✨ Sinopsis
Aluna adalah gadis cantik dan agak nakal yang tumbuh dalam kemewahan, namun yang paling berharga baginya bukan harta, melainkan dua sahabat yang selalu ada di sisinya sejak kecil: Orion — tampan, tenang, bijaksana, & pintar; serta Rexy — ganteng, tegas, sedikit tengil, namun berhati emas & menjadi pelindung setia keduanya. Ketiganya anak dari keluarga terpandang, tumbuh bersama, berjanji tak akan pernah terpisahkan.
Namun seiring berjalannya waktu, rasa persahabatan itu perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam. Baik Orion maupun Rexy sama-sama menyayangi Aluna lebih dari sekadar sahabat. Ketika hati Aluna akhirnya harus membuat pilihan sulit, ia menyadari bahwa memilih satu berarti menyakiti yang lain.
Di antara cinta & persahabatan, di antara kebersamaan & pengorbanan, ketiganya belajar: cinta sejati tidak harus memiliki, & persahabatan tulus adalah harta yang abadi selamanya. Sebuah kisah hangat tentang perjalanan hati, keikhlasan, & kebersamaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sifat Nakal Aluna. yang Tak Pernah Benar-Benar Dimaafkan
Pintu ruang guru tertutup rapat di belakang kami. Suasana di dalam hening banget. Pak Wali Kelas duduk di belakang meja, menyilangkan jari di depannya, menatap kami bertiga bergantian. Di sudut ruangan, Siska berdiri tegak dengan muka polos, seolah dia cuma korban yang nggak tahu apa-apa. Jantungku berdegup kencang, tanganku berkeringat dingin di bawah meja. Kalung dari Orion terasa hangat di leherku, dan di saku rok, jemariku mencengkeram gantungan kunci bulan buatan Rexy.
"Jadi, begini," suara Pak Guru memecah keheningan. "Siska melaporkan bahwa Aluna sering meninggalkan sekolah tanpa izin, mengajak kalian berdua ikut melakukan hal yang tidak benar, dan membuat keributan di lingkungan sekolah. Apakah itu benar, Aluna?"
Aku menelan ludah. Mulutku terasa kering. Sebelum aku bisa jawab, Rexy sudah maju selangkah, suaranya tegas tapi sopan.
"Pak, izin bicara. Aluna memang pernah keluar sekolah sebentar, tapi bukan buat berbuat keributan. Waktu itu aku yang ajak dia, bukan sebaliknya. Kalau ada yang salah, aku juga ikut salah. Jangan tuduh Aluna sendirian."
Orion ikut mengangguk tenang. "Benar, Pak. Kadang kami bertiga memang pergi sebentar kalau ada keperluan mendesak, tapi kami selalu kembali tepat waktu. Aluna bukan pembuat masalah. Dia cuma… kadang terlalu berani mengambil keputusan sendiri tanpa pikir panjang. Tapi niatnya nggak pernah buruk."
Pak Guru mengangguk pelan, lalu menatapku. "Aluna, bagaimana menurutmu?"
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. "Benar, Pak. Aku akui aku sering iseng dan kadang melanggar aturan. Aku suka lompat pagar belakang kalau bosan, suka jajan di luar saat jam pelajaran kosong, dan aku tahu itu salah. Tapi aku nggak pernah bermaksud merugikan siapa pun. Dan mereka berdua… mereka bukan ikut-ikutan karena aku suruh. Mereka ikut karena mereka mau menjaga aku supaya aku nggak kenapa-napa sendirian."
Siska tiba-tiba menyela dengan nada yang terdengar menyedihkan. "Tapi kan itu tetap salah? Semua orang lihat kok. Kalian bertiga itu selalu saja beda. Seolah aturan nggak berlaku buat kalian. Itu yang bikin banyak orang merasa nggak adil, Pak."
"Siska," Orion menatapnya tenang tapi tajam. "Kamu boleh nggak suka cara kami. Tapi jangan meremehkan persahabatan kami jadi masalah aturan saja. Aturan dibuat supaya kita jadi lebih baik, bukan buat memisahkan orang-orang yang saling peduli."
Pak Guru tersenyum tipis, seolah dia sudah paham apa yang sebenarnya terjadi. "Cukup. Saya dengar semua pihak. Aluna, sifatmu yang agak liar dan berani itu kadang bisa membahayakan dirimu dan orang lain. Saya tidak akan menghukum berat kali ini, tapi catatan: satu kali lagi ada laporan seperti ini, kamu akan mendapat hukuman resmi. Mengerti?"
"Mengerti, Pak. Terima kasih," jawabku lega tapi tetap merasa bersalah.
Saat kami keluar dari ruang guru, langkahku terasa berat banget. Siska melintas di sampingku sambil berbisik pelan yang cuma aku bisa dengar: "Hati-hati, Lun. Suatu hari nanti sifat nakalmu itu bakal menghancurkan semuanya. Termasuk mereka berdua."
Aku menunduk, menahan air mata. Kata-katanya menusuk tepat di tempat yang paling sakit.
Sore itu, kami duduk di tempat favorit kami — bangku kayu di bawah pohon besar di sudut taman sekolah yang sepi. Angin berhembus pelan, daun-daun berguguran di sekitar kami. Aku memeluk lututku erat-erat, menatap tanah.
