Dari seorang pangeran yang diagungkan, Jiang Yui kini beralih profesi menjadi "makcomblang sakti" keliling dunia.
Mulai dari pendekar pedang wanita yang dingin dari sekte es, pangeran dari faksi musuh, hingga siluman rubah yang galau—semuanya harus ia satukan dalam ikatan cinta.
Ditemani oleh layar sistem magis yang mengejek setiap kegagalannya, mampukah Jiang Yui merajut kisah cinta orang lain demi menyelamatkan takdir cintanya sendiri, atau ia justru terjebak selamanya sebagai perjaka tua terkuat di dunia kultivasi?
Jangan lupa like,komen dan subscribe ya kakak, biar author ya semangat ,,dukungan kalian sangat berharga... makasih 🫶🫶🫶🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. M yanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Jiang Yui tertawa renyah, merangkul pundak makhluk purba itu dengan akrab.
"Tenang saja! Urusan kriteria khusus adalah keahlian utamaku. Selamat datang di tim, Kawan. Mari kita pastikan jurang hampa itu sekarang punya lampu hias yang romantis!"
Liu Tian dan Tetua Lu langsung bertepuk tangan meriah, sementara Bai Ling tersenyum hangat.
Sekali lagi, dengan secercah empati dan sedikit candaan sarkas, sang mantan perjaka tua berhasil menyelamatkan alam semesta dari ancaman kehancuran, bukan dengan darah dan pedang, melainkan dengan birokrasi cinta yang paling mematikan.
Angin kosmik berembus lembut, membawa serta serpihan cahaya bintang yang berpendar bagai debu berlian di atas kubah Sembilan Langit.
Suasana di pelataran utama istana kini jauh berbeda dari hari-hari penuh ketegangan di masa lalu.
Di bawah langit tanpa batas itu, meja-meja kayu giok tertata rapi, dipenuhi cangkir-cangkir teh hangat yang mengepulkan aroma wangi bunga persik.
Kaisar Kegelapan Mutlak, yang kini telah menanggalkan jubah kabut hitamnya dan tampil dengan jubah abu-abu sederhana, duduk berdampingan dengan seorang dewi bintang berwajah tenang.
Mereka tampak asyik membicarakan rasi bintang terjauh sambil sesekali tertawa kecil, sebuah pemandangan yang membuat siapa pun yang melihatnya akan menggelengkan kepala tak percaya.
Makhluk paling ditakuti di jurang hampa kini telah menemukan tempat untuk berlabuh.
Tidak jauh dari sana, Murong Chen tampak sibuk mencatat laporan data perjodohan di balik meja kerjanya dengan gerakan cepat, sesekali mengeluh pelan ketika melihat tumpukan dokumen baru dari Sektor Galaksi Barat yang belum tersentuh.
Hidupnya memang berubah menjadi budak administrasi kosmik, tetapi setidaknya tidak ada lagi niat buruk di hatinya, hanya ada keinginan agar jam kerjanya cepat selesai.
Jiang Yui berdiri di tepi anjungan, menatap hamparan galaksi yang berputar lambat dalam harmoni yang sempurna.
Tangannya terlipat di dada, sementara angin malam meniup jubah putihnya dengan tenang.
Bai Ling melangkah mendekat, berdiri tepat di samping sang pangeran.
Ia tidak mengatakan apa-apa, namun kehadirannya memberikan ketenangan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun di dunia ini.
Tak lama kemudian, Liu Tian dan Tetua Lu menyusul, membawa cangkir teh masing-masing sambil tersenyum lebar menikmati pemandangan damai di hadapan mereka.
"Bagaimana rasanya, Yang Mulia?" tanya Tetua Lu pelan, memecah keheningan malam.
"Dunia persilatan makmur, para dewa kosmos sudah tidak lagi galau, dan alam semesta kini berada dalam kedamaian abadi. Apakah masih ada hal lain yang ingin Anda taklukkan?"
Jiang Yui menoleh sekilas ke arah Tetua Lu, lalu melirik Bai Ling di sisinya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan kelegaan.
Menaklukkan alam semesta, mengubah sistem takdir, hingga meralat kutukan masa lalu, semuanya telah ia lewati.
Namun pada akhirnya, kemenangan terbesar bukanlah tentang seberapa jauh kekuasaanmu membentang, melainkan tentang siapa yang menemanimu duduk menikmati secangkir teh di penghujung hari.
"Menaklukkan alam semesta?" gumam Jiang Yui santai. Ia merangkul pundak Bai Ling dengan lembut, mendekatkan diri pada kehangatan yang selama ini ia cari.
"Cukup. Aku sudah pensiun dari urusan takdir dan galaksi."
Jiang Yui mengangkat cangkirnya tinggi-tinggi ke arah langit malam yang bertabur bintang, memberikan gestur bersulang pada masa lalu yang penuh liku dan masa depan yang terbentang luas tanpa beban.
"Mulai hari ini, biarkan alam semesta berjalan dengan jalurnya sendiri," lanjut Jiang Yui dengan nada hangat.
"Karena urusanku yang paling penting... adalah menikmati sisa hidup ini dengan tenang di samping orang-orang yang tepat."
Di bawah naungan cahaya ribuan galaksi yang bersinar terang, kisah sang mantan perjaka tua resmi mencapai babak akhirnya, bukan sebagai pahlawan yang mati di medan perang, melainkan sebagai legenda hidup yang membuktikan bahwa cinta dan ketulusan adalah kekuatan terhebat yang mampu menyatukan seluruh isi semesta.
Hembusan angin malam di pelataran utama Sembilan Langit membawa aroma wangi teh bunga persik yang menenangkan.
Di sekeliling meja giok panjang, tawa ringan dan percikan canda mendominasi suasana yang dulunya kaku dan sakral.
Liu Tian meletakkan cangkirnya dengan bunyi clink yang cukup keras, lalu bersandar malas ke punggung kursi kayunya sambil menyeringai lebar ke arah Jiang Yui.
"Hei, Pangeran Makcomblang," panggil Liu Tian dengan nada menggoda.
"Sekarang semua galaksi sudah damai, para dewa sudah bucin, dan musuh-musuh kita sudah tobat jadi pegawai magang. Terus, apa rencana hidupmu selanjutnya? Mau buka cabang Paviliun Jodoh sampai ke dimensi hantu bawah tanah?"
Jiang Yui melirik sekilas ke arah Liu Tian, lalu meniup permukaan tehnya yang masih mengepulkan uap hangat.
"Membuka cabang di neraka? Ide bagus juga, Liu Tian," jawab Jiang Yui dengan nada datar namun matanya menyipit jail.
"Biar para hantu penasaran yang masih gentayangan karena patah hati bisa ikut konseling asmara. Tapi sayangnya, aku sudah pensiun resmi."
Nona Mei, yang duduk di sebelah suaminya, langsung mendengus geli sambil mencubit lengan Liu Tian pelan.
"Dengar itu, suamiku tersayang? Beliau sudah pensiun. Jangan jadikan kepala biro jodoh kita ini budak korporat abadi seperti dirimu yang hobi bikin rekor rekreasi massal."
"Aduh, ampun, Sayang! Aku kan cuma bertanya!" protes Liu Tian sambil mengusap lengannya dengan wajah pura-pura kesakitan, membuat Bai Ling dan Tetua Lu tertawa kecil.
sistem kultivasi perjaka/NosePick/ 🤧