NovelToon NovelToon
Madu Yang Pahit

Madu Yang Pahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ijab Kobul

Pagi itu, rumah keluarga Wiratama di Bandung sudah ramai sejak matahari belum terlalu tinggi. Beberapa orang sibuk memastikan dekorasi terpasang dengan baik, sementara yang lain mengurus hidangan dan menyambut keluarga yang mulai berdatangan.

Di tengah kesibukan itu, Alya duduk di depan meja rias kamarnya. Ia sudah mengenakan kebaya pengantin berwarna putih dengan hiasan sederhana yang membuat penampilannya terlihat anggun. Jilbab putih membingkai wajahnya, dipadukan dengan riasan tipis yang tidak menghilangkan kesan alami pada wajahnya.

Maya berdiri di belakang putrinya, merapikan sedikit bagian jilbab yang menutupi bahu Alya.

“Cantik sekali putri Ibu hari ini,” ucapnya sambil tersenyum.

Alya memandang ibunya melalui cermin. Senyumnya muncul, meskipun kegugupan tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.

“Jangan bikin Alya nangis, Bu. Nanti riasannya rusak.”

Maya tertawa kecil, lalu mengusap bahu putrinya.

“Ibu cuma senang melihat kamu sampai di hari ini. Rasanya baru kemarin kamu masih kecil dan selalu mengikuti Ibu ke mana-mana.”

Alya menunduk sebentar. Ia tahu pernikahan ini bukan sekadar keinginan kedua orang tua mereka. Ia sendiri sudah mencoba membuka hati untuk mengenal Arga, laki-laki yang selama ini lebih banyak ia kenal melalui pertemuan keluarga.

Arga memang bukan pria yang banyak bicara. Namun, selama beberapa kali mereka bertemu, laki-laki itu selalu memperlakukannya dengan baik. Alya berharap kebaikan tersebut bisa menjadi awal yang cukup untuk membangun kehidupan bersama.

Di tempat lain, Arga sedang duduk di ruang tamu rumah keluarga Wiratama. Ia sudah mengenakan pakaian pengantin dan sesekali memeriksa ponselnya yang tergeletak di atas paha.

Ada beberapa pesan masuk dari Nadira sejak pagi.

Mas, kamu sudah bangun?

Beberapa menit kemudian, pesan lain menyusul.

Hari ini jadi pulang, kan? Aku mau masakin sesuatu buat kamu.

Arga membaca pesan itu berulang kali. Dadanya terasa sesak, tetapi ia tetap tidak membalasnya. Ia bahkan tidak sanggup membayangkan apa yang akan dikatakan Nadira jika perempuan itu mengetahui bahwa hari ini dirinya akan menikahi wanita lain.

Ponselnya kembali bergetar. Kali ini sebuah panggilan masuk dari Nadira.

Arga menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol senyap. Ia tidak berani mengangkatnya. Bukan karena tidak ingin mendengar suara perempuan yang dicintainya, melainkan karena ia takut kehilangan kendali dan mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak lagi ia sembunyikan.

Arga akhirnya mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum seseorang menyadari kegelisahannya.

“Arga, sebentar lagi akadnya dimulai. Kamu sudah siap?” Suara ayahnya terdengar dari arah pintu.

Arga menoleh. Aditya berdiri di sana dengan pakaian formal yang rapi. Wajahnya menunjukkan kebahagiaan seorang ayah yang akan menyaksikan putranya memulai kehidupan rumah tangga.

“Iya, Yah. Aku siap.”

Aditya menepuk bahu putranya. “Ayah tahu kamu bisa menjalani ini dengan baik. Pernikahan bukan hanya tentang dua orang, tetapi juga tentang tanggung jawab. Jaga Alya baik-baik, ya.”

Arga mengangguk tanpa banyak bicara.

Kalimat sederhana itu justru terasa seperti beban tambahan di dadanya. Ia tahu ayahnya mengucapkan semua itu dengan tulus, tanpa mengetahui bahwa putranya telah menyimpan rahasia yang bisa melukai banyak orang.

