Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Labirin Tanpa Sudut
Hans Lorte menatap tanpa berkedip pada secarik perkamen kecil di atas meja kerjanya yang berderit.
Di luar, hujan gerimis siang hari mulai berubah menjadi badai, menghantam kaca jendela buram kantornya. Namun, bukan badai itu yang membuat udara di dalam ruangan terasa membeku.
Tinta emas yang membentuk tulisan Divisi Nol di atas kertas itu sama sekali tidak mengering.
Tinta tersebut terus bergerak liar. Ia berdenyut pelan, merayap di antara serat perkamen seolah bernapas menyerap udara di sekitarnya.
Hans merogoh laci mejanya, mengambil sebuah pipet kaca dan sebotol alkohol murni beroktan tinggi. Ia menyedot cairan bening itu, menahannya tepat di atas perkamen, lalu meneteskannya.
Tess... SSSSS!
Bukannya luntur atau larut, tetesan alkohol itu justru menguap seketika saat menyentuh tinta emas!
Asap kebiruan yang berbau seperti logam terbakar membumbung ke udara. Suhu di sekitar meja kerja mendadak anjlok ekstrem.
KRAAAK...
Suara retakan halus terdengar. Lapisan embun beku merambat cepat dari pinggiran meja kayu, membekukan cangkir teh di dekatnya, hingga akhirnya menutupi sebagian kaca jendela dengan kristal es.
"Itu... itu bukan tinta biasa, kan?" bisik Evelyn tegang. Wanita itu berdiri mematung, merapatkan mantelnya menahan hawa dingin yang tak wajar.
"Ini pemadatan energi spasial kelas atas," sahut Hans datar. Mata kelabunya memicing tajam dari balik kaca pembesar berbingkai kuningan.
"Kerajaan tidak sekadar mempekerjakan pembunuh bayaran," lanjut Hans dingin. "Mereka memampatkan tekanan anomali dari cairan Palung Atlantik ke dalam bentuk cair yang stabil. Sebuah unjuk kekuatan fisik murni."
Pip melongok ngeri dari balik lengan panjang sang detektif. "Unjuk kekuatan? Maksud Tuan Lorte... mereka sengaja pamer pada kita?"
"Tepat," Hans mematikan sisa rokok gulungnya ke asbak yang kini sedingin es.
"Mereka memberitahu kita bahwa anomali yang nyaris meratakan Menara Air pagi tadi, hanyalah mainan kecil. Bagi Divisi Nol, anomali mematikan itu sekadar tinta untuk menulis surat undangan."
Hans berdiri tegap. Tubuhnya yang jangkung menjulang di tengah ruangan. Ia meraba anting perak bulan sabit di telinga kirinya, gestur mutlak saat otaknya mulai menyusun ribuan kemungkinan taktis.
Menginjakkan kaki ke Gedung Parlemen Westminster melalui pintu depan adalah tindakan bunuh diri. Otak rasionalnya menolak konfrontasi fisik terbuka jika musuh memiliki kendali ruang yang absolut.
"Lady Finch," Hans menatap lurus ke arah Evelyn. "Sebagai putri dari arsitek infrastruktur Kerajaan, adakah jalur mekanis rahasia menuju basement Westminster yang tidak melibatkan penjaga bersenjata?"
Evelyn mengangguk cepat. Rasa takutnya ditekan oleh tuntutan teknis. Ia membentangkan sebuah cetak biru usang berbau kapur barus di atas meja yang membeku.
"Sistem Tabung Pneumatik Parlemen," tunjuk Evelyn pada garis-garis pipa di bawah denah tata kota London. "Jalur pengiriman surat dan dokumen rahasia bertekanan udara."
Pip mengerutkan keningnya, menatap gambar pipa itu. "Pipa surat? Kita ini manusia berdarah daging, Nona, bukan gulungan kertas."
"Pipa utamanya berdiameter satu meter, Pip," Evelyn menatap anak jalanan itu dengan sisa kebanggaan akan karya ayahnya.
"Itu cukup lebar untuk dilewati tubuh manusia dewasa. Syaratnya, katup kompresor udara pembawa pesannya harus kita matikan dari Stasiun Pompa Victoria."
Hans menyambar topi pet kusam dan tongkat jalan berkepala besinya.
"Tiga mil dari sini," gumam Hans menghitung jarak. "Kita bergerak sekarang. Sebelum Divisi Nol memutuskan batas waktu undangannya habis."
Pukul 11.30 siang. Badai mengguyur London dengan brutalitas penuh.
Langit kelabu tertutup awan hitam legam. Asap cerobong pabrik yang biasanya membumbung tinggi kini tertekan ke bawah oleh hujan, menciptakan kabut berbau belerang yang mencekik jalanan.
Kereta kuda sewaan menurunkan mereka tepat di lorong belakang Stasiun Victoria.
Hans memimpin langkah, menembus genangan lumpur hitam. Tongkat besinya mengetuk trotoar batu, memastikan tidak ada agen Kerajaan yang mengikuti mereka.
TUK... TUK...
Ketiganya menuruni gorong-gorong berbatu bata hitam di bawah stasiun, menghindari pandangan para penjaga rel kereta di atas.
Udara pengap dan bau karat besi tua langsung menyergap paru-paru begitu mereka mencapai ruang bawah tanah.
