Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: JEJAK DARAH
Pagi di Klan Namgung tidak pernah semencekam ini.
Sejak fajar, suasana kompleks berubah menjadi seperti benteng yang dikepung musuh. Para pengawal berjaga di setiap sudut dengan pedang terhunus. Pelayan dilarang keluar dari paviliun masing-masing. Bahkan para tetua berkumpul di aula utama dengan wajah tegang, menunggu perkembangan.
Tim penyelidik Delapan Sekte belum tidur semalaman. Mereka menggeledah hutan, memeriksa setiap jejak, menginterogasi setiap orang yang mungkin melihat sesuatu. Tapi hasilnya nihil.
Mawanggeom—pedang pusaka yang menjadi simbol kekuatan Iblis Murim—hilang. Lenyap seperti ditelan bumi.
Di paviliun tamu, Tetua Seok Cheon-ho berjalan mondar-mandir seperti harimau kurungan. Wajahnya merah padam, matanya sembab karena kurang tidur. Di sampingnya, Seok Cheon-myung duduk diam, tangannya gemetar menahan amarah.
"Ini tidak mungkin!" Tetua Seok memukul meja hingga retak. "Pedang itu dijaga ketat! Empat pengawal! Tidak mungkin hilang begitu saja!"
"Tetua, mungkin..." Biksu Myeongjin mencoba menenangkan. *"...mungkin ini peringatan. Mungkin Iblis Murim benar-benar—"
"Omong kosong!" Tetua Seok memotong kasar. "Iblis Murim sudah mati ribuan tahun! Ini pasti ulah manusia! Orang dalam!"
Matanya menyipit tajam.
"Bocah itu... Namgung Jin. Di mana dia sekarang?"
Biksu Myeongjin menghela napas. "Kepala klan bilang dia sakit demam. Tidak bisa diganggu."
"Sakit? Tepat setelah pedang hilang?" Tetua Seok tertawa sinis. "Kebetulan yang terlalu indah."
Ia berjalan menuju pintu.
"Aku akan melihat sendiri."
---
Di paviliun reot, Namgung Jin terbaring di atas tikar usang.
Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi dahi. Lukanya di perut sudah dibalut rapi, tapi demam mulai naik—efek samping dari luka dan kehilangan darah. Nyonya Yoon duduk di sampingnya, membasahi kain dengan air dingin, menempelkannya di kening putranya.
"Jin-ah... Ibu di sini..." bisiknya pelan, air mata mengalir tanpa henti.
Namgung Jin setengah sadar. Di dalam kepalanya, kesadaran bertarung melawan demam. Ia harus bangun. Ia harus menghadapi apa yang akan datang.
Pintu kamar didobrak paksa.
Tetua Seok masuk dengan tiga pengawal. Di belakangnya, Biksu Myeongjin dan Nyonya Hwa Ryun mengikuti dengan ekspresi cemas.
"Keluarkan bocah itu!" perintah Tetua Seok.
Nyonya Yoon berteriak, "Jangan! Dia sakit! Jangan sentuh dia!"
Tapi para pengawal sudah mendekat. Mereka mengangkat Namgung Jin paksa, membuat lukanya terbuka. Darah merembes membalut perban.
"HEI!" teriak Nyonya Yoon. "Dia terluka! Kau akan membunuhnya!"
Tetua Seok mengabaikan. Ia menatap Namgung Jin yang lemas di pelukan pengawal.
"Bocah, kau tahu sesuatu tentang pedang yang hilang?"
Namgung Jin membuka mata—sayu, lemah. Tapi masih ada kilatan tajam di dalamnya.
"Pe... pedang apa?" suaranya parau, hampir tidak terdengar.
"Jangan pura-pura bodoh!"
"Aku... aku sakit... tidak tahu apa-apa..."
Tetua Seok menggeram. Ia meraih perban di perut Namgung Jin, merobeknya kasar.
Luka terbuka—luka tusuk yang dalam, masih basah oleh darah segar.
Biksu Myeongjin terkesiap. "Luka tusuk! Ini luka pedang!"
"Kau lihat?!" Tetua Seok berteriak penuh kemenangan. "Ini bukti! Dia terluka saat mencuri pedang!"
Nyonya Yoon menjerit, "Bukan! Dia terluka karena jatuh dari atap! Beberapa hari lalu!"
"Jatuh dari atap?" Tetua Seok tertawa. "Kebohongan yang menyedihkan!"
Ia menatap Namgung Jin dengan mata penuh kebencian.
"Bocah, kau akan bicara. Sekarang juga. Atau aku akan memastikan kau tidak pernah bicara lagi."
---
Di tengah ketegangan, suara berat menggema dari belakang.
"Lepaskan putraku."
Namgung Cheon berdiri di ambang pintu. Di belakangnya, Tetua Pyo dan Tetua Kang ikut serta. Wajah kepala klan itu dingin, tapi matanya menyala—api kemarahan yang jarang terlihat.
