Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.
Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.
Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.
Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Warisan
Nama itu masih menatap Devan dari halaman terakhir layar: Siska Narendra, tertulis di kolom penerima dana, lengkap dengan tanda tangan yang sudah ia kenal sejak kecil.
Ia tidak bergerak lama. Jam dinding berdetak di sudut ruangan. Di luar jendela, hujan tipis mulai turun lagi.
Perlahan ia menggulir ke lampiran kedua.
Lima tahun lalu, Narendra Group memang hampir bangkrut. Tetapi penyebabnya bukan proyek properti yang gagal seperti yang selalu diceritakan ibunya. Audit itu mencatat pengalihan dana ilegal senilai delapan puluh miliar rupiah dari kas perusahaan ke rekening kasino di Makau dan investasi bodong milik kerabat keluarga Vanya. Pengirimnya satu orang. Siska.
Setelah lubang itu terbuka, seseorang menambalnya dengan uang dari luar. Anak perusahaan Mahendra Corp menyuntikkan seratus lima puluh miliar lewat perjanjian rahasia, tanpa sepengetahuan Devan, dengan syarat yang tersembunyi di balik pasal-pasal obligasi. Syarat itu tidak pernah ia baca, karena ibunya tidak pernah memintanya membaca.
Darah Devan terasa dingin dari ujung jari. Ibunya merampok kas perusahaan, membuatnya sekarat, lalu duduk di meja makan dan menerima ucapan terima kasih seolah ia penyelamat keluarga.
Di bagian paling bawah halaman terakhir ada catatan kearsipan bertinta merah tebal: Arsip asli dan perjanjian perlindungan tersimpan di brankas dinding ruang kerja utama. Kode akses: 12-10-02.
Devan membaca deret angka itu sekali, lalu sekali lagi. Dua belas Oktober. Ia pernah mengetik tanggal itu di formulir pernikahan, dan hanya itu.
Tanggal lahir Alyssa.
Ia berdiri. Dinding-dinding tinggi ruang kerjanya terasa menyempit.
Di sisi barat ruangan tergantung lukisan pemandangan tua peninggalan Kakek Broto. Selama ini lukisan itu hanya benda yang tidak pernah ia pikirkan. Devan memegang bingkai ukirnya, menggesernya ke samping, dan menemukan pintu baja hitam tertanam di dinding beton.
Brankas yang tidak pernah dibuka sejak hari Kakek wafat.
Tangannya gemetar saat menekan papan tombol. 12-10-02.
Terdengar klik halus. Pintu berat itu mengayun terbuka, mengembuskan bau kertas tua dan logam dingin.
***
Tidak ada emas batangan di dalamnya. Tidak ada uang tunai atau perhiasan keluarga. Hanya satu kotak jati kecil berukir yang terkunci, dan sebundel map kulit cokelat tua dengan sudut yang sudah memudar.
Di sampul map itu ada tulisan tangan yang Devan kenal sejak kecil:
Untuk Cucuku, Devan. Buka hanya saat matamu sudah mampu melihat kebenaran.
Ia membawa map itu ke meja kerja dan duduk. Tali pengikatnya ia urai dengan jemari yang belum berhenti bergetar.
Di dalamnya ada tiga lembar kertas tebal. Lembar pertama adalah surat tulisan tangan Kakek Broto, bertanggal dua minggu sebelum beliau wafat. Devan mendekatkannya ke lampu meja.
Devan, cucuku yang paling Kakek banggakan, sekaligus yang paling Kakek khawatirkan.
Kalau kamu membaca ini, Kakek sudah tidak ada. Dan kamu mungkin sedang berada di titik terendahmu, karena kesombonganmu sendiri.
Perusahaan kita tidak diselamatkan ibumu. Ibumu yang hampir menghancurkannya. Ia mengalihkan uang perusahaan untuk menutup utang judinya, lalu menerima uang dari luar tanpa sepengetahuan Kakek, dengan syarat yang ia sendiri tidak berani baca. Ketika Kakek mengetahuinya, nyaris semua kendali atas obligasi kita sudah berpindah tangan.
