NovelToon NovelToon
Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Cinta Terlarang / Obsesi / Beda Usia / Tamat
Popularitas:44.1k
Nilai: 5
Nama Author: Celina González ♥️

Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.

Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.

Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Zaira nyaris tak sanggup berdiri tegak.

Kakinya gemetar, bukan hanya oleh amarah yang mendidih di dadanya bagai racun pekat, tapi juga oleh sensasi yang lebih dalam, lebih berbahaya, yang lahir jauh di dasar perutnya lalu menyebar bagai api yang menjalar lambat, menyeret bersamanya setiap jejak nalar.

Udara di sekelilingnya terasa pekat, sarat aliran listrik. Cahaya hangat yang temaram, tergantung di langit-langit, melemparkan bayangan bergelombang ke dinding-dinding batu, melukis wujud-wujud yang seakan bergerak bersama mereka. Aroma dupa, berbaur dengan kulit sofa dan kayu gelap perabotan, membentuk atmosfer yang intim, nyaris menghimpit, tempat dunia luar tak lagi ada.

Leonardo melangkah maju ke arahnya. Langkahnya tenang, penuh keyakinan. Derit samar alas kakinya di lantai bergema bagai genderang di benak Zaira, menandai tiap detik dengan intensitas yang tak tertanggungkan.

Zaira tak bergerak. Ia tak sanggup. Terlalu sadar akan tiap sentimeter yang memisahkan mereka, akan panas yang memancar dari tubuh pria itu bagai kobaran api yang tertahan.

Lalu, Leonardo mengangkat sebelah tangan.

Gerakannya lembut, nyaris khidmat, seakan takut merusak sesuatu yang suci. Jemarinya membelai pipi Zaira dengan kelambatan orang yang membiarkan dirinya mengecap tiap milimeter kulit. Ujung jarinya hangat, kasar, bagai gesekan sebuah janji purba yang terpahat di daging hidup.

Zaira memejamkan mata. Geli listrik menjalari kulitnya, merambat dari wajahnya sampai ke pusat perutnya, tempat ia berubah menjadi pusaran api.

Jantungnya berdebar begitu keras hingga ia mengira pria itu pun bisa mendengarnya, menghantam di dadanya bagai permohonan yang putus asa.

Leonardo memandangnya seakan ia adalah rahasia yang tersingkap, seakan ia baru saja menemukan permata di dunia yang penuh bayang.

"Selama lima puluh tahun hidupku..." gumamnya, suaranya serak dan berat, bagai belaian yang bergetar di udara, "aku tak pernah melihat perempuan yang begitu apa adanya... begitu membuat kecanduan."

Zaira membuka mata seketika, seakan kata-kata itu mengguncangnya. Napasnya memburu, bibirnya sedikit terkuak, dan, nyaris karena naluri, ia melangkah mundur.

"Lima puluh?" ia mengulang, tak percaya, memandang pria itu seakan baru benar-benar melihatnya untuk pertama kali. Seakan tiap kerut halus di sudut matanya, tiap goresan kematangan di wajahnya yang sempurna, menyingkap sebuah semesta yang tak pernah ingin ia jelajahi sampai saat itu.

Leonardo melepaskan tawa rendah nan dalam, getaran hangat yang seakan meluncur menembus tulang Zaira. Ruangan itu seolah menjadi kian sempit, kian intim.

"Itu masalah?" tanyanya dengan senyum miring, senyum yang murni pesona, sementara ia menelaah Zaira dengan mata gelap yang tahu terlalu banyak.

Zaira ragu.

Benaknya, yang terlatih untuk menghakimi, menjerit bahwa ya, itu masalah. Bahwa pria itu jauh lebih tua, bahwa ia berasal dari dunia lain, dunia dengan aturan yang berbeda.

"Anda tampak..." bisiknya sambil menelan ludah. "Anda tampak lebih seperti... sugar daddy ketimbang yang lain."

Kalimat itu membakar di bibirnya, campuran gugup, sindiran, dan sedikit rasa takut.

Tapi Leonardo tak tersinggung. Sebaliknya, ia benar-benar tersenyum. Senyum yang tulus, hangat, tanpa sinisme yang biasa menghiasi bibirnya. Ekspresi itu meretakkan sesuatu di dalam diri Zaira, sebuah tembok yang tak ia sadari telah ia dirikan.

"Kalau itu memberiku hak untuk memilikimu..." katanya, dan suaranya murni godaan, "aku tidak peduli soal sebutan."