"Kepala Klan Namgung." Tetua Seok tidak mundur. "Putramu terluka. Luka tusuk. Tepat setelah pedang pusaka kami hilang. Kau tidak melihat ini mencurigakan?"
"Aku melihat putraku sakit dan kau menyiksanya." Namgung Cheon melangkah maju, mendekati para pengawal. "Lepaskan dia. Sekarang."
Para pengawal ragu. Mereka menatap Tetua Seok.
"Jangan lepaskan!" perintah Tetua Seok.
Namgung Cheon berhenti tepat di depan Tetua Seok. Jarak mereka hanya satu langkah.
"Tetua Seok, kau di wilayahku. Kau tamu di rumahku. Tapi kau bertindak seperti perampok." Suaranya rendah, berbahaya. "Jika kau tidak segera melepaskan putraku, aku akan menganggap ini sebagai deklarasi perang."
Udara di ruangan itu membeku.
Biksu Myeongjin melangkah di antara mereka. "Tetua Seok, Kepala Klan, mari tenang. Kita bisa bicara baik-baik."
"Bicara baik-baik?" Tetua Seok tertawa sinis. "Bocah ini terluka! Itu bukti!"
"Bukti apa?" potong Tetua Pyo. "Luka tusuk di perut. Apakah itu luka yang didapat saat mencuri pedang? Atau saat bertarung melawan penjaga?"
Tetua Seok terdiam.
"Para pengawal kita," lanjut Tetua Pyo, "melaporkan bahwa tidak ada yang terluka dalam insiden semalam. Pencuri itu tidak bertarung—ia hanya mengambil pedang dan pergi. Jadi mengapa putraku terluka?"
Argumen itu masuk akal. Tetua Seok menggertakkan gigi.
"Mungkin... mungkin dia terluka saat melarikan diri!"
"Dari pengejaran? Tapi tidak ada yang mengejarnya, karena pedang itu hilang dalam sekejap. Dan jejak darah yang ditemukan hanya sedikit, tidak cukup untuk luka separah ini." Tetua Pyo tersenyum tipis. "Atau mungkin, Tetua Seok, kau terlalu bernafsu mencari kambing hitam?"
Tetua Seok membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar.
Nyonya Hwa Ryun—yang sejak tadi diam—angkat bicara. "Tetua Seok, mungkin kita harus memeriksa fakta lebih dulu sebelum menuduh. Luka bocah ini jelas sudah beberapa hari, bukan semalam."
*"Kau—"
"Aku hanya bicara fakta." Nyonya Hwa Ryun tersenyum manis. "Sebagai anggota tim penyelidik, tugasku mencari kebenaran, bukan mendukung kecurigaan pribadi."
Tetua Seok terpojok. Semua orang melawannya.
Dengan geram, ia memberi isyarat pada para pengawal. Mereka melepaskan Namgung Jin yang langsung jatuh lemas di lantai.
Nyonya Yoon berlari memeluk putranya, menangis histeris.
"Ini belum selesai." Tetua Seok menatap Namgung Cheon. "Aku akan mencari bukti. Dan jika menemukannya, kau akan menyesal."
Ia keluar dengan langkah keras. Para pengawal mengikuti.
Biksu Myeongjin menatap Namgung Jin dengan ekspresi rumit. Lalu ia membungkuk pada Namgung Cheon.
"Maaf atas kekacauan ini, Kepala Klan. Kami akan menyelidiki dengan lebih hati-hati."
Ia pergi. Nyonya Hwa Ryun melirik Namgung Jin sekali lagi, lalu mengikuti.
---
Setelah semua pergi, Namgung Cheon berlutut di samping putranya.
"Jin-ah... kau bisa dengar aku?"
Namgung Jin membuka mata. Lemah, tapi masih sadar.
"Ayah... terima kasih..."
"Diam. Jangan bicara." Namgung Cheon menatap Tetua Pyo. "Panggil tabib. Yang terbaik."
Tetua Pyo mengangguk, segera pergi.
Namgung Cheon menatap putranya dengan mata berkaca- kaca. "Maafkan aku... aku tidak bisa melindungimu lebih awal."
Simma di dada Namgung Jin berdenyut hangat. Untuk sesaat, ia merasa... diterima.
---
Dua jam kemudian, tabib selesai merawat luka Namgung Jin.
"Lukanya cukup dalam. Tapi beruntung tidak mengenai organ vital. Dengan istirahat total, seminggu lagi akan pulih."
Nyonya Yoon menghela napas lega. "Terima kasih, Tabib."
Tabib itu pergi. Sekarang hanya Namgung Jin, ibunya, dan Tetua Pyo yang tersisa.
Tetua Pyo duduk di samping tikar. *"Kau beruntung, Jin-ah. Jika tidak ada yang membelamu tadi—"
"Aku tahu." Suara Namgung Jin masih lemah, tapi matanya tajam. "Terima kasih, Tetua."
"Jangan terima kasih dulu. Tetua Seok tidak akan berhenti. Ia akan mencari bukti ke mana pun."
