“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”
Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.
Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.
Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.
Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
Arunika diam terpaku selama beberapa detik. Air kotor masih menetes deras dari helai rambut dan gaunnya, mengalir membasahi lantai marmer putih yang tadinya mengkilap bersih.
Seluruh pelayan yang menyaksikan kejadian itu menahan napas dengan tatapan penuh iba dan ngeri. Di benak mereka, wanita itu pasti akan langsung menangis histeris atau memilih lari mengalah.
Namun, reaksi Arunika di luar dugaan siapa pun.
Perlahan, tangan Arunika terulur meletakkan sisa buah apel yang tadi digenggamnya di atas meja terdekat. Lalu, dengan santai ia menyingsingkan kedua lengan baju gaunnya hingga siku.
Wina mengernyitkan dahi, merasa aneh dengan ketenangan itu. "Apa yang kau lihat, hah? Cepat bersihkan lantai ini!"
Arunika meregangkan otot-otot bahunya pelan. Suaranya terdengar sangat ringan. "Kakak Ipar..."
"Apa lagi?!"
"Sejak remaja di rumah ayahku, aku sudah terbiasa mengangkat karung beras puluhan kilo setiap pagi. Menurutmu, mengangkat tubuhmu yang penuh drama ini sesulit itu?" ucap Arunika sambil melirik tubuh Wina dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan menilai.
Wina tertawa sinis, meremehkan. "Halah! Omong kosong apa—"
Belum sempat kalimat ejekan Wina tuntas, tawanya langsung terputus seketika.
"Eh?!"
Dalam satu gerakan kilat yang tidak disangka-sangka, tangan kokoh Arunika menyambar pinggang Wina dan mencengkeramnya kuat-kuat.
"Gendut! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan!" pekik Wina panik.
Namun tubuh besar Arunika sama sekali tidak bergeming. Tanpa buang waktu, Arunika mengangkat tubuh Wina ke udara dengan entengnya, seolah ia sedang mengangkat sekeranjang buah busuk.
"Astaga Tuhan!" pekik seorang pelayan histeris. "Nyonya Wina diangkat begitu saja?!"
Ratna yang baru saja turun dari lantai dua, membelalak lebar. "Wina!"
Wina meronta-ronta brutal di udara, memukul-mukul punggung Arunika.
"Turunkan aku! Cepat turunkan, bodoh! Kau gila ya?!"
Alih-alih menurut, Arunika justru berjalan santai menuju arah halaman belakang, tempat kolam renang mewah keluarga berada. Setiap langkah kaki Arunika menghantam lantai dengan mantap, membuat Wina semakin histeris ketakutan.
"Berani-beraninya kau! Lepaskan aku, sialan!" teriak Wina histeris di sepanjang lorong.
Arunika berhenti tepat di bibir kolam renang yang airnya jernih kebiruan. Ia menoleh sedikit, tersenyum manis.
"Lain kali, kalau mau iseng menyiram orang dengan air kotor, pastikan dulu kau sendiri bisa berenang, Kakak Ipar."
Tanpa aba-aba, tubuh Wina dilempar meluncur bebas ke tengah kolam renang. Air kolam terciprat ke segala arah hingga membasahi tepian. Wina menggapai-gapai air dengan panik luar biasa.
"Tooolooong! Aku tidak bisa berenang!"
Ratna menjerit histeris melihat putrinya nyaris tenggelam. "Pelayan bodoh, cepat selamatkan putriku!"
Beberapa pelayan langsung berlari panik mendekati bibir kolam. Namun langkah mereka mendadak membeku saat mendengar suara dingin Arunika.
"Jangan ada yang berani mendekat!"
Semua pelayan refleks menoleh. Arunika dengan santainya malah mengambil sebuah pelampung anak-anak berbentuk bebek kuning yang tergeletak di dekat kursi jemur. Tanpa rasa bersalah, ia melemparkan pelampung itu tepat ke arah Wina yang sedang megap-megap. Pelampung bebek itu mendarat mulus tepat di atas kepala Wina.
