hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 22
Tiga Hari Kemudian ...
Keadaan Damian kini semakin memburuk. Ketiga peluru yang bersarang di tubuhnya memang sudah berhasil dikeluarkan, tetapi luka-lukanya justru semakin parah.
Wajah Damian terlihat sangat pucat. Bahkan, luka akibat peluru yang mengandung air suci itu semakin melebar dari hari ke hari, menghitam di bagian tepinya seperti luka bakar. Tubuhnya yang biasanya kuat kini terbaring lemah di atas ranjang, tanpa menunjukkan tanda-tanda akan segera sadar.
Raina duduk di sisi ranjang putranya. Matanya sudah sembap karena terlalu lama menangis. Dengan tangan gemetar, ia menggenggam tangan Damian yang terasa dingin.
“Damian, Mami mohon, bangun, Nak,” pintanya lirih. “Mami sudah tidak tahan melihatmu seperti ini. Tolong buka matamu, Sayang.”
Namun, Damian tetap tidak bergerak. Matanya masih tertutup rapat, seolah-olah ia sama sekali tidak mendengar suara ibunya.
Raina menunduk, mengecup punggung tangan putranya, lalu kembali menahan tangis.
Tak lama kemudian, dokter yang menangani Damian menghampiri mereka dengan wajah penuh kebingungan. Sejak pertama kali memeriksa pasiennya, ia sudah menemukan banyak kejanggalan yang sulit dijelaskan secara medis.
“Yang Mulia, saya sudah melakukan pemeriksaan semaksimal mungkin,” ujar dokter itu dengan hati-hati. “Namun, ada sesuatu yang sangat aneh. Tuan Damian tidak memiliki detak jantung, tetapi beliau masih bernapas.”
Dokter itu berhenti sejenak, kemudian melanjutkan penjelasannya.
“Selain itu, luka-lukanya justru semakin membesar setiap hari. Saya belum pernah menemukan kasus seperti ini sebelumnya.”
Sebagai seorang dokter, ia tentu merasa kebingungan. Ia tidak mengetahui bahwa pasien yang sedang dirawatnya bukanlah manusia biasa, melainkan seorang vampir.
Berbeda dengan dokter tersebut, Raina sama sekali tidak terkejut mendengar bahwa Damian tidak memiliki detak jantung. Baginya, hal itu bukanlah sesuatu yang aneh. Ia justru semakin cemas melihat luka di tubuh putranya yang terus memburuk.
“Apakah tidak ada cara lain untuk menghentikan luka-luka itu agar tidak semakin parah?” tanya Raina, berusaha menahan kecemasannya.
Dokter itu menggeleng pelan.
“Kami akan terus berusaha melakukan yang terbaik untuk Tuan Damian, Yang Mulia. Untuk sementara, saya akan memeriksa kondisinya secara berkala.” Ia kemudian menundukkan kepala dengan sopan. “Kalau begitu, saya permisi keluar terlebih dahulu.”
Setelah dokter meninggalkan ruangan, suasana kembali hening.
Vandes yang sejak tadi berdiri di dekat pintu akhirnya memberanikan diri untuk berbicara. Wajahnya terlihat lelah, sementara tatapannya terus tertuju pada Damian yang belum juga sadarkan diri.
“Yang Mulia, apakah sebaiknya kita menjemput Nyonya Emma saja?” usul Vandes dengan suara berat. “Saya sudah tidak tahan melihat Tuan Damian seperti ini. Beliau terus memburuk, sedangkan kita hanya bisa menunggu tanpa melakukan apa-apa.”
Raina terdiam. Ia menatap wajah putranya, lalu mengalihkan pandangan kepada Vandes Sebelum ia sempat menjawab, Leonardo yang berdiri di dekat jendela tiba-tiba bersuara. Tatapannya tertuju pada Vandes dengan ekspresi datar.
“Bukankah sejak awal aku sudah mengatakan hal yang sama?” ucap Leonardo dingin.
Vandes langsung menundukkan kepalanya Leonardo mengembuskan napas panjang, kemudian melanjutkan dengan nada kecewa.
“Tetapi, apa yang kau katakan waktu itu? Kau justru menyuruh kami menunggu selama tiga hari.” Ia melirik Damian yang masih terbaring tak berdaya. “Sekarang, tiga hari sudah berlalu, dan putraku bahkan belum juga membuka matanya.”
