Sinopsis
Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.
Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Namun takdir punya caranya sendiri.
Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.
Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.
Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?
Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Sisa Abu di Kerah Baju
Arka tahu dia kalah satu langkah. Selalu begitu.
Sejak mereka masih di kota asal, di bawah langit senja yang warnanya kayak luka memar, Arka selalu jadi orang yang memunguti pecahan kaca setelah Alya hancur. Dia yang ada di sana waktu Alya nangis sesenggukan di pinggir lapangan basket, dia yang nganterin martabak manis jam sebelas malam cuma biar Alya berhenti mikirin laki-laki brengsek itu. Tapi dia nggak pernah punya keberanian buat bilang: “Al, berhenti nyari rumah di orang yang cuma mau ngebakar kamu.”
Sekarang, di dapur sempit di Carlton ini, Arka ngeliatin punggung Alya yang lagi nyuci piring. Gerakannya mekanis. Terlalu rajin, seolah-olah kalau dia berhenti sedetik aja, hantu dari Jakarta itu bakal narik kakinya balik ke masa lalu.
"Al," panggil Arka pelan.
Alya nggak nengok. "Hm?"
"Berhenti dulu. Piringnya udah bersih, itu airnya sayang kebuang."
Alya tersentak, matiin keran, terus nyenderin tangan yang masih basah ke pinggiran bak cuci. Dia nggak balik badan. Bahunya naik turun. Arka jalan mendekat, berdiri tepat di belakangnya tanpa nyentuh. Dia bisa nyium bau sabun cuci piring rasa lemon campur parfum sisa kantor Alya.
"Dia bilang apa lagi di pesan suara itu?" tanya Arka. Suaranya nggak nuntut, cuma capek.
Alya ngehela napas panjang, akhirnya muter badan. Matanya merah, bukan karena nangis, tapi karena kurang tidur dan tekanan yang nggak masuk akal. "Dia cuma bilang Ibu sakit. Tapi aku tahu itu cuma umpan, Bang. Dia mau aku ngerasa bersalah karena milih pergi ke sini, milih hidup sama kamu."
Arka diem. Dia ngerasain sesuatu yang panas ngeganjel di tenggorokannya. Rahasia yang dia simpan lima tahun—rahasia yang hampir dia bawa mati waktu dia mutusin buat nyusul Alya ke Singapura dulu.
"Kamu tahu nggak kenapa dulu aku telat dateng ke stasiun waktu kamu mau pergi?" Arka nanya tiba-tiba. Pertanyaan yang nggak pernah dibahas selama mereka di Melbourne.
Alya ngerutin dahi. "Karena ban motor kamu bocor, kan? Kamu bilang gitu di SMS."
Arka ketawa hambar. Dia narik napas, terus ngeluarin dompet dari saku celananya. Di selipan paling dalem, ada kertas kecil yang udah kuning, lecek, dan hampir hancur. Dia naruh kertas itu di atas meja konter yang masih basah.
"Hari itu, sebelum ke stasiun, aku nemuin dia," kata Arka lirih.
Alya ngambil kertas itu. Isinya cuma alamat gudang tua di pinggir kota mereka. "Maksud kamu?"
"Aku nemuin dia buat minta dia jauhin kamu. Aku berantem, Al. Bukan berantem keren kayak di film, aku dipukulin sama temen-temennya sampai aku pingsan di parkiran gudang itu. Ban motorku nggak bocor, ban motorku disilet sama mereka." Arka nunjuk bekas luka kecil di bawah rambut deket telinganya yang selama ini Alya pikir cuma bekas jatuh biasa.
"Kenapa kamu nggak pernah bilang?" Alya bisik, suaranya gemetar.
"Karena aku nggak mau kamu milih aku cuma karena rasa kasihan. Aku mau kamu milih aku karena aku 'rumah', bukan karena aku 'pahlawan' yang gagal. Aku takut kalau aku kasih tahu betapa berantakannya aku hari itu, kamu malah makin benci sama kota itu... dan benci sama aku karena nggak bisa ngelindungin kamu."
Arka nunduk, natap ujung sepatunya. "Waktu aku bangun di rumah sakit malam itu, kamu udah di kereta. Aku ngerasa jadi pecundang paling besar sedunia. Makanya aku kerja gila-gilaan, ambil semua side job buat bisa nyusul kamu ke luar kota, terus ke Singapura, sampai sekarang ke sini. Aku lari sejauh ini bukan cuma buat nemenin kamu, Al. Aku lari buat ngebuktiin kalau aku bisa lebih 'ada' daripada dia."
Alya diem seribu bahasa. Kertas lecek itu kerasa berat banget di tangannya. Ternyata, selama lima tahun ini, Arka bawa beban yang sama beratnya. Mereka berdua sama-sama pelarian yang nyoba bangun benteng di atas luka lama.
"Bang..."
"Jangan bilang maaf," potong Arka. "Aku cuma mau kamu tahu satu hal. Kalaupun nanti kamu mutusin buat pulang ke Jakarta karena Ibu, atau karena apapun... aku bakal ikut. Kali ini, ban motorku nggak akan bocor lagi. Aku nggak peduli sama valuasi investor atau proyek di Sydney. Aku cuma peduli sama kamu yang nggak boleh sendirian lagi di depan dia."
Alya maju, meluk Arka kenceng banget. Mukanya dibenamin di dada Arka. Dia bisa denger detak jantung Arka yang kenceng banget, kayak trem yang lagi ngebut di tikungan.
Di luar, hujan Melbourne makin deres. Tembok hijau mint di ruangan itu mendadak kelihatan lebih gelap, tapi kerasa lebih kokoh. Mereka bukan lagi dua orang yang cuma "mencoba" bahagia. Mereka dua orang yang sepakat buat saling nanggung bekas luka yang belum kering.
"Kita nggak akan balik karena dia, Bang," gumam Alya di balik kaus Arka. "Kita bakal balik kalau kita udah siap. Dan kita balik buat Ibu, bukan buat hantu itu."
Arka ngelus rambut Alya, ngerasain ketenangan yang aneh. Rahasia itu akhirnya keluar juga. Kayak bisul yang pecah, sakitnya minta ampun tapi setelah itu rasanya plong.
Tapi jauh di dalem hatinya, Arka masih was-was. Dia tahu laki-laki dari masa lalu Alya itu tipe orang yang nggak akan lepasin mangsanya gitu aja. Dan Melbourne, sekencang apapun anginnya, nggak akan bisa bener-bener niup hilang bau busuk dari masa lalu yang belum selesai urusannya.
"Al," panggil Arka lagi.
"Iya?"
"Besok kita masak opor. Aku pengen bau rumah kita bukan cuma bau cat, tapi bau bumbu pasar. Biar hantu-hantu itu makin males deket-deket sini."
Alya ketawa di sela isakannya. "Opor di musim dingin? Aneh kamu."
"Yang aneh itu tetangga kita, Mr. Henderson. Opor mah enak."
Malam itu, di apartemen lantai tiga di Carlton, mereka tidur lebih nyenyak dari biasanya. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena mereka berhenti saling nyimpen rahasia.
izinn
ahh pria solo itu lagii🤣🤣