Napas Devan tercekat. Wajah ibunya yang selalu anggun, yang selalu menuntut penghormatan dari semua orang, melintas di benaknya. Kini wajah itu terasa seperti topeng.
Kakek tidak bisa membatalkan perjanjian itu. Yang bisa Kakek lakukan hanya mencari satu pihak yang mau menebusnya tanpa mengambil perusahaan kita. Pihak itu bersedia, dengan satu syarat: keselamatan seorang gadis bernama Alyssa Kirana.
Devan memejamkan mata. Rasa sakit menjalar dari dada hingga tulang belakangnya.
Alyssa bukan wanita yang kamu kira. Ia datang ke rumah kita sebagai jaminan. Selama ia sah menjadi istrimu, orang-orang yang ingin mencelakainya tidak berani menyentuhnya. Dan selama ia ada di rumah ini, pihak yang menebus utang kita punya alasan untuk tidak menghancurkan kita.
Kakek memaksa kalian menikah bukan untuk menyiksamu. Kakek melakukannya karena hanya itu cara melindungi dia, dan melindungimu.
Ingat ini, Devan. Alyssa adalah hal paling berharga yang pernah masuk ke hidupmu. Jangan menyakitinya. Kalau ia pergi, kamu tidak hanya kehilangan wanita paling tulus yang pernah kamu kenal. Kamu kehilangan tanah tempatmu berdiri.
Kertas itu terlepas dari tangan Devan dan jatuh ke meja.
Ia bersandar. Tubuhnya gemetar, dan pandangannya mengabur sebelum ia sempat menahannya.
***
Lembar kedua adalah salinan Surat Perjanjian Kesepakatan Pernikahan Rahasia, ditandatangani Alyssa dan Kakek Broto. Devan membaca klausulnya satu per satu. Pada pasal empat, Alyssa menuliskan tuntutannya sendiri dengan tinta hitam:
Pihak Kedua tidak akan menuntut harta gono-gini, dividen, atau aset apa pun atas nama Devan Narendra Pratama, dalam kondisi apa pun.
Pihak Kedua bersedia menerima perlakuan dan reputasi sebagai anak panti asuhan tanpa pembelaan publik, demi menjaga kerahasiaan perjanjian.
Pihak Kedua berhak mengakhiri pernikahan secara sepihak kapan pun ia merasa jaminan keselamatannya atau batas martabatnya dilanggar.
Di bawahnya ada tanda tangan yang sangat rapi. Persis sama dengan tanda tangan di surat gugatan di atas mapnya sendiri.
Devan menekan dadanya. Napasnya tersengal.
Selama tiga tahun ia menganggap Alyssa menempel pada kekayaannya. Ia membiarkan ibunya menyuruh Alyssa seperti pelayan, membiarkan Nadine menyindir status panti asuhannya di meja makan, dan ia sendiri memperlakukannya seperti benda mati. Padahal wanita itu duduk di rumah ini sebagai orang yang menahan runtuhnya mereka semua.
"Kenapa kamu tidak pernah membalasku?" bisiknya. Suaranya pecah. "Kenapa kamu diam saja waktu aku membencimu?"
Lembar ketiga adalah selembar surat bergaris yang ditulis tangan. Tinta di sudutnya sedikit luntur seperti pernah terkena air. Tulisannya Alyssa, ditujukan pada Kakek, satu hari sebelum beliau meninggal.
Kakek Broto yang baik,
Terima kasih sudah memperlakukan saya seperti cucu sendiri di rumah yang asing ini. Jangan khawatirkan janji saya. Saya akan tetap di sisi Devan sesuai kesepakatan kita, menjaga perusahaan ini dari balik layar sampai tugas saya selesai.
Saya tahu Devan membenci saya. Saya tahu di matanya, saya hanya wanita yang menghalangi kebahagiaannya bersama Nadine. Tidak apa-apa, Kek. Saya tidak meminta Devan mencintai saya. Saya hanya ingin memastikan Devan tidak dihancurkan oleh kebohongan orang-orang di sekitarnya.
Kalau saatnya tiba dan perusahaan ini sudah cukup kuat untuk berdiri sendiri, saya akan pergi tanpa meminta apa pun.
Devan menelungkupkan kepala di atas meja. Surat-surat itu ia tekan ke dadanya.