Raina menggenggam tangan Damian semakin erat. Hatinya terasa sakit mendengar perkataan suaminya, sebab jauh di lubuk hatinya, ia tahu Leonardo benar Mereka sudah membuang tiga hari yang berharga Dan selama tiga hari itu pula, keadaan Damian tidak kunjung membaik.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Raina lirih. Suaranya terdengar rapuh, tidak lagi setegas biasanya.
Leonardo menatap istrinya sejenak sebelum kembali memandang putranya.
“Tidak ada pilihan lain. Kita harus membawa Emma kemari.”
Vandes segera mengangkat kepalanya. Ada sedikit harapan yang muncul di matanya.
“Kalau begitu, izinkan saya menjemput Nyonya sekarang juga, Tuan.”
Leonardo mengangguk tegas.
“Pergilah. Jangan buang waktu lagi.”
“Baik, Tuan!”
Vandes segera berbalik dan melangkah cepat meninggalkan ruangan Sementara itu, Raina kembali menatap Damian. Ia mengusap rambut putranya dengan lembut, lalu berbisik dengan suara bergetar.
“Bertahanlah sedikit lagi, Damian. Emma akan datang menemui mu, Nak. Jadi, jangan menyerah sebelum kau bertemu dengannya.”
Namun, Damian tetap terbaring tanpa memberikan jawaban.
Kini, satu-satunya harapan mereka adalah Emma—perempuan yang bahkan tidak mengetahui bahwa suaminya sedang berjuang di antara hidup dan mati.
...----------------...
Pranggg!
Suara pecahan vas terdengar nyaring, membuat beberapa pelayan yang berada tidak jauh dari sana sontak menoleh.
Emma yang sedang berjalan sambil memeluk boneka di tangannya tidak sengaja menabrak sebuah vas yang terletak di atas meja kecil. Vas itu pun terjatuh dan pecah berkeping-keping di lantai.
Nahas, beberapa pecahan vas mengenai kakinya.
“Aduh!” pekik Emma sambil meringis kesakitan.
Ia buru-buru menunduk untuk melihat kakinya. Darah segar mulai mengalir dari luka akibat pecahan vas tersebut.
Melihat kejadian itu, beberapa pelayan manusia langsung berlari menghampirinya. Namun, berbeda dengan mereka, para pelayan vampir justru berusaha menjauh sejauh mungkin. Aroma darah segar yang tercium membuat mereka kesulitan mengendalikan naluri mereka sendiri.
Bahkan, Sonia yang biasanya selalu berada di dekat Emma pun ikut menjauh dengan wajah tegang.
“Nyonya! Astaga, kaki Anda berdarah!” seru salah seorang pelayan dengan panik. Ia segera berlutut di hadapan Emma, berniat memeriksa luka di kaki majikannya itu.
Emma melirik darah yang terus mengalir, lalu buru-buru mengangkat kepalanya untuk melihat sekeliling.
Ia tahu betul bahwa sebagian besar pelayan di mansion ini bukanlah manusia biasa. Jika para vampir itu sampai kehilangan kendali karena mencium aroma darahnya, keadaan bisa menjadi berbahaya.
“Bantu aku!” pinta Emma dengan suara terburu-buru. Ia menatap pelayan yang berada di hadapannya. “Sebelum pelayan-pelayan yang lain datang, tolong bantu aku membersihkan darah ini. Cepat!”
“Tapi, Nyonya, luka Anda harus segera diobati,” jawab pelayan itu cemas.
“Aku tahu! Tapi, tolong bersihkan darahnya dulu!” desak Emma sambil berusaha menahan rasa sakit di kakinya.
Ia kembali melirik ke arah lorong tempat beberapa pelayan vampir tadi menghilang
Ya ampun, kenapa harus sekarang? Kalau mereka sampai tidak bisa menahan diri, bagaimana nasibku nanti? batin Emma panik.
Sementara itu, Sonia berdiri cukup jauh dari mereka. Tangannya mengepal erat, berusaha menahan dorongan naluriah yang muncul akibat aroma darah Emma.
“Nyonya ...” gumam Sonia pelan, wajahnya tampak pucat.
Ia ingin menghampiri Emma, tetapi tubuhnya seolah menolak untuk bergerak mendekat.
Di mansion yang biasanya tenang itu, aroma darah manusia kini menyebar perlahan, mengundang bahaya yang tidak pernah diharapkan Emma.
Pelayan itu segera membantu Emma berdiri, lalu menuntunnya menuju kamar tamu yang berada tidak jauh dari sana. Ia berjalan dengan hati-hati agar Emma tidak semakin kesakitan.
Sesampainya di kamar, pelayan itu mendudukkan Emma di tepi ranjang, kemudian mengambil kotak P3K untuk mengobati luka di kakinya.
