Anindya Maheswari, menikah dengan Raditya Wicaksono tanpa restu dari orang tua Radit karena Anindya hanya seorang yatim piatu dan besar di panti asuhan.
Cinta tulus dari Radit membuat Anindya bertahan, berjuang bersama, banting tulang, memeras otak dan keringat. Memulai segalanya dari nol hingga akhirnya sukses.
Namun, siapa sangka setelah sukses Radit malah berkhianat? Menjalin hubungan dengan gadis yang lebih muda, memiliki seorang anak, dan bahkan selingkuhan itu sedang hamil lagi.
Membawa amarahnya yang membara, Anindya bertekad mengembalikan Radit dan keluarga nya ke keadaan semula.
“Kamu lupa satu hal. Jika aku bisa membuatmu sukses, aku juga bisa membuatnu hancur!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05
.
Di dalam mobil mewah yang baru saja meluncur meninggalkan area parkir gedung RA Corp, suasana terasa hening. Mr. Henderson dan rekannya duduk bersandar santai di kursi penumpang belakang, wajahnya yang tadi terlihat marah dan kesal kini berubah menjadi datar dan tenang, seolah ledakan emosinya di ruang rapat tadi tidak pernah ada.
Tiba-tiba, ponsel di saku jasnya berdering.
Pria berkulit putih dengan rambut pirang itu menatap layar ponselnya, lalu segera menggeser tombol hijau dan menempelkan benda itu ke telinganya.
"Yes, Mr. Rian?" sapanya penuh hormat, lalu diam mendengarkan.
*[... ]”
Mr. Henderson saling pandang dengan rekannya lalu tersenyum tipis.
"Everything went smoothly, Sir. Semuanya berjalan sesuai rencana," jawab Mr. Henderson dengan nada pasti. "Saya melakukan persis seperti instruksi Anda. Kami tidak akan melanjutkan kontrak kerjasama jika bukan Mrs. Anindya sendiri yang menerima dan menangani negosiasi ini," lanjut Mr. Henderson.
Suara di seberang sana terdengar menghela napas pelan, namun ada nada puas di baliknya.
“[...]]”
"Of course, Sir! Apakah ada instruksi lain?" tanya Mr. Henderson.
“[... ]”
“Oke, Sir. Saya akan menunggu perintah Anda. Senang berbisnis dengan Anda.”
Tut.
Panggilan terputus.
Mr. Henderson menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya, lalu menatap lurus ke depan dengan pikiran yang tak terbaca.
"Anindya Wicaksono... Belum pernah ada wanita yang bisa menarik perhatian Mr. Rian," gumamnya pelan.
*
Sementara itu, di dalam gedung RA Corp...
Raditya masih terpaku diam di tengah ruang rapat yang kosong. Kerugian yang diderita perusahaan hari ini bukan hanya soal uang, tapi juga nama baik dan kepercayaan yang hilang begitu saja.
"Anindya...!" geramnya penuh amarah dan keputusasaan. "Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan?”
Ia tidak tahu, bahwa istrinya kini sedang berjalan di jalan yang berbeda, dan siap untuk menghancurkan segalanya yang pernah mereka bangun bersama.
*
Sementara itu di dalam mal terbesar dan termewah di kota itu, Anindya melenggang dengan santai bak ratu yang sedang meninjau kerajaannya. Wanita itu masih mengenakan setelan kerja yang ia pakai tadi. Tapi tangannya tidak lagi sibuk memegang berkas rapat. Di belakangnya dua orang pelayan toko mengikuti dengan tangan penuh paperbag bermerek terkenal.
Ujung jarinya seolah punya kekuatan magis, tunjuk ini tunjuk itu, lalu berkata... “ Bungkus semua!” titahnya.
"Baik, Nyonya," jawab pramuniaga dengan wajah berseri-seri. Belum pernah mereka melihat pelanggan semurah hati dan sepercaya diri Anindya hari ini.
.
Di toko perhiasan, Anindya tersenyum lebar membuka katalog di tangannya. Matanya berbinar, bukan karena harganya yang mahal, tapi karena rasa puas yang luar biasa.
"Radit, dulu aku menahan diri. Untuk membeli celana dalam saja harus mikir berkali-kali. Sekarang? Tidak!" batinnya meledak penuh kemenangan.
Hari ini, Anindya benar-benar melepaskan pengekangan dirinya. Tidak ada lagi kata hemat, tidak ada lagi kata bersabar.
*
Matahari mulai bergeser ufuk barat ketika mobil yang dikendarai Radit memasuki halaman rumah mewahnya. Pria itu turun dengan langkah lebar dan wajah yang masam, berjalan masuk ke dalam rumah dengan napas memburu. Matanya menyapu seluruh ruangan, berharap melihat sosok istrinya duduk di sana.
Namun, kosong. Rumah itu terasa sepi.
"Dini! Sari!" teriak Raditya keras memanggil dua orang pelayan yang sedang membersihkan perabot.
Kedua pelayan itu langsung berlari mendekat dengan wajah takut melihat aura marah yang terpancar di wajah majikannya.
"Iya, Tuan?" tanya mereka serentak sambil menunduk hormat.
"Di mana Nyonya?!" serbu Raditya sambil menahan geram.
Dini dan Sari saling bertukar pandang, lalu menggelengkan kepala serentak.
"Bukankah Nyonya berangkat ke perusahaan bersama Anda tadi pagi?”
