Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.
Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesengajaan
Sean menutup mata sejenak, mencoba menekan hembusan nafas yang hampir keluar terengah-engah. Keringat dingin menetes di pelipisnya meskipun ruang keluarga yang didiami olehnya dan kedua orang tuanya terpancar dingin dari pendingin udara. Malam itu benar-benar menjadi saat yang tepat karena kakak, kakak ipar, dan dua keponakannya sudah berangkat jauh sejak sore untuk menghadiri acara keluarga di luar kota, menyisakan kesunyian yang begitu lebar sehingga membuatnya merasa bisa membuka hati tanpa harus takut terdengar orang lain.
Ia melangkah perlahan menuju sofa di mana kedua orang tuanya sedang duduk berdampingan. Wintoro Samir, sang ayah yang merupakan pendiri perusahaan Samir dengan darah campuran Jawa-China, sedang menatap layar televisi dengan tatapan yang tampak santai, namun aura kharismatik dari wajahnya yang sudah mulai menunjukkan garis-garis tua tetap terasa menyelimuti ruangan. Sementara itu, Melati, ibunya yang keturunan China dengan wajah yang masih terlihat awet muda meskipun sudah memasuki usia paruh baya, sedang merapikan majalah yang tergeletak di atas meja kaca di depannya.
"Mah... pah..." ucap Sean dengan suara yang pelan namun terdengar tegas di tengah kesunyian, setiap kata seolah keluar dengan susah payah setelah melalui perangkap emosi yang ia coba kendalikan.
Wintoro mengalihkan pandangannya dari televisi, matanya yang tajam namun penuh kasih menyala ketika melihat putranya. "Tumben, Apa yang membuatmu menghampiri kami dengan wajah sekeras itu?" tanyanya dengan nada yang tenang, seolah sudah bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang besar yang akan diutarakan Sean. Karena tidak biasanya Sean mau duduk bersama kedua orang tua atau keluarga nya meskipun untuk sekedar bersantai
Melati pun segera menoleh, tatapan yang biasanya lembut kini berubah menjadi menyelidik. Ia mengatur posisinya agar lebih menghadap ke arah Sean, tangan kanannya secara tidak sadar menggenggam ujung roknya. "Apakah ada masalah di perusahaan, Nak? Atau kamu tidak enak badan?"
Sean menatap ibunya dengan pandangan yang datar, tanpa sedikitpun menunjukkan emosi di wajahnya. Namun di balik tatapan itu, badannya bergetar karena ketegangan yang tak tertahankan lagi. "Inseminasi buatan yang aku lakukan... berhasil, Mah."
Kata-kata itu seperti kilatan petir yang menerangi wajah Melati. Matanya membesar, kedua tangannya langsung terangkat untuk menyentuh kedua pipinya, dan air mata tanpa sadar mulai merembes di pipinya yang lembut. "Alhamdulillah... Ya Allah, Tuhan yang Maha Esa... Itu artinya kita akan punya cucu kandung, Pah!" ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar, senyum bahagia melintas di wajahnya seolah semua beban di dunia telah hilang. Sean menatap Mama nya dengan alis terangkat pelan
Wintoro mengangguk perlahan, senyum tipis muncul di bibirnya yang tegas. Ia menghela nafas panjang, seolah lega setelah sekian lama menanti berita ini. "Alhamdulillah mah. Dengan begitu, garis keturunan keluarga Samir tidak akan pernah putus."
Namun sebelum rasa bahagia kedua orang tuanya bisa merambah lebih jauh, Sean mengeluarkan kalimat yang seperti bom petir menghantam ruangan. "Tapi... aku berencana akan menceraikan Silvi, Mah. Pah."
Wajah bahagia Melati langsung pucat. Matanya melebar dengan tak percaya, bibirnya bergetar kencang saat ia mencoba mencerna kata-kata Sean. "Nak! Apa yang kau bicarakan?! Silvi baru saja diketahui hamil anakmu, tapi kau malah ingin menceraikannya?! Kau keterlaluan, Sean!" serunya dengan suara yang semakin parau, air mata kini mengalir deras di pipinya.
Sementara itu, Wintoro hanya mengeluarkan tawa kecil yang terdengar seperti mengejek. Suaranya yang dalam membuat Sean merasa darahnya mendidih panas. "Kau sudah tahu tentang ini?" tanyanya dengan senyum yang aneh di wajahnya, seolah ia sudah mengetahui segalanya jauh sebelum Sean menyadarinya.
Melati memalingkan wajahnya ke arah suaminya, tatapannya kini penuh dengan rasa benci dan keterkejutan. "Apa?! Kamu juga setuju jika Sean akan menceraikan Silvi pah?! Padahal kita baru saja diberitahu tentang kehamilan nya, yang ada di perut Silvi itu cucu kita pah!"