“Nyonya, mungkin akan sedikit perih. Tolong tahan sebentar, ya,” ucapnya lembut sambil membersihkan luka Emma menggunakan kapas dan cairan antiseptik.
Emma mengangguk kecil, meskipun wajahnya sedikit meringis ketika cairan itu menyentuh lukanya.
“Aw, perih sekali!” keluh Emma sambil mencengkeram boneka yang sejak tadi dibawanya.
“Maaf, Nyonya. Saya akan melakukannya pelan-pelan,” jawab pelayan itu dengan hati-hati.
Emma memperhatikan wajah gadis di hadapannya. Sejak tinggal di mansion ini, ia sudah bertemu cukup banyak pelayan, tetapi sepertinya baru kali ini ia melihat gadis tersebut.
“Ngomong-ngomong, kau pelayan baru di sini?” tanya Emma penasaran.
“Iya, Nyonya,” jawab gadis itu sambil mengangguk.
Emma memiringkan kepalanya, mencoba mengingat apakah ia pernah melihat gadis itu sebelumnya.
“Siapa namamu? Sepertinya usia kita sebaya,” ujar Emma sambil tersenyum ramah.
“Nama saya Sonya, Nyonya. Usia saya dua puluh tiga tahun,” jawab Sonya sopan.
Mata Emma langsung berbinar.
“Benarkah? Usia kita sama!” serunya senang.
Sonya tersenyum kecil, lalu kembali fokus membalut luka di kaki Emma.
“Hm, Sonya, bagaimana kalau kau menjadi pelayan pribadiku saja?” tawar Emma tiba-tiba.
Sonya sontak mengangkat wajahnya. “Pelayan pribadi Nyonya?”
“Iya!” Emma mengangguk antusias. “Aku ingin punya pelayan manusia. Kau tahu, kan, hampir semua orang yang tinggal dan bekerja di mansion ini adalah vampir?”
Sonya terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan.
Tentu saja ia tahu.
Sebelum mulai bekerja di mansion itu, Vandes sudah menjelaskan kepada seluruh pelayan baru mengenai identitas para penghuni mansion. Mereka juga telah diperingatkan agar tidak bertindak sembarangan, terutama ketika berhadapan dengan para vampir.
Karena itulah, Sonya tidak terlalu terkejut mendengar ucapan Emma.
“Saya tahu, Nyonya. Tuan Vandes sudah menjelaskan semuanya kepada kami sebelum kami mulai bekerja di sini,” jawab Sonya.
Emma mengembuskan napas lega.
“Nah, berarti kau mengerti, kan? Aku bukannya tidak suka dengan pelayan vampir di sini. Mereka semua baik, kok. Hanya saja, terkadang aku merasa canggung karena mereka selalu terlihat begitu serius saat berada di dekatku.”
Emma mengerucutkan bibirnya, lalu melanjutkan dengan nada sedikit merengek.
“Aku juga ingin punya teman mengobrol yang seumuran. Jadi, bagaimana? Kau mau, kan?”
Sonya terdiam sejenak. Ia tidak menyangka akan mendapatkan tawaran seperti itu pada hari pertamanya bertugas Namun, melihat Emma yang menatapnya penuh harap, Sonya akhirnya tersenyum.
“Jika itu memang keinginan Nyonya, saya bersedia,” jawabnya sopan.
“Benarkah?” Emma langsung tersenyum lebar. “Yeay! Mulai sekarang, aku punya teman baru!”
Sonya terkekeh kecil melihat tingkah Emma yang begitu ceria, bahkan setelah kakinya terluka.
“Namun, Nyonya, saya tetap harus memanggil Anda dengan sebutan Nyonya, bukan?”
Emma mengembungkan pipinya.
“Huh, padahal aku ingin kita lebih akrab. Ya sudah, untuk sementara panggil aku Nyonya saja. Nanti kita pikirkan lagi bagaimana caranya supaya kau tidak terlalu canggung denganku.”
“Baik, Nyonya,” jawab Sonya sambil tersenyum.
Setelah selesai membalut luka Emma, Sonya membereskan peralatan P3K dan memastikan perban terpasang dengan baik.
Sementara itu, Emma memandangi perban di kakinya, lalu kembali tersenyum kepada gadis yang baru dikenalnya tersebut.
Ia tidak menyangka kejadian kecil akibat vas pecah justru membuatnya mendapatkan seorang pelayan pribadi yang juga manusia.
" di mana nyonya Emma!!, nyonya apakah kau terluka!!!"
"nyonya"
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