Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa lalu Lily Valley
Jauh sebelum dikenal sebagai Lily Valley, perempuan itu memiliki nama yang hanya diketahui oleh segelintir orang.
Yahiko Nariku.
Nama tersebut tercatat dalam dokumen keluarga Yahiko, salah satu keluarga paling berpengaruh dalam dunia bawah tanah Jepang. Ia merupakan putri tunggal Suzuki Yahiko, pewaris sekaligus penerus kekuasaan yang dibangun oleh ayahnya, Rengku Yahiko.
Kekayaan keluarga itu tidak hanya berasal dari bisnis legal yang tersebar di berbagai negara, tetapi juga dari jaringan yang selama puluhan tahun tumbuh di balik layar. Pengaruh mereka begitu luas hingga banyak orang menganggap keluarga Yahiko tidak mungkin dijatuhkan oleh siapa pun.
Suzuki Yahiko bukan sekadar pemimpin yakuza terbesar di Jepang. Ia juga dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Perusahaan, tanah, rekening, dan berbagai aset bernilai tinggi telah dipersiapkan untuk diwariskan kepada putri tunggalnya.
Namun, Suzuki memiliki satu kebiasaan yang tidak dipahami oleh banyak orang.
Ia tidak pernah menganggap kekuasaan sebagai jaminan keselamatan.
Karena itu, sebagian besar aset pribadinya telah didaftarkan atas nama Yahiko Nariku. Ia ingin putrinya memiliki hak hukum atas warisan tersebut, sekaligus memastikan bahwa kekayaan keluarga tidak mudah dirampas jika sesuatu terjadi kepadanya.
Keputusan itu kelak menjadi alasan para musuhnya memburu seorang gadis yang bahkan belum memahami besarnya kekuasaan yang diwarisinya.
---
Pada hari ketika keluarga Yahiko dihancurkan, Yahiko Nariku sedang mengikuti les privat di luar kediaman keluarganya.
Saat itu, usianya masih 12 tahun. Ia menghabiskan sore bersama pengajarnya, mempelajari bahasa asing dan memainkan alat musik yang disukai ibunya, Siumei Suga.
Sebelum berangkat, Siumei sempat merapikan rambut putrinya.
“Jangan pulang terlalu malam, Yahiko,” katanya sambil tersenyum. “Ibu akan menunggumu untuk makan malam.”
Gadis itu mengangguk patuh.
“Ibu harus menyiapkan makanan kesukaanku.”
“Tentu saja. Asalkan kau tidak mengeluh karena harus menghabiskan sayuranmu.”
Yahiko tertawa kecil sebelum meninggalkan rumah.
Itulah percakapan terakhirnya dengan sang ibu.
Menjelang sore, sebuah pertemuan besar berlangsung di salah satu tempat rahasia milik keluarga Yahiko. Sejumlah pemimpin kelompok yang berada di bawah pengaruh Suzuki hadir untuk membahas ancaman dari organisasi saingan.
Pertemuan tersebut seharusnya menjadi pertemuan biasa dengan pengamanan ketat. Setiap pintu dijaga, kendaraan diperiksa, dan orang-orang yang masuk telah melalui pemeriksaan identitas.
Tidak seorang pun menduga bahwa bahaya telah berada di dalam gedung sebelum pertemuan dimulai.
Minuman disediakan untuk para tamu. Tanpa diketahui siapa pun, racun telah dimasukkan ke dalamnya.
Satu per satu orang mulai kehilangan kendali atas tubuh mereka. Sebagian terjatuh dari kursi, sementara yang lain mengalami kejang sebelum sempat mengangkat senjata. Ketika keadaan berubah kacau, kelompok bersenjata menyerbu dari beberapa pintu masuk.
Tembakan terdengar bersahutan.
Orang-orang Suzuki berusaha melawan, tetapi serangan itu datang ketika banyak dari mereka sudah tidak mampu berdiri. Pengamanan yang selama ini dianggap tidak tertembus runtuh dalam waktu singkat.
Suzuki Yahiko segera menyadari bahwa serangan tersebut bukan kebetulan.
Tidak mungkin musuh mengetahui lokasi pertemuan, jadwal para pemimpin, serta cara melewati pengamanan mereka tanpa memperoleh informasi dari dalam.
Ada pengkhianat.
Seseorang yang mengetahui rahasia keluarga telah membuka jalan bagi pembantaian itu.
Namun, sebelum Suzuki sempat mengetahui siapa orang tersebut, tempat pertemuan berubah menjadi medan pembantaian.
Pada hari yang sama, kediaman utama keluarga Yahiko juga diserang.
