Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 6
Zemima melangkah keluar dari kamar Bu Rahmi, membiarkan wanita tua itu mematung dalam pusaran ketakutan yang kini menggerogoti pikirannya. Derap langkah stilettunya bergema pelan menyusuri koridor marmer menuju area dapur yang luas. Dia masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaian. Di dapur, Mbak Mirna sedang sibuk memotong sayuran di atas tatakan kayu.
"Eh, Bu Zemima! Jangan, Bu... biar saya saja yang masak. Ibu pasti capek baru pulang kerja," cegah Mbak Mirna panik, buru-buru hendak mengambil alih pisau.
"Nggak apa-apa, Mbak Mirna," potong Zemima lembut namun bernada tak bantah. Senyum tenang mengembang di wajah cantiknya.
"Saya lagi ingin masak malam ini. Mbak bantu kupas bumbu saja, sekalian bahan-bahannya kita perbanyak supaya Mbak bisa bawa pulang lauk yang cukup untuk anak-anak di rumah."
"Aduh, terima kasih banyak, Bu Zemima... Ibu selalu baik sekali," bisik Mbak Mirna terharu, matanya berkaca-kaca.
Zemima mulai menyalakan kompor. Suara minyak panas yang berdesis pelan dan aroma harum tumisan bumbu rempah mulai memenuhi ruangan. Jemari Zemima yang lentik dengan cekatan mengolah bahan makanan, mengubah rasa gundah dan kekesalan di dadanya menjadi kepiawaian di dapur.
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama.
Brak!
Pintu depan terdengar didorong kasar, disusul suara riuh langkah kaki, tawa keras, dan teriakan anak-anak yang berlarian merusak keheningan rumah.
"Mama! Aku mau es krim yang di kulkas punya Tante Zemima!" seru seorang anak kecil seraya berlari kencang menuju dapur, disusul adiknya yang melempar mainan plastik ke atas meja makan marmer hingga menimbulkan bunyi benturan nyaring.
Mas Hendra melangkah masuk santai ke area dapur, melonggarkan dasinya dengan raut wajah lelah, disusul istrinya, Rika, yang menjinjing beberapa tas belanjaan bermerek. Tak ketinggalan Siska, adik bungsu Arsyad, yang masuk sambil terus menempelkan ponsel ke telinganya, berbicara dengan suara melengking tanpa memedulikan sekitarnya.
"Duh, harum banget! Mbak Mirna masak apa nih?" celetuk Rika seenaknya. Ia langsung membuka tudung saji di meja tanpa permisi, lalu mengernyitkan dahi saat melihat meja masih kosong.
"Lho, kok belum siap? Aku sama Hendra udah lapar banget nih dari jalan. Mana anak-anak belum makan malam!"
Zemima membalikkan badan perlahan, masih memegang sendok kayu di tangannya. Pandangannya menatap dingin ke arah Rika dan Mas Hendra.
Rika yang baru menyadari keberadaan Zemima di depan kompor sedikit tertegun, namun raut wajahnya dengan cepat berubah menjadi tatapan menilai yang sinis.
"Eh, Zemima... baru pulang?" sindir Rika seraya menyandarkan tubuhnya di konter dapur, merapikan rambutnya yang tercat pirang.
"Tumben jam segini baru ada di dapur? Katanya kerja kantoran, kok malah Mas Arsyad yang pusing mikirin rumah? Tadi Arsyad telepon Hendra, marah-marah katanya kamu keluyuran padahal Ibu lagi sakit."
Mas Hendra ikut membuka pintu kulkas dua pintu milik Zemima, menggeledah isinya tanpa canggung, lalu mengambil dua kaleng minuman bersoda mahal milik Zemima.
"Iya nih, Zem," timpal Mas Hendra seraya meneguk soda itu langsung dari kalengnya hingga berbunyi kasar.
"Kamu itu jadi istri harusnya pinter bagi waktu. Kasihan Arsyad, udah cape-cape cari uang naik jabatan jadi manajer, giliran pulang ke rumah malah disuguhi rumah sepi. Harusnya kamu tuh tiru Rika, fokus urus suami dan anak-anak."
Siska memutus panggilannya, lalu ikut bergabung di dapur seraya menarik kursi makan kayu jati dengan kasar hingga menimbulkan suara decitan keras di atas lantai.
"Mbaku sayang," cerocos Siska tanpa dosa, menyodorkan ponselnya tepat ke depan wajah Zemima yang sedang berdiri di dekat kompor.
