NovelToon NovelToon
Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Status: tamat
Genre:Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.

Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesetiaan yang Terjepit

Aula Utama Istana d’Orléans terasa sangat dingin meski perapian dinyalakan dengan besar. Raja Alaric duduk di tahtanya dengan wajah yang mengeras. Di depannya, barisan petinggi militer dan kepala intelijen berdiri menunduk. Suasana sunyi itu hanya dipecah oleh ketukan jari Alaric pada sandaran tahta yang berlapis emas.

"Tiga minggu. Dan kalian masih memberiku jawaban yang sama?" Suara Alaric rendah, namun setiap katanya mengandung ancaman. "Adikku bukan sebutir debu yang bisa hilang tertiup angin. Dia adalah Putri Mahkota!"

Kepala Intelijen berdehem dengan gugup. "Lapor Yang Mulia, pencarian di wilayah perbatasan d’Orléans hingga ke sektor barat sudah maksimal. Namun, laporan dari sektor yang dipimpin oleh Duke Valois menunjukkan hasil nihil secara konsisten. Mereka bilang wilayah itu sudah bersih dari sisa-isa perang."

Alaric menyipitkan mata, beralih pada sosok pria yang berdiri paling tegak di antara semuanya. "Eisérre Valois. Jenderal agungku yang tak pernah meleset dalam strategi. Aneh sekali jika kau tidak menemukan satu pun petunjuk di wilayahmu sendiri."

Eisérre melangkah maju satu langkah, wajahnya sedatar permukaan es, sangat tenang hingga nyaris tidak manusiawi. "Sektor barat adalah titik terparah ledakan, Yang Mulia. Pasukan musuh membakar segalanya sebelum mundur. Jika Putri berada di sana, kemungkinan besar jejaknya telah menjadi abu bersama dokumen medis lainnya. Aku tidak akan memberimu harapan palsu jika kenyataan di lapangan memang nihil."

Dusta itu diucapkan Eisérre dengan nada yang sangat stabil, tanpa keraguan sedikit pun, membuat para petinggi intelijen di sana tertunduk karena tidak punya bukti untuk membantahnya.

Alaric kemudian menatap tajam ke arah perwira muda yang berdiri di belakang Eisérre—Ajudan Kael. Kael tampak sangat tegang, keringat dingin membasahi pelipisnya.

"Kael," panggil Alaric. "Kau selalu berada di samping Jenderal Valois. Katakan padaku, apa benar tidak ada satu pun korban selamat atau tanda-tanda kehadiran tim medis forensik di sektor kalian?"

Kael menelan ludah dengan susah payah. Di sampingnya, ia bisa merasakan aura dingin Eisérre yang seolah membekukan udara. Di benaknya, ia teringat jelas malam itu—saat Eisérre memerintahkannya untuk menggendong seorang gadis berwajah pucat ke dalam kereta pribadi. Ia teringat ancaman Eisérre: "Satu kata keluar dari mulutmu, Kael, dan kepalanya akan terpisah dari tubuhmu bahkan sebelum kau bisa meminta maaf pada Tuhan."

"L-lapor Yang Mulia," suara Kael bergetar. "Sesuai laporan Jenderal, wilayah kami... sudah disisir habis. Kami hanya menemukan reruntuhan dan... jenazah yang tidak bisa dikenali."

Alaric berdiri, melangkah turun dari tahta dan berhenti tepat di depan Kael. Ia adalah seorang Raja yang cerdas; ia bisa mencium bau ketakutan. "Kau gemetar, Kael. Apakah kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Ataukah kau lebih takut pada Jenderalmu daripada pada Rajamu?"

Eisérre sedikit bergeser, berdiri tepat di antara Raja dan Kael, memutus kontak mata yang mengintimidasi itu. "Ajudanku sedang kelelahan, Yang Mulia. Dia memimpin evakuasi mayat selama tiga hari tanpa henti. Jika kau mencari jawaban, tujukan padaku, bukan pada bawahan yang hanya menjalankan perintahku."

Alaric menatap Eisérre selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, lalu berbalik. "Kalian semua pergilah. Dan aku tidak mau tau! Adikku harus ditemukan." Tegasnya sekali lagi.

Begitu rapat dibubarkan, Kael hampir terjatuh karena lemas di koridor istana. Eisérre berjalan di sampingnya dengan langkah gagah, tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Di Paviliun Sanctuary, Eisérre sedang duduk di ruang kerjanya saat Kael masuk dengan wajah pucat pasi. Setelah mendengar rincian rencana kunjungan Raja, Eisérre tidak tampak takut. Ia justru menyunggingkan senyum tipis yang mengerikan.

"Ingat Kael, ini rahasia kita berdua. Jangan sesekali coba-coba kau mengkhianati ku. Kalau tidak, kau akan tau akibatnya." Ucap Eisérre sambil menatap laporan intelijen asli yang ia simpan di laci terkunci.

Eisérre menoleh ke arah balkon, di mana Geneviève sedang melamun. Obsesinya telah mencapai puncaknya. Jika Raja Alaric ingin mengambil adiknya kembali, maka ia harus berhadapan dengan seluruh kekuatan militer Valois yang kini hanya setia pada satu perintah, Lindungi Lady Ève.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!