Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9 - Maya Tidak Tinggal Diam
Maya datang ke apartemen Nadira membawa nasi padang dan amarah.
"Aku tahu kamu bilang jangan cari Laras," katanya begitu masuk, "jadi aku tidak cari dia. Tapi kalau perempuan itu muncul lagi, aku tidak janji."
Nadira mengambil kantong makanan. "Kamu jurnalis, bukan preman."
"Jurnalis juga bisa marah."
"Kalau kamu masuk berita karena jambak-jambakan di apartemen, redakturmu senang?"
"Tergantung judulnya."
Nadira akhirnya tersenyum kecil.
Maya menunjuk wajahnya. "Nah. Itu. Susah sekali bikin kamu senyum. Arga harus bayar mahal untuk kerusakan emosional ini."
"Jangan mulai."
Mereka makan di lantai ruang tamu karena meja kecil masih penuh berkas. Maya sudah terbiasa dengan hidup Nadira yang rapi tapi tidak pernah benar-benar santai. Dari dulu, Nadira bisa mengatur jadwal operasi, jadwal obat Mama Renata, biaya sekolah Fadli, dan cicilan rumah orang tua angkatnya, tapi lupa mengatur waktu tidur sendiri.
"Jadi Laras bilang apa?" tanya Maya sambil membuka rendang.
Nadira menceritakan singkat.
Maya meletakkan sendok keras-keras. "Dia benar-benar pakai anak untuk menekan kamu?"
"Dia ibu. Mungkin dia panik."
"Jangan terlalu baik. Panik bukan alasan merebut posisi istri orang."
"Aku sudah bilang begitu."
Maya menatapnya bangga. "Bagus. Aku suka Nadira versi ini."
"Versi apa?"
"Versi tidak minta maaf karena bernapas."
Nadira diam.
Maya sadar kalimat itu terlalu tepat. Ia menurunkan suara.
"Dir, aku tahu kamu tumbuh sebagai anak angkat dan selalu takut dianggap beban. Tapi di kasus ini, kamu bukan beban siapa pun. Kamu istri sah yang ditinggalkan. Kalau ada yang harus malu, itu Arga dan semua orang yang membiarkan kamu menunggu."
Nadira menyuap nasi perlahan.
"Mama Renata tidak membiarkan. Dia baik."
"Aku tahu. Tapi kebaikan mertua tidak menggantikan suami."
Nadira tidak menjawab.
Bel pintu berbunyi.
Maya langsung berdiri. "Kalau itu Laras..."
"Duduk."
Nadira melihat interkom. Bukan Laras. Bima berdiri di depan pintu dengan wajah tidak enak.
"Mas Bima."
Maya menyipit. "Anak buah Arga?"
Nadira membuka pintu setengah. "Ada apa?"
Bima mengangguk sopan. "Maaf mengganggu, Dokter. Komandan meminta saya mengantar ini."
Ia menyerahkan paper bag dari apotek dan kotak makanan.
"Obat tambahan untuk luka kaki Dokter. Dan sup ayam dari Mama Renata."
Nadira menatap barang itu.
"Kaki saya baik-baik saja."
"Komandan melihat Dokter pincang waktu di rumah sakit."
Maya mendengus dari belakang. "Matanya masih berfungsi ternyata."
Bima pura-pura tidak mendengar.
Nadira tidak mengambil. "Saya tidak membutuhkan."
Bima tampak sudah siap ditolak. "Kalau Dokter menolak dari Komandan, anggap dari Mama Renata. Beliau yang masak."
Itu curang.
Nadira mengambil paper bag dan makanan.
"Terima kasih."
Bima mengangguk. "Ada satu lagi."
Ia mengeluarkan amplop kecil.
"Komandan ingin menyampaikan ini, tapi beliau tidak berani datang langsung karena takut Dokter terganggu."
Maya berbisik, "Akhirnya punya otak."