"Nanti habis masak, tolong transferin aku lima ratus ribu dong. Kaus yang aku taksir lagi flash sale nih. Tadi aku mau minta Mas Arsyad, tapi katanya limit kartu kreditnya lagi habis. Pasti Mbak ada simpanan kan dari gaji lemburan?"
Zemima mematikan kompor gas. Bunyi klik tombol kompor menyisakan keheningan yang mendadak menusuk di antara mereka. Mbak Mirna yang berdiri di sudut dapur refleks menahan napas, meremas apronnya karena ketakutan melihat atmosfer ruangan yang berubah mendingin secara drastis.
Zemima meletakkan sendok kayunya dengan perlahan di atas tatakan porselen. Ia mengambil kain lap bersih, menyapu jemarinya yang halus, lalu berbalik menatap ketiga saudara iparnya satu per satu dengan pandangan yang sanggup membuat merinding.
"Mas Hendra... Mbak Rika... dan kamu, Siska," suara Zemima meluncur begitu tenang, sangat rendah, namun sarat akan otoritas yang membekukan.
"Sejak kapan rumah saya berubah jadi restoran gratis dan mesin ATM pribadi untuk kalian?"
Rika tersentak, matanya mendelik lebar. "Heh! Zemima! Mulut kamu kok mendadak kurang ajar gitu ya?!"
"Kurang ajar?" Zemima terkekeh pelan, sebuah tawa dingin yang membuat Mas Hendra menghentikan seruputan sodanya.
"Siapa yang kurang ajar di sini? Kalian masuk ke rumah orang tanpa salam, membiarkan anak-anak kalian melempar barang dan mengacak-acak furnitur, menggeledah kulkas seenaknya, lalu menagih uang seperti saya ini utang pada kalian?"
"Zemima! Jaga bicara kamu ya!" bentak Mas Hendra, mukanya mendadak merah padam karena merasa harga dirinya sebagai kakak tertua diinjak-injak.
"Ini rumah Arsyad! Arsyad yang bayar sebagian besar kebutuhan di sini, dan Arsyad itu adik kandung saya! Kamu tuh cuma menantu, jangan merasa paling berkuasa!"
"Rumah Mas Arsyad?" Zemima maju satu langkah. Langkah kaki dengan sepatu stilettunya berbunyi nyaring di atas marmer dapur, memancarkan aura dominan seorang pimpinan tertinggi korporasi yang biasa membungkam jajaran direksi.
"Rumah ini berdiri di atas tanah milik saya, Mas Hendra. Sertifikatnya ada di dalam brankas atas nama Zemima A.V.," tegas Zemima menatap lurus mata Mas Hendra tanpa kedip sedikit pun.
"Listrik yang menyalakan AC di kamar kalian kalau berkunjung, air yang kalian pakai, minuman soda di tangan kamu, sampai baju bermerek yang dipamerkan Siska di media sosial... semuanya dibeli menggunakan uang saya."
Siska memucat, sementara Rika tertawa sumbang untuk menutupi kepanikannya.
"Halah! Bohong! Jangan sok ngaku-ngaku ya, Zemima! Kamu itu cuma staf biasa di kantor cabang! Mana mampu beli rumah dan menanggung gaya hidup keluarga kita?! Ini semua hasil kerja keras Mas Arsyad!"
"Kerja keras Arsyad?" Zemima tersenyum sangat tipis, sudut bibirnya terangkat tajam.
"Kalian membanggakan jabatan manajer yang dipegang Arsyad di anak perusahaan itu, kan? Kalian merasa berhak memeras dia karena mengira dia sudah sukses? Apa kalian semua punya otak dan juga perasaan sedikit saja?"
"Apaan sih! Marah-marah mulu! Udah sana lanjutin masak! Kami lapar! Dan kamu kemanakan es krim? Lihat anak-anak aku menangis meminta es krim..." Ujar Rika.
"Di minimarket banyak!" Celetuk Zemima.
"Mana uangnya? Uangku habis buat belanja tadi!"
Zemima hanya melotot dna tak peduli dengan ucapan kakak iparnya. dia kembali meneruskan pekerjaannya memasak di dapur bersama dengan Mbak Mirna. Bahkan kedua saudara Arsyad itu tak ada yang mencari atau sekedar menanyakan keadaan ibu mereka. Mereka malah asyik dengan dunianya sendiri. Dan membiarkan kedua anak mereka mengacak-acak rumah Zemima.