“Apa maksud kalian?!" Raditya terbelalak. "Jadi, Nyonya belum pulang?"
"Belum, Tuan,” jawab Sari meyakinkan.
Raditya mengibaskan tangannya dan dua pelayan itu pun pergi. Pria itu berjalan mondar-mandir di ruang tengah dengan tangan terkepal kuat di sisi tubuhnya. “Kemana dia sebenarnya?'
Pikiran buruk mulai meneror otaknya.
Apakah wanita itu mengetahui sesuatu dan sedang marah padanya? Tapi bagaimana mungkin? Dia sudah bermain dengan sangat rapi. Radit menjambak rambutnya frustrasi, lalu mendudukkan tubuhnya yang lelah dan emosional itu ke sofa dengan kasar.
*
*
*
Hari telah gelap ketika Radit mendengar suara mobil Anin memasuki halaman rumah mewahnya. Pria itu segera berdiri dari duduknya dan siap menumpahkan segala amarah. Wajahnya sudah merah padam, gigi-giginya saling beradu menimbulkan bunyi gemeletuk, dua tangannya terkepal erat di samping badan.
Suara pintu terbuka dan seorang wanita cantik melenggang dengan santai. Anindya. Dua tangannya penuh dengan paperbag, begitu juga dengan dua tangan satpam yang mengikuti di belakangnya. Pemandangan yang membuat rahang Radit semakin mengeras. Berapa banyak uang yang sudah dihabiskan Anin?
“Ya ampun lelahnya… “ keluhnya kemudian menghempaskan tubuh di atas sofa. “Taruh situ saja, Pak,” ucapnya dengan mata terpejam pada pak satpam yang berdiri menunggu.
Satpam itu mengangguk lalu meletakkan semua paperbag yang tadi dia bawa ke atas meja. Tidak muat, sehingga sebagian ia letakkan berjejer di lantai tak jauh dari meja, kemudian undur diri.
“Dari mana saja kamu?” tanya Radit dengan posisi berdiri menjulang di depan sofa di mana Anin merebahkan tubuhnya. “Apa kamu tidak sadar? Gara-gara kamu, perusahaan kita rugi milyaran?” lanjutnya geram melihat Anin yang memejamkan mata seolah tanpa dosa.
“Anindya Maheswari, aku sedang bicara padamu!!”
Mendengar teriakan keras Radit, Anindya membuka matanya perlahan. Sebenarnya dia tidak se-lelah itu, tapi memang sengaja.
“Kamu enak-enakan shopping sementara aku kalang kabut sendirian di perusahaan?” Mata Radit menyorot tajam.
Anin berdiri perlahan dan mendekat ke arah Radit. Tangannya menyambar sebuah paperbag yang berada di atas meja dan melemparkan ke dada Radit.
“Kamu berteriak padaku?” tanya Anin dengan suaranya yang rendah. Tidak berteriak, tapi nadanya yang dingin dan sorot matanya yang tajam mampu membuat Radit menelan ludah. Pria itu mundur selangkah seiring gerakan Anin yang semakin mendekat.
“Aku bekerja keras selama lima belas tahun dan tidak pernah protes. Sekarang hanya karena aku pergi keluar selama separuh hari dan kamu sudah berteriak?” teriak Anin di akhir kalimat.
“Ti tidak sep perti it tu maksud-ku.” Raditya gelagapan melihat reaksi istrinya yang di luar dugaan. Tadinya ia kira Anin akan merasa bersalah dan meminta maaf dengan wajah memelas. “Perusahaan asing membatalkan kerjasama, dan kita rugi milyaran,” ucap Radit menjelaskan.
“Memangnya kenapa kalau batal?!”
Teriakan tak terduga meluncur dari mulut istrinya dan membuat Radit terbelalak.
“Batal ya batal saja! Masih banyak perusahaan lain yang antri berjajar,” lanjut Anin. “Aku hanya healing sebentar dan kamu sudah mengamuk, kamu pikir aku ini robot?”
“Ti tidak, Sayang. Maaf aku salah,” ucap Radit mencoba meraih tangan Anin, tapi segera di tepi oleh wanita itu. “Aku… aku hanya sedih karena kita kehilangan investor. Aku pikir itu pasti akan membuat kamu sedih juga, makanya aku panik. Ya… aku hanya panik sesaat.” Radit menyeka keringat yang tiba-tiba membasahi pelipisnya.
Anin melipat kedua tangannya di depan dada. “Aku tidak ada, tapi kamu ada. Jika meyakinkan investor begitu saja gagal, lalu fungsimu sebagai presdir apa?”
Radit terbelalak, ucapan Anin begitu tajam melukai harga dirinya. Namun, ia hanya bisa mengepalkan tangan tanpa bantahan.
“Sayang, aku… “
Dert… dert…
Baru saja Radit ingin berucap untuk menenangkan istrinya, ponsel dalam tas Anin berdering. Wanita itu segera mengambilnya dengan mata yang masih melirik tajam ke arah suaminya.
“Ya, Ros… ?”
apa lgi yg lbih mnyedihkn slain nsibnya s pcundang....udh pd tngkat dewa bkln dpt tender,taunya zonk...😛😛😛....
smntra anin,dia udh bngkit plus dpt dkungn dr bnyak orng yg pduli sm dia....ga sbr nunggu s pcundang hncur.....