"Kalau mau tenggelam, setidaknya tenggelam lah dengan gaya yang elegan, Kakak Ipar," ejek Arunika.
Para pelayan yang melihat adegan absurd itu langsung menundukkan kepala dalam-dalam. Bahu mereka bergetar hebat menahan tawa yang hampir meledak keluar. Tak ada satu pun yang berani tertawa terang-terangan di hadapan Ratna.
Ratna hampir pingsan melihat putrinya mengambang di air sambil memeluk pelampung bebek kuning. "Arunika!" bentaknya murka luar biasa. "Kau benar-benar sudah melampaui batas!"
Arunika menepuk-nepuk kedua telapak tangannya seolah baru saja membersihkan debu ringan. "Nah. Sekarang urusan kita impas. Satu sama." Ia lalu berbalik badan, menghadap seluruh pelayan yang masih bergeming. "Kalian semua di sini saksikan dan lihat baik-baik."
Para pelayan langsung menegakkan kepala, mendengarkan.
"Hari ini aku diserang lebih dulu tanpa alasan. Aku disiram satu ember air kotor olehnya. Kalau nanti suamiku pulang, lalu tiba-tiba mengamuk karena ada yang mengadu padanya, jangan lupa ceritakan kronologinya secara utuh dari awal. Jangan ada yang berani memotong atau memutarbalikkan fakta. Karena aku paling benci kebohongan."
Para pelayan mengangguk serentak dengan penuh kepatuhan. "Baik, Nyonya! Kami akan bicara jujur!"
Wajah Wina yang masih di dalam kolam langsung pucat pasi. Ia tahu betul, kalau para pelayan bersaksi jujur, Arjuna pasti akan menghukumnya habis-habisan.
Ratna buru-buru berlari meminggirkan tubuhnya, membantu menarik putrinya keluar dari kolam air dingin. Begitu berhasil naik ke tepi, Wina langsung batuk-batuk mengeluarkan air, lalu menunjuk Arunika dengan jari gemetar penuh dendam kesumat.
"Kau... kau akan menyesal seumur hidupmu, gendut sialan!" maki Wina menggigil kedinginan.
Arunika melangkah maju mendekati mereka. "Ancaman basi seperti itu sudah terlalu sering kudengar, Kakak Ipar. Sayangnya, sampai detik ini belum ada satu pun orang yang berhasil membuatku menyesal."
Ratna menggertakkan giginya. "Arjuna pasti akan segera mengusir mu dari rumah ini!"
Arunika membungkuk sedikit, menatap lurus ke mata mertuanya tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Ibu Mertua tersayang, silakan mengadu pada anak kesayanganmu sepuasnya. Tapi jangan lupa ceritakan juga bagaimana putri kesayangan Ibu Mertua menyiram ku lebih dulu dengan air kotor. Kalau nantinya Arjuna tetap membela kalian setelah tahu kebenarannya, berarti memang aku salah memilih tempat untuk percaya pada suamiku."
Kalimat menohok itu sukses membuat Ratna bungkam.
Arunika membalikkan badannya, melangkah anggun meninggalkan halaman belakang. Namun sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah, ia menghentikan langkahnya dan berbicara tanpa menoleh.
"Oh ya, mulai hari ini dan seterusnya, jangan pernah sekali-kali mencoba menganggap tubuh besarku sebagai kelemahan atau bahan ejekan. Karena kalau kesabaranku benar-benar habis, yang tercebur ke kolam berikutnya bukan hanya satu orang."
Selesai melontarkan peringatan keras itu, Arunika melangkah masuk ke dalam rumah dengan kepala tegak.
Sementara di belakangnya, Wina langsung menjerit frustrasi sejadi-jadinya sambil menjambak rambut basahnya sendiri.
"Mama! Aku gagal lagi memberinya pelajaran! Kenapa si gendut itu licik sekali?!" seru Wina histeris.
Bantai aja Nika, mumpung Arjuna lagi tugas, jadi ga perlu akting2an kalian
udh pindah aj ke dapur itung2 latihan nanti kalo makan di penjara ,, 🤭🤭🤣🤣🤣 ,, biar gx kaget