Nadira meliriknya, lalu menerima amplop itu.
Bima pamit.
Begitu pintu tertutup, Maya langsung mendekat.
"Buka."
"Kamu terlalu semangat."
"Aku butuh hiburan."
Nadira membuka amplop. Di dalamnya ada kartu kecil dengan tulisan tangan Arga yang tegas.
Nadira,
Aku tidak akan memaksa masuk lagi. Aku akan belajar mengetuk.
Untuk luka kakimu, minum obatnya. Kalau sakit, hubungi dokter. Kalau kamu tidak mau hubungi aku, setidaknya hubungi orang yang kamu percaya.
Aku tahu aku bukan orang itu sekarang.
Arga.
Maya membaca dari samping, lalu diam.
"Sial," katanya akhirnya.
"Apa?"
"Kalimatnya lumayan."
Nadira melipat kartu itu. "Jangan mudah terkesan."
"Aku tidak. Aku cuma objektif. Sebagai pembenci sementara Arga, aku mengakui ini langkah kecil yang benar."
Nadira menyimpan kartu di meja, tidak di tempat sampah.
Maya melihat itu, tapi tidak berkomentar.
Keesokan harinya, Maya datang ke Rumah Sakit Cakra Medika untuk meliput kegiatan donor darah. Ia sengaja memilih jadwal saat Nadira bertugas. Katanya sekalian makan siang, tapi sebenarnya ia ingin memastikan tidak ada Laras berkeliaran.
Di koridor lantai VIP, Maya melihat Laras keluar dari lift bersama Kendra. Anak itu memegang boneka dinosaurus. Wajahnya murung.
Maya tidak berniat mengganggu anak kecil. Ia hanya berdiri di sisi koridor.
Namun Laras melihatnya lebih dulu.
"Kamu temannya Dokter Nadira?"
Maya tersenyum sopan. "Maya. Jurnalis. Sahabat Nadira."
Laras menatap kartu pers di leher Maya. "Pantas."
"Pantas apa?"
"Cara bicara kalian sama. Sama-sama merasa paling benar."
Maya memandang Kendra, lalu menurunkan suara. "Bu Laras, ada anak di sini. Jangan mulai."
Laras tertawa pendek. "Aku yang mulai? Nadira yang masuk ke hidup kami."
Maya menahan napas.
Ia sudah berjanji pada Nadira tidak membuat keributan.
Tapi janji itu terasa makin sulit.
"Setahu saya, Nadira menikah dengan Arga empat tahun lalu. Kalau ada yang masuk ke hidup orang lain, hitungannya bisa berbeda."
Wajah Laras mengeras.
Kendra menarik baju ibunya. "Ma, aku mau lihat Papa Arga."
Maya berjongkok di depan Kendra. "Hai. Kamu Kendra, ya?"
Anak itu mengangguk ragu.
"Om Arga masih sakit. Kalau kamu masuk, jangan bikin dia capek, oke?"
Kendra mengerutkan kening. "Om? Papa Arga."
Maya menatap Laras.
Laras langsung memeluk anak itu. "Ayo, Sayang."
Maya berdiri. "Bu Laras."
Laras berhenti.
"Anak kecil percaya apa yang orang dewasa ajarkan. Kalau suatu hari dia sakit karena tahu kebenaran, itu bukan salah Nadira."
Laras berbalik dengan mata basah. "Kamu tidak punya hak bicara tentang anakku."
"Benar. Saya bicara tentang kebohongan orang dewasa."
Tangan Laras terangkat.
Tamparan itu tidak sempat mendarat.
Seseorang menahan pergelangan tangannya.
Arga berdiri di belakang Laras, wajahnya pucat tapi matanya dingin.
"Cukup."
Laras terkejut. "Mas Arga..."
Kendra langsung berlari memeluk kaki Arga. "Papa!"
Arga memejamkan mata sebentar. Ia berjongkok pelan meski lukanya pasti sakit.