"Biarkan."
"Kau terlalu santai."
Namgung Jin tersenyum tipis. "Dia tidak akan menemukan apa pun. Karena aku tidak meninggalkan bukti."
*"Tapi pedang itu—"
"Aman."
Tetua Pyo menghela napas. "Kau benar-benar nekat. Mencuri pedang pusaka di bawah hidung mereka."
"Bukan mencuri. Mengambil kembali."
Tetua Pyo mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Namgung Jin tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
---
Malam harinya, demam Namgung Jin turun. Ia sudah bisa duduk, meskipun masih lemah.
Pintu kamar diketuk—ketukan kode Pemburu Kwon.
"Masuk."
Pemburu Kwon meluncur masuk dengan wajah tegang. "Tuan Muda, kabar buruk."
"Apa?"
"Mereka menemukan jejak darah di hutan. Jejak yang Tuan Muda tinggalkan saat lari semalam. Dan..." Ia ragu. "...mereka mengikutinya sampai ke pohon besar. Tempat Tuan Muda mengubur pedang."
Jantung Namgung Jin berdetak kencang.
"Mereka menemukan Mawanggeom?"
"Belum. Tapi mereka menggali di sekitar pohon itu. Sebentar lagi pasti ketemu."
Namgung Jin diam, berpikir cepat. Ia terlalu lemah untuk bergerak. Tapi jika Mawanggeom ditemukan...
"Panggil Roh Rahasia. Suruh ia datang."
*"Tuan Muda—"
"Cepat!"
Pemburu Kwon pergi.
---
Satu jam kemudian, Roh Rahasia muncul di jendela kamarnya.
Wanita bertopeng itu menatap Namgung Jin yang terbaring lemah. "Kau terluka parah."
"Bukan urusanmu. Dengar, Mawanggeom akan ditemukan. Aku butuh kau mengambilnya sebelum mereka."
"Mengambilnya? Di bawah hidung tim penyelidik?"
"Kau bisa." Namgung Jin menatapnya tajam. "Kau Roh Rahasia. Menyelinap adalah spesialisasimu."
Roh Rahasia diam sejenak. Lalu ia tersenyum di balik topeng.
"Kau benar. Tapi apa imbalannya?"
"Aku akan berhutang budi."
"Hutang budi dari penasihat Magyo? Itu berharga." Ia mengangguk. "Baik. Aku akan lakukan. Tapi kau harus janji—suatu hari, kau akan membantuku secara pribadi."
"Janji."
Roh Rahasia melesat pergi, meninggalkan Namgung Jin sendirian.
---
Di hutan, tim penyelidik terus menggali di sekitar pohon besar.
Tetua Seok mengawasi langsung, matanya penuh harap. Sebentar lagi, sebentar lagi bukti akan ditemukan.
Tapi tiba-tiba, angin berputar kencang. Debu beterbangan, mengganggu penglihatan.
"Apa ini?!"
Sesosok bayangan hitam melesat di antara mereka—cepat, seperti kilat. Para pengawal tersentak, tapi sebelum mereka bereaksi, bayangan itu sudah menghilang.
Dan saat debu reda...
"Tanahnya! Lubang galiannya!"
Lubang galian itu kosong. Mawanggeom tidak ada di sana.
Tetua Seok berteriak frustrasi. "Siapa? Siapa yang mengambil?!"
Tapi tidak ada jawaban. Hanya angin malam yang berdesir, seolah menertawakan mereka.
---
Di kamarnya, Namgung Jin menerima laporan dari Pemburu Kwon.
"Mawanggeom aman, Tuan Muda. Roh Rahasia berhasil mengambilnya sebelum mereka."
"Di mana sekarang?"
"Telah dibawa ke Geumseong. Cheon Wu-gun sendiri yang menjaganya."
Namgung Jin menghela napas lega. Satu masalah selesai.
Tapi masalah lain muncul.
"Tuan Muda, ada satu lagi." Pemburu Kwon menunduk. "Delapan Sekte mempercepat serangan mereka. Mereka akan tiba dalam dua minggu, bukan sebulan."
"Dua minggu?"
"Ya. Informan kami bilang, mereka khawatir Mawanggeom yang hilang akan digunakan Magyo. Jadi mereka menyerang lebih cepat."
Namgung Jin diam. Dua minggu. Itu waktu yang sangat singkat.
"Kabari Cheon Wu-gun. Suruh ia siapkan rencana yang sudah kita bicarakan."
"Baik, Tuan Muda."
Pemburu Kwon pergi.
Namgung Jin menatap langit-langit kamarnya yang reot. Di luar, bulan bersinar pucat.
"Dua minggu..."
Perang besar akan segera dimulai. Dan ia—dengan tubuh ringkih dan luka yang belum sembuh—harus berada di tengah-tengahnya.
Tapi ia tidak takut.
Karena ia adalah Iblis Murim.
Dan iblis tidak pernah takut pada api.
---