Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.
Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan ke Kost Dewi
Suara bel ruang kuliah utama bergema menandakan sesi mata kuliah siang—Kedokteran Komunitas dan Etika Profesi—resmi dimulai. Puluhan mahasiswa kembali memadati ruangan, termasuk Kirana yang mengambil posisi di barisan tengah agar lebih fokus menyimak penjelasan dosen.
Di sudut ruangan lain, Arsyila melemparkan pandangan tajam ke arah Kirana seraya membisikkan instruksi khusus kepada seorang mahasiswi berpenampilan lugu yang duduk di sampingnya.
"Dewi, ingat bagianmu," bisik Arsyila dengan seringai licik di bibirnya. "Buat dia merasa diterima di kelompok kalian. Biarkan dia percaya kalau kalian benar-benar ingin bekerja sama dengannya."
Dewi, mahasiswi yang tergiur oleh janji imbalan dan koneksi dari keluarga Wijaya, mengangguk pelan. "Tenang saja, Syila. Semua sesuai rencanamu."
Tak lama kemudian, dosen pengampu melangkah masuk ke podium depan. Usai memberikan pengantar singkat mengenai kasus etik medis, sang dosen mengetukkan pulpennya ke meja.
"Untuk materi hari ini, saya minta kalian membentuk kelompok diskusi yang terdiri dari lima orang. Tugas analisis kasus ini harus diselesaikan dan dipresentasikan minggu depan sebagai nilai tugas besar pertama kalian," pengumuman dosen disambut riuh para mahasiswa yang mulai sibuk mencari teman sekelompok.
Kirana yang belum terlalu kenal dekat dengan teman-teman sekelasnya baru saja hendak melihat ke sekeliling ruangan, ketika tiba-tiba Dewi dihampiri oleh tiga mahasiswa cowok—Reno, Galang, dan Satria—yang sudah mengincarnya.
Dewi lantas berbalik dan melangkah mendekati meja Kirana dengan senyuman ramah yang tampak sangat natural.
"Hai, Kirana!" sapa Dewi manis, seolah tanpa beban. "Kamu sudah dapat kelompok belum? Kami kekurangan satu anggota lagi nih. Rencananya satu kelompok terdiri dari lima orang: aku, kamu, sama tiga cowok itu. Kamu mau bergabung dengan kami?"
Kirana tersentak pelan. Sungguh sebuah ide yang sangat di luar prediksinya. Setelah intrik dan gosip miring yang disebarkan Arsyila tadi siang, ia memperkirakan akan kesulitan menemukan kelompok. Namun kini, Dewi justru dengan terbuka dan ramah mengajak dirinya bergabung.
Sifat dasar Kirana yang berpikiran positif dan berprasangka baik membuat pertahanannya sedikit mengendur. Ia mengulas senyuman tulus.
"Wah, terima kasih banyak ya, Dewi," jawab Kirana lega. "Aku dengan senang hati bergabung dengan kelompok kalian."
Dari barisan belakang, Arsyila memperhatikan momen kesepakatan itu dari kejauhan. Seringai penuh kemenangan terukir jelas di wajahnya. Jebakan telah terpasang dengan sempurna—menjebak Kirana ke dalam kelompok yang nantinya akan dijadikan panggung untuk merusak reputasi akademik gadis panti asuhan tersebut.
Jam perkuliahan siang berakhir menjelang sore hari. Begitu dosen pengampu meninggalkan ruang kuliah, kelima mahasiswa yang tergabung dalam kelompok baru itu segera berkumpul di barisan bangku depan untuk merembeskan rencana pengerjaan tugas analisis kasus kedokteran yang diberikan tadi.
Kirana, yang merasa bersyukur karena mendapat sambutan hangat, langsung mengeluarkan buku catatannya dan pena dari dalam tas.
"Jadi, kira-kira kapan kita bisa mulai mengumpulkan data dan referensi jurnalnya?" tanya Kirana ramah kepada empat anggota kelompoknya: Dewi, Reno, Galang, dan Satria.
Sebelum yang lain sempat menjawab, Dewi langsung menyela dengan senyuman ramah yang tampak begitu meyakinkan. "Ehh, biar gampang dan fokus diskusi kita nggak terganggu suasana kampus, gimana kalau kita ngerjain tugasnya di kos aku aja?" usul Dewi cepat. "Di sana lebih tenang, fasilitas lengkap, dan kita bisa pesan makanan sambil ngerjain tugas bareng."
Reno dan dua cowok lainnya mengangguk setuju tanpa berpikir panjang. "Boleh juga tuh, Dewi. Kosan kamu kan dekat dari sini, kan?" sahut Galang.
Kirana sempat terdiam sejenak. Insting kecil di dalam hatinya mendadak berbisik pelan, merasakan ada sedikit kejanggalan dari cara Dewi yang terlalu bersemangat mengatur tempat pertemuan di luar kampus. Namun, menepis keraguan itu, Kirana menganggapnya sebagai bentuk antusiasme biasa dari seorang teman sekelompok yang ingin cepat menyelesaikan tugas.
"Boleh kalau memang semua sepakat," jawab Kirana tersenyum ramah. "Kapan kita mau mulai?"
"Bagaimana kalau lusa sore? Selepas jam kuliah selesai, kita langsung bareng-bareng ke kos Dewi," usul Satria memberikan kepastian.
"Setuju!" sahut Dewi dengan binar mata yang tampak berkilau penuh arti—binar yang luput dari pengamatan Kirana.
Dari balik rak buku besar di sudut koridor kelas yang agak remang, Arsyila mengamati gerak-gerik mereka dari kejauhan. Seringai penuh kemenangan terukir jelas di wajahnya. Perangkap pertama telah berhasil ditelan mentah-mentah oleh Kirana, dan panggung kehancuran yang dirancang oleh Dewi atas suruhannya kini tinggal menunggu waktu untuk diledakkan.