WUSSSHHH!
Deru angin bertekanan tinggi terdengar memekakkan telinga dari dalam jaringan pipa baja raksasa yang menempel di dinding. Mesin-mesin uap di sekitarnya bergetar hebat.
Evelyn menerjang ke arah sebuah roda katup kuningan raksasa yang sudah berkarat hijau. Otot lengannya menegang keras, berusaha memutar roda baja itu.
"Macet!" jerit Evelyn menembus deru mesin. "Oksidasi air hujan mengunci engselnya!"
Hans melangkah maju dengan cepat. Ia menyelipkan ujung besi tongkat jalannya ke celah jari-jari roda kemudi tersebut.
"Hukum tuas pengungkit, Lady Finch. Tarik pada hitungan ketiga!" perintah Hans dingin. "Satu. Dua. Tiga!"
Keduanya mengerahkan seluruh berat badan mereka.
KLEK! KRAAAK...!
Karat hijau itu pecah berhamburan. Roda kuningan berputar berat ke arah kiri. Suara desis udara bertekanan tinggi di dalam pipa baja perlahan mereda hingga akhirnya mati.
Ting... SYUUT!
Sebuah pintu baja bundar di lantai terbuka secara otomatis. Lorong tabung yang gelap gulita dan berbau logam menganga di kaki mereka.
"Tekanan udara menuju Westminster sudah dinonaktifkan," napas Evelyn terengah, mengusap debu dari dahinya.
"Turun," perintah Hans tanpa emosi. "Pip di depan, aku di belakang."
Pip menelan ludah, lalu meluncur masuk ke dalam tabung. Diikuti Evelyn, dan terakhir Hans.
BLAAAM!
Pintu baja menutup di atas kepala Hans, menenggelamkan mereka dalam kegelapan absolut.
Gesekan kain mantel dengan dinding baja bergema bising. Jalanan menukik tajam ke bawah bumi.
SYUUUTTT!
Mereka merosot dengan kecepatan tinggi menembus perut London. Suara detak mesin uap pelabuhan di atas tergantikan oleh dengung logam resonansi tinggi dan hawa dingin dari kerak bumi.
Hans terus berhitung di dalam kepalanya menahan mual. Kecepatan luncur 25 mil per jam. Sudut kemiringan 15 derajat. Waktu tempuh sisa tiga menit.
Semakin dalam mereka meluncur, hawa dingin yang tidak alami mulai menembus mantel mereka. Bau ozon amis yang familier merayap masuk ke dalam hidung.
BUMP!
Sepatu boot Pip menghantam bantalan karet keras di ujung pipa. Evelyn dan Hans menabrak di belakangnya. Perjalanan yang menyesakkan napas itu akhirnya usai.
Hans mengangkat kedua tangannya di ruang sempit itu, lalu mendorong jeruji penutup tabung ke atas.
KRIEK...
Mereka merangkak keluar satu per satu, menghirup udara rakus-rakus. Namun, pemandangan yang menyambut mereka seketika membuat darah di pembuluh nadi membeku.
Bukannya tiba di ruang penyortiran arsip biasa, mereka berdiri di sebuah ruangan tak bertepi yang seluruh permukaannya berlapis pualam putih bersih.
Rak-rak kayu jati berukuran raksasa membentang tanpa batas. Tidak ada langit-langit. Tidak ada lantai dasar yang pasti.
Rak-rak buku itu menjulang ke atas, lalu meliuk ke bawah, dan menyambung ke samping secara mustahil hingga menghilang di titik buta mata.
Tangga-tangga kayu spiral terpasang terbalik. Lemari-lemari arsip menempel di dinding atas, dengan laci yang terbuka tapi isinya tidak tumpah.
Ruangan ini adalah kemustahilan geometri. Sebuah ruang non-Euclidean yang merobek kewarasan otak manusia.
"T-Tuan Lorte..." Pip gemetar hebat.
Kaki anak jalanan itu berpijak pada sebuah lempengan marmer yang mengambang begitu saja di tengah kehampaan. Di bawah sepatunya, hanya ada jurang rak buku yang tak berujung.
"Kita ada di mana?" tangis Pip ngeri.
Hans tidak menjawab. Mata kelabunya memicing dingin, menolak ilusi optik tersebut. Otaknya yang sangat logis memaksa memproses informasi spasial yang gila ini.
Tangan Pip yang gemetar tak sengaja menyenggol tepi sakunya. Sekeping koin tembaga shilling jatuh terlepas dari rompinya.
Alih-alih jatuh lurus ke bawah menuju jurang... koin tembaga itu melayang pelan setinggi lutut.
SYUUT!
Koin itu tiba-tiba berbelok ke kiri dengan sendirinya, lalu melesat lurus ke arah atas dengan kecepatan tinggi, melawan semua hukum alam semesta!
TRING! Koin itu membentur kaki meja yang menempel terbalik di langit-langit ruangan.
"Jangan bergerak satu inci pun dari pijakan kalian!" raung Hans menggelegar, memecah keheningan absolut ruangan rahasia tersebut. Tongkat besinya digenggam erat-erat.
Mata Hans menatap tajam ke arah rak-rak yang melengkung mustahil.
"Gravitasi di ruangan ini telah dipatahkan."