Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Tanpa mengalihkan tatapan birunya sedikit pun, Lucien merengkuh bagian bawah lutut Eliana dengan tangan kirinya dan menyangga punggung gadis itu dengan tangan kanannya. Dalam satu gerakan mantap yang begitu mulus, Pangeran Mahkota itu mengangkat tubuh Eliana ke dalam gendongannya secara bridal style.
"A-Aaa!" Eliana tersentak kaget, secara refleks melingkarkan kedua tangannya di leher Lucien demi menjaga keseimbangan.
Luka di perutnya terkunci rapat dalam posisi aman di dada tegap Lucien, membuat rasa nyeri yang semula menusuk mendadak tertutupi oleh gemuruh jantung sang Pangeran yang berdetak kencang tepat di dekat telinganya.
"Mau ke mana kau dengan kondisi luka yang belum mengering begini?" tanya Lucien dengan suara rendah, dalam, dan sarat akan nada bernuansa posesif yang teramat dingin namun hangat secara bersamaan.
"M-Mau ke kamar mandi..." jawab Eliana terbata-bata, menunjuk pintu kamar mandi di sudut ruangan dengan jemarinya yang gemetar canggung. "Niatnya mau jalan pelan-pelan tadi, tapi malah hilang keseimbangan..."
Lucien tidak membalas lagi dengan kata-kata. Dengan langkah tegap dan hati-hati, ia melangkah membawa Eliana menuju kamar mandi.
Sementara tubuhnya dipeluk erat dalam dekapan Pangeran Mahkota, wajah Eliana mendadak memerah panas hingga ke ujung telinganya. Jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter, membuat Eliana bisa melihat dengan sangat jelas setiap inci ketampanan visual sempurna yang dimiliki Luciennrahang tegas yang terukir sempurna, hidung mancung, serta manik mata biru berkilau yang terlindung di balik bulu mata lebat peraknya.
Pikiran Eliana seketika meledak gila-gilaan, dan seluruh jeritan batinnya meluncur tanpa hambatan langsung ke dalam kepala Lucien.
"ANJIRRRR GILA BANGETTTT! BISA-BISANYA GUE DIGENDONG PANGERAN TAMPAN KAYAK GINI?! DIBUAT REAL LIFE ANJAY!" jerit Eliana histeris di dalam hatinya, matanya berkedip-kedip tak berdaya menatap pahatan wajah Lucien dari dekat. "Sumpah ya, visual Lucien ini bener-bener ilegal! Gantengnya gak masuk akal! Kulitnya mulus banget, wangi kayu cendananya bikin mabuk, terus mata birunya... AAAKHH, gila, pingsan lagi aja apa gue sekalian?! Kagak kuat hamba Ya Tuhan!"
Lucien yang menyimak seluruh luapan pujian dan jeritan kagum dari batin Eliana mendadak menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar mandi.
Sudut bibir Pangeran Mahkota itu terangkat sangat tipis, mengukir senyum misterius yang amat menawan. Tatapan birunya mengunci mata Eliana, menundukkan kepalanya sedikit lebih dekat ke telinga gadis itu.
"Sudah puas memuji visualku di dalam kepalamu, Eliana?" bisik Lucien rendah dengan nada menggoda yang begitu mematikan.
Eliana seketika membeku. Matanya membelalak lebar, memutar cepat menatap iris mata biru Lucien yang begitu dekat dengan wajahnya. Jantungnya serasa berhenti berdetak selama satu detik penuh sebelum kemudian bertabuh hebat di dalam dadanya.
"HAH?!" jerit Eliana di dalam hatinya, kini benar-benar panik setengah mati. "L-Loh... kok dia bisa tahu isi pikiran gue?! Batin gue ketahuan?! T-Tunggu, jangan-jangan... dia bisa baca pikiran orang?! Sumpah, demi apa?! Sejak kapan?!"
Rasa panik yang luar biasa mendadak menjalar ke sekujur tubuh Eliana. Namun, di tengah kepanikannya, logika sang pembaca novel berusaha menolak kenyataan fantastis tersebut.
"Nggak, nggak, nggak mungkin!" batin Eliana berusaha keras menyangkal, matanya berkedip-kedip liar. "Di novel 'Tahta & Darah Valdoria', Lucien nggak punya kekuatan sihir pembaca pikiran! Kekuatan dia kan murni ilusi sama ilmu pedang! Berarti... dia cuma lagi kepedean?! Iya pasti dia cuma geer karena ngeliat gue mlongo natap mukanya dari dekat! Aish, bikin kaget aja!"
Eliana menyipitkan matanya, berusaha memasang raut wajah segalak dan sedatar mungkin demi menutupi rasa canggungnya yang membakar pipi.
"Enggak usah kegeeran ya, Pangeran!" ucap Eliana mengelak dengan nada ketus yang dibuat-buat, membuang muka ke arah lain. "Siapa juga yang muji-muji Pangeran? Saya cuma kaget aja tiba-tiba diangkat kayak karung beras!"
Lucien tidak membalas sepatah kata pun. Ia hanya diam menatap wajah Eliana yang memerah padam dengan pandangan dingin yang amat sulit diartikan. Di dalam kepalanya, suara penyangkalan Eliana yang riuh dan panik terdengar begitu jelas dan menggemaskan.
Tanpa menurunkan kewaspadaannya, Lucien perlahan-lahan menurunkan tubuh Eliana hingga kedua kaki gadis itu menapak dengan aman di atas lantai kamar mandi. Tangan tegap sang Pangeran tetap menyangga bahu Eliana selama beberapa detik untuk memastikan gadis itu berdiri kokoh dan tidak limbung lagi, sebelum akhirnya menarik tangannya kembali tanpa menanggapi ocehan sang pelayan.