Siumei Suga berada di rumah bersama para pelayan ketika sekelompok pria bersenjata menerobos masuk. Mereka mencari dokumen kekayaan Suzuki dan bukti kepemilikan aset keluarga. Siumei berusaha melindungi dokumen yang tersimpan di ruang kerja suaminya, tetapi tidak diberi kesempatan untuk menyelamatkan diri.
Ia tewas bersama para pelayan yang berusaha mempertahankan kediaman tersebut.
Dalam waktu beberapa jam, keluarga yang selama bertahun-tahun disegani itu kehilangan hampir seluruh orang yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Akan tetapi, para penyerang belum memperoleh hal yang paling mereka inginkan.
Mereka mencari surat kepemilikan harta Suzuki Yahiko.
Dokumen yang mereka temukan tidak sesuai dengan harapan. Sebagian besar aset utama telah tercatat atas nama Yahiko Nariku, putri tunggal Suzuki yang saat itu tidak berada di rumah.
Nama gadis itu membuat para penyerang menyadari bahwa pekerjaan mereka belum selesai.
Mereka harus menemukan pewaris tersebut.
---
Ketika mobil yang menjemput Yahiko memasuki jalan menuju kediamannya, gadis itu menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Gerbang utama terbuka lebar.
Beberapa kendaraan asing terparkir tidak beraturan. Tidak ada petugas keamanan yang menyambut mobilnya seperti biasa.
“Paman, mengapa gerbangnya terbuka?” tanya Yahiko kepada sopir keluarga.
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia memperlambat kendaraan, kemudian berhenti beberapa meter dari pintu masuk.
“Nonaku, tetaplah di dalam mobil.”
Namun, Yahiko telah melihat bercak merah di lantai dekat pintu utama.
Ia membuka pintu sebelum sopir sempat mencegahnya.
“Yahiko!”
Gadis itu berlari memasuki rumah.
Pemandangan di dalam membuat langkahnya terhenti. Lantai marmer yang biasanya bersih dipenuhi darah. Kursi-kursi terbalik, lukisan jatuh dari dinding, dan pecahan kaca berserakan di sepanjang lorong.
Ia menemukan salah seorang pelayan yang biasa menyambutnya setiap sore terbaring tidak bergerak.
Yahiko mendekat dengan langkah goyah.
“Bibi?”
Tidak ada jawaban.
Ia berlari menuju ruang keluarga, berharap menemukan ibunya di sana. Ketika akhirnya melihat Siumei terbaring di dekat sofa, dunia seolah berhenti baginya.
“Ibu?”
Yahiko berlutut di samping tubuh ibunya dan mengguncang bahunya dengan kedua tangan.
“Ibu, bangunlah. Aku sudah pulang.”
Tubuh Siumei tidak bergerak.
Tangis Yahiko pecah. Ia memanggil ibunya berulang kali, seolah-olah suara itu dapat mengembalikan perempuan yang selama ini selalu menyambutnya di rumah.
Sopir yang menyusul dari belakang berdiri kaku di ambang pintu. Wajahnya pucat, sementara kedua tangannya gemetar. Ia telah bekerja untuk keluarga itu selama bertahun-tahun, tetapi tidak pernah membayangkan akan menyaksikan kehancuran seperti ini.
Ia segera menarik Yahiko menjauh dari tubuh Siumei sebelum mengeluarkan telepon genggamnya.
Satu-satunya orang yang terpikir olehnya adalah Mahito Katagiri.
Pria tua itu merupakan sahabat dekat Rengku Yahiko, kakek dari Suzuki. Hubungan mereka telah terjalin jauh sebelum keluarga Katagiri mencapai kejayaan seperti sekarang. Mahito mengetahui rahasia keluarga Yahiko dan pernah berjanji kepada Rengku bahwa ia akan membantu menjaga keturunannya jika keadaan menjadi buruk.
Panggilan itu akhirnya tersambung.
“Mahito-sama!” Sopir tersebut berbicara terburu-buru. “Kediaman keluarga Yahiko diserang. Nyonya Siumei dan para pelayan—”
Suaranya tercekat.
Mahito yang berada di kediamannya yang tersembunyi di Jepang langsung berdiri.
“Apa yang terjadi dengan Suzuki?”
“Saya tidak tahu, Tuan. Namun, Nona Yahiko masih hidup. Ia baru pulang dari les privat.”
Mahito memejamkan mata sejenak.
Ia telah menerima kabar mengenai serangan di tempat pertemuan beberapa menit sebelumnya. Sekarang, laporan tentang kediaman utama memastikan bahwa musuh Suzuki telah menjalankan rencana yang jauh lebih besar daripada sekadar perebutan wilayah.