Wintoro mengelus lengan istri nya dengan lembut, mencoba menenangkannya. "Tenang saja, Mah. Dengarkan dulu penjelasan putra kita."
"Aku tidak bisa tenang, Pah! Bagaimana mungkin kamu bisa menerima keputusan bodoh seperti itu dari Sean?!" seru Melati lagi, matanya masih berkaca-kaca karena air mata.
Sean yang sampai saat ini hanya berdiri diam, kini merasa dada nya sesak. Ia menatap ayahnya dengan mata yang melebar. "Pah... apa maksud papa? Kenapa papa tanya aku sudah tahu tentang ini? Apa papa tahu sesuatu?
Wintoro menghela nafas lagi, senyum getirnya kini menghilang digantikan oleh wajah yang serius. Ia menatap Sean dengan pandangan yang mendalam. "Kau belum menyadari kebenarannya, ya? Silvi memang hamil, tapi usia kandungannya sudah mencapai 10 minggu."
Kata itu seperti kilatan petir yang menghantam otak Sean. Ia merasa kepalanya berputar dan tubuhnya hampir terpeleset. "Apa?! Bagaimana mungkin?! Kami baru saja melakukan prosedur inseminasi buatan sekitar satu bulan yang lalu! Itu artinya usia kandungan seharusnya baru sekitar empat minggu saja!" ucapnya dengan suara yang terengah-engah, tangannya mulai mengepal
Melati juga terkejut mendengar hal itu. Ia memalingkan wajah ke arah suaminya, ekspresi bingung terpampang di wajahnya. "Pah... apa maksud nya? Mereka melakukan inseminasi baru sebulan lalu, tapi kalau Silvi hamil 10 minggu, itu artinya kehamilan Silvi sudah lebih dari dua bulan?"
Sean mengambil langkah mendekati ayahnya, alisnya bertaut rapat. "Pah... apakah ada sesuatu yang papa sembunyikan dari ku? Semua ini rasanya tidak masuk akal!" Sean jongkok di depan sang Ayah dengan tatapan sendu
Wintoro tidak langsung menjawab, melainkan balik bertanya kepada putranya. "Kalau kamu tidak tahu tentang hal ini, lalu apa yang membuatmu ingin menceraikan Silvi? Kamu pasti memiliki alasan kuat bukan?"
Sean mengangkat dagunya dengan marah, tangannya mengepal hingga urat-uratnya tampak jelas menonjol. Darahnya mendidih karena rasa sakit dan kemarahan yang membara di dalam dirinya. "Dia bilang akan pergi liburan ke Bali selama tiga hari. Tapi aku tahu dia tidak pergi ke sana! Aku melihat nya sendiri pah, dia hanya pergi ke sebuah hotel mewah di tengah kota saja... bersama seorang pria lain, Pah! Dia selingkuh!" Sean kembali berdiri dengan menarik nafas panjang. kemudian kembali mendudukkan pantatnya di dekat sang Mama
Kata itu membuat Melati terkejut hingga tubuhnya bergetar hebat. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, mata nya penuh dengan tidak percaya. "Tapi... Nak... bukankah kecelakaan waktu itu membuat tulang ekor mu bermasalah sehingga membuatmu tidak bisa ereksi ketika berhadapan dengan lawan jenis? Kalau begitu, kamu belum pernah menyentuh Silvi sejak menikah bukan?" tanyanya dengan nada yang penuh perhatian namun juga bingung.
Sean mengangguk dengan mata yang merah karena menahan air mata. "Betul, Mah. Itulah kenapa Silvi merengek padaku meminta untuk melakukan inseminasi buatan. Dia bilang ingin memiliki anak dariku, agar keluarga kita bisa bahagia seperti keluarga normal pada umumnya."
Melati menghela nafas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia berusaha melihat sisi positif dari semua ini. "Mungkin kamu salah faham saja, Nak. Kalau dia benar-benar ingin anak darimu, mengapa dia harus selingkuh? Bisa jadi itu hanya teman bisnisnya atau saudara jauhnya saja. Dan soal kehamilan mungkin papa juga salah faham saja"
"Tidak, Mah! Sean tidak salah faham sedikitpun!" ucap Wintoro dengan suara yang tegas dan keras, membuat kedua orang di depannya terkejut. Ia berdiri dari tempat duduknya, wajahnya kini tampak serius dan penuh dengan keprihatinan. "Silvi sudah mulai selingkuh sejak dua bulan setelah menikah dengan Sean. Bahkan, kehamilan yang dia miliki sekarang bukan dari hasil inseminasi buatan, melainkan dari pria lain yang sudah lama menjadi selingkuhan nya. Dia sengaja mengajak Sean melakukan inseminasi buatan hanya untuk menutupi kehamilannya, supaya nanti dia bisa mengaku bahwa anak itu adalah milik Sean dan tetap berada di dalam keluarga kita!"