***
Kenangan tiga tahun itu datang tanpa diundang, satu demi satu.
Malam-malam ia pulang dalam keadaan lelah dan setengah mabuk, lalu menemukan secangkir teh hangat dan handuk basah di meja, tanpa pernah melihat siapa yang menaruhnya. Demam tinggi yang membuatnya terbangun dengan kompres dingin di dahi, dan Alyssa tertidur terduduk di lantai kayu yang dingin di samping tempat tidurnya. Waktu itu Devan mengusirnya keluar, menyuruhnya berhenti berpura-pura menjadi istri yang perhatian. Alyssa hanya menunduk, merapikan selimutnya, lalu keluar tanpa membantah.
Hari ketika Siska menuduh Alyssa mencuri perhiasan rumah. Devan menggeledah tasnya di depan para pelayan. Alyssa berdiri diam dan membiarkan semua isinya diacak, tanpa setetes air mata. Perhiasan itu kemudian ditemukan di kamar Siska sendiri. Devan tidak pernah mengucapkan maaf.
Malam Nadine terjatuh dari kursi rodanya dan menunjuk Alyssa. Devan membentaknya di depan semua orang dan menyuruhnya berlutut. Alyssa menolak berlutut, dan Devan mendiamkannya sebulan penuh tanpa mau mendengar penjelasan apa pun.
Satu bulan. Ia bahkan tidak pernah bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Devan mengangkat kepalanya pelan. Matanya merah dan sembap. Di atas map cokelat, cincin perak itu tergeletak seperti sebelumnya, murah, tanpa permata.
Cincin itu bukan sekadar benda murah. Cincin itu bekas tangan seorang wanita yang menyerahkan tiga tahun hidupnya untuk menjaga rumah yang terus merendahkannya.
Ia meraih cincin itu, mengepalnya hingga logamnya menekan telapak tangan.
Lalu tatapannya jatuh ke layar komputer yang masih menampilkan pergerakan A-K Capital di bursa. Semuanya terhubung sekarang: nama itu, rumus 4B, pembelian obligasi yang tepat sasaran. Serangan hari ini bukan sekadar manuver bisnis. Itu pasal ketiga yang sedang dijalankan. Alyssa sudah memutuskan batas toleransinya terlampaui, dan ia kembali untuk menagih.
Wanita yang selama tiga tahun ia abaikan adalah orang yang memegang leher Narendra Group hari ini.
Devan berdiri. Ia memasukkan surat-surat itu kembali ke dalam map kulit dan menyelipkannya ke balik kemejanya, tepat di sebelah buku catatan biru yang belum pernah lepas dari tubuhnya sejak pagi itu.
Ia tidak akan lagi menjadi laki-laki bodoh yang dibelokkan oleh air mata Nadine atau kebohongan ibunya. Kalau Alyssa memang pedang yang kini mengarah ke Narendra Group, ia tidak akan lari. Ia akan berdiri di depannya, dan menanggung akibat dari semua yang pernah ia biarkan terjadi.
Ia menoleh ke brankas yang masih menganga.
Kotak jati kecil itu masih di dalamnya. Devan mengambilnya. Beratnya tidak seberapa, tapi terkunci rapat, tanpa lubang kunci biasa. Di tutupnya hanya ada satu ukiran: motif daun kecil, dengan lekukan sempit di tengahnya.
Daun yang sama dengan yang ada di gelang perak Alyssa.
Jantung Devan berdegup lebih keras. Ia merogoh saku celana, mengeluarkan saputangan yang selama ini ia bawa, lalu membuka lipatannya. Gelang itu masih hangat dari tubuhnya.
Ia menekan ukiran daun pada gelang itu ke lekukan di tutup kotak.
Klik.
Tutupnya terangkat sedikit, seperti napas yang akhirnya dilepas.
Di dalamnya hanya ada satu amplop putih yang sudah menguning di pinggir. Tulisan tangan Kakek Broto menghiasi bagian depannya, dengan nama yang belum pernah Devan dengar seumur hidupnya.
Untuk Karen Alyssa Mahendra. Kalau ia kembali.
.....
.....
Bersambung.