NovelToon NovelToon
Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Status: tamat
Genre:Horor / Penyelamat / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Una Lam

Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.

Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.

Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.

Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.

Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?

Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Rumah Ara Di Bakar

Asap hitam tebal membubung tinggi dari arah Langgur, terlihat bahkan dari dalam hutan larangan yang jaraknya hampir satu kilometer. Bau kayu terbakar dan bau plastik terbakar menyengat sampai ke hidung Ara, Jali, dan Edo yang sedang berlari sekencang mungkin keluar dari hutan.

Batu Tulis Leluhur yang menyala emas di pelukan Ara terasa semakin panas, seperti ikut marah melihat desa dibakar.

"Rumahku! Mama!" teriak Ara sambil berlari, air matanya mengalir deras. Kakinya tersandung akar-akar besar di dalam hutan, lututnya berdarah, tapi dia tidak peduli. Dia terus berlari.

Jali dan Edo berlari di belakangnya sambil membawa parang, terengah-engah.

Ketika mereka keluar dari mulut hutan larangan, pemandangan di depan mereka membuat mereka semua terdiam membeku.

Langgur seperti neraka sore itu.

Sepuluh truk besar yang kemarin, sekarang menjadi lima belas truk, semuanya parkir berjejer di jalan utama desa dengan lampu sorot menyala terang meski masih sore. Di tengah jalan ada satu mobil polisi dan satu mobil tentara dengan sirine yang meraung-raung. Sekitar tiga puluh orang laki-laki berbadan besar memakai helm proyek kuning dan membawa obor dan jerigen bensin berlarian membakar rumah-rumah warga satu per satu.

Rumah Pak Karim yang dari bambu sudah habis menjadi arang. Rumah Bu Ani yang kecil juga sudah terbakar, Bu Ani dan suaminya menangis sambil memeluk anaknya di tanah. Balai desa juga sudah dibakar, api menjilat atap sengnya.

Dan di ujung jalan, rumah Ara dan Mama Ino, rumah papan sederhana yang sudah mereka tinggali selama belasan tahun, sedang berkobar besar. Api merah menjilat dinding papan dan atap daun rumbia. Asap hitam tebal keluar dari jendela kamar Ara.

Dion berdiri di depan rumah Ara yang terbakar dengan senyum puas, masih memakai helm proyek kuning. Di sampingnya ada dua orang polisi dan satu tentara yang diam saja melihat rumah warga dibakar, tidak melarang sama sekali. Di tangan Dion ada megaphone.

"Warga Langgur yang tidak mau pindah! Ini peringatan terakhir! Dalam waktu satu jam kosongkan desa! Atau semua rumah akan kami bakar! Ini tanah negara, kalian duduki secara ilegal! Kami punya hak untuk bersihkan!" teriak Dion lewat megaphone dengan suara sombong.

Mama Ino terlihat duduk di tanah depan rumahnya yang terbakar, menangis histeris sambil memanggil nama Ara. "Ara! Ara! Rumah kita! Foto Revan masih di dalam! Surat-surat Revan masih di dalam!"

Mendengar itu, Ara langsung berlari sekencang mungkin ke arah rumahnya yang terbakar, tidak peduli ada polisi dan tentara di sana.

"Jangan, Ara! Berbahaya!" teriak Jali, tapi Ara tidak dengar.

Batu Tulis Leluhur yang menyala emas di pelukan Ara tiba-tiba bersinar sangat terang, sinarnya menyilaukan semua orang di sekitar. Cahaya emas itu membumbung tinggi ke langit sore yang penuh asap hitam, seperti mercusuar.

Semua orang yang membakar rumah, termasuk Dion, polisi, dan tentara, langsung menutup mata karena silau.

Di tengah kobaran api besar rumah Ara, dari dalam api itu sendiri, muncul siluet Revan. Tapi kali ini Revan tidak muncul dari pohon mangga raksasa, dia muncul dari dalam api rumah Ara. Tubuhnya terbuat dari api, rambutnya api, matanya api. Di tangannya ada foto keluarga kecil Ara, Mama Ino, dan Revan waktu Revan masih umur sepuluh tahun, foto yang selalu tergantung di dinding ruang tamu rumah Ara. Foto itu tidak terbakar, masih utuh di tangan Revan yang terbuat dari api.

Revan menatap Dion dengan mata api yang sangat marah.

"Kamu bakar rumahku lagi," kata Revan, suaranya bukan suara satu orang, tapi suara api yang berderak, suara kayu yang terbakar, suara tangisan Mama Ino.

Dion yang melihat Revan terbuat dari api di dalam rumah yang terbakar, langsung jatuh terduduk ketakutan, megaphone-nya jatuh.

"Hantu api! Hantu api!" teriak anak buah Dion yang membawa obor dan bensin, mereka semua lari tunggang langgang meninggalkan obor mereka.

Revan yang terbuat dari api itu melangkah keluar dari rumah yang terbakar, setiap langkahnya membuat tanah di bawahnya menghitam terbakar. Dia berjalan mendekati Dion yang masih terduduk di tanah.