Kata-kata ayahnya seperti pisau yang menusuk hati Sean. Ia merasa seluruh tubuhnya menjadi kaku, dan dunia seolah berhenti berputar untuk sementara waktu. "Sejak dua bulan setelah menikah...?" bisiknya dengan suara yang pelan namun penuh dengan rasa sakit. "Itu artinya selama beberapa bulan ini, pernikahan yang aku jalani hanyalah sebuah kebohongan belaka. Segala cinta dan perhatian yang aku berikan padanya justru di balas sebuah penghianatan!" ucapnya dengan suara yang meningkat tajam, penuh dengan kemarahan yang sudah tidak bisa lagi ditahan.
Ternyata benar apa yang dikatakan teman-temanku, pikir Sean dengan hati yang hancur berkeping-keping. Tangannya mengepal lebih erat lagi, hingga ia merasa tulang tangannya hampir patah karena kekuatan yang diberikan.
Melati yang mendengar semua ini hanya bisa menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia kemudian melihat Sean dengan rasa prihatin. "Tapi... tadi Sean bilang inseminasi buatan nya berhasil. Apa maksud mu, Nak?"
Sean mengalihkan pandangannya ke arah ayahnya, matanya penuh dengan rasa tidak percaya. Mendengar ucapan sang Mama membuat ia kembali teringat perihal inseminasi buatan itu "Dokter yang menangani prosedur itu pasti tahu bahwa Silvi sudah hamil jauh sebelum itu! Mengapa dia tidak memberitahuku tentang hal itu? Apakah dia juga terlibat dalam kebohongan ini?"
Wintoro mengangguk perlahan, ekspresi wajahnya kini tampak sedih. "Dia dibayar untuk tetap diam, Papa sengaja membuat dokter itu datang terlambat, papa minta dokter lain untuk menangani inseminasi buatan yang akan kau lakukan. Papa sengaja membuat semua ini terlihat seperti sebuah kesalahan yang tidak disengaja."
Sean merasa kepalanya semakin pusing. Ia tidak bisa mempercayai apa yang didengarnya. "Jadi... kehamilan gadis itu merupakan kesengajaan papa?"
Wintoro menghela nafas panjang, kemudian menjelaskan dengan suara yang lembut namun jelas. "Nayra, gadis yang hanya ingin memeriksakan dirinya, karena ada masalah rahim. Aku memilih dia untuk prosedur inseminasi buatan tersebut. Aku tidak sengaja memilihnya, Awalnya aku hanya memilih secara sembarangan saat melihat daftar nama di klinik. Namun setelah prosedur yang dilakukan dan diketahui bahwa prosedur pada Silvi tidak mungkin berhasil karena dia sudah hamil, aku asal mencari nama tanpa tahu latar belakangnya, belakangan aku baru mulai mencari tahu tentang Nayra. Dan ternyata dia adalah gadis baik dari keluarga Kennedy... bahkan, dia yatim piatu"
"PAH!" seru Sean dengan suara yang menusuk, tubuhnya berdiri dengan tiba-tiba hingga kursinya terdengar bersentuhan keras dengan lantai. Emosi yang telah menumpuk sepanjang waktu seolah akan meledak kapan saja, namun ia berhasil menahannya dengan mengeluarkan hembusan nafas panjang dan menutup matanya sejenak. Ia kemudian mengacak-acak rambutnya dengan kasar, menunjukkan betapa frustasinya terhadap semua yang terjadi.
"Kalian yang menjodohkanku dengan Silvi, Pah! Mah! dan sekarang aku harus merasakan sakit hati karena dia khianati! Kenapa papa harus melakukan hal yang sama lagi?! Bagaimana kalau Nayra ternyata sama saja dengan Silvi?! Bagaimana kalau aku harus merasakan sakit hati yang sama lagi nanti?!" ucap Sean dengan suara yang penuh kemarahan, matanya sudah mulai merah karena menahan air mata.
