suara yang luar biasa tenang namun mematikan.
"Iya, Tuan Raka," jawab Bram yang entah sejak kapan sudah bersiap di dekat pintu masuk.
"Kunci pintu ruangan ini. Jangan biarkan pengkhianat ini keluar hidup-hidup sebelum dia memuntahkan semua uangku."
Klek.
Bram langsung mengunci pintu kaca tebal itu dan berdiri menyilang tangan di depannya.
Pak Herman menelan ludahnya yang terasa seperti pasir, dia tahu Raka tidak pernah main-main dengan ancamannya.
"R-Raka, keponakanku sayang, dengarkan aku dulu, wanita ini pasti utusan Grup Mandala untuk mengadu domba kita!" kilah Pak Herman putus asa.
Raka berjalan memutari mejanya dan menghampiri pamannya itu dengan langkah pelan.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