Sebuah pernikahan yang begitu megah, suatu hal yang selama ini diimpikan oleh Devina, tiba-tiba dihancur begitu saja oleh seseorang yang selama ini sangat dia benci.
Bukan hanya pernikahannya, tapi perusahaan keluarganya pun mengalami kehancuran.
"Aku sanggup membuat perusahaan ayahmu kembali berjalan, tapi dengan satu syarat, kamu harus menikah denganku!"
Itulah yang diucapkan oleh Abian Pratama, seorang CEO dingin dan kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Besoknya, pernikahan Abian dan Devina pun telah resmi digelar dengan cukup megah. Acara itu dihadiri oleh banyak tamu undangan dari kalangan pengusaha ternama dan pejabat tinggi, bahkan orangtuanya Abian pun turut hadir.
Devina harus pura-pura terlihat bahagia di depan semua orang, meskipun dia sangat tidak menginginkan pernikahan ini.
Berbeda dengan Abian, dia terlihat sangat tenang, karena rencananya telah berhasil.
Setelah selesai menikah, Abian langsung membawa Devina ke Mansion Pratama, mereka disambut dengan hangat oleh orang tuanya, Dylan dan Bianca.
"Putraku ini memang sangat mirip dengan mamanya. karena itu dia lebih tertarik menekuni dunia bisnis dan menjadi pemimpin perusahaan, bahkan kepribadiannya sangat mirip. Berbeda dengan adiknya, yang lebih tertarik dengan dunia kedokteran," ucap Dylan dengan ramah.
Devina memang pernah mendengar tentang latar belakang keluarga mereka. Dylan Pratama adalah seorang dokter genius yang sangat terkenal, dia telah sukses mendirikan jaringan rumah sakit besar di Amerika Serikat. Dari pernikahannya dengan Bianca, mereka dikaruniai dua orang putra, Abian dan Ziano.
Abian memang memilih mengikuti jejak ibunya, berkecimpung dalam dunia bisnis. Sedangkan Ziano, adiknya, menekuni dunia medis seperti ayahnya.
Keluarga besar Pratama memang memutuskan menetap di Amerika untuk mengembangkan bisnis dan fasilitas kesehatan di sana, hanya Abian yang memilih tinggal di Indonesia untuk mengelola cabang perusahaan di tanah air.
Bianca menambahkan, "Dari dulu, kami tidak pernah melihat Abian dekat dengan seorang wanita. Karena itu, kami sangat merasa lega saat mendengar Abian tiba-tiba akan menikah, walaupun terkesan dadakan."
Devina mengerutkan kening. Dia sama sekali tidak menyangka ternyata Abian seperti itu. Padahal dengan kegantengan yang dia miliki, dia bisa mengencani wanita manapun yang dia inginkan.
Ganteng?
Devina segera mengoreksi kata-katanya di dalam hati. "Oh gak, di mataku dia itu sama sekali gak ganteng. Dia adalah pria yang sangat aku benci."
Abian pura-pura harus terlihat bahagia di depan orang tuanya, karena itu dia langsung merangkul pundak Devina. "Sama sekali gak dadakan, Ma. Aku memang sangat mencintainya, dan aku rasa hari ini adalah hari yang tepat untuk kami menikah."
Devina sangat kaget saat Abian tiba-tiba merangkul pundaknya. Dia langsung berkata dengan pelan, "Siapa yang menyuruh kamu merangkulku? Singkirkan tanganmu itu."
Abian menjawab dengan santai. "Kenapa? Kamu deg-degan dirangkul olehku?"
Devina tersenyum sinis. "Jangan geer. Kita menikah bukan karena cinta. Tapi karena kamu memaksaku."
Pembicaraan mereka terhenti saat mendengar deheman sang mama.
"Ehm! Kalian sedang membicarakan apa? Kelihatannya sangat serius?" tanya Bianca, penasaran.
Abian tersenyum dingin. "Devina sepertinya sudah tidak sabar. Dia bertanya padaku, apakah kami harus segera memiliki anak atau tidak."
Devina langsung terbelalak. Dia refleks mencubit pinggang Abian. Lalu berkata dengan pelan. " Kapan aku bilang begitu?"
Dylan dah Bianca saling berpandangan. Kemudian, mereka tersenyum penuh arti.
"Ya ampun, maafkan Mama, Devina. Malam ini adalah malam pertama untuk kalian, seharusnya kami tidak mengajak kalian mengobrol sampai larut malam begini."
Devina menjadi salah tingkah. Dia justru lebih suka kedua mertuanya terus mengajaknya mengobrol seperti ini. Mau sampai pagi pun hayu, dari pada dia harus berduaan dengan Abian di dalam kamar.
Dia masih ingat saat Abian tiba-tiba mencium bibirnya dengan tanpa permisi. Bagaimana jika Abian berbuat macam-macam padanya malam ini?
"Aku sama sekali tidak keberatan kok, Ma. Aku masih ingin tahu tentang keluarga ini, kelihatannya sangat menarik," jawab Devina, pura-pura tertawa, padahal tidak ada yang lucu.
Dylan pun tersenyum. "Benarkah? Jadi keluarga kami itu..."
Bianca memotong perkataan suaminya. "Sudah larut malam. Lebih baik kalian segera pergi ke kamar. Kami merasa lebih cepat lebih baik untuk memiliki cucu."
Kemudian Bianca memberikan sebuah botol kecil. "Ini adalah obat racikan papanya Abian, dijamin bisa tahan lama," ucapnya sambil mengedipkan mata.
Gluk!
Devina menelan saliva dengan susah payah. Jangan sampai malam ini dia tidur dengan musuh bebuyutannya itu.
pasti elian cuma ngaku2 doang....😡