"Kendra."
"Papa sakit?"
"Iya. Tapi sudah lebih baik."
"Mama bilang Papa marah sama Kendra."
Arga menatap Laras.
Laras menunduk.
Arga mengusap rambut Kendra. "Aku tidak pernah marah sama Kendra."
"Terus kenapa Mama nangis?"
Pertanyaan itu menusuk semua orang.
Arga menjawab hati-hati. "Karena orang dewasa kadang membuat kesalahan. Aku juga. Mama juga."
"Papa bukan papa Kendra?"
Maya menahan napas.
Laras langsung berkata, "Kendra..."
Arga mengangkat tangan, menghentikan Laras.
Ia menatap anak itu. "Ayah kandung Kendra namanya Bayu. Dia sahabat Om Arga. Dia laki-laki yang sangat berani."
Mata Kendra mulai berkaca-kaca. "Jadi Papa Arga bukan papa?"
"Aku sayang Kendra. Aku akan tetap jaga Kendra kalau Kendra butuh. Tapi Kendra punya Papa Bayu. Jangan lupa dia."
Kendra menangis.
Laras juga menangis, tapi kali ini Arga tidak memeluknya. Ia memanggil Bima untuk membawa Kendra ke ruang bermain anak di lantai bawah.
Setelah anak itu pergi, Arga menatap Laras.
"Jangan pernah lagi memukul orang karena mereka mengatakan kebenaran."
Laras gemetar. "Maya menghina aku."
Maya mengangkat alis. "Saya belum mulai."
Arga menoleh ke Maya. "Terima kasih sudah menahan diri."
"Saya hampir tidak."
"Saya tahu."
Nadira muncul dari ujung koridor bersama perawat. Ia melihat Arga, Laras, dan Maya dalam satu garis ketegangan.
"Apa yang terjadi?"
Maya langsung menjawab, "Tidak ada yang berdarah. Untuk ukuran hari ini, itu prestasi."
Nadira menatap Arga.
Arga berkata, "Laras mencoba menampar Maya."
Nadira menoleh ke Laras.
Laras menggigit bibir. "Temanmu ikut campur."
Nadira berjalan mendekat, berdiri di samping Maya.
"Kalau Anda punya masalah dengan saya, hadapi saya. Jangan sentuh sahabat saya."
Laras tertawa sinis. "Kamu selalu punya orang yang membela."
"Karena saya tidak memakai anak kecil sebagai tameng."
Laras seperti ditampar.
Arga menatap Nadira. Ada rasa kagum yang tidak ia sembunyikan. Nadira tidak berteriak, tidak menangis, tapi kata-katanya memaku orang di tempat.
Laras pergi dengan langkah gemetar.
Maya mengembuskan napas. "Aku layak dapat kopi."
Nadira menatapnya. "Kamu layak dapat omelan."
"Setelah kopi."
Arga menatap Nadira. "Maaf."
"Untuk yang mana?"
"Hari ini. Kemarin. Empat tahun. Pilih saja."
Nadira tidak menjawab.
Perawat memanggilnya dari belakang.
"Dok, pasien di ruang tindakan sudah siap."
Nadira berbalik pergi, tapi berhenti sebentar.
"Mayor Arga."
"Ya?"
"Jangan turun ke koridor tanpa pengawasan. Anda masih pasien."
Kalimat itu dingin.
Tapi Arga mendengarnya seperti perhatian kecil.
"Baik, Dokter."
Maya menatap Nadira, lalu Arga, lalu tersenyum miring.
"Wah. Gawat."
Nadira meliriknya. "Apa?"
"Tidak. Kopi mana?"
Namun saat Nadira berjalan pergi, Maya melihat Arga masih menatap sahabatnya.
Kali ini bukan tatapan laki-laki yang merasa berhak.
Itu tatapan orang yang baru menyadari sesuatu yang berharga sudah berjalan menjauh darinya.