Polisi dan tentara yang ada di samping Dion juga ketakutan dan mundur, tidak berani menembak karena mereka tahu peluru tidak mempan melawan hantu.

Revan yang terbuat dari api itu jongkok di depan Dion dan menyodorkan foto keluarga kecil itu ke depan wajah Dion.

"Ini rumahku. Ini mamaku. Ini adikku. Kamu bakar lagi untuk kedua kalinya. Lima tahun lalu kamu bakar rumahku waktu kamu bunuh aku. Sekarang kamu bakar lagi."

Dion menangis ketakutan, pipis di celana lagi. "Ampun... ampun... bukan saya yang bakar dulu... itu ayah saya... Pak Hendra... saya cuma..."

"Bohong," kata Revan api dengan suara pelan tapi membuat semua orang merinding.

Revan api mengangkat tangannya yang terbuat dari api dan menyentuh helm proyek kuning Dion. Helm itu langsung meleleh seperti plastik kena api.

Dion menjerit kepanasan.

Tapi sebelum Revan api membakar Dion hidup-hidup, Ara yang sudah sampai di depan rumahnya yang terbakar, berlari dan memeluk Revan api itu dari belakang, meski tubuh Revan api itu panas.

"Van! Jangan! Jangan jadi pembunuh! Jangan bakar dia! Kalau kamu bakar dia, kamu jadi sama seperti mereka! Kamu bukan Revan yang aku kenal! Revan yang aku kenal tidak suka bakar-bakar! Dia suka manjat pohon mangga!" teriak Ara sambil menangis, tangannya melepuh sedikit karena memeluk api, tapi dia tidak lepas.

Batu Tulis Leluhur yang jatuh dari pelukan Ara tadi karena dia berlari, menggelinding ke dekat kaki Revan api. Batu itu masih menyala emas terang.

Cahaya emas dari batu itu menyentuh kaki Revan api, dan perlahan, api di tubuh Revan padam, digantikan dengan asap putih. Tubuh Revan kembali menjadi Revan biasa, tidak terbakar, hanya memakai kaos putih. Foto keluarga kecil di tangannya masih utuh.

Revan menatap Ara yang memeluknya dari belakang, matanya yang tadi api, sekarang kembali coklat hangat dan berair mata.

"Maaf, Ra... aku marah lagi... aku hampir jadi monster lagi..." bisik Revan pelan.

Ara menggeleng sambil memeluk Revan erat, kali ini pelukannya hangat, tidak panas lagi.

"Tidak apa-apa, Van. Kita sudah selamatkan batunya. Kita bisa usir mereka pakai hukum adat, bukan pakai bunuh-bunuhan."

Revan mengangguk dan menghilang perlahan menjadi asap putih yang masuk kembali ke dalam Batu Tulis Leluhur yang menyala emas di tanah.

Batu itu berhenti menyala terang, cahayanya meredup menjadi cahaya pelan, seperti lampu tidur.

Api yang membakar rumah Ara dan rumah-rumah warga lainnya, padam dengan sendirinya, seperti ditiup angin besar dari arah laut, meski tidak ada angin. Rumah Ara sudah setengah hangus, atapnya habis, dindingnya hitam, tapi tidak habis total, masih berdiri.

Mama Ino langsung berlari memeluk Ara dan menangis keras.

Dion yang masih terduduk di tanah dengan helm meleleh, melihat semua anak buahnya sudah lari, polisi dan tentara juga sudah masuk ke mobil karena ketakutan melihat hantu api, dia langsung merangkak ke mobil hitamnya dan tancap gas pergi lagi, meninggalkan Langgur untuk ketiga kalinya.

Tapi kali ini, sebelum pergi, dia berteriak dari dalam mobil dengan suara ketakutan dan marah bercampur, "Aku akan kembali dengan pengacara! Aku akan bawa pengadilan! Kalian tidak bisa menang pakai hantu terus! Langgur akan tetap jadi tambang!"

Mobil hitam itu hilang di balik debu jalan.

Warga Langgur berkumpul di depan rumah Ara yang setengah terbakar, menatap Batu Tulis Leluhur yang menyala pelan di tanah.

Pak RT Unus mengambil batu itu dengan hati-hati.

"Dengan batu ini, kita bisa ke kota besok pagi dan laporkan perusahaan itu ke pemerintah adat provinsi. Tanah adat tidak bisa ditambang tanpa izin tetua adat. Kita punya bukti sekarang," kata Pak RT dengan suara tegas.

Ara menatap rumahnya yang setengah hangus, lalu menatap pohon mangga raksasa di halaman belakang yang masih bertunas hijau, lalu menatap Batu Tulis Leluhur di tangan Pak RT.

Perang fisik sudah selesai malam ini, tapi perang hukum baru akan dimulai besok di kota.

Dan Ara tahu, Dion pasti sudah siapkan pengacara mahal untuk melawan mereka di pengadilan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!