“Dengarkan aku,” kata Mahito tegas. “Jangan biarkan siapa pun mengetahui bahwa gadis itu masih hidup. Bawa dia keluar dari sana jika keadaan memungkinkan. Aku akan mengirim orang untuk menjemput kalian.”
Sopir itu mengangguk meskipun Mahito tidak dapat melihatnya.
Namun, sebelum bantuan tiba, beberapa kendaraan terdengar mendekati gerbang.
Para penyerang kembali.
Sopir itu segera meraih tangan Yahiko. Ia membawanya melalui lorong samping menuju pintu servis yang mengarah ke garasi belakang. Gadis itu masih menangis dan beberapa kali berusaha kembali untuk mencari ibunya.
“Paman, Ibu masih di dalam!”
Sopir itu tidak sanggup menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki waktu untuk kembali.
“Maafkan saya, Nona. Saya harus membawa Anda ke tempat yang aman.”
Mereka berhasil keluar melalui jalur belakang tepat sebelum para penyerang memasuki bangunan kembali.
Malam itu, Yahiko Nariku meninggalkan rumahnya tanpa mengetahui bahwa ia telah kehilangan hampir seluruh keluarganya.
---
Mahito tiba sebelum para pemburu menemukan jejak gadis itu.
Ia membawa Yahiko ke sebuah kediaman rahasia di Jepang, jauh dari pusat kota dan jaringan yang biasa digunakan keluarga Yahiko. Tempat tersebut telah disiapkan bertahun-tahun sebelumnya sebagai perlindungan bagi orang-orang yang dipercaya Mahito.
Di sana, Yahiko mendapatkan tempat tinggal dan identitas baru.
Nama Lily Valley kemudian digunakan untuk menyembunyikan nama aslinya. Catatan mengenai keberadaannya dibatasi hanya kepada beberapa orang yang dapat dipercaya. Mahito juga memastikan bahwa gadis itu tidak mengetahui seluruh rincian warisan yang tercatat atas namanya sampai ia cukup dewasa untuk memahaminya.
Bagi dunia luar, Yahiko Nariku telah menghilang bersama kehancuran keluarganya.
Sementara itu, Mahito menyimpan rahasia tersebut selama bertahun-tahun.
Ia tidak pernah melupakan janji yang dahulu dibuatnya kepada Rengku Yahiko. Ia juga tidak pernah menganggap Lily sebagai sekadar anak yang diselamatkannya. Gadis itu adalah pewaris terakhir sebuah keluarga yang dibantai oleh orang-orang yang menginginkan kekayaan dan kekuasaan mereka.
Mahito mengasingkannya ditempat persembunyian itu, hingga berusia 21 tahun sebelum akhirnya dia membawanya keamerika dan menjodohkannya dengan Satoshi, cucunya. Sekalipun disembunyikan Lily tetap mendapat pendidikan yang memadai dan fasilitas yang terpenuhi walau sederhana.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, Mahito kembali menerima kabar tentang Lily.
Ia mengetahui bahwa perempuan itu telah meninggalkan kediaman Katagiri dan terbang ke Jepang. Laporan berikutnya menyebutkan bahwa seseorang telah mengirim pesan kepadanya mengenai rumah yang dibelinya di sebuah desa terpencil.
Mahito segera memanggil orang kepercayaannya.
“Cari tahu siapa yang mengetahui alamat rumah itu,” perintahnya. “Jangan bertindak sembarangan. Aku ingin tahu apakah mereka mencari Lily atau warisan Suzuki.”
Pria di hadapannya menunduk.
“Bagaimana jika mereka sudah menemukan identitas aslinya?”
"Satoshi bajingan ini benar-benar tidak becus mengurus istri sendiri."
Mahito memandang foto Lily yang terletak di atas meja.
“Kalau mereka tahu siapa dia sebenarnya, berarti pengkhianat yang menghancurkan keluarga Yahiko belum berhenti bekerja.”
Ia kemudian membuka sebuah brankas kecil dan mengeluarkan dokumen lama dengan lambang keluarga Yahiko.
Di bagian bawah dokumen itu terdapat nama lengkap yang selama ini disembunyikan.
Yahiko Nariku, pewaris tunggal Suzuki Yahiko.
Mahito menutup kembali map tersebut.
Selama bertahun-tahun, ia berusaha menjaga gadis itu agar dapat hidup tanpa diburu oleh masa lalunya. Namun, seseorang kini telah menemukan jejak yang seharusnya tidak diketahui siapa pun.
Dan jika orang itu benar-benar berasal dari kelompok yang menyerang keluarga Yahiko, kedatangan Lily ke Jepang mungkin bukan awal kehidupan barunya.
Melainkan awal dari perebutan warisan yang tidak pernah benar-benar berakhir.
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