Lalu ia mendekat. Tanpa tergesa, tanpa ragu. Zaira merasakan panas tubuh pria itu bahkan sebelum ia menyentuhnya, aroma yang menguar dari kulitnya: kulit samak, kayu berasap, dan sesuatu yang gelap, primitif.

Aroma itu menyelimutinya bagai tali tak kasatmata, memabukkan.

Leonardo menurunkan wajahnya ke leher Zaira. Napasnya menyentuh kulit, dan Zaira merasakan tiap pori tubuhnya menyala.

Kehangatan lembap mulut pria itu menyentuh lehernya, dan dunia terhenti.

Sebuah desahan lolos dari bibirnya sebelum ia sempat menahannya, bagai pengkhianatan yang tak disengaja. Tubuhnya sedikit melengkung ke arah pria itu, dan ia membencinya karena membuatnya merasa demikian, karena merenggut darinya erangan lembut yang berbicara lebih dari seribu kata.

Leonardo tersenyum di leher Zaira, seakan bisa membaca pikirannya.

Ia naik perlahan, meninggalkan jejak membara dengan bibirnya, sampai ke telinga Zaira. Lidahnya menyentuh cuping telinga dan Zaira bergidik. Bukan gidik ketakutan, melainkan hasrat yang tak ia tahu cara menahannya.

"Dari sini..." bisiknya, suaranya serak dan berbahaya, "kamu tidak akan keluar. Tidak sebelum... kamu menjadi milikku."

Zaira membuka mata seketika. Udara terasa langka, seakan mereka membaginya berdua. Seakan paru-parunya tak berfungsi tanpa pria itu. Benaknya menjerit, tapi tubuhnya... tubuhnya menuntut lantang agar pria itu tak berhenti.

"Tidak!" bisiknya, meski suaranya nyaris hanya getar di keheningan yang sarat.

Leonardo tak menjauh. Napasnya membelai telinga Zaira, dan dadanya, sekokoh cadas, menggesek dada Zaira, mendorongnya ke jurang.

"Ya," ralatnya, dengan kepastian menghancurkan dari orang yang telah menang. "Ya, Zaira."

Zaira mendorongnya, telapak tangan menekan dada pria itu, tapi tangannya gemetar.

Leonardo menangkapnya tanpa susah payah, dengan kelembutan yang berlawanan dengan kekuatannya.

Ia menuntun kedua tangan itu ke dadanya sendiri, meletakkannya tepat di atas jantungnya. Detaknya kuat, konstan, bagai genderang perang.

"Kamu merasakannya?" bisiknya, matanya menusuk mata Zaira. "Ia berdetak untukmu. Untuk hasrat yang kamu rasakan juga... meski kamu menyangkalnya."

Zaira mengatupkan bibir. Matanya berkilau oleh air mata yang tertahan, oleh frustrasi, oleh takut... dan oleh sesuatu yang lebih gelap, lebih dalam: pengakuan bahwa pria itu benar.

"Kamu tidak boleh..." katanya dengan suara setipis benang, bagai permohonan tanpa daya.

Leonardo mendekatkan keningnya ke kening Zaira. Hidung mereka nyaris bersentuhan. Panas kulitnya, intensitas tatapannya, segalanya pada dirinya adalah sebuah janji.

"Aku boleh. Dan aku akan melakukannya. Karena kamu sudah menjadi milikku, meski kamu belum mau mengakuinya."

Panas tubuh pria itu menyelimuti Zaira bagai badai. Badai yang nikmat sekaligus berbahaya, yang mengancam menyeretnya.

Zaira memejamkan mata. Ia melepas embusan napas yang bergetar. Dan ia membenci dirinya. Membenci bagian dari dirinya yang tak lagi ingin melawan.

Leonardo menciumnya. Kali ini bukan ciuman yang tergesa. Melainkan ciuman yang lambat, posesif. Ciuman yang berusaha terpahat di ingatannya, di kulitnya, di jiwanya.

Dunia lenyap.

Tak ada suara selain napas mereka yang tersengal. Tak ada cahaya selain yang menyusup ke dalam keremangan saat yang terenggut itu. Hanya mereka berdua. Hanya rasa bahaya... dan hasrat terlarang. Sebuah hasrat yang baru saja mulai terbangun... dan yang sudah tak bisa lagi dihentikan.

1
Rinh@ Ayong
ke giliran c ziara hamil maneh embung tanggung jawab, trus malah nyudutkeun lain benih maneh.
biasana Kitu wae geura konflik na teh
Enik Ulandari
aku suka ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!