"Mereka benar kan?" tanyaku pelan, suaraku bergetar. "Aku ini cuma bikin masalah buat kalian. Kalau nggak ada aku, hidup kalian pasti jauh lebih tenang. Kalian nggak perlu dipanggil ke ruang guru, nggak perlu dibilang aneh, nggak perlu selalu membela aku terus."
Suasana hening sejenak. Lalu Rexy menepuk pundakku pelan, tangannya terasa hangat dan kuat.
"Hei, ngomong apa sih kamu ini? Kami ikut senang ikut susah sama kamu. Itu namanya sahabat. Bukan beban."
"Tapi aku selalu yang bikin masalah," potongku cepat, air mata mulai menetes di pipi. "Ingat waktu aku lari ke hutan sendirian pas kita masih SD? Kalian sampai dicariin satu sekolah. Waktu aku jatuh dari sepeda karena ngebut-nebut? Kalian yang disalahkan orang tuaku karena nggak jaga aku. Dan sekarang… sekarang Siska nyebar gosip lagi. Semua karena aku nggak bisa jadi anak yang penurut kayak kalian."
Orion menggeser duduknya lebih dekat, menatapku lembut. "Aluna, dengerin aku. Sifat nakalmu itu bukan kekurangan. Itu bagian dari dirimu yang bikin kamu hidup, berani, dan tulus. Kamu nggak pernah berpura-pura. Itu yang kami suka dari kamu. Tapi… kamu harus paham, kebebasan juga punya batas. Bukan karena kami melarang, tapi karena kami takut kehilangan kamu."
"Tapi kadang aku takut," aku menatap mereka bergantian. "Takut suatu hari kalian capek. Capek ngurusin aku, capek dibawa-bawa masalahku, terus… kalian pergi kayak teman-teman yang lain pergi."
Rexy tiba-tiba berdiri, menatapku serius banget. "Dengerin aku baik-baik, Aluna. Aku nggak peduli seberapa nakal kamu, seberapa banyak masalah yang datang, atau seberapa jahat orang lain ngomongin kamu. Aku nggak akan ke mana-mana. Kalau kamu jatuh, aku yang angkat kamu. Kalau kamu salah, aku yang kasih tahu kamu. Tapi aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Itu janji yang nggak akan aku ingkari walau nyawaku dipertaruhkan."
Jantungku berdebar kencang mendengar ketegasan suaranya. Dia menatapku dalam, seolah ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar janji sahabat di matanya.
Orion ikut berdiri, menaruh tangannya di bahuku dengan lembut. "Dan aku berjanji akan selalu jadi tempat kamu pulang, Aluna. Walau seluruh dunia menutup pintu buat kamu, pintuku selalu terbuka. Tapi tolong… berjanjilah kamu akan lebih hati-hati. Bukan untuk mereka, bukan untuk aturan sekolah. Tapi untuk kami. Karena melihat kamu terluka, itu rasa sakit yang paling berat buat kami berdua."
Aku terisak pelan, memeluk kedua sahabatku itu erat-erat. "Makasih… makasih udah nggak pernah menyerah sama aku. Aku janji akan berusaha lebih baik. Tapi kalau aku masih salah, tolong ingetin aku ya? Jangan diam aja."
"Kami nggak akan diam," kata Rexy sambil tersenyum, menyeka air mataku dengan ujung jemarinya. "Tapi kami juga nggak akan menghakimimu. Kamu itu berharga apa pun keadaannya, paham?"
Malam itu sebelum tidur, aku memegang kalung dari Orion dan gantungan kunci dari Rexy di atas meja belajarku. Aku sadar satu hal: sifat nakal dan bebasku memang belum sempurna, tapi di balik itu, ada dua orang yang justru mencintaiku apa adanya — kelebihan dan kekuranganku. Dan itu membuatku takut sekaligus bahagia. Takut karena aku belum pantas mendapat kasih sayang sebesar ini, dan bahagia karena aku tahu, di dunia ini aku tidak sendirian.
Namun, di sudut lain hatiku, ada kegelisahan kecil yang tak kunjung hilang. Seperti kata Siska tadi pagi… apa yang akan terjadi kalau suatu hari keberanianku yang berlebihan itu benar-benar membawa aku ke dalam masalah besar — masalah yang bahkan mereka berdua tak bisa selesaikan untukku?
Pertanyaan buat kamu:
Beberapa hari berlalu, dan aku mencoba menahan diri agar tidak melakukan hal-hal iseng lagi. Tapi suatu sore yang mendung, saat kami sedang berjalan pulang melewati jalan alternatif yang sepi, aku melihat seekor anak kucing kecil terduduk gemetar di tengah jalan yang licin karena hujan. Tanpa berpikir dua kali, aku berlari ke tengah jalan untuk menyelamatkannya — tepat saat sebuah mobil melaju kencang dari tikungan dengan lampu yang menyilaukan!
Apa yang terjadi selanjutnya? Siapa yang lebih dulu menarikku menjauh — Orion atau Rexy? Dan apa reaksi mereka setelah melihat aku hampir celaka gara-gara keisenganku sendiri? 😊