“Sudah, ayo. Keluarga Alya menunggu.”

Arga mengikuti ayahnya menuju ruang utama tempat akad nikah akan dilangsungkan. Di sana, beberapa anggota keluarga sudah duduk dengan tertib. Penghulu dan para saksi telah bersiap di tempat masing-masing, sementara suasana rumah yang sejak pagi ramai perlahan berubah lebih khidmat.

Arga duduk di hadapan penghulu. Ia merapikan posisi duduknya, lalu melirik sebentar ke arah keluarga Alya yang hadir. Adrian duduk di tempat yang telah disediakan, didampingi Maya dan beberapa kerabat dekat.

Tidak lama kemudian, Alya keluar bersama ibunya. Perempuan itu berjalan dengan langkah perlahan dalam balutan kebaya putihnya. Jilbab putih yang dikenakannya membingkai wajahnya dengan anggun. Ia menundukkan pandangan, berusaha menyembunyikan kegugupan yang sejak tadi membuat telapak tangannya terasa dingin.

Ketika Alya duduk di tempat yang telah disediakan, pandangan mereka sempat bertemu. Arga memberikan senyum tipis. Alya membalasnya dengan senyum kecil yang penuh harapan.

Tidak ada yang mengetahui bahwa di balik senyum itu, Arga sedang berjuang menekan rasa bersalah yang semakin sulit ditanggungnya.

Penghulu kemudian memulai prosesi dengan beberapa nasihat tentang pernikahan, tanggung jawab suami dan istri, serta pentingnya menjaga kepercayaan dalam rumah tangga. Setiap kalimat yang didengarnya terasa seperti teguran bagi Arga.

Ia menundukkan kepala, memperhatikan kedua tangannya sendiri. Sesekali, ia melirik Alya yang duduk tenang di sampingnya.

Perempuan itu mempercayainya. Keluarga Alya juga mempercayainya. Namun, ia telah membiarkan mereka melangkah menuju sebuah pernikahan tanpa mengetahui seluruh kenyataan tentang dirinya.

“Baik, kita mulai prosesi ijab kabul,” ujar penghulu.

Ruangan mendadak sunyi. Adrian mengambil posisi sebagai wali nikah bagi putrinya. Arga duduk lebih tegak, lalu mengulurkan tangan untuk menyambut tangan Adrian. Ia menarik napas panjang ketika penghulu memberi isyarat bahwa prosesi akan segera dimulai.

Adrian mengucapkan ijab dengan suara mantap. Arga mendengarkan setiap kata dengan saksama, kemudian menjawab kabul dengan lancar dan tegas.

“… Saya terima nikahnya Alya Kirana binti Adrian Wiratama dengan mas kawin tersebut, tunai.”

Sesaat setelah kalimat itu selesai diucapkan, ruangan kembali dipenuhi keheningan singkat. Para saksi saling memandang, kemudian mengangguk.

“Sah!”

Ucapan itu disambut dengan rasa syukur dari keluarga yang hadir.

“Alhamdulillah!”

Beberapa orang mengusap mata yang mulai basah. Maya memeluk Adrian dengan wajah bahagia, sementara Ratna tersenyum lega melihat putranya telah resmi menikah.

Alya menundukkan kepala. Air mata bahagia menggenang di matanya ketika menyadari bahwa dirinya kini telah menjadi seorang istri. Ia berusaha menghapus air mata itu dengan hati-hati agar riasannya tidak berantakan.

Ketika Arga menghampirinya, Alya mengangkat wajah dengan senyum malu-malu. Arga mengulurkan tangan. Alya menyambutnya, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan penuh hormat. Arga menatap perempuan itu beberapa saat sebelum mengusap lembut kepalanya.

“Semoga kita bisa menjalani semuanya dengan baik ya, Mas” ucap Alya pelan.

Arga mengangguk dan mengusap kepala Alya yang terbalut hijab. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa dan hanya tersenyum tipis.

