NovelToon NovelToon
BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mata Batin / Horor
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."


Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.


Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang Yang Tak Pernah Putus

Hening. Ruangan yang tadinya penuh derak tulang dan sindiran pedas Reyhan mendadak sunyi layaknya liang lahat. Kertas kecil itu bergetar di antara ujung jari Reyhan yang kaku. Nama "Adiwangsa"—ayah angkatnya, sang Komisaris Besar yang selama ini ia puja—tertulis jelas dengan tinta darah yang telah menghitam.

"Rey?" suara Kiara mencairkan kebekuan. "Apa itu... nama yang kamu kenal?"

Reyhan tidak menjawab. Ia hanya menatap kertas itu dengan pandangan kosong. Semua seloroh dan humor yang biasanya memenuhi kepalanya menguap, digantikan oleh rasa mual yang mendesak dari ulu hati. Polisi hebat yang ia jadikan panutan ternyata adalah kolektor lidah manusia.

"Reyhan, lihat ke arah mayat itu," bisik Rendy, suaranya rendah dan serius. "Dia tidak menyerangmu lagi. Dia... dia menunggumu."

Kerangka pengantin itu memang berhenti menyerang. Ia justru membungkuk, kepalanya miring menatap Reyhan dengan lubang mata yang seolah mengejek. Seolah-olah dia sedang berkata: Inilah pahlawanmu yang sebenarnya.

"Berisik..." desis Reyhan. Suaranya tidak lagi sarkastis, tapi penuh luka. "Berhenti menatapku seperti itu!"

"Reyhan, tenang!" Rendy memegang bahu sahabatnya itu dengan kencang. "Jangan biarkan emosimu membuat benang itu menjerat kita lagi. Ayahmu... mungkin dia punya alasan. Atau mungkin dia yang menutup kasus ini dulu."

"Menutup kasus?!" Reyhan tertawa getir. "Dia tidak menutup kasusnya, Rendy. Dia menyembunyikannya! Koleksi lidah ini... lihat tanggal di bawah fotonya. Ini tahun saat aku baru masuk akademi kepolisian. Dia merayakan kelulusanku dengan mencabut lidah saksi kunci kasus Penenun ini!"

Tiba-tiba, benang-benang hitam di pergelangan tangan Kiara mulai berdenyut kencang, memancarkan cahaya ungu gelap yang menyakitkan mata. Kiara menjerit, terjatuh sambil memegangi dadanya.

"Rey! Sesuatu... sesuatu sedang ditarik dari dalam diriku!" Kiara terengah-engah, wajahnya memucat hebat.

Rendy segera memeriksa kotak kayu di dekat mereka. "Sial! Koleksi lidah ini adalah jangkar energinya. Begitu nama pelakunya disebut oleh orang yang punya hubungan batin dengan tersangka, ritualnya masuk ke tahap final. Kiara bukan mau dijahit jadi pengantin, Rey. Dia mau dijadikan 'Lidah Baru' untuk menceritakan kebohongan bapakmu!"

Wanita tua bermulut dijahit itu tiba-tiba melesat maju, bukan lagi mengincar Reyhan, tapi langsung ke arah Kiara yang sudah pasrah.

"Jangan sentuh dia!" Reyhan menerjang. Ia tidak lagi peduli pada logika atau prosedur polisi. Ia membuang pisaunya dan langsung mencengkeram benang emas yang menjahit mulut si hantu dengan tangan kosong.

Sreeet!

Telapak tangan Reyhan terbakar, kulitnya melepuh bersentuhan dengan emas gaib itu, tapi ia tidak melepasnya sedikit pun. "Kalau bapakku yang memulai ini, maka biar aku yang mengakhirinya! Kamu mau lidah, kan? Ambil lidahku! Aku sudah terlalu banyak bicara omong kosong selama ini!"

Kilatan cahaya putih menyilaukan mata Reyhan. Dunia di sekitarnya berubah menjadi sebuah kantor polisi tua yang rapi. Di sana, ia melihat sosok Adiwangsa muda sedang duduk tenang sambil mengelap pistol dinasnya. Di depan Adiwangsa, seorang wanita bersimpuh sambil menangis, memohon agar kematian suaminya diusut. Wanita itu adalah si hantu pengantin sebelum ia menjadi mayat.

"Tentu, Nyonya," Adiwangsa muda tersenyum tipis—senyuman yang selama ini dianggap Reyhan sebagai pelindung, kini terlihat seperti seringai iblis. "Saya akan memastikan suara suamimu dan dirimu sendiri... tetap abadi."

Tangan Adiwangsa bergerak cepat. Bukan borgol yang keluar, melainkan sebilah pisau bedah dan gulungan benang emas. Jeritan wanita itu terputus seketika, dan Reyhan terlempar kembali ke kenyataan dengan napas tersengal-sengal.

"Brengsek!" raung Reyhan. Air matanya menetes, jatuh tepat di atas benang emas yang ia genggam. "Dia bukan polisi... dia penenun aslinya! Ayahku yang menjahit mulutmu, kan?!"

Mendengar pengakuan pahit itu, hantu wanita tua itu berhenti meronta. Jahitan emas di mulutnya tiba-tiba terputus satu per satu akibat tetesan air mata Reyhan—seorang putra dari musuhnya yang paling ia benci.

Prak! Prak!

Benang emas itu rontok ke lantai. Mulut hantu itu terbuka, mengeluarkan raungan kepedihan yang sudah tertahan puluhan tahun. Ruangan mulai bergetar hebat. Kerangka-kerangka pengantin itu perlahan hancur menjadi debu putih.

"Reyhan! Lepaskan!" teriak Rendy sambil menarik Kiara menjauh dari pusaran angin hitam yang muncul di tengah ruangan. "Gedung ini mau runtuh! Pengakuannya sudah merusak segelnya!"

"Belum!" Reyhan menatap mata hantu itu dengan tatapan hancur. "Dia mau lidahku, kan? Biar aku jadi saksi terakhir kejahatan bapakmu!"

"Jangan konyol, Rey!" Rendy menerjang, memukul tengkuk Reyhan hingga polisi itu limbung. "Mati di sini nggak bakal bikin bapakmu masuk penjara! Kita harus keluar dan menyeretnya ke pengadilan dengan lidah kita sendiri!"

Tepat saat atap mulai runtuh, seutas benang merah besar meluncur dari kegelapan, melilit tubuh mereka bertiga, dan menarik mereka keluar lewat lubang ventilasi yang meledak. Mereka jatuh di aspal jalanan yang dingin di bawah guyuran hujan deras. Di depan mereka, gedung tua itu roboh rata dengan tanah, menyisakan bau formalin yang terbawa angin.

Reyhan berlutut di tengah jalan, tangannya yang melepuh mencengkeram aspal hingga berdarah. Ia merasa seperti sampah yang dibesarkan oleh iblis.

"Habis ini..." Reyhan mendongak ke arah Rendy dan Kiara dengan tatapan yang sudah mati, "aku bukan lagi polisi. Aku adalah orang yang akan memborgol Komisaris Besar Adiwangsa... atau aku akan mati saat mencoba."

Di kejauhan, sebuah mobil hitam dengan plat dinas kepolisian terhenti. Kaca jendela belakang menurun perlahan, memperlihatkan separuh wajah pria tua yang sangat mereka kenal. Adiwangsa ada di sana, menonton reruntuhan itu dengan tatapan dingin, seolah sedang menunggu hasil jahitan terakhirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!