Wintoro mendekati putranya dengan langkah perlahan. Ia melihat Sean dengan mata yang penuh rasa sayang dan rasa bersalah. "Aku tidak sengaja melakukan ini, Nak. Aku hanya bertindak cepat tanpa berpikir panjang ketika melihat gadis itu. Setelah inseminasi dilakukan dan aku mencari tahu tentang dirinya, baru aku mengetahui bahwa dia adalah anak bungsu dari keluarga Kennedy yang terkenal baik. Dia sudah kehilangan kedua orang tuanya, kalian sama-sama korban. Di sini papa yang yang salah. Jangan pernah benci dia ya nak"
Melati yang sampai saat ini hanya diam mendengar semua pembicaraan anak dan suaminya, kini tidak bisa menahan diri lagi. Ia berdiri dan menatap suaminya dengan wajah yang penuh kesal. "Pah! Kamu terlalu gegabah dalam mengambil keputusan! Bagaimana bisa kamu membuat keputusan begitu saja tentang kehidupan putra kita tanpa membicarakannya denganku terlebih dahulu?!"
Wintoro merangkul bahu istri nya dengan lembut, mencoba menenangkannya. "Tenang saja, sayang. Dengarkan lah, aku akan jelaskan dengan baik." Ia kemudian kembali menghadap Sean, yang masih berdiri dengan wajah penuh kemarahan. "Nayra adalah anak bungsu dari lima bersaudara dalam keluarga Kennedy. Kakak sulungnya adalah CEO di perusahaan Kennedy Group yang sangat terkenal di negeri ini. Kakak kedua nya bekerja sebagai pilot di salah satu maskapai penerbangan besar. Kakak ketiga nya telah mendirikan lebih dari seratus restoran di seluruh Indonesia. Sedangkan kakak perempuannya adalah saudari kembar nya, Nayla. Kedua kembaran itu baru saja menyelesaikan pendidikan dengan gelar sarjana beberapa bulan yang lalu."
Ia menghentikan pembicaraan sejenak, melihat wajah Sean yang kini mulai menunjukkan ekspresi penasaran meskipun masih ada rasa kemarahan di dalamnya. "Sejak kecil, Nayra selalu dikucilkan oleh saudara-saudaranya dan bahkan oleh ayahnya sendiri. Mereka menganggapnya sebagai pembawa sial karena kelahirannya yang menyebabkan ibunya meninggal dunia saat melahirkannya. Hidupnya sangat menyedihkan, Nak."
Sean mendengar penjelasan ayahnya dengan tubuh yang membeku. Ia merasa hati nya sedikit lunak ketika mendengar tentang kehidupan Nayra. Namun sejurus kemudian dia berfikir "Tidak mungkin" pikirnya. "Aku sudah beberapa kali bertemu dengan Nayra dan kakak-kakaknya. Mereka terlihat sangat menyayangi Nayra, seolah dia adalah buah hati keluarga. Apakah papa salah mengenali orang?
Wintoro melanjutkan pembicaraannya. "Namun sebelum ayahnya, Lukas Kennedy, meninggal dunia, ia memberikan pesan terakhir untuk semua anak-anaknya agar selalu menjaga dan menyayangi Nayra. Sejak saat itu, kehidupan Nayra menjadi lebih baik dan dia tidak lagi dikucilkan. Papa hanya berharap, dengan keberadaan anakmu di dalam perutnya kalian bisa menjalani hidup yang lebih baik, papa yakin Nayra tidak mungkin mengkhianati mu nak."
Sean merasa seluruh kekuatan dalam tubuhnya hilang. Ia kembali duduk dengan pelan di kursinya, wajahnya kini penuh dengan kebingungan dan rasa tidak percaya. Pikirannya berputar cepat mencoba memproses semua informasi yang baru saja diterimanya.
Melati yang mendengar bahwa Nayra yatim piatu merasa hati nya terasa sakit. Ia mendekati Sean dan duduk di sampingnya, tangan nya meremas tangan putranya dengan lembut. "Dia yatim piatu? Dan dia punya empat kakak yang sudah sukses seperti itu, Pah?"
Wintoro mengangguk. "Betul, sayang. Mereka semua sangat mencintai Nayra sekarang, meskipun dulu tidak demikian." Ia kemudian menatap Sean dengan pandangan yang penuh harapan. "Aku tahu kamu sudah dewasa sekarang, Nak. Aku tidak akan selalu ada untuk mengawasi setiap langkahmu dan mengambil keputusan untukmu. Papa Hanya berharap kamu bisa lebih bijak kedepannya dalam mengenali orang, termasuk dalam mengenali sifat orang-orang di dalam keluarga kita sendiri."
Kata terakhir ayahnya membuat Sean merasa heran. Ia menatap ayahnya dengan pandangan yang penuh tanda tanya. Sementara itu, Melati juga mengerutkan kening dan menatap suaminya. "Keluarga? Apa maksudmu dengan kata itu, Pah?"