Alya pun ikut tersenyum. Senyuman yang begitu tulus. Ia tidak meminta janji muluk-muluk, hanya berharap laki-laki yang kini menjadi suaminya bersedia membangun rumah tangga bersamanya.

Sementara itu, Arga kembali merasakan sesak di dadanya. Ia baru saja mengucapkan kabul dan resmi mengambil tanggung jawab sebagai suami Alya. Namun, ada seorang perempuan lain di Jakarta yang juga menganggap dirinya sebagai suami yang akan pulang kepadanya.

Arga menundukkan pandangan, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan dokumen pernikahan dan sesi foto keluarga. Beberapa kerabat menghampiri pasangan pengantin untuk memberikan ucapan selamat. Arga menyambut mereka dengan sopan, sedangkan Alya berusaha menikmati setiap momen yang sejak lama ia bayangkan.

“Selamat, ya, Alya. Semoga menjadi keluarga yang bahagia,” ujar salah seorang kerabat sambil memeluknya.

“Terima kasih,” jawab Alya dengan senyum hangat.

Di sela-sela acara, Alya beberapa kali melirik Arga. Ia masih merasa canggung karena kini harus memanggil laki-laki itu sebagai suaminya, tetapi ada kebahagiaan kecil yang tumbuh dalam hatinya.

Arga pun berusaha menjalankan perannya dengan baik. Ia berdiri di samping Alya ketika mereka berfoto, menemani istrinya menyambut keluarga, dan sesekali bertanya apakah perempuan itu merasa lelah.

Semua terlihat berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang menyadari bahwa setiap kali ponsel Arga bergetar di dalam sakunya, pikirannya kembali tertuju pada Nadira.

Ia tidak membuka pesan-pesan itu. Ia juga tidak berani memeriksa apakah ada panggilan baru. Untuk sementara, ia memilih mengabaikan semuanya dan menyelesaikan acara yang masih berlangsung.

Menjelang sore, rangkaian acara pernikahan akhirnya selesai. Para tamu mulai berpamitan, sementara keluarga sibuk membereskan beberapa keperluan.

Alya duduk sebentar di ruang keluarga bersama ibunya. Wajahnya terlihat lelah, tetapi senyumnya belum juga hilang.

“Capek, Sayang?” tanya Maya sambil membelai tangan putrinya.

“Sedikit, Bu. Tapi Alya senang.”

Maya tersenyum, lalu memeluknya. “Ibu berharap kamu bahagia. Kalau ada masalah dalam rumah tangga nanti, jangan dipendam sendiri. Bicarakan baik-baik dengan suamimu.”

Alya mengangguk. Ia belum mengetahui bahwa nasihat sederhana itu akan segera menjadi sesuatu yang sulit ia jalani.

Matahari mulai turun ketika Arga dan Alya akhirnya bersiap kembali ke kamar pengantin. Hari yang dipenuhi senyum, doa, dan ucapan selamat itu telah berakhir.

Bagi Alya, hari ini merupakan awal dari kehidupan baru yang ingin dijalaninya dengan penuh harapan. Sedangkan bagi Arga, hari ini justru menjadi awal dari kebohongan yang semakin sulit disembunyikan.

1
Setyowati Setyowati
lanjut 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kemungkinan Nadira hamil ..dan tidak ada alasan untuk minta pisah ...Alya dan Nadira sama" terjebak pada laki" yg egois ..tidak ada pemenang maupun yg kalah ..karena kedua" nya posisinya sama ..di tipu di sembunyikan dari istri lainnya
Setyowati Setyowati
maaf .. sampai lupa kasih bintang 5 ..keasikan baca
Setyowati Setyowati
masih merasa enak ya si Arga Tengo sana sini masih oke ..tp kalau semua sudah ketahuan sama orangtua dan Nadira ...apa alasan yg keluar dari mulutmu
Setyowati Setyowati
angga lagi mampir ya thor
Anita Giu: Ah typo 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!